Hidden Treasure Hunter's

Hidden Treasure Hunter's
Buku Langka Nan Unik



"Bos...," panggilnya lagi sambil menyeduh mie instan nya.


Seorang yang dipanggil Bos itu dengan segera menutup televisinya dengan kasar.


"Bos Yang! Itu Cheng Xin kah?" tanyanya karena mata nya menangkap ke layar televisi sebelum dimatikan.


"Iya, dia si pengkhianat itu," jawabnya ketus.


"Haish Bos, sudah berapa bulan ini kau masih saja manggil Xin pengkhianat, padahal jika dipikir-pikir kita juga berkhianat," ucapnya.


"Diam kamu, Sing! Sial betul ternyata harta karun itu masih ada dan sekarang dia menemukannya lagi," gerutunya kesal.


Sudah lah Bos itu hanyalah masa lalu," bujuknya. Anak buahnya tiba-tiba teringat dengan berita dari wilayah Timur yang ia dengar dari temannya. Ia pun memberitahu pada bosnya. "Bos Bos aku dengar di wilayah Utara sedang ada fenomena aneh," tuturnya.


"Apa itu?" tanyanya penasaran.


"Aku kurang tau Bos," jawabnya sambil menggaruk kepalanya.


"Dasar kau, cepat cari tau apa yang terjadi disana," suruhnya pada anak buahnya.


"Siap Bos!" jawabnya cepat dan langsung pergi. Sementara bosnya masih duduk disana dan memilih untuk menyeruput mie milik sing yang ditinggalkannya.


Dua orang yang baru saja berbicara itu adalah Bos Yang dan Sing. Mereka ternyata membangun sebuah agen khusus pencarian barang langka setelah sekian lama tak muncul kembali. Bos Yang masih saja membenci Cheng Xin yang pernah mengkhianatinya dulu. Padahal Bos Yang juga telah mengkhianati Cheng Xin dengan bekerja sama dengan para perompak.


...******📍📍📍******...


Seminggu sudah berlalu, kelas Cheng Mai sudah mulai di bangun kembali. Sementara kelas Cheng Mai tidak diliburkan melainkan di pindah alihkan ke perpustakaan. Mereka kini belajar di perpustakaan dan bebas melakukan apa saja disana. Sedangkan hasil dari penemuan harta karun itu diberikan ke pihak yang membutuhkan sebesar 20% nya.


Berita penemuan harta karun di sekolah Puiying juga masih hangat di bicarakan di luar sana. Bahkan bukan hanya di televisi saja berita penemuan harta karun di sebar melainkan ke koran-koran dan majalah juga.


Semua murid kelas 11-1 sudah berada di perpustakaan. Tampak Dou Dou yang lesu sedari tadi hingga membuat teman-temannya penasaran.


"Hey Dou, kau kenapa lesu sekali tak ada semangat semangat nya?" tanya Cheng Mai ingin tahu.


"Gimana mau semangat Cheng, ku pikir kita bakal libur ternyata tetap berangkat. Aku bahkan sudah menyiapkan pakaian untuk berlibur eh malah dapat notif kalau kelas kita tak jadi libur, hufh," jelasnya sambil membuang nafas kasarnya di akhir.


"Hey Dou, emang sekolah ini punya nenek moyang mu apa, masa yang lainnya masuk cuma kelas kita yang tidak. Bakal di julidin seluruh murid nanti," timpal Xiao Dan sedikit kesal padanya.


"Hey hey siapa tau kepala sekolah berbaik hati khusus meliburkan kita," balasnya sambil tersenyum.


"Pak Kepala Sekolah tidak pilih kasih ya dia selalu berlaku adil," tukas Jin Mei langsung.


"Sudah lah Dou, liburan kan bisa di tanggal merah, dan memang seharusnya Pak Kepala berlaku seperti itu, iya kan?" ujar Cheng Mai menasehati Dou Dou.


"Iya Cheng," jawab Dou Dou pelan.


"Hush hush Bu Lin datang." Seorang murid memberi tahu kepada mereka jika guru mereka telah tiba.


"Selamat pagi anak-anak! sapa Bu Lin sambil berjalan masuk.


"Pagi Bu Lin!" seru murid-murid membalas sapaan darinya. Bu Lin pun berdiri di tempatnya.


"Maaf ya kalian tak jadi libur dan memang seharusnya kalian tetap berangkat, mulai hari ini dan kedepannya kita akan belajar di perpustakaan. Pak kepala sekolah sudah memberi izin pada ibu untuk menggunakan ruang perpustakaan ini sebagai pengganti kelas kalian sementara sampai renovasi selesai," jelas Bu Lin sambil meminta maaf pada muridnya karena tak jadi diliburkan.


"Baiklah Bu, dimengerti!" ucap para muridnya tanpa ada protes dari mereka.


"Ya sudah silahkan buku materi sejarah hal 123 kita belajar mengenai sejarah dinasti Han," suruh Bu Lin pada murid-muridnya.


"Baik Bu." Semua murid mengambil bukunya masing-masing dari dalam tas dan membukanya seakan siap dengan materi yang akan mereka pelajari hari ini.


Cheng Mai sedikit tau tentang materi pembelajaran hari ini karena ia sempat mempelajarinya setelah menemukan harta berharga miliknya. Di buku sejarah Cheng Mai juga tertera cerita tentang pencurian pusaka kerajaan milik Raja Han yang memiliki nama asli Han Liu He itu. Seorang raja hebat dari kekaisaran Tiongkok pada masanya.


Seluruh murid mengikuti pelajaran dengan hikmat tanpa gangguan apapun.


...******🏷️🏷️🏷️******...


Di sebuah cafe Miss Fan meminta Cheng Xin bertemu. Tujuan Miss Fan meminta Cheng Xin menemuinya karena dirinya ingin bertanya tentang Cheng Xu Lang, penemu yang menemukan sebuah guci kuno di Gunung Louhan di abad 21.


"Cheng...," panggil Miss Fan dari tempatnya sambil mengangkat tangan agar Cheng Xin melihatnya.


Cheng Xin lalu langsung menghampiri Miss Fan yang memanggilnya.


"Ada apa kau ingin menemui ku?" tanyanya sambil menarik kursinya lalu duduk.


"Aku ingin menanyakan sesuatu pada mu," jawabnya.


"Tentang apa?" tanya Cheng Xin ingin tahu.


"Kau mengenal Cheng Xu Lang?" tanya Miss Fan langsung.


"Iya, dia ayahku," jawabnya membenarkan.


"Berarti benar dia ayahmu," ucap Miss Fan lirih.


"Memang kenapa dengan ayahku?" tanya Cheng Xin ingin tahu lebih.


"Tidak ada, hanya penasaran dengan penemu guci 21 abad," jawabnya.


"Ow.... Itu." Cheng Xin mengangguk mengerti.


"Kau tau jika ayahmu yang menemukan guci tersebut," tebak Miss Fan setelah melihat ekspresi Cheng Xin.


"Iya itu adalah penemuan terakhir yang beliau temukan sebelum meninggal," jelasnya.


Miss Fan hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Sekarang dirinya tau kalau dugaannya tak salah. Tak lama seorang pelayan datang sambil memberikan dua buah cake pada mereka. Kini mereka mulai menyantap hidangan yang ada didepannya.


"Jadi, kau ingin bertemu dengan ku hanya ingin tau tentang ayah ku," tebak Cheng Xin sambil mengeruk cake nya.


"Ya ku cukup penasaran dengan nya. Bisakah kau menceritakan sedikit tentangnya padaku," jawab Miss Fan sambil mengaduk minuman nya.


Cheng Xin menghentikan suapannya dan meletakkan garpu nya disisi piring. Ia lalu mulai bercerita dan didengarkan oleh Miss Fan dengan serius.


...******✴️✴️✴️******...


Hari kedua belajar di perpustakaan di mulai. Hari ini kelas Cheng Mai mendapati jam kosong. Karena bosan para murid memilih untuk menjelajahi perpustakaan untuk melihat dan membaca buku sesuai kesukaan mereka. Mumpung sudah di perpustakaan, ini kesempatan mereka untuk memanfaatkan keadaan. Kapan lagi mereka bisa berkunjung ke perpustakaan sepuasnya tanpa ada batasan waktu?


Mereka semua menelusuri ke seluruh penjuru perpustakaan. Dou Dou dan Zhan Yang yang memiliki sifat yang sama yakni suka makan hanya saja mereka berbeda bentuk. Dou Dou gemuk sedangkan Zhan Yang ramping juga tinggi dan apabila dilihat dari kejauhan mereka berdua akan terlihat seperti angka 10. Zhan Yang sendiri heran dengan tubuhnya ia suka makan tapi tubuhnya tak gemuk seperti Dou Dou.


"Dou, kau ternyata suka buku tentang makanan juga," tebak nya karena memegang buku yang sama.


"Iya kau lihat sendiri tubuhku sudah mewakili hobi ku dan kau...," jawabnya lalu menatap tubuh Zhan Yang dari atas ke bawah.


"Apa?" tanyanya kerena merasa risih di pandang begitu oleh Dou Dou.


"Kau ternyata suka buku tentang makanan juga, tapi tubuhmu biasa saja," katanya menyindir.


"Ya ku bersyukur suka makan tapi tetap terlihat tampan," ucap Zhan Yang dengan pedenya.


"Hee aku gemuk juga tampan tau," tukas Dou Dou tak mau kalah.


Kita tinggalkan mereka berdua sekarang mari beralih ke Xiao Dan yang memilih buku tentang berbagai macam pelajaran, ia ingin menjadi dosen seperti ibunya kelak. Sementara Jin Mei ia memilih ke bagian novel remaja bersama Cheng Mai tentunya. Namun mereka berdua tak sadar terpisah karena sibuk dengan memilih buku masing-masing.


Di saat Cheng Mai memilah buku di rak, tak sengaja sebuah gulungan bambu jatuh menimpanya. Untung saja ia sempat menghindar dan membiarkan buku itu jatuh kelantai.


"Huh hampir saja," ucapnya lega.


"Cheng, kau tak apa?" teriak Jin Mei dari kejauhan.


"Aku baik-baik saja Mei kau lanjutkan saja," jawabnya keras.


Disaat Cheng Mai ingin mengembalikan benda tersebut, namun dirinya malah tertarik dengan gulungan bambu tersebut. Ia lalu membuka gulungan bambu tersebut dengan hati-hati.


"Wah tulisannya sangat rapi sekali." Cheng Mai tampak takjub ketika dirinya membuka gulungan tersebut.


"Eh tunggu dulu sepertinya ini bukan tulisan biasa," katanya sambil memandangi tulisan yang tertera di deretan bambu tersebut.


"Hah bentuknya unik dan terbuat dari bambu," ucapnya heran karena buku itu bukan dari kertas melainkan dari bambu.


"Hem kenapa gulungan bambu ini bisa ada di sini ya?" pikirnya penasaran.


"Ah mana ku tahu, lebih baik aku membacanya saja," ucapnya sambil mengangkat bahunya lalu mundur untuk bersandar.


Cheng Mai pun memilih duduk dan bersandar di rak buku. Ia mulai membaca tulisan-tulisan yang berjejer di bambu tersebut.


"Ah ketemu juga novel The Little Master Detektif," ucap Jin Mei senang sambil menepuk buku tersebut.


"Novel remaja tentang detektif sangat seru seperti komik Conan," ucapnya lagi sambil melihat ke sekeliling.


"Hem Cheng Mai tak ada suara nya, dia sudah kembali kah. Aku samperin ke tempat Cheng Mai jelajahi tadi ah," ujarnya karena tidak menemukan batang hidung temannya itu di sekitarnya.


"Cheng kau sedang baca apa? Serius sekali." Suara Jin Mei mengejutkan dirinya yang tengah asyik membaca sesuatu. Cheng Mai yang terkejut langsung segera menggulung kembali benda tersebut dan menyembunyikannya.


"Eh Mei kau sudah menemukan bukunya?" tanyanya Cheng Mai sambil mendongak ke atas.


"Sudah, kau sendiri?" jawab Jin Mei berbalik tanya.


"Aku juga," jawabnya langsung mengambil buku apa saja yang ada di depannya dan menunjukkannya ke Jin Mei.


Kini mereka sudah berada di depan meja pinjam dan tengah mengantri karena bukan mereka berdua saja yang ingin meminjam buku namun murid lainnya juga.


"Hey Cheng, kau meminjam buku apa?" senggol Jin Mei di tengah antrian sambil bertanya karena penasaran para buku sahabat nya itu.


"Buku novel biasa kok," jawabnya mengelak.


"Hem apa judulnya?" tanyanya lagi. Namun belum sempat dijawab oleh Cheng Mai, suara ribut-ribut dari sudut perpustakaan terdengar. Dua murid yang berada disana tengah merebutkan sesuatu dan terlihat dari keduanya tida ada yang mau mengalah satu sama lain.


Sebelum itu....


"Aku mau pinjam ini," ujar Dou Dou sambil mengambil buku makanan di rak.


"Aku juga." Namum tak di sangka tangan Zhan Yang juga memilih buku yang sama. Mulai dari situlah mereka berdua jadi berujung saling rebut-merebut


"Kau pinjam saja yang lainnya," tolak Dou Dou sambil menarik langsung buku pilihannya.


"Kagak mau aku ingin yang ini," jawabnya sambil menarik buku yang sudah dipegang oleh Dou Dou.


Suara ribut-ribut yang terdengar dari sisi belakang perpustakaan, membuat Cheng Mai mendapatkan ide untuk mengalihkan pembicaraannya dengan mengajak Jin Mei untuk melihat keributan yang tengah terjadi disana.


"Jin Mei, apa kau dengar suara ribut-ribut di belakang perpustakaan?" tanya Cheng Mai untuk mengalihkan pertanyaan darinya. Bukan maksud Cheng Mai tak mau menjawab pertanyaan darinya, dia sendiri bahkan tak tau buku apa yang dia pinjam tadi. Sementara buku unik yang ia temukan, ia selipkan ke saku roknya.


"Iya Cheng, kaya suara Dou Dou dan Zhan Yang, kenapa dengan mereka," jawabnya menebak.


"Ayo kita lihat!" ajak Cheng Mai sambil menarik tangannya.


Di tempat keributan, Dou Dou dan Zhang Yan terlihat sedang saling tarik-menarik buku yang ingin di pinjam nya. Hingga membuat Xiao Dan yang tengah asyik membaca jadi terganggu. Ia pun juga pergi menghampiri mereka dan sampai duluan sebelum Cheng Mai dan Jin Mei datang.


"Hey kalian bisa diam tidak! Aku sedang membaca jadi terganggu tau," marah Xiao Dan langsung setelah tiba di TKP.


"Dan ini itu di perpustakaan dilarang berisik," tambahnya lagi untuk mengingatkan mereka berdua.


Tapi kedua anak ini tidak mendengarkan Xiao Dan dan masih terus-terusan tarik-menarik tak mau mengalah satu sama lain. Merasa di hiraukan, Xiao Dan pun menepuk buku miliknya ke rak buku dengan keras sehingga membuat mereka berdua terdiam.


"Sudah kan?" ucap Xiao memastikan.


Mereka berdua mengangguk


"Kalian kenapa sih? Mau pinjam buku?" tanyanya lalu menebak.


Mereka berdua mengangguk kembali


"Dan itu bukunya," tunjuk Xiao Dan ke buku yang tengah di pegang mereka berdua.


Lagi-lagi mereka mengangguk


"Tinggal gantian pinjam saja repot," ucapnya langsung memberi saran untuk mereka.


"Ya sudah aku yang pinjam duluan kalau begitu," kata Zhan Yang sambil menarik buku yang ada ditangan Dou Dou


"Enak saja aku yang harusnya duluan." Merasa tak mau kalah, Dou Dou juga merebut buku itu kembali dari tangan Zhan Yang.


Mereka berdua kembali ribut dan membuat Xiao Dan menjadi pusing. Cheng Mai dan Jin Mei sudah datang dan sudah banyak murid lain yang sedang melihatnya.


"Ckckck mereka berdua seperti anak kecil saja," ucap Jin Mei di tengah kerumunan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan bersedekap.


"Pang Dou Dou! Zhang Yan stop!!!" Tak ada cara lain, Xiao Dan pun berteriak pada mereka agar berhenti. Namun usahanya tak berhasil sama sekali dan mereka masih saja saking berebut tak mau mengalah.


Tuk tuk tuk. Tiba-tiba suara hentakkan langkah kaki terdengar dibelakang para murid yang sedang menonton.


Murid yang sedang berkerumun menengok ke belakang dan terlihat seorang guru perempuan penjaga perpustakaan berjalan kearah mereka sambil membawa bilah panjang ditangannya.


"Gawat Bu Dong datang," celetuk teman Vivian.


Para siswa yang berdiri langsung memberikan jalan untuk Bu Dong lewati. Bu Dong adalah penjaga perpustakaan yang tegas dan sedikit garang.


Bu Dong memberikan instruksi pada Xiao Dan untuk berhenti menanganinya dan membiarkan Bu Dong saja yang atasi. Xiao Dan pun mengangguk mengerti.


Setelah mendapatkan anggukan dari Xiao Dan, Bu Dong pun beraksi dan langsung menjewer telinga mereka berdua.


"Masih mau ribut kalian hah," ucapnya sambil menekankan jeweran nya. Dirinya lalu mengambil buku yang direbutkan oleh keduanya.


"Aduh aduh sakit Bu," kata Dou Dou yang meringis kesakitan.


"Iya Bu lepasin Bu, sakit," pinta Zhan Yang padanya agar di lepaskan.


"Kalau mau ibu lepasin, kalian harus janji sama ibu jangan ribut lagi dan dengarkan usulan dari ibu," jelas Bu Dong sambil memberikan syarat pada dua muridnya itu.


"Iya Bu, iya kami berjanji," ucap mereka berdua berjanji


Bu Dong menatap dua muridnya, Dou Dou dan Zhang Yan mengangguk bersama untuk meyakinkannya. Bu Dong pun melepaskan mereka pada akhirnya.


"Baiklah, kalian sama-sama ingin pinjam buku ini kan?" tanya Bu Dong pada mereka kembali


Mereka berdua mengangguk lagi.


"Ok ibu punya koin disini dan ibu akan melemparnya ke udara tapi sebelum itu kalian berdua harap pilih kepala atau ekor," ucap Bu Dong sambil memperlihatkan satu koin di telapak tangannya. Ia meminta kedua muridnya untuk memilih antara depan atau belakang.


Zhang Yan dengan cepat menunjuk kepala sedangkan Dou Dou pasrah dengan ekor sisanya.


"Siap!" instruksi Bu Dong sebelum koin dilempar.


Dou Dou dan Zhan Yang mengangguk serius. Sementara Bu Dong mulai melemparkan koinnya ke udara.


"Ku yakin kepala yang dapat," bisik salah satu murid yang berada di area penonton.


"Mungkin bisa jadi ekor," timpal Jin Mei menebak.


Bu Dong menangkap koin yang sudah di lemparkannya dan perlahan di buka.


"Yes." Terdengar suara senang dari mulut Dou Dou yang memancarkan wajah gembiranya.


"Dou kamu pinjam buku ini dahulu, setelah dua hari tinggal kau Yang Yang yang pinjam. Mengerti!" pungkas Bu Dong memberitahu mereka dengan penekanan di akhir.


"Baiklah Bu," jawab mereka berdua setuju.


Zhan Yang lalu memberikan buku yang sebelumnya sudah ditangannya ke Dou Dou. Dou ternyata kau yang menang, nah kau yang duluan pinjam berarti, ucap nya mengakui kekalahannya dan mengingatkan Dou Dou. Tapi janji ya ku tunggu dua hari ini, kau harus meminjamkannya untuk ku, katanya lagi sambil menepuk pelan bahu Dou Dou


"Iya iya iya kau tenang saja,' jawabnya berjanji sambil menunjukkan buku pinjamannya ke Zhan Yang sambil berucap, "ini makasih ya."


Hmm. Zhan Yang mengangguk.


Bu Dong lalu kembali ketempat nya setelah menyelesaikan masalah kedua murid nya. Para murid juga ikutan bubar kembali ke aktivitas sehari-hari sebelumnya. Dan tiba saatnya Jin Mei dan Cheng Mai meminta izin untuk meminjam buku yang mereka dapatkan tadi.


"Hoo kau suka novel detektif rupanya," tebak Bu Dong sambil memberikan cap ke buku pinjaman miliknya di meja petugas.


"Iya Bu itu seru soalnya," kata Jin Mei memberitahu sambil tersenyum lebar.


"Baiklah jangan lupa batas peminjaman cuma dua hari dan ingat jaga bukunya jangan sampai rusak atau hilang kalau tak mau kena sanksi," jelasnya sambil memberikan bukunya pada Jin Mei.


"Siap Bu Dong!" jawab Jin Mei sambil memberikan tanda hormat di kepalanya.


"Cheng giliran kau." Jin Mei menepuk pundak temannya sebelum dirinya kembali ketempat nya


Cheng memberikan buku yang ia dapatkan ke Bu Dong.


"Buku pelangsing badan hidup menjadi sehat? Kau yakin mau meminjam ini?" tanyanya heran.


Cheng Mai tersentak karena ternyata yang di ambilnya tadi adalah buku pelangsing badan. Padahal dirinya dah ramping, itu membuat Bu Dong menjadi bingung.


"Hehehe iya Bu." Dirinya sedikit terkekeh karena malu, "apa boleh?" lanjutnya bertanya.


"Boleh, tapi bukannya dirimu sudah langsing ya?" tanya Bu Dong heran.


"Ah itu Bu, aku ingin mencoba hidup sehat siapa tau buku itu membantu," jawabnya beralasan.


"oh begitu baguslah kita memang harus hidup sehat," puji Bu Dong padanya.


"hihihi iya Bu. Cheng Mai tersenyum menapilkan deretan giginya.


"Ya sudah, nah," ucap Bu Dong sambil memberikan buku tersebut padanya.


"Terima kasih Bu," balas Cheng Mai pura-pura senang.


Cheng Mai tersenyum senang karena berhasil membawa buku bambu itu tanpa diketahui oleh siapapun. Tak terasa bel sekolah berbunyi, Cheng Mai pun langsung mengambil tasnya dan menaruh bukunya di tas. Untuk menghindari kecurigaan teman-temannya, Cheng Mai menyelipkan buku langka tersebut di dalam buku yang dipinjamnya. la lalu pamit pada teman-temannya dengan buru-buru.


"Mei, aku duluan ya," pamit Cheng Mai buru-buru.


"Eh eh...." Jin Mei ingin mencegah temannya itu namun keburu jauh dan memilih mengurungkan niatnya. Dirinya terlihat bingung dengan sikap temannya yang begitu.


"Kenapa Cheng Mai buru-buru sekali?" pikirnya heran. "Apa kalian tau dia kenapa?" tanyanya pada dua teman laki-lakinya.


Namun Xiao Dan dan Dou Dou hanya mengangkat bahunya kompak.


Bersambung.....📍🏷️✴️