
"Tunggu...."
Cheng Xin, Kakek Zhang dan profesor yang hendak menaiki mobil, seketika menghentikan gerakannya dan menengok ke belakang.
"Tunggu tunggu dulu kalian ingin pergi tanpa diriku kah?" cegahnya sedikit kesal.
"Fan'er bukan begitu, ayah memang sengaja tak mengajak mu. Kau jaga rumah saja dan lanjutkan studi penelitian mu, ayah dan yang lainnya pergi," tukas profesor lalu melanjutkan memasuki mobilnya.
"Ayo masuk!" ajaknya ke Kakek Zhang dan Cheng Xin juga.
"Eh eh." Fan Fan yang tak mau ditinggal langsung memikirkan cara, dengan cepat ia berlari ke depan mobil dan menghalanginya. Fan Fan merentangkan kedua tangannya tanda dirinya akan berdiri sampai ayahnya mengizinkannya.
"Fan Fan, minggir jangan halangi mobil ayah," teriak profesor sambil menyuruhnya untuk pergi.
"Aku tidak akan minggir sebelum Ayah ngizinin aku ikut bersama kalian!" ucapnya tegas.
"Prof, biarkan Fan Fan ikut, dia mungkin akan membantu nanti," bujuk Cheng Xin pada profesor.
"Sudah lah Zhou, izinkan anak mu ikut saja. Kita tak punya banyak waktu lagi ini." Kakek Zhang juga ikut menyakinkan Profesor Zhou sehingga dirinya menyerah.
"Haish baiklah," ucapnya mendengus kesal.
"Fan'er.... masuk cepat," teriak profesor kembali sambil menyuruhnya untuk masuk ke mobil.
Fan Fan merasa terkejut serta senang dirinya akhirnya bisa ikut berpetualang lagi. Ia masih berdiam diri ditempat tak percaya, melihat itu ayahnya memangil anaknya sekali lagi.
"Fan'er, apa kau tak mendengar ayah, jadi ikut tidak?" panggil Profesor lagi dengan keras agar Fan Fan bergerak.
Fan Fan tersadar, "Eh iya Yah, jadi jadi." Ia lalu buru-buru lari menuju mobil dan masuk ke dalam. Mobil pun mulai melaju meninggalkan Kota Guanzhou.
Sementara di perkemahan Cheng Mai, tenda sudah selesai dibuat dan kini mereka sedang menikmati beberapa hidangan ala barbeque. Tapi disisi lain, beberapa teman Vivian sedang mencari keberadaannya. Ia sudah cukup lama hilang dari area perkemahan. Kei Lin dan Fu jie sudah mencari di berbagai spot perkemahan namun hasilnya nihil. Batang hidung Vivian tak kunjung dijumpainya. Mereka berdua lalu mendekat ke Cheng Mai dan teman-temannya untuk bertanya jika barangkali melihatnya.
"Cheng, kau lihat Vivian tidak?" tanya Kei Lin dengan tak bersahabat.
"Tidak, bukankah kalian berdua selalu bersamanya," jawab Cheng Mai santai sambil mengunyah satenya.
"Ia tadi sempat pergi karena mendadak mood nya tak bagus dan itu karena dirimu," jelas Kei Lin malah menuduh Cheng Mai.
"Karena ku?" Cheng Mai menyerngitkan dahinya tak mengerti.
"Apa maksud kalian?" tanya Jin Mei yang sudah tak sabar menahan kesalnya.
"Vivian pergi karena cemburu padamu, kau it...." Kei Lin menjawab dengan cepat lalu segera dihentikan oleh Fu Jie.
"Hentikan Kei Lin kita lebih baik melapor ke Bu Lin saja." Fu Jie menarik tangan untuk segera pergi.
Mereka berdua lalu meninggalkan Cheng Mai dan lainnya.
"Cheng, apa maksudnya mereka coba menyalahkan dirimu terkait hilangnya Vivian?" tanya Jin Mei yang merasa kesal dan heran.
"Entahlah lebih baik aku makan ini saja," jawab Cheng Mai memilah mengabaikan dan melanjutkan makanannya.
"Hei Dan, gebetan mu ilang tuh." Senggol Dou Dou padanya sambil menggoda.
Xiao Dan menengok padanya, "Siapa? Vivian? Dia bukan gebetan ku dia hanya temen masa kecil ku saja," bantah Xiao Dan menjelaskan.
"Hooo benarkah?" godanya lagi karena tak percaya.
"Berisik, nih makan ini saja." Xiao Dan yang merasa terganggu dengan cepat mengambil satu tusuk sate dan memasukkannya ke dalam mulut Dou Dou agar diam.
Disebuah danau, tampak Vivian yang sedang melampiaskan kemarahannya dengan melempar beberapa batu ke danau.
"Hargg, kenapa selalu Cheng Mai ha? Kenapa Xiao Dan tak pernah melihat ku apa kurangnya aku? Diantara Cheng Mai dan aku siapa yang sudah mengenal mu lebih dulu Dan. Aku itu suka dengan mu kenapa kau tak tau itu...." Vivian menggertakan gigi-gigi nya karena kesal telah kalah dengan Cheng Mai.
"Argh sialan!" teriaknya sambil melempar batu kembali. Nafas Vivian sedang menggebu-gebu saat ini. Ia sangat kesal pada Cheng Mai yang selalu bisa dekat dengan Xiao Dan. Ia beberapa kali membuang nafasnya dengan kasar.
Merasa sudah cukup tenang, Vivian pun hendak kembali ke perkemahan. Namun disaat berbalik, dirinya tak sengaja menabrak seseorang.
"Aduh!" Pekik Vivian disaat jatuh.
"Bisa jalan tidak sih, sakit tau," marah Vivian padanya.
"Maaf aku tak sengaja, mari ku bantu berdiri." Seseorang tersebut dengan sukarela mengulurkan tangannya ke arah Vivian.
Vivian yang hendak menolak pertolongannya tiba-tiba menjadi terdiam seketika karena mendapati seseorang yang ditabraknya berwajah cukup tampan.
"Hai kau tak apa kan?" Pria itu mengayunkan tangannya ke depan muka Vivian. Ia pun tersadar, "Eh iya iya tak apa kak," ucapnya lalu menerima uluran tangan pria itu. Vivian kini sudah berdiri mematung kembali di depan pria yang menurutnya tampan itu.
"Baguslah, kalau begitu aku permisi dulu," ucap si pria merasa lega setelah melihat yang ditabraknya baik-baik saja lalu segera pamit untuk melanjutkan perjalanannya. Pria tersebut tak mendapat jawaban dari Vivian, ia pun memilih berjalan kembali.
Vivian masih terdiam sambil memandangi punggung pria yang tampak muda berumur sekitar 20 tahunan itu.
"Kaka itu sangat tampan," puji nya lirih tanpa sadar. Lalu Vivian melihat ada sesuatu yang dibawa bersama si pria tadi, "Eh sebentar apa yang dibawa olehnya? Sebuah cangkul kah? dia akan pergi menggali?" Ia menyerngitkan dahinya sambil memiringkan kepalanya tak mengerti. "Aku jadi penasaran, apa aku ikuti saja ya. Lagian baru jam 5 aku akan mengikutinya sebentar lalu kembali," katanya memutuskan lalu pergi menyusul si pria tadi setelah melihat jam ditangannya.
Vivian kini telah mengikuti pria tersebut secara diam-diam tanpa diketahui olehnya. Vivian terus dan terus mengikutinya, hingga tanpa sadar ia sudah memasuki sebuah hutan. Hutan yang amat membuat dirinya menjadi merinding.
"Kaka itu mau kemana sih? Ini dimana lagi seram sekali." Karena tak fokus pada jalan, ia jadi kehilangan jejak pria tersebut. "Ha kemana dia? Sial aku kehilangan jejak si Kaka tampan," gerutunya terus berjalan sambil menyingkirkan dedaunan yang menghalanginya
Sementara pria muda tersebut, kini sudah sampai di sebuah pemakaman. Ia tengah berjalan mengikuti arah kompas ajaibnya. Tak lama ia berhenti di salah satu makam yang di duga sebagai letak sesuatu yang tengah dicarinya. Pria muda itu lalu bersiap untuk menggali makam tersebut.
Vivian masih berusaha mencari pria yang ditabraknya tadi, ia tiba-tiba mendengar suara orang yang sedang menggali di sekitar dirinya berada. Ia lalu berniat pergi menghampirinya. Di balik sebuah pohon, ia mengintip seseorang yang tengah menggali sesuatu. Ia tak sadar kalau dirinya kini sudah singgah di pemakaman. Vivian lalu mengeluarkan ponselnya untuk menerangi sekitar lokasi dirinya berada. Ia juga ingin memastikan apa yang dilihatnya itu benar atau tidak.
Disaat ponselnya mengarah ke depan, ia tiba-tiba berteriak terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Aaa...." Dengan cepat ia langsung menutup mulutnya. Sebuah makam berjejer rapi di depannya. Ia terkejut setengah mati ketika melihatnya. Pria tersebut seketika menghentikan kegiatannya karena mendengar suara teriakan.
Vivian yang terkejut, perlahan mundur ke belakang untuk kabur. Namun disaat mundur, dia nampak menabrak sesuatu dibelakangnya. Ia menjadi terdiam seketika dan memberanikan diri untuk berbalik melihatnya. Telepon yang ia pegang diarahkan mengikuti dirinya berbalik. "Aaa...," teriaknya kembali dan dirinya langsung pingsan ditempat.
...******🔆🔅🔆******...
Cheng Xin dan lainnya sudah sampai di Nanchang dan sudah memasuki jalanan desa. Karena hari sudah malam, mereka memutuskan untuk pergi kesebuah motel yang berada sebelum Desa Loufen. Mereka berempat lalu turun dan masuk ke dalam. Tak lama mereka masuk, sebuah mobil juga berhenti didepan motel tersebut. Dua orang berpakaian nyentrik keluar dari mobil. mereka berdua adalah Bos Yang dan Sing.
"Permisi, kami berempat ingin menginap disini satu malam dan kami butuh setidaknya dua kamar," ucap Cheng Xin kepada resepsionis dengan sopan sambil mengeluarkan kartu indentitas miliknya serta yang lainnya juga.
"Baiklah Pak, ini kunci nya." Resepsionis itu menyerahkan dua buah kunci kepadanya.
"Terimakasih," jawab Cheng Xin sambil menundukkan kepala.
Cheng Xin lalu memberikan indentitas milik Fan Fan sambil menyerahkan kunci kamarnya sekalian. Kartu indentitas milik Profesor Zhou dan Kakek Zhang juga tak lupa ia kembalikan padanya. Ketika mereka hendak naik ke atas, seseorang menghentikannya. Ternyata ia adalah seorang manajer di motel tersebut.
"Iya Pak, ada apa?" tanya Cheng Xin langsung.
"Maaf aku hanya penasaran, apa kalian hendak pergi ke Desa Loufen?" jawabnya sambil bertanya balik.
"Iya Pak," jawab Cheng Xin mengangguk. "Apa kalian ini seorang peneliti atau pencari harta Karun?" Seketika wajah Cheng Xin dan lainnya menjadi terkejut mendengar manager motel bertanya seperti itu.
"Kami hanya orang-orang yang hendak berlibur saja, Pak," jawab Cheng Xin kembali.
"Oh begitu, baiklah kalian boleh melanjutkannya." Pak Manager mengangguk mengerti dan menyuruhnya untuk melanjutkan tujuannya.
"Pak manager kenapa bertanya begitu," bisik Fan Fan tak mengerti.
"Entahlah, ia mungkin mengira kita adalah para pemburu harta karun," jawab Cheng Xin sambil terus berjalan.
"Emang benar di Desa Loufen ada harta karun?" Pikir Fan Fan bertanya.
"Aku tak tau itu harta karun atau apa, yang jelas kita kesini untuk menyelidikinya," jawabnya kembali.
"Kau benar Cheng, sebaiknya kita istirahat saja," ujar profesor pada mereka semua.
Mereka berempat lalu melanjutkan menuju kamar masing-masing untuk beristirahat. Para lelaki di jadikan satu kamar sedangkan Fan Fan tidur sendiri di kamar satunya.
...******💠🔹💠******...
Keesokan harinya di sebuah rumah tua di tengah hutan. Vivian tampak perlahan membuka matanya. Sayup-sayup ia melihat seseorang yang sedang bersiap-siap hendak keluar. "Siapa dia? Kenapa dengan tangan ku kenapa seperti di ikat begini." Vivian lalu berusaha menyadarkan dirinya dengan menggelengkan kepalanya perlahan. Setelah cukup sadar, ia melihat pria itu hendak pergi. Dengan cepat Vivian memanggil nya.
"Tunggu, kau siapa dan kemana kau akan pergi?" panggilnya bertanya.
Pria itu menghentikan langkahnya dan berbalik. Vivian seketika terkejut karena ternyata pria yang membawa dirinya adalah Kaka yang ditabraknya kemarin.
"Kaka kenapa aku disini dan kenapa dengan tangan ku?" tanyanya lagi.
"Kau kemarin pingsan dan terpaksa kaka membawa mu ke sini. Maaf Kaka mengikat mu karena Kaka tidak mau kamu kabur dan memberitahu orang-orang bahwa Kaka telah merusak makam kemarin malam," jelasnya.
"Kaka kenapa melakukan itu? Bukankah itu di larang?" Vivian bertanya kesekian kalinya karena benar-benar tak mengerti.
"Sebaiknya kau diam dan tunggu seseorang menemukan mu, Kaka pergi dulu," ucapnya lalu melangkah pergi keluar.
Bregg. Suara pintu ditutup. Vivian terbengong sebentar sebelum ia kesal dengan dirinya.
"Haish sial aku ternyata pingsan kemarin, dan sekarang siapa coba yang akan menemukan ku," gerutu Vivian kesal sambil mencoba melepaskan ikatannya.
"Ah iya aku berteriak saja, semoga ada orang yang mendengar nya," pikirnya lalu berteriak. "Tolong.... tolong...." Namun suara yang dihasilkan tak terdengar cukup keras ditelinga nya ia menjadi kesal kembali pada dirinya.
"Haish kenapa suara ku kecil sekali, mana tenggorokan ku terasa sakit lagi," ucapnya lirih karena mendadak tenggorokannya menjadi sakit.
"Sial!" Kesalnya sambil mencoba membuka paksa tali yang mengikat tangan nya.
Sementara di area perkemahan, semua orang sedang heboh karena hilangnya satu murid yakni Vivian. Semua murid dikumpulkan menjadi satu untuk memencar mencari Vivian.
"Murid-murid sekalian, ibu harap dalam proses pencarian kalian harus tetep bersama tim. Jangan sampai malah menambah korban. Mengerti!" Bu Lin dengan tegas memberikan instruksi pada seluruh murid disana.
"Mengerti Bu!" Seru seluruh murid menggema ke penjuru area.
"Baiklah sekarang kita mulai mencari teman kita. Jam 4 sore harap berkumpul kembali ke sini," ucap Bu Lin yang dijawab dengan anggukan para muridnya.
"Siap Bu!" jawab mereka serentak sebelum bubar dan pergi bergerak.
Semua orang sudah mulai mencari. Mereka terbagi menjadi beberapa tim. Cheng Mai dan teman-temannya tentu satu tim sedangkan Kei Lin dan Fu Jie mereka bergabung bersama rombongan guru. Disaat menelusuri sebuah hutan, Cheng Mai mendadak menghentikan langkah teman-temannya.
"Teman-teman tunggu," cegatnya tiba-tiba.
"Ada apa Cheng kau lelah kah?" Tanya Xiao sambil berjalan kembali ke arahnya.
"Tidak, bukan itu. Lihat bukankah ini ponsel milik Vivian," jawab Cheng Mai sambil mengambil sebuah handphone dibawahnya.
"Ah iya tapi kenapa bisa disini. Dan sepertinya di depan sana adalah sebuah makam," kata Jin Mei heran lalu ia menunjuk ke arah didepannya sambil menduga.
"Eh tunggu bukannya ini adalah perbatasan antara Desa Lounge dan Desa Loufen," pikir Cheng Mai jika tak salah.
"Iya benar di pohon juga ada tulisan nya," jawab Dou Dou sambil menunjuk sebuah pohon yang terdapat tanda mengenai perbatasan desa.
"Vivian kenapa bisa hilang sampai ke perbatasan desa ya?" pikir Cheng Mai sambil memiringkan kepalanya.
"Entahlah sebaiknya kita lanjutkan pencarian saja," jawab Xiao Dan tampak menghiraukannya.
Teman-teman Cheng Mai mulai berjalan kembali, namun Cheng Mai lagi-lagi menghentikan langkah mereka.
"Eh tunggu dulu," cegat Cheng Mai kembali.
"Apa lagi Cheng? Kita harus segera lapor ke Bu Lin juga kan?" tanya Xiao Dan yang tak suka di hentikan lagi.
"Kita jangan kembali dulu atau melanjutkan pencarian," jawab Cheng Mai yang membuat teman-temannya saling pandang tak mengerti.
"Apa maksudmu?" Pada akhirnya Xioa Dan bertanya.
"Kita pergi ke Desa Loufen," kata Cheng Mai memutuskan.
"Untuk apa kita kesana?" tanya Jin Mei tak mengerti.
"Sebenarnya ada sesuatu di desa itu, ada kabar makan desa Loufen tengah di rusak dan di bongkar," jelas Cheng Mai yang kali ini membuat mereka terkejut. "Apa???"
"Iya, kalian tak melihat di berita yang sedang Viral hari ini mengenal desa itu," jawab Cheng Mai pada mereka.
"Tidak, aku belum memeriksanya," jawab Dou Dou sambil menggaruk tengkuknya yang gatal sebab di gigit nyamuk hutan.
"Untuk membuktikannya ayahku juga pergi ke sana, kita juga pergi ke sana dan siapa tau juga kita bisa menemukan Vivian di sana," jelasnya lagi sambil membujuk teman-temannya.
"Hem gimana?" tanyanya.
"Ok kita ikut kamu Cheng, aku juga berfirasat Vivian ada di suatu tempat di dekat desa itu," jawab Xiao Dan setuju. Jin Mei dan Dou Dou hanya mengangguk tanda setuju juga.
"Ok kita masuk ke Desa Loufen, lewat hutan ini," ujar Cheng Mai yang dijawab dengan anggukan oleh mereka.
Cheng Mai dan teman-temannya pada akhirnya pergi menuju desa Loufen dan berharap bisa menemukan Vivian di sana juga. Sementara Bu Lin dan yang lainnya belum tau kalau beberapa murid nya juga ikut menghilang.
Bersambung.....🔆💠🔅