Hidden Treasure Hunter's

Hidden Treasure Hunter's
Tiba Di Desa Loufen



Di sebuah desa tak jauh dari tempat perkemahan Cheng Mai, berdiri satu desa yang mempunyai kompleks pemakaman terluas di Nanchang, China. Desa tersebut bernama Desa Loufen yang akhir-akhir ini sedang terjadi sebuah kasus. Kasus dimana sudah ada beberapa makan telah dibongkar dan di hancurkan oleh orang yang tak dikenal.


Kini seluruh warga desa telah berkumpul di tempat pemakaman. Ada kabar dari salah satu warga yang melapor bahwa ada satu makam lagi yang di bongkar. Semua warga ricuh ingin tahu siapa pelakunya.


"Benar-benar keterlaluan siapa sebenarnya yang sudah merusak makam lagi," geram salah satu warga disana.


"Pak Kepala, ini tidak bisa di biarkan, sudah ke 4 kalinya makam di tempat kita di rusak dan di bongkar," timpal satu warga lagi.


"Dan anehnya Pak, setelah di bongkar mereka tinggalkan begitu saja. Apa yang sebenarnya mereka cari, Pak? Toh memang di desa kita ada harta karun nya dan itu terletak di makam desa kita ini? Sepertinya itu mustahil Pak," tutur satu warga lagi.


"Saya juga tidak tau pak Bu, di sini emang dulu pernah ada yang berkata jika di desa kita ada sebuah harta tersembunyi tapi entah di mana itu. Dan kami memilih tak mempercayainya dan menganggap itu hanyalah omong kosong saja," jelas Pak Kepala pada semuanya.


"Bagaimana jika memang ada harta tersembunyi di desa kalian?" Sebuah suara muncul tiba-tiba dari arah belakang mereka. Para warga kompak menengok, dan tampak dua orang berpakaian nyentrik berjalan ke arah mereka.


Semua warga menengok ke arahnya, "Kalian siapa?" tanya warga disana.


"Oh kami adalah pemburu harta karun yang sedang mencari sebuah harta tersembunyi di desa kalian," jawab Bos Yang dengan bangga memperkenalkan dirinya. "Apa kalian tak mau ikut mencarinya juga?"


"Untuk apa? Toh kalau memang benar ada jika tidak, itu akan sia-sia saja nanti," tolak salah satu warga sambil di ikuti anggukan dari warga yang lainnya tanda setuju dengan ucapannya.


"Ya sudah, berarti kalau memang benar ada harta itu akan menjadi milikku saja haha." Bos Yang tertawa senang dan membuat semua warga menatapnya dengan tatapan aneh. Mereka lalu memilih pergi meninggalkan Bos Yang dan Sing di tempat.


"Aneh," umpat salah satu warga. "Kita pulang aja yuk semuanya," ajaknya kepada yang lainnya.


"Dasar aneh." Warga menatap sinis bos Yang dan Sing saat melewati mereka sambil mencibir.


Sementara Cheng Xin dan 3 orang yang dibawanya, baru tiba di Desa Loufen. Mereka mendapati orang-orang yang baru pulang dari area pemakaman. Cheng Xin lalu memberhentikan seseorang yang menurutnya adalah kepala suku disana karena pakainya yang berbeda ditimbang lainnya.


"Pak, tunggu...," cegatnya.


Pak Kepala suku Desa Loufen yang diketahui bernama Gong Du pun berhenti dan menengok. "Iya Pak, ada apa dan kalian ini siapa ya? Sepertinya baru di sini," tanyanya sambil menebak.


"Oh perkenalkan saya Cheng Xin, yang disebelah saya Zhou Ling panggil saja Profesor Zhou karena dia seorang profesor." Pak Kepala tersenyum menyapanya. "Dan ini Lou Zhang panggil saja Kakek Zhang. Sementara yang cantik sendiri diantara kami namanya Zhou Fan panggil saja Fan Fan." Fan Fan yang dari tadi celingukan lalu beralih menyapa Kepala Gong. Cheng Xin memperkenalkan orang-orangnya satu persatu.


"Kami ingin bertanya pada Bapak, apa benar di desa ini sedang ada kasus makam hilang?" sambung Cheng Xin bertanya padanya.


"Iya Pak, jika kalian ingin tahu lebih silahkan ikut saya ke rumah," jawab Kepala Gong dengan anggukan lalu mengajaknya untuk ikut dengannya ke rumah.


"Baik Pak," jawab Cheng Xin setuju.


Cheng Xin dan lainnya mengikuti kepala Gong kerumahnya. Sementara di tempat yang tak jauh dari mereka empat pasang mata sedang memperhatikan mereka dari area pemakaman.


"Sing, bukankah itu si pengkhianat?" Tunjuk Bos Yang memberitahu.


"Siapa yang Bos maksud?" tanyanya tak mengerti.


"Haish, Cheng Xin, itu dia bukan? Ada Kakek Zhang dan si gadis cantik itu juga," jawabnya sambil menunjukkan tangan Sing ke arah mereka agar Sing bisa melihatnya.


"Ah iya mereka sedang disini juga ternyata. Tapi untuk apa mereka kesini? Lebih baik aku menyapanya saja," jawab Sing sedikit heran lalu berniat menghampirinya. Namun di cegat oleh Bos Yang.


"Eh jangan, kau jangan kesana. Lihat mereka juga sudah pergi. Kita pergi juga ayo ke sana!" Bos Yang menarik Sing untuk pergi menjauh dari pemakaman. Sing yang di tarik hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan Bos nya itu.


"Iya iya padahal aku sedikit kangen dengan nya," ucapnya sedikit menyesal. Mereka berdua lalu pergi meninggalkan area pemakaman yang sudah sepi sedari tadi.


...******🐾🐾🐾******...


Di tempat perkemahan, semua guru dan murid menjadi panik. Pasalnya kini bukan hanya satu murid saja yang diketahui hilang melainkan 5 murid nya lagi juga tak kunjung kembali setelah melakukan pencarian Vivian. Ya mereka adalah Cheng Mai dan keempat temannya.


"Ini tak bisa dibiarkan pak, kita harus melapor ke pihak berwajib," ujar Bu Lin memberikan usul.


"Benar Bu, dan sebaiknya anak-anak dipulangkan lebih awal sementara yang hilang kita cari bersama polisi nanti," kata Pak Dong yang setuju dengannya.


"Ok Pak Kepala kita bubarkan acara kemah ini dan segera ke kantor polisi," ucap Bu Lin lalu bergegas memberikan pengumuman pembubaran pada murid-muridnya.


Semua murid terpaksa di bubarkan lebih awal, mereka semua kembali bersama guru-guru yang lain. Sementara Bu Lin dan Pak Kepala sekolah pergi ke Kantor Polisi terdekat untuk melapor.


Vivian yanga masih berada di gubug tua, keadaannya mulai tampak lemas sekarang. Ia sudah tak ada lagi tenaga untuk melepaskan diri. Kini ia hanya berharap ada seseorang yang menolongnya. Sampai saat ini, pria yang sudah membawanya ke gubug tua entah hilang kemana. Ia tak kembali lagi setelah pamit meninggalkannya waktu itu.


"Aku harus kuat, aku harus bertahan," ucapnya menyemangati diri sendiri.


"Siapa pun.... tolong aku..., uhuk uhuk...." Vivian kembali mencoba berteriak namun tenaganya tak cukup sehingga ia menjadi terbatuk-batuk.


"Kaka itu kemana lagi kenapa sampai sekarang belum kembali," batinnya seketika air matanya menetes. "Hiks.... aku ingin bebas," isaknya.


Sementara pria tersebut sekarang sudah berada di sebuah gudang tua yang ada di Desa Loufen. Ia dalam kondisi terikat tangan nya dan di sumpal mulutnya. Kemarin malam disaat melanjutkan pencariannya ke pemakaman lagi, dirinya tak sengaja bertemu dengan Bos Yang dan juga Sing. Mereka setelah dari Motel ternyata langsung melanjutkan perjalanannya ke Desa Loufen lebih awal sehingga sampai di tujuan masih sekitar jam 3 dini hari. Bos Yang dan Sing melajukan mobilnya hingga sampai di area pemakaman. Karena masih dini hari, tempat itu menjadi kelihatan makin seram. Ditambah lagi suara burung hantu yang membuat bulu kuduk makin merinding dibuatnya. Namun mereka berdua tak peduli, mereka terus berjalan memasuki area pemakaman dengan berani.


Bos Yang berjalan paling depan dengan berani sementara Sing di belakang nya sambil melihat sekeliling.


"Bos, jalannya pelan-pelan aku sedikit takut," kata Sing sedikit memelankan suaranya.


"Aku juga sebenarnya sedikit takut, sudah fokus jalan aja," ucap Bos Yang sambil menengok kebelakang. Ia menyuruhnya untuk tetap berjalan.


"I-iya Bos," jawab Sing sedikit terbata. Mereka lalu berjalan pelan-pelan tapi pasti. Tiba-tiba...Dug. Suara Sing yang kepalanya terbentur badan Bos Yang dari belakang.


"Aduh Bos!" Pekik Sing karena Bos Yang tiba-tiba berhenti mendadak.


"Hush jangan berisik, itu yang disana siapa?" Suruhnya pelan lalu menunjuk ke arah depan agar Sing melihat nya juga.


Sing menyerngitkan matanya ke depan, "Siapa Bos?" tanyanya bingung.


"Buka matamu lebar-lebar," suruhnya masih pelan.


"Ah iya itu siapa ya Bos? Kelihatannya sedang menggali sesuatu di makam itu," ucap Sing yang merasa aneh dengan tingkah orang yang di lihatnya.


"Haish perasaan betul disini letaknya, tapi kenapa tak ada tanda-tanda emas atau apa muncul," gerutu si pemuda sambil terus menggali.


"Kertas milik Kak Gou ini benar atau tidak," ucapnya sambil melihat kertas yang dia ambil dari sakunya.


"Kita pelan-pelan mendekat sepertinya ia kunci kita menemukan harta karun di sini," ujar Bos Yang memberikan isyarat pada Sing.


Sing mengangguk setuju.


"Cepat keluarkan karung dari tas mu kita tangkap dia, pelan-pelan jangan sampai menimbulkan suara," suruhnya.


Sing mengangguk kembali.


1,2,3. Bos Yang memberikan aba-aba sebelum melakukan aksinya.


"Hee.... lepaskan! Kalian siapa?" Teriak pria tersebut ingin memberontak.


"Diam jangan berisik," suruh Bos Yang padanya.


Tiba-tiba cahaya muncul hampir menerangi mereka, sepertinya orang desa yang sedang ronda dan memancarkan senter nya ke arah kuburan.


"Cepat bawa dia, Sing, sebelum mereka ke sini. Jangan lupa alat alat nya kita bawa," suruh Bos Yang pada Sing segera.


"Siap Bos!" Jawab Sing langsung mengambil barang-barang milik pria tersebut.


Bos Yang dan Sing dengan segera pergi dari sana sambil membawa pria tersebut. Sementara orang-orang desa baru sampai di kuburan dan heran karena tak mendapati siapa pun disana


"Pang, tadi perasaan ada beberapa orang disini," katanya heran.


"Ah mata mu salah mungkin Sho," ucapnya.


"Lihat, makamnya di bongkar lagi," kata Sho sambil memberikan penerangan pada makam yang sempat di gali tadi.


"Pasti mereka sudah kabur," kata Pang kesal.


"Sial kita kecolongan lagi," ucap Sho ikut kesal.


"Ya sudah, kita pergi lapor Pak Kepala, rada merinding juga disini," ujar Pang.


"Ayo Pang! Mereka berdua lalu pergi meninggalkan pemakaman.


Bos Yang dan Sing sekarang sudah sampai di gudang tua setelah pulang dari area pemakaman. Ia melepas penyumbat mulut si pria itu dengan kasar. "Hee bangun! Ada yang ingin aku tanyakan pada mu," suruhnya sambil menepuk wajah pria tersebut.


Pria tersebut membuka matanya perlahan. "Si-siapa kalian? Mau apa kalian dengan ku?" tanyanya terkejut.


"Aku hanya ingin tahu saja, kau pasti pelaku pembongkaran makam disana kan?" jawab Bos Yang sambil tersenyum mengerikan.


"Ayo jawab!" Suruh Sing keras.


"Iya aku pelakunya, mau apa kalian?" jawab pria tersebut mengaku.


"Apa yang kau cari disana, sebuah harta karun kah?" tanya Bos Yang ingin tahu lebih.


Pria tersebut memilih diam tak mau menjawab.


"Hee jawab dan ini pasti petunjuk tentang harta karun tersebut kan," suruh Sing lagi padanya. Ia lalu mengambil sesuatu dan menunjukkannya pada pria tersebut.


"Jangan sentuh itu, itu milik ku. Iya aku sedang mencari sebuah harta karun disana," suruh pria itu dan pada akhirnya mengaku.


"Dari mana kau mendapatkan petunjuk ini ha?" tanya Bos Yang karena belum puas.


"I-itu milik Kakak ku, Gou Gou, dia yang meninggalkannya untuk ku," jawabnya terbata.


"Gou Gou?" ucapnya lirih. Bos Yang terkejut ketika mendengar nama tersebut yang tak asing di telinganya.


"Kau siapa kau...?" tanya Bos Yang lalu berhenti.


"Aku adiknya, Gou Ting, kalian mengenal Kaka ku kah? Dimana ia sekarang?" Jawab pria tersebut langsung bertanya mengenai kakanya.


"Kakak mu, kemungkinan sudah tiada karena dia telah di nyatakan hilang di Pulau Terlarang," jawab Bos Yang asal.


"Apa? Jangan bohong kalian," tukas Gou Ting tak percaya.


"Aku tak bohong karena Kakak mu pernah membuat kami ketakutan dulu, heh syukurlah dia tak selamat," kata Bos Yang sedih namun tiba-tiba senang kembali. "Ha-ha-ha," tawa Bos Yang menggelegar.


"Kurang ngajar kalian, cepat lepaskan aku!" Kesal Gou Ting menyuruh untuk dilepaskan.


"Lepaskan? Jangan harap karena kau kunci untuk menemukan harta karun itu," jawab Bos Yang meledek lalu menyumbat mulutnya kembali.


Pria itu ternyata adalah adik Gou Gou, seorang Ketua perompak timur yang telah dinyatakan hilang di Pulau Terlarang. Dia memiliki nama lengkap Gou Ting. Tujuannya ke Desa Loufen adalah untuk mencari sebuah harta karun yang terkubur bersama makam tua di Desa Loufen ini. Ia mengetahui hal tersebut karena tak sengaja menemukan sebuah kertas yang ditinggalkannya Gou Gou untuk nya. Sebuah kertas berisikan informasi tentang harta karun sebuah makam yang menyimpan ratusan koin emas didalamnya. Tentu dirinya penasaran dan berkunjung langsung untuk menemukannya.


Gou Ting, pria yang menculik Vivian kini malah ikut di culik oleh Bos Yang dan Sing. Lalu bagaimana dengan nasib Vivian? Apakah dia bisa bertahan sampai Bu Lin dan polisi menemukannya?


...******πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£******...


Cheng Mai dan teman-temannya sekarang sudah berada disalah satu rumah warga Desa Loufen. Ia adalah istri dari Pak Kepala Gong. Bu Gong tak sengaja bertemu mereka dikala sedang mencari kayu bakar di hutan. Bu Gong lalu membawa mereka kerumah karena melihat kondisi mereka yang sangat lelah.


"Makasih ya Bu sudah mau membantu kami untuk singgah disini sebentar," ucap Cheng Mai setelah meminum air yang di berikan olehnya.


"Sama-sama anak-anak, kalian bukannya anak-anak yang kemah di desa Lounge?" tanyanya.


"Bagaimana ibu tau?" tanya balik Xiao Dan.


"Ada lambang Desa Lounge di baju kalian, itu diberikan pada pengunjung yang berkemah disana," jawab Bu Gong sambil menunjuk ke dada Xiao Dan.


"Ah begitu rupanya, iya kami anak-anak yang sedang berkemah disana," jawab Cheng Mai mengerti.


"Tapi kenapa kalian bisa ada di hutan tadi? Untung ibu melihatnya sebelum kalian jadi santapan hewan buas," tanyanya lagi.


"Kami sedang mencari teman kami yang hilang tiba-tiba dari area perkemahan Bu," jelas Jin Mei lalu meneguk air hangatnya.


"Oh begitu." Angguk Bu Gong mengerti.


"Iya Bu mungkin saja ia ada disini, jadi kami pergi menelusuri hutan Desa Loufen," tambah Cheng Mai.


"Baiklah kalian lebih baik istrirahat dulu, saya akan mencoba meminta suami saya untuk membantu kalian nanti," kata Bu Gong pada mereka.


"Wah terima kasih Bu," ucap Cheng Mai senang begitu juga teman-temannya.


"Sama-sama," jawab Bu Gong tersenyum.


"Mari silahkan duduk!" suruh Pak Kepala pada Cheng Xin dan lainnya setelah tiba dirumahnya.


"Itu dia suami saya sudah pulang," kata Bu Gong memberitahu Cheng Mai dan teman-temannya. Cheng Mai dan teman-temannya pun berbalik untuk melihatnya.


"Cheng Mai!" panggil ayahnya terkejut.


"Ayah!" Cheng Mai juga terkejut dengan kehadiran ayahnya disana.


Bersambung.....🐾🐾🐾