Hidden Treasure Hunter's

Hidden Treasure Hunter's
Camping Di Nanchang, China



Hari ini Cheng Mai tak lagi belajar di perpustakaan karena kelas miliknya telah selesai direnovasi. Mereka semua sangat senang tak terkecuali Cheng Mai dan teman-temannya. Kelas 11-1 tampak seperti baru lagi bahkan bau catnya juga masih tercium. Setelah sampai dikelas, Cheng Mai mendapati teman-temannya yang sedang menata kelasnya kembali. Memberikan berbagai macam hiasan agar kelas terlihat menarik. Cheng Mai lalu meletakkan tasnya di bangku dan mulai membantu yang lainnya.


"Mei, sini ku bantu," tawar Cheng Mai padanya.


"Cheng?" Jin Mei membalikkan badannya seketika sambil membenarkan posisi kacamatanya lalu bertanya, "Kapan kau datang?"


"Barusan, kelas kita tampak seperti baru lagi ya," jawabnya.


"Iya endus lah aroma cat yang kas ini sangat seperti baru," timpal Jin Mei sambil mengendus aroma sekelilingnya.


"Oh iya sini ku bantu tempel kan, "celetuk Cheng Mai menawarkan bantuannya kembali.


"Nah Cheng." Jin Mei memberikan selembar kertas yang akan di tempelkan ke tembok padanya.


"Ok aku naik ya," izin Cheng Mai sambil tersenyum setelah menerima lembaran kertas tersebut.


"Hem hati-hati," ucapnya mengangguk sambil menaikkan sudut kacamatanya.


Cheng Mai lalu menaiki kursi untuk menempelkan sebuah pajangan di tembok. Pajangan tersebut adalah hasil mahakarya kelas 11-1 yang dulu pernah dibuat bersama-sama. Ia lalu turun setelah selesai menempelkannya. Disaat turun, Bu Lin juga datang masuk ke kelas. Cheng Mai dan lainnya pun segera kembali ke tempat duduknya, tak lupa kursi yang tadi di buat pijakan, Cheng Mai kembalikan ke tempatnya juga.


"Berdiri!" Instruksi ketua kelas pada seluruh murid. Semua murid ikut berdiri dan memberi salam pada Bu Lin.


"Selamat pagi Bu!" sapanya serentak.


"Selamat pagi murid-murid ku! Bagaimana kelas kalian? Tampak seperti baru kan? Apa kalian menyukainya?" Bu Lin membalas sapaan anak didiknya sambil menanyakan pendapat mengenai kelas 11-1 yang baru.


"Sangat bagus Bu, kami menyukainya ditambah lagi kelas kita jadi terlihat seperti baru ya kan temen-temen," jawab Cheng Mai sambil memandang murid-murid lainnya. Mereka semua mengangguk senang tanda setuju dengan pendapat Cheng Mai.


"Iya kelas kami terlihat sangat baru Bu," timpal Jin Mei senang.


"Lalu bagaimana dengan perasaan kalian?" tanya Bu Lin kembali.


"Ya tentu sudah jelas Bu, kami sangat senang," jawab Dou Dou sambil menaikkan satu alisnya


"Ok ibu juga punya pengumuman yang dijamin bikin kalian makin seneng," kata Bu Lin yang membuat para muridnya jadi penasaran.


"Pengumuman apa, Bu?" tanya Cheng Mai penasaran.


"Pada hari Sabtu besok.... (Murid-murid tampak mulai serius) sekolah kita.... akan.... Camping bersama," jawab Bu Lin semangat


"Wah camping bersama? Asyikkkk." Seketika sorak gembira dari para muridnya menggema keluar ruangan. Mereka bahkan ada yang menepuk-nepuk meja karena senang mendengarnya.


"Tapi kemana kita akan camping, Bu?" tanya Dou Dou semangat.


"Kita akan mengunjungi kota timur tepatnya di Nanchang," jawab Bu Lin memberitahu.


"Nanchang bukanya itu...," gumam Cheng Mai pelan lalu terdengar oleh rekan sebelahnya.


"Kenapa Cheng?" tanya Jin Mei padanya.


"Ah tidak apa-apa, hanya pernah mendengar nya saja," jawabnya mengelak.


"Nanchang itu kota yang cukup besar dan banyak tempat camping seru di sana," jelas Jin Mei.


"Kau pernah mengunjunginya?" tanyanya langsung menghadap Jin Mei.


"Tidak itu menurut analisis ku saja hihi," jawabnya sambil terkekeh.


"Owh." Cheng Mai mengangguk lalu kembali pada pandangan awal.


"Ok anak-anak berarti mulai dari sekarang kalian harus menyiapkan beberapa peralatan yang harus di bawa camping nanti, pastikan peralatan yang dibawa adalah milik sendiri bukan milik orang lain. Mengerti!" Jelas Bu Lin sambil memberikan penekanan di akhir.


"Mengerti Bu!" seru para muridnya kompak.


"Baik sekarang kita mulai pelajarannya," saran Bu Lin pada mereka.


Semua siswa mulai belajar, tatapan lurus ke depan untuk memperhatikan dan mendengarkan apa yang Ibu Lin jelaskan.


...******🎐🎐🎐******...


Sepulang sekolah, Cheng Mai sudah berjanji pada temen-temennya untuk membeli beberapa perlengkapan camping seperti tenda, jaket dan sebagainya. Mereka sekarang sudah berkumpul didepan salah satu toko peralatan kemah yang berada di kotanya. Saat Cheng Mai datang, dirinya langsung mengajak yang lainnya untuk masuk.


"Kalian belum masuk?" tanyanya pada teman-temannya setelah tiba.


"Belum lah kita kan nungguin kamu Cheng," jawab Xiao Dan sambil mengusap rambut Cheng Mai dengan kasar


"Oh ya sudah ayo masuk!" Ajaknya sambil menata rambutnya yang sudah di buat berantakan oleh temannya.


Mereka berempat lalu masuk ke dalam toko, semua langsung menyebar untuk mencari peralatan yang sesuai dengan keinginan mereka. Cheng Mai ke bagian ransel, karena kebetulan ransel kemah miliknya telah lama rusak dan butuh yang baru lagi. Sementara Jin Mei ke bagian tenda, ia ingin membeli tenda yang nyaman untuk dirinya. Dua teman laki-lakinya, Dou Dou dan Xiao Dan pergi bersama ke bagian jaket.


Setelah setengah jam berada di toko akhirnya mereka keluar sambil membawa belanjaannya masing-masing yang sebelumnya sudah di pilih dan di bayarnya. Selepas dari toko peralatan kemah, mereka berempat mampir ke salah satu cafe untuk mengisi perut mereka.


Berbeda halnya dengan Cheng Xin yang masih sibuk berkutik dengan laptopnya. Ia masih berusaha keras untuk menulis sampai ceritanya berakhir. Namun ditengah-tengah menulisnya, ia teringat akan sesuatu yakni perkataan Profesor dan Kakek Zhang yang mengatakan sedang ada berita di kota timur, China. Untuk mengetahui kebenarannya, Cheng Xin memilih mengehentikan kegiatan menulisnya dan mengarahkan kursor nya ke laman internet. Dia mencari berita terbaru dari kota timur yakni Kota Nanchang.


Dirinya menulis, berita kota Nanchang hari ini, di bagian searching dan men-enternya. Sebuah berita mengenai Kota Nanchang muncul disana, berita mengenai tentang sebuah makam yang sudah beberapa hari ini di bongkar oleh beberapa orang asing. Makam tersebut berada di Desa Loufen, Nanchang.


Disaat Cheng Xin serius mencari informasi mengenai berita di Nanchang, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Cheng Xin pun langsung menutup laptopnya dan pergi ke depan.


"Cheng, baru pulang, Nak?" Tanyanya


"Iya Yah, Cheng habis dari toko peralatan kemah," jawab Cheng Mai sambil berjalan ke sofa dan duduk.


"Kemah?" Tanya Cheng Xin penasaran lalu ikut duduk disebelahnya.


"Ah iya aku lupa bilang, hari Minggu besok sekolah mau mengadakan camping bersama ke Nanchang, Yah," celetuk Cheng Mai lalu menjelaskan padanya.


"Oh begitu, ayah juga kemungkinan akan ke sana juga," katanya yang membuat Cheng Mai sedikit bingung.


"Untuk apa? Apa ayah berniat untuk ikut camping dengan ku?" Tanyanya menebak sambil menggaruk tengkuknya.


"Urusan? Ah iya apa ini menyangkut berita yang sedang heboh itu yah mengenai makam yang rusak." Cheng Mai kembali bingung namun pada akhirnya ia mengerti karena teringat sesuatu terkait tentang pembicaraan ayahnya itu.


"Iya, ayah juga penasaran kenapa makan disana banyak yang di bongkar," timpal Cheng Xin.


"Hem mungkin aku juga bisa ikut cari tau nanti bersama teman-temannya," pikir Cheng Mai sambil memberikan usul.


"Jangan, lebih baik kau camping saja dengan tenang bersama yang lainnya dan jadikan ini urusan ayah saja. Mengerti!" tolak Cheng Xin langsung sambil mengusap lembut rambut anaknya.


"Baiklah Yah," jawab Cheng Mai menurut.


"Kalau begitu, pergi mandi dan kita makan malam bersama. Ayah akan buatkan mie untuk kita," suruhnya.


"Siap Yah!" Cheng Mai langsung bangkit dan memberikan hormat padanya lalu pergi meninggalkan ayahnya disana. Setelah Cheng Mai pergi, Cheng Xin juga ikut beranjak bergegas menuju dapur nya untuk memasak mie.


...******🎏🎏🎏******...


Waktu untuk camping tiba, Cheng Mai dan lainnya sudah bersiap untuk masuk kedalam bus yang sudah disediakan dari sekolah. Sebelum berangkat, Cheng Mai sudah mengecek barang bawaannya sudah lengkap atau tidak. Dirinya diantar oleh ayah tercintanya karena tak mungkin Cheng Mai berangkat sendiri dengan barang bawaannya yang lumayan banyak.


Cheng Mai duduk disebelah Jin Mei seperti biasa. Namun berbeda dengan Xiao Dan yang tidak duduk bareng dengan Dou Dou. Dou Dou memilih duduk dibelakang karena lebih luas. Sementara saat ini belum ada orang yang menduduki kursi sebelah Xiao Dan. Ini kesempatan bagus untuk Vivian curi. Teman-temannya langsung mendorong Vivian begitu saja saat melewati kursi Xiao Dan dan itu membuat dirinya terkejut.


"Aduh," celetuknya sambil memandang dua sahabatnya. Karena terkejut, Xiao Dan menengok kearahnya.


"Xiao Dan, Vivi duduk dengan mu ya," kata teman Vivian sambil meminta izin padanya.


"Iya Dan biarkan dia duduk dengan mu, lihat sudah tak ada kursi yang kosong kecuali kursi mu," timpal satu temannya lagi sambil membujuk dirinya.


Xiao Dan pun berdiri untuk melihat ke sekeliling dan emang benar tak ada kursi kosong lagi selain kursi miliknya. Dengan berat hati akhirnya Xiao Dan mengangguk tanda mengizinkan Vivian duduk dengan nya.


Teman-teman Vivian pun pergi meninggalkan sembari memberikan tanda semangat untuk nya.


Selama perjalanan Vivian berusaha berbicara pada Xiao Dan. Ia berkata panjang lebar padanya tapi tak disangka Xiao Dan tak mendengarnya sama sekali karena telinganya terhalang oleh benda kecil yang menutupinya.


"Dan Dan, nanti setelah sampai disana, apa boleh aku mengajak mu makan bersama. Kau tau katanya di Nanchang banyak yang menjual makanan enak. Kau suka makanan apa Dan? Kau suka seafood tidak? Aku sangat menyukainya termasuk menyukai dirimu juga hihi," tanya Vivian panjang lebar dengan semangat dan tanpa malu-malu ia juga menyatakan perasaan padanya.


Namum Xiao Dan hanya diam saja tanpa mendengar sedikit pun apa yang Vivian katakan, ia lebih fokus memandang ke luar jendela sambil menikmati lagunya. Vivian yang merasa tak ada tanggapan dari lawan bicaranya, menengok ke arahnya. Dirinya hanya bisa menghela nafas kasar dan langsung menyenggol lengan Xiao Dan


"Apa?" Tanya Xiao Dan sambil mencabut headset nya.


"Kamu daritadi tak mendengar ku berbicara," ucap Vivian sedikit kesal.


"Apa kau mengatakan sesuatu tadi? Jika iya maaf aku sedang memakai ini," tanya Xiao Dan lalu meminta maaf padanya sambil menunjukkan headset yang sedang di gunakannya.


"Huh tidak, aku tidak mengatakan apa-apa, kamu lanjutkan saja mendengarkan lagu mu," jawab Vivian mengelak sambil menghela nafasnya.


"Oh ya sudah," kata Xiao Dan lalu memasukkan headset nya kembali ke telinganya. Mendengar jawaban dari Xiao Dan membuat dirinya menjadi tambah kesal dibuatnya.


Seorang Dewi sekolah yang kesal menjadi gregetan dengan dirinya sendiri, ia bahkan seakan ingin memukul kursi yang didepannya. Jin Mei yang tak sengaja melihatnya menyenggol lengan Cheng Mai untuk memberi tahu


"Cheng, anak itu kenapa?" tanyanya sambil mendongak ke arah Vivian


"Entahlah mungkin dia gagal lagi untuk mendekati Xiao Dan,' jawab Cheng Mai menebak.


"Kau tau jika Vivian menyukai Xiao Dan?" tanya Jin Mei terkejut.


"Ya bukan hanya aku saja kamu pun tau dan bahkan satu kelas atau bisa jadi seluruh sekolah tau kalau Vivian menyukai Xiao Dan, Xiao Dan juga kan murid populer ya pasti Dewi sekolah ikut mengejar nya," jelasnya.


"Kamu benar juga," Cheng, katanya manggut-manggut setuju.


Perjalanan menuju Nanchang memakan waktu 1 jam perjalanan. Kota yang berada di Timu China ini, berada di tepi kanan sungai gan tepat berada di bawah pertemuannya dengan Sungai Jin dan sekitar 25 ml (40 km) ke selatan alirannya mengalir ke Danau Poyang. Nanchang adalah sebuah tempat yang terletak di Provinsi Jiangxi, China. Nanchang sendi juga terkenal dengan tempat wisata dan kulinernya. Banyak wisata sejarah yang dapat di kunjungi sambil berburu aneka kuliner khas Nanchang.


Bus nampak memasuki sebuah jalan biasa yang muat untuk mobil dan Bus. Bus tak lama berhenti dan pertanda mereka telah sampai di lokasi camping. Lokasi camping Cheng Mai berada di Desa Lounge, desa yang terletak sebelum Desa Loufen dan hanya berjarak kisaran 1 kilo dengannya. Lokasi Camping Cheng Mai cukup strategis karena memang Desa Lounge menyediakan spot kemah khusus untuk para pengunjung yang datang.


Kini seluruh murid dari Sekolah Menengah Puiying sudah turun dari bus dan sedang bersiap untuk mendirikan tenda masing-masing. Cheng Mai dengan di bantu oleh rekannya, Jin Mei mendirikan tenda bersama. Tapi mendadak mereka mendapatkan masalah dimana tenda tak bisa berdiri dengan tegak.


Xiao Dan yang juga sedang mendirikan tenda bersama Dou Dou, melihat Cheng Mai yang sedang kesulitan. Dirinya pun langsung memanggil Dou Dou yang ada di depannya untuk meneruskannya sedangkan dirinya pergi membantu Cheng Mai.


"Dou, kau teruskan sisanya aku mau kesana dulu," pamit Xiao Dan buru-buru.


"Siapp!" jawab Dou Dou tanpa protes.


"Sini ku bantu," tawar Xiao Dan langsung ketika sampai di tempat Cheng Mai. Jin Mei langsung memberikan peralatan miliknya padanya.


"Xiao Dan," panggil Cheng Mai terkejut. Xiao Dan hanya tersenyum sambil membenarkan tenda milik sahabatnya itu.


"Terima kasih," ucap Cheng Mai yang di jawab dengan anggukan oleh Xiao Dan.


Vivian diam-diam melihat ke arah Cheng Mai, ia seketika langsung kesal dan memilih pergi meninggalkan teman-temannya.


"Vi, mau kemana?" tanya temannya yang bernama Kei Lin.


"Cari angin kalian selesaikan saja," jawabnya sambil terus berjalan.


"Tapi kata Bu...." Kei Lin langsung menghentikan perkataan satu temannya lagi.


"Sudah biarkan saja," lebih baik kita lanjutkan tugas ini," ujar Kei Lin padanya.


"Hem." Teman satunya mengangguk setuju.


Sementara Cheng Xin sudah berada di rumah Profesor dengan membawa perlengkapan yang cukup banyak juga. Ia sebelumnya sudah memberi tahu Profesor jika dirinya ingin memeriksa langsung ke desa Loufen dan mengajak beliau untuk ikut dengannya. Profesor pun menyetujuinya begitu juga Kakek Zhang.


Disaat mereka sudah bersiap untuk berangkat dan masuk kedalam mobil milik Profesor, tiba-tiba seseorang mencegat mereka.


"Tunggu....!"


Bersambung.......