Hidden Treasure Hunter's

Hidden Treasure Hunter's
Buku Unik Penemuan Cheng Mai



"Pa! Cheng Mai pulang...," teriaknya sambil melepas sepatunya. Cheng Mai yang baru saja pulang langsung buru-buru menuju kamarnya. Sementara Cheng Xin yang sedang berada di kamarnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Dasar anak itu."


Di kamar Cheng Mai, dirinya langsung membuka tasnya dan mengambil buku yang barusan dipinjamnya. Ia bukan untuk membaca buku tersebut melainkan mengambil yang tersimpan didalamnya. Gulungan bambu mulai di buka kembali oleh Cheng Mai.


"Sepertinya ini buku tentang sistem pemerintahan terdahulu," monolog nya sambil memperhatikan gulungan tersebut.


"Lebih baik aku cari tahu tentangnya lebih di internet," pikirnya.


Cheng Mai lalu membuka laptopnya dan pergi ke laman Douban untuk mencari. '"Buku Gulungan Bambu Kuno," tulisnya di papan ketik. Setelah menunggu beberapa menit, hasil pencarian di temukan.


"Wah sem 2000 tahun yang lalu? Bahkan aku belum lahir buku ini sudah ditemukan sebelumnya." Cheng Mai tersentak kaget setelah membaca artikel terkait penemuannya itu.


Ribuan slip atau lembaran tipis bambu (berbentuk persegi panjang yang diikat menjadi satu menjadi buku) sebelumnya pernah ditemukan di situs arkeologi Hebosuo, Kunming, Provinsi Yunnan, China barat daya. Itulah yang tertulis di dalam pencariannya.


"Ternyata ini ditemukan di Yunnan, tapi kenapa bisa di perpustakaan ku," ucapnya sambil menggerakkan kursor nya.


Cheng Mai lalu memilih untuk men-scrol ke bawah 'tuk membacanya kembali. Sebelum kertas ditemukan dan digunakan secara ekstensif untuk menulis, orang China menggunakan lembaran bambu atau kayu yang diikat jadi satu seperti buku. Lembaran-lembaran ini kemudian digulung.


Sekitar 2000 atau 1300 dari lembaran ini berasal dari Dinasti Han (202 SM-220 M), sedangkan 837 merupakan cetakan tersegel. Cheng Mai membaca dengan serius di dalam hatinya.


"Ah jadi ini peninggalan dinasti Han," katanya sambil manggut-manggut.


Lagi-lagi gadis satu ini menemukan harta karun yang di prediksi sebagai peninggalan Dinasti Han. Buku yang sangat penting pada masanya karena menyangkut data-data pemerintahan di wilayahnya pada masa itu.


"Tapi, bukannya lembaran bambu itu biasanya berisi karya sastra dan buku tentang pertanian dan pengobatan, tapi dalam temuan ku ini, sebagian besar merupakan catatan pemerintahan," pikirnya heran.


Disini tertulis catatan tersegel sangat penting karena termasuk segel resmi dari 20 dari 24 kabupaten yang diperintah oleh kerajaan Dian kuno, budaya pemukiman berbasis pertanian non-Han dan pekerja logam yang sangat canggih yang berpusat di Yunnan modern. Kaisar Wu dari Han menganeksasi kerajaan tersebut pada tahun 109 SM.


Beberapa lembaran berisi daftar nama 12 daerah termasuk "Dian Chi" dan "Jian Ling", yang pernah menjadi bagian Prefektur Yizhou, yang didirikan Kaisar Wu dari Dinasti Han (206 SM-220 M). Wu mendirikan daerah itu setelah mengalahkan Kerajaan Dian, yang didirikan kelompok etnis kuno yang berada di perbatasan barat daya Provinsi Yunnan.


Kiranya itu yang ditulis di gulungan bambu tersebut. Cheng Mai kembali ke laptopnya.


Di Laman Douban nya tertulis bahwa sejarawan China, Tao Zhongjun pernah mengatakan kepada Global Times, ditemukan juga karakter atau tulisan "hakim daerah,” dan β€œDian Cheng" (perdana menteri pemerintahan Dian). Menurutnya informasi itu menunjukkan sistem pemerintahan sosial yang dirancang dengan baik digunakan untuk memerintahkan wilayah perbatasan barat daya.


Ajaran-ajaran Konfusius juga ditemukan dalam lembaran bambu, termasuk dokumen pengadilan, sistem transportasi, dan hubungan etnis.


"Waw buku ini sangat penting pada masanya ternyata." Cheng Mai kembali di buat terkejut setelah membacanya sampai akhir. "Apa aku beritahu ayah ya? Siapa tahu ayah tau tentang buku ini," ujarnya.


Cheng Mai pun bangkit dari duduknya dan kembali menggulung bambu tersebut. Dirinya pergi menuju kamar ayahnya. Di kamar Cheng Xin, ia masih sibuk dengan bukunya. Ia kembali menulis untuk bab ke 20 nya. Cheng Xin kini menutup laptopnya karena sudah selesai menulis. Ia meregangkan otot-otot tangannya karena lelah mengetik. Disaat itu juga, Cheng Mai datang dengan mengetuk pintu kamarnya.


"Tok tok apa aku ganggu Ayah," ucapnya setelah mengetuk pintu kamarnya.


"Tidak Nak, kebetulan ayah sudah selesai. Mari masuk!" kata Cheng Xin sambil menyuruh anaknya masuk.


Cheng Mai lalu masuk setelah mendapat izin darinya.


"Ada apa kamu cari ayah, Nak?" tanyanya.


"Aku ingin berbicara sesuatu pada Ayah, ini mungkin bisa dikatakan harta karun," jawab Cheng Mai mengutarakan maksudnya.


"Harta karun apa? Di sekolah ada harta karun lagi?" tebaknya bingung.


"Iya, tapi kali ini di perpustakaan." Cheng Mai lalu menunjukkan gulungan bambu tersebut pada ayahnya, "Ini Yah, tadi aku tak sengaja menemukannya di perpustakaan. Dan diam-diam aku menyimpannya, jelas Cheng Mai.


"Coba ayah lihat, pintanya." Cheng Mai lalu memberikan gulungan bambu tersebut pada ayahnya.


Cheng Xin pun membuka gulungan bambu tersebut. Ia terkejut ketika mengetahui itu adalah catatan penting pada zaman terdahulu.


"Ini bukankah buku catatan sistem pemerintahan Dinasti Han?" tanyanya terkejut.


"Iya Yah dan ini ditemukan 2000 tahun yang lalu tapi entah kenapa aku menemukannya kembali di perpustakaan ku," jelas Cheng Mai lagi.


"Kalau begitu ayah minta kamu simpan baik-baik ya Nak, ayah akan bilang ke profesor untuk menyimpannya di museum," pintanya pada Cheng Mai.


"Baiklah Yah, Cheng pamit ke kamar lagi." Cheng Mai mengerti lalu dirinya pamit kembali untuk beristirahat.


"Iya Nak. Selamat istirahat!" ucap ayahnya sambil tersenyum.


"Ayah juga," balas Cheng Mai di balik pintu sebelum pintunya ditutup olehnya.


...******πŸ“œπŸ“œπŸ“œ******...


Keesokan harinya di perpustakaan, Cheng Mai kembali ditanyai oleh temannya, Jin Mei karena masih penasaran akan buku yang dipinjam temannya itu. Baru saja Cheng Mai duduk, ia langsung bertanya padanya.


"Cheng, kamu aneh kemarin?" tanya Jin Mei tiba-tiba.


"Aneh? Aneh kenapa dan sekarang?" Cheng Mai menyerngitkan alisnya sambil berbalik tanya.


"Dilihat-lihat masih saja aneh, sebenarnya buku yang kamu pinjam itu buku apaan sih. Penasaran tau," jawab Jin Mei sambil memandangi temannya itu.


"Ada apa.... dengan dia?" tanya Cheng Mai pada dua temen cowoknya.


Xiao Dan dan Dou Dou kompak mengangkat bahunya.


"Kamu pinjam buku yang aneh-aneh ya Mai," tebak Jin Mei karena sudah penasaran sekali.


"Enak aja mana ada aneh, nih buku yang ku pinjam," tukas Cheng Mai langsung sambil mengeluarkan buku hasil pinjamannya kemarin.


"Haa buku pelangsing badan?" Jin Mei terkejut dengan buku Cheng Mai begitu juga Xiao Dan dan Dou Dou.


"Kamu pinjam buku ginian? Untuk apa?" tanya Xiao Dan tak percaya. Dou Dou yang juga ingin tahu hanya manggut-manggut.


"Biar bisa belajar gaya hidup sehat aja," jawab Cheng Mai santai.


"Hoo pantes kamu dari kemarin aneh dan kagak mau kasih tau, ternyata buku yang dipinjam buku ginian wkwk." Jin Mei berkata sambil tertawa di akhir.


"Dan ku tebak kamu buru-buru kemarin mau langsung olahraga kan. Eh tapi seingat ku kamu gak suka olahraga tuh," tebaknya yakin namun ragu karena mengingat temannya itu tidak suka berolahraga.


Cheng Mai hanya terkekeh untuk menimpalinya. Mana ada olahraga, Cheng Mai ini orang yang malas berolahraga sebenarnya. Gara-gara asal ambil, Cheng Mai jadi rela ditertawakan teman-temannya.


"Iya Cheng, tumben sekali kamu mau belajar hidup sehat," ujar Dou Dou yang juga merasa aneh pada Cheng Mai.


"Emang aneh ya?" tanya Cheng Mai tak paham.


"Ya kagak aneh malah itu bagus, latihan yang giat ya biar badan mu jadi berisi," jawab Xiao Dan sambil mengelus lembut rambut Cheng Mai.


"Hem." Ia dengan sendirinya mengangguk.


Cheng Mai yang tampak malu-malu langsung memundurkan kepalanya untuk menghindar.


...*******🏯🏯🏯********...


Akhir pekan pun datang, Cheng Mai dan Cheng Xin berniat untuk pergi ke museum menemui Profesor Zhou dan Kakek Zhang. Mereka berdua akan memberikan buku temuan Cheng Mai untuk disimpan ke Museum. Karena itu sudah seharusnya hasil barang langka di taruh di sana agar keasliannya tetap terjaga. Sebelumnya mereka berdua sudah berdiskusi tentang keputusan ayahnya agar menaruh buku tersebut ke Museum saja karena itu adalah tempatnya dan Cheng Mai pun menyetujui keputusan itu.


"Cheng Xin!" Panggil seseorang dari belakang.


"Kakek...." Cheng Mai yang menengok dan tau siapa yang datang langsung memanggilnya.


"Duh duh cucu kakek lama tak jumpa makin besar saja." Cheng Mai terkekeh, hehehe. "Gimana sekolahnya lancar?" tanyanya pada cucunya.


"Lancar Kek cuma sekarang masih belum aktif betul seperti semula masih harus belajar di perpustakaan untuk sementara," jawab Cheng Mai menjawab.


"Hoo begitu ya ya ya," ucapnya mengangguk-angguk.


"Xin dan Mai, mari kita duduk di sana," ajak Profesor Zhou pada mereka berdua.


Cheng Mai dan ayahnya mengangguk dan mengikuti kedua kakek ke tempat duduk yang tunjuk.


"Ada apa kalian ingin menemui kami?" tanya profesor setelah semuanya sudah duduk.


"Nak, ayo jelaskan!" Suruh Cheng Xin pada anaknya.


"Begini Kek, Prof, Cheng Mai menemukan harta karun kembali dan kali ini sebuah buku yang terbuat dari bambu," jelas Cheng Mai bercerita.


"Benarkah!" Celetuk profesor terkejut.


"Iya Prof," Cheng Mai anakku tak sengaja menemukannya di perpustakaan sekolah," timpal Cheng Xin mewakili


"Coba mana kakek mau lihat," pinta Kakek Zhang pada Cheng Mai agar dirinya bisa melihat dan memprediksinya.


"Ini Kek." Cheng Ma memberikan gulungan bambu yang tersimpan di dalam tasnya.


"Benar-benar buku yang langka, unik dan bagus. Ini buku catatan pemerintah Kerajaan Han rupanya," puji Kakek Zhang setelah membuka dan membaca gulungan tersebut.


"Iya Kek, itu berasal dari 3000 tahun yang lalu," kata Cheng Mai padanya.


Mata Kakek Zhang kembali memperhatikan buku langka tersebut. Ia mencoba membacanya perlahan dari garis ke garis


"Tulisannya sangat rapi dan bagus," pujinya lagi pada gulungan tersebut.


"Itu apa Kek?" Sebuah suara tiba-tiba muncul dari belakang Kakek Zhang.


"Miss Fan!" Pekik Cheng Mai terkejut.


"Hai Mai! Apa kabar?" Sapa Miss Fan padanya.


"Baik Miss Fan," jawab Cheng Mai sopan.


"Oh iya apa yang sedang kakek baca?" tanya Miss Fan kembali pada Kakek Zhang.


"Sebuah catatan pemerintah Dinasti Han," jawabnya sambil mengasih lihat buku tersebut.


"Ooo seperti baru ditemukan ya," tebak Miss Fan setelah melihat gulungan buku tersebut.


"Ya ini ditemukan oleh Nak Cheng Mai di perpustakaannya," jawab Cheng Xin memberitahu.


"Wah penemuan lagi nih," katanya sambil mengalihkan pandanganya ke Cheng Mai. Cheng Mai hanya menggaruk-garuk kepalanya sambil nyengir menapilkan deretan giginya.


"Eh iya denger-denger kemarin juga di sekolah kalian habis ada harta karun ya. Di forum internet lagi rame banget tuh, Kaka pusing bacanya," ucap Miss Fan pada Cheng Mai.


"Hihi iya ka kemarin di kelasku dan sekarang di perpustakaan," kata Cheng Mai sambil terkekeh


"Jadi kelasmu...?" Miss Fan tak melanjutkan ucapannya karena langsung dipotong oleh Cheng Xin.


"Ya terpaksa di bongkar, Cheng Mai dia belajar di perpustakaan untuk sementara sekarang," potongnya.


"Benarkah begitu Mai?" tanya Miss Fan memastikan.


"Iya ka," jawabnya singkat.


"Cheng, ku dengar dari teman ku di wilayah Timur juga sedang gempar keanehan disana," ujar profesor memberitahu.


"Di wilayah Timur? Di Nanchang maksudnya," tebak Cheng Xin langsung.


Profesor mengangguk. "Apa yang telah terjadi disana?" tanya Cheng Xin penasaran.


"Aku dan Zhang'er juga tak tau pasti tapi kejadian aneh itu terjadi di pemakaman umum yang ada disana," jawabnya.


"Mungkin ada harta karun disana Yah," tebak Cheng Mai langsung.


Hush. Cheng Xin menyenggol tangan anaknya agar diam tak asal bicara.


"Siapa tau juga Yah, hal aneh pasti ada sesuatu nya itu," ucap Cheng Mai padanya.


"Sudah sudah lebih baik kita pulang saja," ujar Cheng Xin menghentikan anaknya agar tak melanjutkan ucapannya lagi. Ia juga mengajaknya untuk pulang.


"Prof, Kek ku titipkan buku ini ke kalian tolong jaga harta penemuan ini ya. Fan sukses untuk studi mu," kata Cheng Xin pada mereka.


Miss Fan mengangguk dan tersenyum.


"Baiklah Cheng kami pastikan akan menjaga harta berharga ini dengan baik dan aman," ucap Profesor menyakinkan Cheng Xin.


"Terima kasih semuanya, kita pamit pulang dulu," ucapnya lalu berpamitan.


"Ayo Nak," ajaknya lagi pada anaknya.


"Selamat tinggal Kek, Prof dan Miss sampai jumpa lagi." Cheng Mai melambaikan tangan pada mereka bertiga. Mereka pun membalasnya dengan senyuman.


Di Kota Utara sedang terjadi masalah apa ya? Bahkan Bos Yang dan Sing kemarin juga sempat membahas tentang wilayah di bagian timur China ini. Benarkah dugaan Cheng Mai kalau memang ada harta tersembunyi lagi didalamnya.


Bersambung.....πŸ“œπŸ“œπŸ“œ



...Buku Kuno dari bambu yang ditemukan Cheng Mai ...