
Cheng Xin masuk kedalam museum untuk mencari Profesor Zhou. Dirinya tau kalau Profesor Zhou pasti belum pulang dari museum makanya ia tadi cepat-cepat pamitan pada anaknya. Setelah lama mencari, akhirnya Cheng Xin menemukan Profesor Zhou yang tengah memandangi sebuah lukisan kuno yang dipajang disana. Tanpa pikir panjang Cheng Xin langsung memanggilnya. "Prof...."
Profesor Zhou menengok, "Eh Xin ada apa mencari ku?"
"Bolehkah kita mengobrol di sana?" tunjuk Cheng Xin ke arah bangku didepannya.
"Baiklah mari," ajaknya menyetujui. Cheng Xin pun mengikutinya dari belakang. Setelah sampai mereka berdua duduk dan melanjutkan mengobrol.
"Kamu mau bicara apa, Xin?" tanya Profesor Zhou ingin tahu.
"Begini Prof, apa saya boleh meminta sedikit bantuan anda?" pintanya sedikit ragu.
"Bantuan apa?" tanyanya lagi.
"Jika Prof tak keberatan, apa boleh saya meminjam buku-buku tentang sejarah milik Profesor?" jawabnya meminta.
"Oh itu silahkan saja Cheng Xin, kau pinjam lah sesuka hatimu. Semua buku ku ada di ruangan ku. Kau bisa mengambilnya langsung nanti setelah dari sini," katanya mengizinkan.
"Baiklah Prof, terimakasih banyak," ucap Cheng Xin senang dan menjabat tangannya.
"Iya. Ngomong-ngomong kau butuh buku itu untuk apa?" Lagi-lagi Profesor Zhou bertanya padanya.
"Untuk bahan menulis ku Prof, saya sedang memulai pekerjaan manjadi penulis sejarah," jelasnya.
"Wah semoga buku mu laris ya Xin," kata Profesor Zhou dengan senang.
"Nulis saja belum prof masa sudah laris," ucapnya menanggapinya.
"Ya nanti lah, kau tak mau buku mu laris nanti," katanya sambil tertawa.
"Hehe ya mau lah Prof semoga saja berhasil," ucapnya sambil ikut tertawa.
Mereka berdua berbincang sambil bercanda penuh tawa diantara keduanya. Cheng Xin pun berniat untuk pamit kerena hari sudah sore dan mungkin saja Cheng Mai telah tiba dirumah sekarang. Namun sebelum itu ia teringat dengan kakek Zhang, ia pun menanyakan kabarnya terlebih dahulu.
"Oh iya Prof, bagiamana kabar Kakek Zhang sekarang? Apakah beliau sudah sembuh?" tanyanya ingin tahu.
"Syukurlah Xin, Lou Zhang sudah sembuh sekarang dan sehat," jawabnya.
"Syukurlah kalau begitu, titip salam ku padanya ya Prof," ucap Cheng Xin lega.
Profesor Zhou mengangguk. Cheng Xin pun beranjak dari duduknya untuk berpamitan.
"Prof, kerena sudah sore, saya permisi pulang duluan," pamitnya.
"Baiklah Xin, hati-hati dan jangan lupa ambil bukunya di kantor ku," balas profesor Zhou sambil berpesan.
"Iya Prof. Eh prof tak pulang apa mau sekalian dengan ku," tawarnya.
"Tak usah Xin, Fan Fan sebentar lagi akan menjemput ku," tolaknya karena memang sebentar lagi anaknya menjemputnya.
"Oh begitu ya sudah saya tinggal dulu," ucapnya lalu pergi.
Profesor kembali mengangguk. Cheng Xin lalu pergi ke ruangan Profesor Zhou yang berada tak jauh dari museum untuk mengambil beberapa bukunya. Setelah itu barulah dirinya pulang menuju rumahnya.
...******🗝️🗝️🗝️******...
Dirumah, Cheng Mai sudah pulang dan tengah belajar di kamarnya. Ia sedang mengerjakan PR sejarah yang diberikan gurunya tadi. Cheng Mai berhenti mengerjakan dan menengok jam beker yang ada di sebelahnya. "Sudah jam 6, ayah kenapa belum pulang ya," gumam nya
Ceklek. Pintu rumah tiba-tiba berbunyi. Cheng Mai yang mendengarnya pun langsung beranjak untuk melihat.
"Ayah kenapa baru pulang?" tanyanya dari depan kamar.
"Nah bawa ini, kita makan dulu," suruhnya sambil menyerahkan sekantong kresek besar, "kau belum makan kan?" tanyanya.
"Belum Yah," jawab Cheng Mai menerima kantong kresek tersebut.
Cheng Xin melepas sepatunya lalu pergi ke ruang makan menyusul Cheng Mai.
"Itu makanlah ayah tidak masak hari ini jadi ayah beli capcay di jalan," suruhnya. Ia lalu menuangkan air ke gelasnya dan meminumnya.
"Ayah terlihat lelah sekali," kata Cheng Mai sambil memperhatikan ayahnya.
Cheng Xin duduk didepan Cheng Mai. "Iya Nak hari ini ayah cukup lelah karena harus mencari sesuatu untuk bahan pekerjaan ayah," jelasnya.
"Oh begitu, eh iya Yah Ayah tadi menemui Profesor Zhou di Museum untuk apa?" tanyanya karena penasaran.
"Bentar," ucapnya mengangkat tangan. Cheng Mai tentunya menjadi bingung. Cheng Xin lalu mengambil tasnya dan mengeluarkan beberapa buku dari dalam tas lalu menaruh nya dimeja. Sekiranya ada setumpuk buku tebal-tebal yang berhasil ia pinjam dari Profesor Zhou tadi.
"Wah Yah untuk apa semua ini? Banyak sekali bukunya tebal-tebal juga," tanya Cheng Mai bingung sambil mendekat, menyentuh buku-buku itu.
"Ya ini alasan mengapa ayah menemui profesor Zhou, untuk meminjam beberapa bukunya," jawabnya sambil menepuk tumpukan buku paling atas.
"Jadi ini semua milik Profesor Zhou," kata Cheng Mai terkejut.
"Hem, ayah sudah diterima kerja dan manajer disana meminta ayah untuk menulis kisah sejarah mengenai Pulau Terlarang," jelasnya.
"Wah selamat kalau begitu Yah, apa artinya ayah akan menulis kisah ku dan teman-teman juga nanti?" tanyanya , ingin tahu lebih.
"Ya mungkin akan ayah tambahan sedikit cerita tentang kalian itu," jawabnya sambil menyenderkan badannya ke kursi.
"Eh eh kamu ini keterlaluan, masa ayah langsung disuruh menulis. Setidaknya makan dulu dong ayah kan perlu tenaga untuk berpikir juga," protes nya sambil ingin menyentil Cheng Mai, namun diurungkan niatnya karena Cheng Mai meminta ampun.
"Oh iya hehe." Cheng Mai terkekeh sambil memberikan tanda piece pada ayahnya. "Ya sudah kita makan saja Yah, aku juga sudah lapar daritadi," ujarnya.
Mereka berdua pun memakan makan malam dengan tenang. Setelah selesai, Cheng Xin kembali ke kamar nya untuk memulai memikirkan ide menulisnya. Sedangkan Cheng Mai, dirinya membereskan bekas makanan yang ada dimeja dan membuangnya ke tempat sampah. Semuanya sudah bersih kembali, Cheng Mai pun kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Di kamar Cheng Xin, ia mencoba memulai menulis di bukunya terlebih dahulu. namun baru berapa kata, ia sudah menyobek kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. Ia terus saja begitu karena idenya belum mengalir juga.
Pada akhirnya ia memilih membaca buku-buku yang dipinjamnya tadi sebelum melanjutkan menulis. Ia berharap akan menemukan idenya lewat membaca. Cheng Xin membaca buku dengan cermat dan detail di setiap lembarnya. Saat membaca buku dihalaman berikutnya, ia tiba-tiba menemukan sesuatu yang terkait dengan Pulau Terlarang dan harta karun Raja Han. Ia pun seketika mendapatkan ide dan langsung menuangkan idenya itu ke dalam buku.
Cheng Xin mengambil buku dan alat tulisnya, ia pun mulai menulis. Ia mulai menulis dari kisahnya saat melewati rintangan di hutan terlarang yang ada di Pulau Terlarang terlarang pastinya. Lama menulis tak terasa dirinya sudah menulis sebanyak 4 lembar dan selesai untuk bab pertamanya. Karena waktu sudah larut, Cheng Xin memutuskan menghentikan aktivitasnya dan menuju ke tempat tidur untuk istirahat.
...******🖋️🖋️🖋️******...
Pagi yang cerah tiba. Cheng Mai sudah berada dijalan menuju sekolahnya. Saat di perjalanan ia bertemu Jin Mei dan pada akhirnya berangkat bersama. Mereka berdua sudah menaiki bus dan untuk menghilangkan kebosanan, mereka berdua memilih mengobrol.
"Cheng, bagaimana PR sejarah mu sudah selesai?" tanya Jin Mei membuka percakapan.
"Sudah dong langsung ku kerjakan pastinya," jawabnya bangga sambil menatap kearahnya. "Kau sendiri?" tanyanya balik.
"Ah jangan bilang mau menyontek ya," tebaknya bercanda.
"Enak aja aku juga sudah tau," tukasnya langsung.
"Hehe siapa tau." Cheng Mai terkekeh sambil menggaruk rambutnya. "Oh iya Mei, sebelum ke kelas kita ke kantin dulu yuk," pintanya.
"Kau belum sarapan kah?" tanya Jin Mei heran karena tak biasanya temannya ini mengajaknya ke kantin pagi-pagi.
"Belum ayahku belum bangun tadi pas aku berangkat. Dia sepertinya kelelahan, ku lihat banyak kertas berserakan di kamar nya. Pasti sulit baginya untuk menulis," jawabnya sambil memikirkan ayahnya.
"Ayahmu menulis?" Jin Mei bertanya sekali lagi untuk memastikan.
"Iya pekerjaan ayahku sekarang adalah penulis sejarah," jawabnya.
Sementara dirumah benar saja, Cheng Xin masih tertidur pulas di kamarnya. Namun dirinya langsung bangun tersadar karena belum membangunkan anaknya. Dirinya pun beranjak dan pergi ke kamar Cheng Mai.
"Cheng Cheng Nak bang-." Cheng Xin menghentikan panggilannya dan berhenti.
"Eh sudah berangkat kah?" Dirinya lalu melihat jam tangannya, "hem patutlah ternyata sudah jam tujuh, aku kesiangan ternyata."
Cheng Xin pun akhirnya kembali ke kamar untuk mengambil handuknya dan pergi membersihkan diri. Badannya terasa lelah sekali karena duduk terlalu lama kemarin malam.
Dirinya kini sudah segar kembali bersih dan rapi juga, ia akan mulai menulis lagi hari ini. Namun saat akan mulai menulis telepon miliknya bergetar. Cheng Xin lalu mengangkatnya yang ternyata adalah panggilan dari Profesor Zhou
"Halo Prof, ada apa ya?" tanyanya setelah menyapa Profesor Zhou diteleponnya.
"Cheng Xin kau sedang sibuk tidak hari ini?" tanya Profesor Zhou ingin tahu.
"Tidak terlalu, kenapa memangnya?" tanyanya lagi.
"Apa kau bisa ke rumahku sekarang? Kakek Zhang ingin bertemu katanya. Ia merindukan mu setelah ku sampaikan salam mu kemarin," jelasnya.
"Oh benarkah, baiklah aku akan segera kesana," ucapnya langsung setuju
Dirumah Profesor Zhou.
"Kaka, Cheng Xin mau kesini katanya," kata Profesor Zhou memberitahu. Saat dirinya bertemu dan membatu Kakek Zhang, Profesor Zhou sudah menganggap Kakek Zhang seperti kakanya sendiri. Ia merasa kakanya terlahir kembali untuknya.
"Syukurlah aku sudah lama tak bertemu dengannya," ucap Kakek Zhang lega mendengarnya.
"Kau senang sekarang, ka?" tanyanya
"Hem tentu saja, terimakasih ya Zhou, jawabnya sambil tersenyum. Mari ke depan untuk menunggu Cheng Xin," ajaknya pada Profesor Zhou.
"Ayo ayo Ka, akan ku temani," jawabnya dengan senang hati.
Kakek Zhang dan profesor Zhou pergi ke depan untuk menunggu kedatangan Cheng Xin kerumahnya. Sementara Cheng Xin setelah menutup telponnya, ia bergegas merapikan pakaiannya dan mengambil kunci mobil.
Cheng Mai dan Jin Mei sudah sampai disekolah sekarang dan sedang berjalan menuju kelasnya. Namun suara ribut-ribut terdengar jelas dari ruang kelasnya.
"Ada apa ini pagi-pagi sudah ribut dikelas kita?" tanya Jin Mei sambil menatap kearah Cheng Mai.
"Tak tau Mai, coba kita tengok," ujarnya.
Dengan segera mereka mempercepat langkahnya menuju ke kelas.
"Haa mereka siapa?" kaget Jin Mei dari luar kelas.
"Entahlah," jawab Cheng Mai sambil mengangkat bahunya. Mereka berdua lalu masuk kedalam kelas lewat pintu belakang. Namun baru saja masuk, Zhan Yang teman sekelasnya tiba-tiba menghentikan langkah mereka
"Cheng Mai, Jin Mei, kelas kita kelas kita akan dibongkar," ucapnya memberitahu dengan wajah yang panik
"Apa???" Mereka berdua saling tatap tak mengerti.
Di kelas Cheng Mai sepertinya sedang ada masalah. Terlihat dari raut wajah keduanya yang tampak terkejut. Dan yang didalam kelas ternyata ada beberapa orang yang tidak dikenal. Di sana ada Bu Lin juga wali kelasnya, yang membuat Cheng Mai dan Jin Mei semakin bingung. Lalu siapa mereka dan mau apa mereka berbondong-bondong ke kelasnya? Jawaban di episode berikutnya ✌️
Bersambung.....🗝️🗝️🖋️🖋️