
Pagi yang cerah di kota Guangzhou. Jam 7 Cheng Mai sudah berada di kelasnya dan sedang menjalankan piket paginya. Ya Cheng Mai berangkat awal karena ada tugas piket kelas pagi ini. Dirinya sudah mengepel dan menyapu serta menata kelasnya dengan rapi dan bersih. Tentu saja ia lakukan semua itu tak sendiri, di bantu oleh Jin Mei teman sebangkunya serta sahabat nya ini pastinya. Saat mereka berdua berjalan menuju kelasnya kembali sehabis merapikan diri di kamar mandi, semua murid sudah ramai mengerubuti mading sekolah. Cheng Mai yang penasaran tentu saja kepo dengan isi mading tersebut. Ia pun menarik Jin Mei untuk mendekat ke Lobi sekolah letak mading dipasang.
"Huwaw ada apa ini di Lobi sudah ramai? Perasan tadi belum," celetuk Cheng Mai tiba-tiba berhenti.
"Hem entahlah Cheng Mai, lebih baik kita ke kelas aku sangat lelah," kata Jin Mei berniat mengabaikan.
"Tunggu Jin Mei, aku penasaran, ayo kita kesana!" Tarik Cheng Mai langsung yang membuat Jin Mei terkejut.
"Etttt hufh." Jin Mei yang ditarik hanya bisa pasrah sambil membuang nafas kasarnya.
Setelah sampai di Lobi. "Permisi permisi numpang lewat," ucap Cheng Mai masuk ke kerumunan dengan masih menarik Jin Mei.
"Wah apa ini?" celetuk Cheng Mai penasaran. "Wisata kunjungan ke Museum Guanzhou untuk seluruh kelas 11," katanya dengan raut senang setelah membaca papan pengumuman.
"Jin Mei..., kita akan mengunjungi museum," lanjutnya memberitahu sambil berbalik menatap Jin Mei.
"Kapan? Kapan?" tanyanya tak kalah senangnya.
"Bentar, bentar," suruh Cheng Mai yang langsung berbalik untuk membaca kembali pengumuman tersebut.
"Haa hari ini di jam istirahat Mei," katanya. Mereka berdua tampak senang dengan pengumuman itu. Mereka berdua bahkan jingkrak-jingkrak ditempat karena saking senangnya. Semua mata memandang kearah mereka, namun mereka hiraukan. Diantaranya ada yang geleng-geleng kepala atau sekedar tertawa kecil saat melihat tingkah Cheng Mai dan Jin Mei yang kegirangan itu.
"Ckkckk kalian berdua sepertinya sangat senang sekali mendengar pengumuman ini, apa serunya ke Museum?" cibir Vivian tiba-tiba sambil melipat tangannya di dada.
Mereka berdua mengehentikan kesenangannya dan menengok, "Hai Vivian! Kau ingin melihat juga kah?" sapa Cheng Mai langsung sambil mempersilahkan Vivian untuk melihat namun ditolak olehnya.
"Heh tidak perlu tak tertarik juga, kunjungan murahan," tolaknya sambil mencela.
"Wah songong nya." Jin Mei dan Cheng Mai tentu saja terkejut karena ada murid yang menganggap kunjungan ini tak bermakna sekali. Jin Mei bahkan ingin marah dan menegur mereka namun dihentikan oleh Cheng Mai.
"Ayo cabut," ajak Vivian kepada dua temannya meninggalkan Cheng Mai dan Jin Mei.
"Em kita kembali juga yuk, Dan Dan dan Dou Dou pasti sudah datang sekarang," ajak Cheng Mai juga pada Jin Mei untuk menenangkan dirinya.
"Baiklah Cheng," jawabnya menurut. Mereka berdua pergi meninggalkan lobi yang masih dikerumuni para murid. Ada yang baru datang melihat ada juga yang memang masih ingin lama-lama disana.
Dikelas, benar saja Xiao Dan dan Dou Dou baru saja tiba dikelas dan sedang mengangkat tempat duduknya yang semulanya ditaruh kebalik diatas meja
"Hai! Kalian baru tiba kah?" Sapa Cheng Mai sambil bertanya ketika melangkah ketempat duduknya.
"Iya Cheng Mai, nih aku menunggu Dou Dou, lama sekali," jawabnya sambil menaruh tasnya ke meja. Lalu dirinya mengembalikan kursi yang ada dimeja ke posisinya semula.
"Hey aku lama itu karena berpamitan dengan nenekku dulu, beliau kan akan pulang ke halamannya," tukas Dou Dou langsung sambil duduk dan mengunyah snack-nya lagi.
"Dou Dou, nenekmu pulang sekarang?" tanya Jin Mei ingin tahu lebih.
"Iya Mei, nenekku sudah rindu kakek katanya," jawabnya setelah menelan cemilannya.
Jin Mei hanya mengangguk mengerti, mereka berdua lalu duduk ketempat nya. "Oh iya kalian sudah tau kalau sekolah kita akan mengadakan kunjungan ke Museum siang ini?" tanya Cheng Mai sambil membuka bukunya.
Xiao Dan dan Dou Dou berbalik dan menggeleng kompak kerena memang belum tahu.
"Tunggu, museum katamu?" tanya Dou Dou memastikan.
"Iya Dou Dou, semua kelas 11 harus ikut katanya," jawab Jin Mei mengangguk.
"Hoo berarti kita bisa sekalian melihat pusaka keris Raja Han dong, iya kan?" tebak Dou Dou sambil menunjuk.
"Hem iya, katanya keris itu disimpan disana sekarang," timpal Cheng Mai mengangguk.
Sedangkan di sisi bangku lain, seperti biasa Vivian akan memandang sinis ke arah Cheng Mai. Tapi ia begitu sebenarnya dirinya cemburu pada Cheng Mai, karena Cheng Mai selalu dekat dengan cowo populer dikelasnya, siapa lagi kalau bukan Xiao Dan. Ya Vivian sebenarnya suka dengan Xiao Dan, namun dirinya tak bisa dekat dengannya karena Xiao Dan selalu menghindar saat ia mendekat. Xiao Dan akan memilih memanggil Cheng Mai daripada meladeni dirinya.
"Vivian, kau tak ingin ikut berkunjung ke museum nanti?" tanya temannya tiba-tiba.
"Entahlah aku malas, tapi sekolah mewajibkan semuanya untuk ikut," jawabnya sambil terus menatap sebal ke arah Cheng Mai.
"Kau harus ikut, Vivian dan kau harus mencoba mendekati Xiao Dan. Saat di bus nanti, kau harus bisa duduk disebelahnya mendahului Cheng Mai atau Dou Dou si gendut itu, "bujuk teman satunya sambil menunjuk ke Cheng Mai dan Dou Dou.
"Hem baiklah aku akan ikut dan duduk disebelahnya nanti." Vivian akhirnya mau bergabung dan mengikuti ide temannya itu untuk mendekati Xiao Dan.
...π‘οΈπ‘οΈπ‘οΈπ‘οΈπ‘οΈπ‘οΈ...
Di depan Kantor Penerbitan Buku Sejarah, Guangzhou, tampak seorang pria yang sudah rapi dengan kemeja putih dan tas selempang hitam dipundaknya. Dirinya tampak ragu untuk melangkah masuk ke dalam. Ia adalah Cheng Xin, dia sudah berjanji akan pergi mengunjungi tempat kerja barunya secara langsung.
"Hufh semoga lancar," ucapnya sambil menghela nafas sebelum akhirnya masuk ke dalam. Namun saat baru saja melangkahkan kakinya, tiba-tiba seseorang wanita menghampirinya dari dalam.
"Permisi, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu dengan sopan.
"Oh maaf, saya ingin bertemu dengan Bu Kei. Apakah ibu mengenalnya," jawab Cheng Xin memberitahu sambil bertanya.
"Oh kebetulan dengan saya sendiri Pak, Bapak... Pak Cheng Xin kah?" jawabnya sambil menebak.
"Benar Bu, salam kenal," ucap Cheng Xin yang langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Salam kenal Pak." Bu Kei menerima jabatan tangannya. "Baiklah mari ikut saya ke ruangan," ajaknya pada Cheng Xin dengan ramah.
Cheng Xin menurut dan mengikutinya dari belakang. Sesampainya di ruangan, Cheng Xin disuruh duduk dan menyerahkan berkas lamaran pekerjaannya. Cheng Xin lalu ditanyai berbagai macam pertanyaan mengenai pekerjaan barunya. Cheng Xin dengan ragu-ragu menjawab semua pertanyaan itu. Hal yang tak terduga terjadi, Bu Kei yang selaku wakil perusahaan, menyetujui semua jawaban Cheng Xin dan merasa puas akan jawaban tersebut. Bu Kei pun menjabat tangan Cheng Xin sebagai tanda dirinya diterima kerja sebagai penulis sejarah di kantor nya.
"Selamat Pak Cheng Xin, Anda diterima bekerja disini," ucapnya sambil menata berkas miliknya.
"Beneran Bu, syukurlah. Terimakasih banyak Bu." Cheng Xin terkejut dan senang. Ia pun langsung beranjak dan menjabat tangan Bu Kei kembali sambil tersenyum.
"Pak Cheng, apa bisa mulai menulis dari sekarang? Kebetulan saya dengar Anda salah satu orang yang ikut menemukan harta karun di Pulau Terlarang kemarin. Jika tak keberatan bisakah Bapak menulis kisahnya menjadi buku?" tanyanya meminta.
"Wah dengan senang hati saya menyetujui nya Bu. Baiklah jika kisah ini sudah selesai saya akan beritahu anda," jawab Cheng Xin yang langsung setuju.
"Baiklah pak, gaji bapak sebagai penulis akan ditransfer di setiap buku anda terbit," imbuhnya.
"Baik, baik, sekali lagi terimakasih," ucapnya tersenyum senang. "Kalau begitu saya permisi dulu," pamitnya sambil menunduk.
Cheng Xin keluar dengan perasaan lega dan juga senang. Akhirnya dirinya tak menganggur lagi dan bisa memulai menulis kisah Pulau Terlarang dirumah.
...πΊπΊπΊπΊπΊπΊ...
Jam istirahat tiba, seluruh kelas 9 sudah berkumpul dihalaman sekolah. Deretan beberapa bus sudah hadir guna untuk menampung mereka ke tempat tujuan. Kunjungan ini berfungsi agar para siswa kelas 9 dapat lebih mengenal sejarah kuno China ini.
Anak-anak satu-persatu masuk ke dalam bus, tak terkecuali Cheng Mai dan lainnya. Cheng Mai sudah duduk duluan dengan Jin Mei tentunya. Sedangkan Xiao Dan masih menunggu Dou Dou yang tengah pergi ke kamar mandi. Ini kesempatan bagi Vivian untuk bisa duduk dengan Xiao Dan pastinya. Saat Vivian masuk ke dalam bus bersama kedua temannya, dan saat sudah mendekati kursi Xiao Dan, kedua temannya langsung menyuruh dirinya untuk duduk di sebelah Xiao Dan saja karena tinggal kursi Xiao Dan yang masih tersisa satu. Namun baru saja akan duduk, dari arah berlawanan Dou Dou berlari dan langsung duduk di sebelah Xiao Dan, yang membuat dirinya terkejut dan langsung mencabut handset-nya. "Kau mengagetkanku," katanya.
"Hehe maaf," katanya sambil terkekeh.
"Eh Vivian kau mau duduk di sini kah tadi?" tanya Dou Dou yang mendongak ke arahnya.
"Em tidak aku kebelakang dulu," jawabnya cepat karena malu.
"Tuh cewe kenapa ya?" pikirnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Mana ku tau," timpal Xiao Dan tak peduli sambil memasangkan kembali handset di telinga dan mulai menikmati lagunya.
"Sial si gendut itu bikin aku malu saja," gerutu Vivian sambil memukul pelan sofa bus. Dirinya menatap kesal ke arah Dou Dou karenanya usahanya jadi gagal lagi. Kedua temannya hanya bisa mengelus-elus pundaknya agar tenang kembali.
Bus yang menampung para murid mulai melaju. Tak sampai satu jam, mereka sudah sampai di depan museum. Museum kota Guangzhou, museum yang cukup besar yang berada ditengah kota. Didalamnya kita akan menjumpai berbagai kisah prasejarah China mulai dari dinasti pertama sampai yang terakhir. Macam-macam benda antik dan hasil penemuan para ilmuwan juga di simpan di sini, seperti keris pusaka Raja Han yang berhasil didapatkan oleh Cheng Mai dan teman-temannya.
Semua murid turun dan mengantri untuk masuk kedalam museum.
Didalam antrian, "Ini pertama kalinya aku kesini Cheng Mai," kata Dou Dou seraya menatap gedung museum yang besar.
"Benarkah Dou, aku juga, sepertinya kita baru pertama kali kesini," ujar Jin Mei menimpali perkataannya.
"Hem sepertinya cuma aku saja yang sudah," imbuh Cheng Mai sombong.
"Ya kan ayahmu sering berkunjung kesini," saut Xiao Dan yang dibelakangnya.
"Hehe." Cheng Mai berbalik dan terkekeh.
"Berarti kau harus menjadi pemandu kami, Cheng Mai," pinta Xiao Dan tersenyum sambil mendekatkan wajahnya ke Cheng Mai.
"Hooo baiklah, baiklah," jawabnya dengan manggut-manggut. "Pemandu Cheng Mai siap melayani kalian disini," ucapnya berlagak seperti pemandu wisata sungguhan.
"Ha-ha-ha-ha." Mereka tertawa bersama karena melihat tingkah Cheng Mai yang menirukan gaya pemandu wisata dengan baik. Didalam museum, Cheng Mai benar-benar menjadi pemandu wisata untuk teman-temannya. Dia menjelaskan seluruh cerita sejarah dengan detail yang membuat kagum teman-temannya tak terkecuali para murid yang lain.
"Wah hebat kau Cheng, pecinta sejarah memang beda," kagum Zhan Yang padanya.
'Ya ini karena ayahku yang seorang sejarawan dan aku ingin menjadi seperti beliau kelak," jawabnya.
impian yang bagus Cheng Mai, ibu mendukung mu, timpal Bu Lin sambil menaruh tanyanya di pundak Cheng Mai. Bu Lin selalu wali kelasnya pasti akan mendukung impian para muridnya.
"Hee bukankah ini keris yang berhasil kalian temukan ya." Zhan Yang mendadak berlari ke arah keris pusaka disimpan.
"Mana? Mana?" Semua murid ikut mendekat untuk melihat.
"Mari kita menuju kesana juga, ujar Bu Lin mengajak Cheng Mai. Dirinya mengangguk dan mengikutinya dari belakang.
"Wah indah sekali keris pusaka milik Raja Han ini, berwarna emas perak dengan ukiran cantik di sarung nya," celetuk Zhan Yang yang takjub dengan benda tersebut.
"Kalian tau keris ini sebenarnya hasil curian adik Raja Han yang bernama Meng Shu," kata Cheng Mai memberitahu yang membuat lainnya terkejut.
"Haa maksudnya?" Zhan Yang terlihat bingung dan penasaran begitu juga yang lainnya. Mereka menatap Cheng Mai seakan memintanya untuk bercerita.
Cheng Mai yang menyadari itu, mulai bercerita. "Ya jadi zaman dahulu sang adik Raja sangat tertarik sekali pada keris milik raja Han. Ia bersama istrinya pun merencanakan pencurian. Namun dirinya berhasil ketahuan dan orang kerajaan mengejarnya," katanya.
"Terus, terus," pinta yang lainnya karena semakin penasaran.
"Meng Shu ternyata mendapat luka panah di bagian dadanya. Ia pun berlari ke dalam Gua untuk bersembunyi. Namun karena sudah takdirnya, ia tak sanggup dan memilih mengubur keris itu sebelum dirinya pada akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke tebing Gua," lanjutnya dan berakhir seketika.
Semua murid bertepuk tangan setelah mendengar cerita Cheng Mai. Namun ternyata ada tiga murid yang bertepuk tangan meremehkan disertai raut wajah yang tak mengenakan, siapa lagi kalau bukan Vivian dan kedua temannya itu.
"Wah Cheng kau mengetahui semuanya," kagum Zhan Yang kembali.
"Ya itu tertulis di buku sejarah Raja Han yang ada di perpustakaan kota. Dan kebetulan sekali sebelum sekolah dimulai aku mengunjunginya terlebih dahulu," jawab Cheng Mai jujur. Dirinya memang kerap kali mengunjungi perpustakaan kota untuk mempelajari sejarah.
Karena waktu sudah sore, sudah saatnya untuk mengakhiri kunjungan ini. Bu Lin pun memberikan pengumuman kepada para muridnya. "Baiklah anak-anak sepertinya sudah cukup waktu kita hari ini. Mari kita kembali ke sekolah dan pulang. Semoga kita bisa mendapatkan ilmu dari mengunjungi museum ini," kata Bu Lin disertai harapan.
Para siswa keluar secara tertib dari museum. disaat keluar Cheng Mai tak sengaja berpapasan dengan ayahnya di pintu masuk museum. Ia pun segera memanggilnya. "Ayah..."
Cheng Xin yang mendengar panggilan anaknya otomatis langsung berhenti dan menghampirinya. "Hai Nak! Kalian...," balas Cheng Xin setelah berhenti sambil menatap bingung ke arah anaknya.
"Oh kami baru saja mengunjungi museum yah untuk menambah wawasan kami," sambung Cheng Mai langsung
"Oh begitu, bagus itu," katanya sambil mengacung-acungkan jempolnya ke mereka.
"Ngomong-ngomong Ayah sedang apa disini?" tanya Cheng Mai penasaran.
"Oh ayah sedang ingin bertemu Profesor Zhou," jawabnya. Cheng Xin lalu mengecek jam tangannya dan dengan segera dirinya berpamitan kepada anaknya.
"Sudah jamnya, Ayah pergi dulu, sampai jumpa dirumah!" pamit nya cepat pada anaknya.
"Hem." Cheng Mai hanya membalas dengan anggukan barulah setelah itu Cheng Xin melanjutkan perjalanannya ke dalam museum.
"Ada apa ayah menemui profesor Zhou?" pikirnya mulai penasaran.
"Hai Cheng, ayo! Bus sudah maju jalan itu." Jin Mei menepuk pundak temannya yang melamun dan memberitahu sambil menunjuk kearah bus.
"Haa iya Jin Mei." Cheng Mai terkejut dan berjalan menyusul yang lainnya sambil terus melihati ayahnya masuk sampai tak terlihat lagi.
Cheng Mai dan lainnya kini pergi menuju busnya. Dirinya sedikit penasaran kenapa ayahnya menemui profesor Zhou tiba-tiba. Ia berniat menanyakannya nanti setelah sampai dirumah.
Bersambung....ποΈποΈποΈ