Hidden Treasure Hunter's

Hidden Treasure Hunter's
Kembali Ke Sekolah



Liburan akhir semester telah usai, kini saatnya Cheng Mai dan teman-temannya kembali ke sekolah. SMP Puiying adalah sekolah Cheng Mai saat ini. Tak terasa dirinya sudah naik kelas 11, dan pasti akan ada banyak pengalaman yang akan dialami dirinya nanti.


Kini Cheng Mai sudah rapi mengenakan seragam SMP-nya dan sedang menikmati sarapan paginya bersama ayah tercinta.


"Yah, apa Ayah beneran sudah resign dari pekerjaan Ayah?" Tanya Cheng Mai sambil menyantap selembar rotinya.


"Iya Cheng Mai sayang, ayah tidak mau meninggalkan kamu sendirian lagi dirumah, kamu suka itu kan," jawabnya lalu meminum susunya.


"Hem tapi Yah, mengenai perekonomian kita...?" Cheng Mai sedikit ragu-ragu untuk menyetujui keputusan ayahnya itu. Ia berpikir jika ayahnya tak bekerja lalu bagaimana dengan perekonomian keluarganya setiap hari.


"Ah tentang itu, kamu tak usah pikirkan ya nak cukup ayah saja yang pikirkan dan lihat ayah masih terlihat muda bukan?" Jawab Cheng Xin meyakinkannya sambil memamerkan badannya yang masih terlihat segar dan muda.


"Lalu?" Cheng Mai berhenti meminum susunya.


"Berarti itu tandanya ayah masih bisa mencari pekerjaan baru dan mungkin ayah akan mencari pekerjaan yang hanya perlu dirumah, agar ayah bisa terus mengawasi mu. Sekarang Cheng Cheng lebih baik sekolah yang rajin saja ya," lanjutnya sambil mengusap rambut anaknya.


"Baiklah Yah, kalau begitu Cheng Mai berangkat dulu." Setelah mendengar penjelasan ayahnya, Cheng Mai akhirnya setuju dan langsung pamit berangkat sambil merapikan rambutnya yang sudah diacak-acak oleh ayahnya barusan.


Di SMP Puiying. Suara ricuh sedikit terdengar dari bilik kelas 11-1, dimana itu adalah kelas Cheng Mai sekarang. Semua murid yang sudah datang sedang mengerubungi satu murid yang tengah asyik bercerita tentang pengalamannya selama liburan kemarin.


"Kalian tau aku kemarin liburan ke mana?" tanya salah satu gadis yang sengaja membuat teman-temannya penasaran. Mereka serentak mengangkat bahunya karena jelas tidak mengetahuinya.


"Emang kemana Vivian?" tanya murid laki-laki didepannya.


"Tentu saja keluar negeri dong," jawabnya dengan sombong.


Vivian Liu, anak orang kaya pemilik donasi terbesar di sekolah ini. Anaknya cantik namun sifatnya sangatlah sombong dan selalu mencari perhatian orang lain. Ayahnya kerap kali memberikan sumbangan berpuluh-puluh juta untuk sekolah Puiying. Ini membuat Vivian menjadi seenaknya saja selama berada disekolah.


"Hem itu mah biasa liburannya orang kaya, emang kita-kita ya," kata murid yang ada di sebelahnya sambil menatap ke lainnya.


"Apa ada oleh-oleh untuk kita?" tanya murid lainnya juga.


"Hem maaf ya aku lupa tak kepikiran," jawab Vivian santai.


"He eleh itu mah kau yang pelit Vivian," sindir murid laki-laki berambut cepak yang duduk didepannya.


"Aku tidak begitu ya." Mendengar itu, Vivian langsung menyangkal nya dan melipat kedua tangannya kesal.


"Heh Vivian liburan mu itu tidak ada apa-apanya dengan liburan si Cheng Mai dan teman-temannya," ejek si rambut cepak.


"Apa maksudmu?" Tanya teman Vivian yang duduk disebelahnya langsung.


"Emang mereka liburan kemana ya? Ada ya liburan yang lebih waw dari luar negeri," gumam gadis berambut pendek di sana.


"Eh eh aku baru ingat satu lagi liburan mereka itu sangatlah langka juga lho," tambah anak berambut cepak tadi.


"Heh Zhan Yang emang mereka liburan kemana?" tanya Vivian penasaran. Yang lainnya juga ikut penasaran. Anak berambut cepak tadi, Zhan Yang lah namanya.


"Kalian benar-benar ketinggalan berita, Cheng Mai dan teman-temannya itu liburan ke Pulau Terlarang," jawab Zhang Yang memberitahu.


"Haa pulau terlarang bukankah itu pulau, pulau yang sangat berbahaya ya kabarnya," sontak semua murid dibuat terkejut setelah mengetahuinya.


"Hooh, haa... itu mereka (menunjuk ke depan) kau tanya saja ke mereka kelanjutannya." Zhan Yang mengangguk dan kebetulan melihat Cheng Mai dan teman-temannya masuk. Ia memerintah yang lainnya langsung bertanya saja pada mereka tentang ceritanya.


Cheng Mai dan teman-temannya masuk bersamaan. Mereka kebetulan bertemu di pintu gerbang masuk sekolah tadi. Mereka yang baru masuk dibuat terkejut karena tepukan tangan para siswa disana. Mereka berasa seperti sedang mendapatkan penghargaan besar saja di tepuk tangani satu kelas.


"Eh eh ada apa nih kita masuk semua langsung tepuk tangan? Ada yang ulang tahun kah?" pikir Dou Dou bingung.


"Cheng Mai Cheng Mai, ayo dong ceritakan pengalaman kalian di pulau terlarang pas liburan kemarin," panggil gadis berambut pendek menyuruhnya dengan antusias.


Cheng Mai dan teman-temannya saling tatap karena bingung. "Eh eh boleh tapi tunggu kami duduk dulu ya," ujar Jin Mei tiba-tiba mengizinkannya asal mereka dipersilahkan duduk terlebih dahulu.


Cheng Mai dan teman-temannya lalu pergi duduk ketempat masing-masing dengan di ikuti sekelompok siswa yang pada penasaran.


Kini semua siswa yang penasaran sudah merubung tempat duduk Cheng Mai. Cheng Mai lalu menceritakan pengalamannya mulai dari pergi diam-diam dari rumah, bertemu Kekek Zhang, perompak hingga melewati banyak bahaya disana dan berakhir menemukan harta karun yang dicari. Semua siswa yang mendengarnya ada yang terkejut ada juga yang tepuk tangan.


Sementara disisi bangku lain, tampak Vivian dan kedua temannya yang memandang sinis ke arah Cheng Mai. Ia tak suka karena semua orang mengerubuti Cheng Mai dan penasaran akan pengalamannya daripada pengalaman Vivian sendiri. Padahal menurut nya pengalaman dirinya cukup menyenangkan tapi siapa yang tau ternyata pengalaman Cheng Mai dan teman-temannya lah yang berhasil mencuri perhatian para murid disana.


"Wah kalian sungguh berani sekali, kalian bahkan bertemu hewan-hewan yang ukurannya sebesar ini," celetuk Zhan Yang kagum setelah mendengar ceritanya.


"Hem tapi untungnya kami tak sendiri karena ada ayah Cheng Mai dan beberapa temannya yang membantu," timpal Xia Dan yang duduk di bangku depan Cheng Mai.


"Wah hebat, oh ya kata orang jika ada yang pergi kesana bukanya tak akan selamat ya," kata Zhan Yang lagi yang masih kagum pada mereka.


"Sembarangan berarti kau tak ingin kami tak selamat gitu," tukas Xiao Dan langsung karena perkataan Zhan Yang yang membuatnya salah paham.


"Et bukan itu maksud ku, Dan, justru kita-kita senang kalian bisa selamat seperti ini," jelasnya sambil menyuruh Xiao Dan untuk tenang.


"Sudah sudah kembali ke tempat kalian sana bukankah pelajaran segera dimulai dan tak lama lagi guru pasti akan datang," ujar Cheng Mai menyuruh mereka semua bubar karena sudah waktunya untuk pembelajaran.


Setelah mendengar instruksi dari Cheng Mai, semua yang mengerubunginya langsung kembali ke tempat duduknya masing-masing.


"Heh Cheng mereka tau darimana kita pergi ke pulau terlarang," bisik Jin Mei sambil mengambil bukunya dari tas.


"Entahlah Jin Mei," jawab Cheng Mai sambil mengangkat bahunya.


"Hush hush buka hp, kalian akan tau jawabannya." Dou Dou menengok ke belakang dan menyuruh mereka untuk membuka handphone-nya saja.


Jin Mei dan Cheng Mai saling tatap terlebih dahulu sebelum pada akhirnya Jin Mei menurut dan membuka hp nya di laman berita Guangzhou.


"Huwaw sem kita terkenal tenyata Cheng Mai, lihat." Jin Mei sangat terkejut karena melihat begitu banyak berita mengenai dirinya dan teman-temannya. Ia lalu menyodorkan hpnya ke Cheng Mai untuk memperlihatkan semuanya. Cheng Mai tak kalah terkejutnya juga dengan reaksi temannya tadi.


"Wah tak disangka berita tentang kita yang mengunjungi pulau terlarang sudah tersebar ke penjuru Kota Guangzhou," celetuk Cheng Mai lirih.


"Selamat pagi anak-anak!" Seorang guru masuk ke kelas untuk memulai mengajar.


Cheng Mai dan Jin Mei segera menghentikan aktivitasnya dan beralih ke pelajaran yang sudah di mulai. Mereka bener-bener tak menyangka beritanya akan dengan cepat menyebar. Pantas saja semua murid mengerubungi nya tadi ternyata karena itu.


...📜📜📜📜📜📜...


Sementara di rumah yang nampak sederhana, seseorang tengah mengotak-atik laptopnya mencari informasi pekerjaan di laman internet. Sembari ditemani teh hijau di sebelahnya yang sesekali diminum untuk menghilangkan rasa penat mata dan kepalanya. Dicarinya dengan teliti di coret buku daftar pekerjaannya. Di pencet nomor teleponnya menuju perusahaan yang sedang di incar nya. Dan terus saja begitu sampai pada akhirnya ke target perusahaan yang terakhir. Ya itu lah Cheng Xin, ayah Cheng Mai yang tengah sibuk mencari pekerjaan barunya.


"Ya tuhan ini yang terakhir semoga saja perusahaan itu membutuhkan tenaga ku di rumah," harap Cheng Xin sambil menyenderkan tubuhnya ke belakang dan menatap ke langit-langit.


Cheng Xin segera mengambil handphone-nya dan dengan ragu-ragu ia memencet nomer yang tertera di laman tersebut. Setelah menunggu lama akhirnya pihak perusahaan mengangkatnya.


"Halo terimakasih sudah menghubungi kantor pusat penerbitan buku sejarah kota Guangzhou, dengan siapa kalau boleh tau?" Seorang wanita mengangkat telponnya dan langsung bertanya.


"Halo Bu...?" Cheng Xin membalas panggilannya namun terhenti.


"Panggil saja saya Bu Kei," sambungnya langsung.


"Oh baiklah Bu Kei, saya Cheng Xin, ingin bertanya apa benar di kantor penerbit Anda sedang mencari seorang penulis kisah sejarah?" jelas Cheng Xin memberitahu tujuannya sembari bertanya padanya.


"Iya Bu benar sekali," jawab Cheng Xin membenarkan.


"Apa Bapak punya pengalaman di bidang ini jika tidak kami akan mempertimbangkannya lagi?" tanya resepsionis itu dengan serius.


"Saya memang belum ada pengalaman di bidang ini Bu tapi saya ingin mencobanya," jawabnya jujur.


"Baiklah, Bapak bisa pergi ke lokasi saja besok untuk mengetahui informasi lebih detail nya," ujarnya.


"Oh baiklah Bu terimakasih terimakasih," kata Cheng Xin sambil mengangguk-angguk.


"Iya Pak Cheng Xin, sama-sama," balasnya mengakhiri percakapan.


Cheng Xin menutup telponnya dan bernafas lega, berharap besok dirinya bisa di terima di perusahaan artefak tersebut. Untuk menghilangkan rasa penatnya ia meminum teh hijau yang masih hangat.


"Hufh semoga besok lancar," harapnya sambil membuang nafas kasar.


"Hem sudah sore waktunya Cheng Mai pulang, sepertinya aku harus segera menyiapkan makan malam untuk nya," gumamnya lalu menutup laptopnya.


Cheng Xin beranjak dan menuju dapurnya untuk memulai memasak hidangan yang sederhana saja.


Sedangkan di tempat yang berbeda juga, Kakek Zhang di temani Miss Fan sedang berangkat menuju tempat psikolog guna memeriksa kesehatan Kakek Zhang. Tak menunggu waktu lama mereka akhirnya tiba di sebuah tempat psikolog milik teman Profesor Zhou. Mereka berdua lalu turun dari mobil dan masuk kedalam. Mereka berdua disambut hangat oleh dokter psikolog.


"Selamat datang Kakek Zhang bagaimana kabarnya hari ini?" Seorang Dokter cantik menyambut mereka dengan ramah, tak lupa ia juga menanyakan kabar sang Kakek.


Ya ini bukan pertama kali tentunya kakek Zhang mengunjungi tempat ini. Dokter yang bernama Fu Lian ini bahkan sudah sangat dekat dengan kakek Zhang. Katanya kakek Zhang adalah pasien pertamanya yang sangat antusias mengunjungi tempatnya itu.


"Cukup baik dokter cantik he-he-he,' jawab Kakek Zhang sambil menggodanya.


"Kakek udah tua juga masih menggodanya saja," ledek Fan Fan sambil menjabat tangan dokter Fu dengan senyuman.


"Kakek ini tua tapi jiwa kakek muda," katanya.


"Ha-ha-ha bisa saja Kakek, mari kita langsung menuju tempat terapi saja," ajak Dokter Fu setelah tertawa karena senang diajak bercanda.


"Ayo ayo dokter cantik," ucap Kakek Zhang dengan semangat dan menggandeng tangan dokter Fu tiba-tiba.


"Ya ampun dasar kekek tua," gumam Fan Fan sambil geleng-geleng.


Miss Fan yang heran dengan tingkah laku kakeknya hanya bisa menggeleng dan menghela nafas kasar. Ia lalu mengikutinya dari belakang. Kakek Zhang masuk bersama Fu Lian sedangkan Fan Fan menunggunya di depan ruangan. Didalam Kakek Zhang diperiksa terlebih dahulu baru lah setelah itu mulai sesi hipnotis. Entah apa yang dilakukan Fu Lian sekarang sampai tak berasa waktu sudah satu jam saja. Kakek Zhang dan dokter Fu keluar dari ruangan, yang membuat Fan Fan sontak langsung berdiri dan menghampirinya untuk bertanya tentang kondisi kakeknya itu.


"Dokter Fu, bagaimana kondisi kakekku sekarang?" tanya Fan Fan penasaran.


"Sangat bagus, Kakek Zhang karena sering berkunjung membuatnya jadi lebih baik sekarang," jawabnya sambil memuji sang Kakek.


"Syukurlah lega mendengarnya, kalau begitu kami permisi dulu, terima kasih dok." Setelah mendengar kabar baik mengenai kakek Zhang, Fan Fan lalu berpamitan padanya.


"Ayo Kek kita pulang!" ajak Fan Fan pada Kekek Zhang.


"Sang kakek tak menghiraukan panggilan cucunya, ia malah terpesona dengan dokter Fu yang memang cantik dan penuh kharisma ini. Kakek!Ayo pulang!" suruh Fan Fan kembali dengan penuh penekanan.


"Iya iya kita pulang, sampai jumpa lagi dokter cantik muach," pamit Kakek Zhang sambil bertingkah genit pada sang dokter.


"Ya ampun Kek, sudah ayo!" melihat tingkah kakeknya, membuat Fan Fan langsung menarik Kakek Zhang sambil menundukkan kepala tanda minta maaf.


Dokter Fu yang melihat tingkah Kakek Zhang yang menggodanya, membuat dirinya tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


...🦋🦋🦋🦋🦋🦋...


Ceklek suara pintu rumah dibuka.


"Yah, Cheng Mai pulang," panggilnya sambil masuk ke dalam.


"Selamat datang kembali nak," balasnya sambil menata meja makannya.


"Wah Ayah masak apa nih? Harum nya sampai ke cium keluar rumah tadi," celetuk Cheng Mai memuji sambil melihat hidangan lezat siap santap di depannya.


"Ta-da ayah masak daging sapi asam manis kesukaan mu, Nak," ucapnya sambil memperlihatkan semua hidangan yang berhasil dimasaknya.


"Wah kelihatannya enak nih," celetuk Cheng Mai lagi. Semua makanan itu membuat cacing-cacing yang ada di perutnya meronta-ronta tak sabar.


"Apa boleh aku langsung makan?" tanyanya yang hampir tak bisa mengontrol diri untuk mencicipinya.


"Et tunggu ganti pakaian mu dan cuci tangan mu dulu dong, Nak," cegah ayahnya menasehati.


"Hem baik baiklah Ayah, kalau begitu Cheng Mai pamit ke kamar dulu." Cheng Mai menurut lalu berpamitan untuk berganti pakaian di kamarnya.


"Iya sana," jawab Cheng Xin tersenyum.


Dengan cepat Cheng Mai bergegas mengganti pakaiannya dan segera menuju ke ruang makan kembali.


"Sudah Cheng Mai gantinya?" tanya Cheng Xin heran.


"Sudah dong Yah, Cheng gak sabar ingin segera mencicipinya makanya cepet hehe," jawabnya lalu duduk.


Cheng Xin menggeleng sambil tersenyum lalu memberikan mangkuk yang sudah berisi nasi ke Cheng Mai.


Cheng Mai yang sudah menerimanya langsung menyumpit dan menyantap masakan ayahnya itu. "Huwaw enak sekali Yah, tumben sekali ayah masak kesukaan ku?" tanya Cheng Mai yang masih mengunyah.


"Ayah sedang merasa senang saja, Cheng Mai," jawabnya tersenyum.


"Hem ada apa ini aku jadi penasaran?" Cheng Mai senyum-senyum menggoda ayahnya.


"Ayah sudah melamar pekerjaan sekarang," jawabnya yang membuat Cheng Mai tersenyum senang.


"Wah serius yah, ayah melamar jadi apa?" tanyanya antusias


"Jadi penulis kisah sejarah di kantor pusat penerbitan buku sejarah," jawabnya sambil meminum teh hijaunya kembali.


"Eh apa Ayah bisa menulis ya?" pikirnya meragukan.


"Hem anak ayah ini meragukan kemampuan ayah sepertinya." Cheng Xin seketika memencet hidung mancung Cheng Mai yang membuat dirinya terkekeh dibuatnya.


"Hehe tidaklah, aku bercanda. Ayah pasti bisa, semoga lancar ya ,Yah besok," ucapnya sambil mendoakan.


"Semoga saja," jawab Cheng Xin penuh harap.


Mereka berdua lalu melanjutkan makan malam nya yang penuh dengan kehangatan. Walau hanya dua orang saja tapi mereka terlihat senang dan bahagia.


bersambung....📜📜📜