
"Ha apa maksud Bapak?" tanya Bu Lin penasaran. Semua juga ikut penasaran ingin tahu.
"Permata ini asli, kita harus segera menggalinya dan mengeluarkan isi yang ada didalam sana," jawab Cheng Xin dengan yakin.
"Tapi.... kelas kita." Cheng Mai tampak khawatir setelah mendengar kelasnya bener-bener akan dibongkar.
"Kau tenang saja murid Cheng, bapak akan mengatur renovasi kelas kalian nanti," ucap Pak Kepala meyakinkannya dengan serius.
"Benarkah Pak, Bapak tidak berbohong kan?" tanya Jin Mei yang kurang percaya padanya.
"Bapak berjanji," katanya sungguh-sungguh.
"Jadi...." Cheng Xin ingin tahu keputusan anaknya.
"He' kami satu kelas setuju untuk membongkar kelas ini." Cheng Mai mengangguk setuju setelah berdiskusi sebentar bersama rekan-rekannya.
Kelas 11-1 pada akhirnya tetap dibongkar setelah mendapatkan persetujuan dari penghuni kelas. Mengetahui itu, Pak Kepala sekolah langsung menghubungi pekerja konstruksi yang kemarin untuk datang kembali ke sekolah.
"Aku penasaran di bawah sana apa masih banyak permata seperti yang ditemukan pak kepala," pikir salah satu murid sambil mencabut pajangan yang ada didinding.
"Entahlah mungkin jumlahnya lebih dari satu," timpal murid disebelahnya.
"Itu jika dijual pasti dapet jumlah yang banyak," kata murid lelaki yang ada dibelakangnya.
"Haish jangan berpikiran untuk menjual harta karun itu ya. Kemungkinan itu akan diserahkan ke pihak yang berwajib," sela Zhang Yan sambil berjalan melewatinya.
"Ah begitu ya sayang sekali," ucap murid lelaki yang tadi.
"Sudah sudah lebih baik kita kosongkan kelas kita sebelum di bongkar," ujar Cheng Mai karena mendengar keributan di belakang.
"Iya iya benar ayo bereskan," kata murid-murid yang lain.
Semua murid kelas 11-1 bergotong royong untuk mengosongkan kelasnya. Peralatan yang ada di kelas tersebut di ambil, pajangan dinding dan hiasan kelas juga ikut di lepas. Kini kelas 11-1 sudah bersih benar-benar kosong bangku dan meja juga sudah disingkirkan keluar. Untuk sekarang mereka semua hanya tinggal menunggu para pekerja konstruksi datang saja.
...******🏺🏺🏺******...
Beritanya sudah sampai ke pusat kota membuat para wartawan berbondong-bondong ke sekolah untuk meliput berita tersebut. Semua awak media langsung berdatangan ke sekolah setelah melihat video seorang murid Puiying. Para pekerja konstruksi juga sudah hadir dan siap untuk mengeruk kelas terus. Semua orang diharapkan mundur karena berbahaya dan melihat nya dari luar kelas saja. Kelas yang berada di ujung sekolah ini membuat pembongkaran berjalan mulus.
Seluruh murid menyaksikan kelas 11-1 di bongkar serta di keruk tanahnya sampai ke dasar yang cukup dalam. Hampir satu jam alat kontruksi mengeruk tanah sampai akhirnya berhenti karena alat tersebut mengenai sesuatu. Cheng Xin yang penasaran pergi menghampiri petugas kontruksi untuk bertanya.
"Ada apa Pak? Kenap berhenti?" tanyanya.
"Begini Pak, sepertinya alat ku mengenai sesuatu di dalam sana," jawabnya.
"Benarkah. Apa boleh ku memeriksanya? Bisakah ini di singkirkan dulu." Wajah Cheng Xin terkejut namun senang juga. Ia lalu menyuruh petugas kontruksi untuk menyingkirkan alat-alatnya karena dirinya ingin memeriksanya.
Pak Guang pun langsung menyuruh anak buahnya untuk memundurkan alat berat tersebut. "Kong mundur," perintahnya sambil memberi tanda dengan tandanya.
"Baik Bos Guang," teriak orang yang bertugas mengendalikan alat berat tersebut. Ia lalu menggerakkan kendaraannya untuk mundur ke belakang.
Setelah alat berat dimundurkan, Pak Guang mempersilahkan Cheng Xin untuk mengeceknya.
"Silahkan Pak," ucap pak Guang mempersilahkan Cheng Xin.
Namun sebelum itu, Cheng Xin memanggil profesor dan juga kakek Zhang terlebih dahulu.
"Prof, Kakek, bisa kesini membantu ku," teriaknya memanggil.
"Baiklah Cheng kami datang," katanya sambil mulai berjalan menghampiri dirinya.
"Apa yang terjadi, Nak Cheng?" tanya Kakek Zhang setelah sampai ditempat.
"Sepertinya sudah ditemukan," jawab Cheng Xin mengira-ngira.
"Benarkah! Mari kita cek," suruh profesor ke Cheng Xin dan Kekek Zhang.
Mereka bertiga lalu turun ke galian yang cukup besar untuk melihat sesuatu didalam sana.
Di tempat kerumunan murid-murid dan awak media. Seluruh siswa pada heboh berbicara mengenai penemuan tersebut. Cheng Mai sebenarnya cukup penasaran juga, namun ia menunggu ayahnya keluar saja.
"Hey hey benarkah disana ada sesuatu," ucap salah satu murid di sebelah Jin Mei.
"Sepertinya iya," timpal Zhan Yang dibelakangnya.
Para wartawan juga tengah ikut berbisik-bisik.
"Kita harus meliputnya, ini berita mahal," kata wartawan cowok berkacamata.
"Benar-benar sebaiknya kita mendekat dan melihat mereka disana," usul wartawan cewek yang sedikit gemuk.
"Tunggu dulu, kita izin dulu," ujar wartawan cewek berambut panjang mencegatnya.
"Oh iya iya," ucap teman-temannya setuju. Para wartawan lalu pergi menghampiri pak kepala yang berdiri tidak jauh dengannya.
"Permisi Pak Kepala, apa kami boleh meliput lebih dekat lagi," izin salah satu wartawan padanya secara langsung.
"Oh silahkan silahkan tapi dengan satu syarat," ucap Pak Kepala mempersilahkan dengan memberikan sebuah syarat pada mereka.
"Apa Pak?" tanya para wartawan berbarengan.
"Kalian tak boleh mengganggunya hanya boleh merekam dalam diam," jelasnya.
Para wartawan itu pun memberikan tanda ok ditangannya. Mereka lalu maju mendekat untuk merekam proses pengambilan harta karun tersebut.
...******⚱️⚱️⚱️******...
Sementara di sebuah laboratorium, Miss Fan sedang serius belajar mengenai penelitian barang-barang langka yang dia ambil di museum sebelumnya. Miss Fan sudah mendapatkan izin untuk meneliti benda kuno disana. Miss Fan tampak serius dengan alat-alat penelitiannya. Sesekali benda kuno berupa guci di sapu menggunakan kuas kecil untuk membersihkannya.
"Guci ini berasal dari abad ke 21 yang lalu namun kualitasnya masih sangat bagus," ucapnya sembari membersihkan guci tersebut.
Ia lalu membuka bukunya, "Ditemukan di Gunung Louhan pada September 1978 yang lalu oleh Cheng Xu Lang," lanjutnya.
"Cheng Xu Lang, marga Cheng mengingatkan ku pada Pak Cheng. Mungkinkah???" Miss Fan seketika teringat dengan seseorang yang mempunyai marga yang sama. Tapi Miss Fan memilih untuk tak memikirkannya.
"Ah sudahlah," gumam nya sambil meletakkan guci tersebut.
Miss Fan lalu beralih ke benda panjang disebelahnya
"Tongkat emas kera sakti di temukan oleh pendaki asing bernama Christ Van Basten. Benda ini ditemukan di bawah dataran tinggi Yunnan pada tahun 2004," ucapnya sambil menengok buku panduannya.
Miss Fan terus melakukan penelitiannya dari benda satu ke benda lainnya. Dipelajari sedemikian rupa asal usulnya dengan teliti. Ia merasa senang bisa mendapatkan izin untuk mempelajari penemuan-penemuan itu.
Kembali ke sekolah.
Setengah jam menunggu akhirnya Cheng Xin, profesor dan juga kakek Zhang naik keatas. Mata semuanya langsung tertuju ke arah mereka.
"Sudah ditemukan.... sudah ditemukan," pekik salah satu wartawan dengan keras memberitahu.
"Wah mereka berhasil menemukannya," ucap para murid yang menontonnya.
Pak polisi yang tadinya tak ada sudah hadir disana untuk memeriksa penggalian harta karun tersebut.
"Kami berhasil menemukan sebuah kantong didalam dan setelah dibuka ini berisi permata dengan jumlah yang banyak," lapor Cheng Xin padanya.
"Ini Pak, kami serahkan ke bapak." Cheng Xin lalu memberikan hasil permata itu kepadanya.
"Baiklah Pak, terima kasih," jawab pak polisi sambil memberikan hormat padanya.
"Pak, boleh kami melihat harta karun nya," pinta Xiao Dan mewakili para murid.
"Tolong perlihatkan kesemuanya Pak polisi mungkin anak-anak dan lainnya penasaran juga," ujar Cheng Xin padanya.
Pak Polisi mengangguk setuju dan menunjukkan beberapa permata yang ia keluarkan dari kantong hitam tersebut.
"Wah benda yang sangat berkilau pantas saja pak kepala bisa menduganya kalo itu sebuah permata," celetuk Zhan Yang terkesan dengan permata tersebut.
"Mereka sangat cantik ya Cheng," ucap Jin Mei memberitahu padanya.
"Iya Jin Mei," kata Cheng Mai mengangguk tak kalah kagumnya.
"Maaf murid-murid bapak simpan benda ini dulu ya, kalian sudah puas melihatnya kan," pinta Pak Polisi pada seluruh murid. Para murid pun mengangguk setuju.
"Sudah Pak Polisi, silahkan simpan dengan aman ya, Pak," jawab Cheng Mai sambil memberikan permata itu disertai senyuman ramah padanya.
"Siap kami pasti akan menyimpannya di tempat yang aman setelah di teliti lebih lanjut lagi nanti," kata Pak polisi menyakinkan para murid Puiying.
"Terimakasih pak polisi," ucap Cheng Mai senang. Begitu juga teman-temannya.
Pak Kepala apa kami boleh mewawancarai anda sebagai seorang yang pertama tau akan keberadaan harta karun tersebut? Dua orang wartawan tiba-tiba menghampiri pak kepala sekolah untuk diwawancarai.
"Boleh boleh silahkan," jawab pak kepala memberikan izin. Kedua wartawan itu pun mulai bersiap-siap.
"Et sebelum mulai pasti kan saya bagus di kamera ya," ucap pak kepala memberitahu pada kedua wartawan itu. Kedua wartawan itu mengangguk mengerti dan langsung mengatur kameranya.
"Pak kepala," sergah Bu Lin.
"Masuk tv ini Bu," ucapnya sambil merapikan penampilan nya.
"Haish iya iya, terserah bapak lah," kata Bu Lin menyerah lalu pergi menemui yang lainnya.
"Bisa dimulai pak?" tanya si wartawan memastikan.
"Silahkan," ucap Pak Kepala mempersilahkannya untuk memulai.
"Baiklah lah," ucapnya mulai bersiap. Si wartawan lalu melontarkan pertanyaannya, Pak Kepala, katanya Bapak yang menduga ada sesuatu di kelas ini ya Pak?"
"Iya benar waktu itu saya berniat membetulkan keramik yang pecah namun tak disangka saya menemukan benda kecil berkilau di di bawahnya," jelasnya antusias.
"Wah terus benda itu sekarang di bapak apa sudah di berikan ke polisi?" tanya si wartawan penasaran.
"Sini sini," suruhnya agar si wartawan mendekat. Pak Kepala lalu melihat ke kanan dan ke kiri depan belakang, setelah dirasa aman dirinya mulai mendekatkan ke kamera.
"Aku tak memberikan nya ke polisi dan akan menjadi milikku, bisik nya." Pak Kepala lalu tertawa kecil agar tak ketahuan.
"Hah... apa itu boleh Pak?" tanyanya terkejut.
"Hush jangan bilang-bilang," suruh Pak Kepala sambil berbisik.
"Hoo baiklah baiklah Pak," ucap si wartawan manggut-manggut mengerti.
"Pak Kepala permata yang Bapak temukan mana?" tanya Bu Lin meminta permata Pak Kepala untuk diserahkan ke polisi.
"Haa itu," sudah ku berikan ke Pak Polisi tadi," jawabnya berbohong.
"Benarkah?" Bu Lin tampak ragu padanya.
"Coba kau tanyakan padanya," suruh Pak Kepala padanya.
"Ah tidak usah lah, kalau sudah di berikan ya sudah, bagus itu pak," ucap Bu Lin sambil mengacungkan jempolnya lalu berlarut pergi.
"Hihi." Pak Kepala terkekeh senang karena Bu Lin percaya padanya.
"Nanti di sekip pas pertanyaan tadi ya," pinta Pak Kepala pada si wartawan.
"Ok Pak," ucapnya mengangguk sambil membenarkan kamera nya.
"Nah untuk mu." Pak Kepala mendekat dan memberikan selembar uang padanya.
"Apa ini?" tanyanya tak mengerti.
"Udah terima saja," kata Pak Kepala sembari memasukkan uang ke saku celana si wartawan.
"Terima kasih Pak," ucapnya sambil menjabat tangan pak kepala.
Diseberang tempat yang berbeda, seseorang sedang duduk di kursi kebesarannya sambil menonton televisi berita penemuan harta karun. Ia melihat pak kepala sekolah yang sedang diwawancarai atas penemuan harta karun tersebut. Namun saat beralih ke Cheng Xin, dirinya langsung terkejut dan tersenyum sinis.
"Cheng pak Cheng bagaimana tanggapan bapak tentang penemuan ini?" tanya wartawan berkacamata tipis sambil membenarkan posisi kacamata nya yang menurun.
"Tanggapan saya mengenai penemuan ini adalah...." Cheng Xin menjawab pertanyaan para wartawan dengan lancar. Setelah selesai berwawancara, seluruh murid dan yang hadir disana berfoto bersama untuk dokumentasi sekolah. Tentu saja ini pak kepala yang memintanya. Dan dengan senang hati mereka menyetujuinya.
"Cheng Xin...," seseorang tampak menyeringai sebal melihat Cheng Xin didalam berita. Ia lalu menutup televisinya dengan kasar. Seseorang lagi datang sambil melihat rekannya yang tampak tak biasa, ia pun memanggilnya.
"Bos...," panggilnya.
Bersambung....⚱️🏺⚱️