
"HAHH!! DEMIT!!," Karin tersentak kaget mendengar suara berat itu. Ia langsung berdiri tegap dengan wajah yang berubah pucat.
"Sembarangan!."
"B-bang Rey?," Ucap Karin dengan suara bergetar.
"Iya, aku. Bukan dedemit!."
Gadis itu nampak masih mengatur napasnya dengan benar. "Lagian kenapa ngagetin sih.. Huh.. Huh.."
"Ya ampun, aku cuma nyapa lho, nggak niat ngagetin kamu. Sampai pucat gitu," Rey terkekeh pelan.
"Ya tetap aja aku kaget!," Protes Karin tak mau kalah.
"Iya deh, sorry.."
"Abang ngapain malem-malem datang bertamu ke rumah orang?," Tanya Karin jutek.
"Aku datang dari tadi kok. Habis magrib. Mau jenguk om Ahmad, karena beberapa hari kemarin lagi banyak pekerjaan jadi baru sempat datang sekarang." Jelas Rey sementara Karin nampak tidak begitu peduli.
"Ibuku mana?."
"Udah masuk kamar begitu selesai makan malam. Kamu tadi dipanggilin tante, tapi nggak keluar-keluar. Pintu kamarmu dikunci pula. Anak gadis kok tidur magrib, pasti nggak sholat juga ya kamu?."
"Aku nggak sengaja, ketiduran." Bela Karin dengan masih mempertahankan sikap juteknya.
"Non Karin udah bangun? Mau makan non?," Tanya bi Aminah, pembantu di rumah nya. Ia datang tiba-tiba dari arah belakang Rey dan menginterupsi mereka berdua.
"Iya bi, masak apa?."
"Ada soto daging pakai santan non. Kalau mau bibi panasin sekarang."
"Mmm.. Ada yang lain nggak? Aku lagi nggak selera makan daging."
"Aduh.. Nggak ada non, memang non mau makan apa?."
Karin diam sambil berpikir, "Kepingin seafood sih. Tapi nggak apa-apa nanti aku beli sendiri aja. Bibi istirahat gih.."
"Baik kalau begitu non, bibi tinggal ya. Mari mas Rey.." Ucap bibi sambil berlalu.
"Iya bi.." Jawab Rey. "Kamu kepingin makan seafood?."
"Iya. Ya udah, aku pergi dulu ya." Sahut Karin.
"Lho, kamu mau pergi sendiri?."
"Iya, emang kenapa?."
"Ya nggak apa-apa sih, emang berani?."
"Berani aja." Sahut Karin ragu.
"Udah deh, aku antar aja ya. Kebetulan, aku tau tempat makan seafood yang enak. Kamu pasti suka. Tapi emang agak jauh aja dari sini."
Karin diam lagi, ia menimbang keputusan apa yang akan di ambilnya. Tetap pergi mencari makanan seorang diri atau menerima tawaran Rey.
Walaupun jika di pikir-pikir, tawaran dari pria itu cukup menguntungkan untuk nya, sebab memang tak banyak penjual seafood di sekitaran tempat tinggal nya. Apalagi ia harus berjalan kaki, karena di rumah nya tak ada sepeda motor yang bisa ia kendarai. Hanya ada motor dual sport milik Kamil.
"Karin? Gimana?." Rey menggubris lamunan gadis di depannya.
"Hhm.. Oke lah. Aku mau, awas kalau nggak enak! Aku nggak mau bayar!." Ancam Karin galak.
"Kamu nggak akan kecewa. Dijamin! Tapi tunggu sebentar ya, aku pamit ke Kamil dulu."
"Emang bang Kamil di mana?."
"Di kamar. Kami lagi main console bareng tadi, aku turun mau ambil minum, malah ketemu cewek jutek." Sindir Rey, sementara Karin bersungut.
"Eh Kamil, kebetulan. Aku pinjam motormu ya, mau antar cewek cantik cari makanan nih.." Goda Rey sembari melirik Karin yang mulai jengkel.
"Huh.. Cantik dari mana? Judes gitu.." Cibir Kamil sementara Rey terkekeh pelan.
"Udah cepetan mana kuncinya? Keburu makin malem nih!," Ucap Karin.
"Yee.. Sabar dong.. Udah minjem, nggak sopan pula!," Sahut Kamil sambil melangkahkan kakinya lagi menuju kamarnya untuk mengambil kunci motor.
Setelah Rey mendapatkan kunci, ia dan Karin cepat-cepat pergi demi mencari makanan yang diinginkan. Menempuh perjalanan kurang lebih tiga kilometer, mereka akhirnya sampai di warung makan seafood pinggir jalan yang tempat nya lumayan besar. Nampak di sana masih ramai oleh pembeli yang makan di tempat, maupun untuk di bawa pulang.
Karin memesan satu porsi kerang saus padang dan cah kangkung sementara Rey menjatuhkan pilihannya pada mie goreng seafood. Mereka duduk di kursi yang saling berhadapan hingga gadis itu dapat melihat dengan jelas wajah Rey.
Dan di detik itu juga, ia baru menyadari bahwa apa yang dibilang para sepupu perempuannya adalah fakta. Rey memang tampan! Sangat sangat tampan! Tapi, bagaimana ia baru sadar sekarang? Apa karena selama ini ia tak pernah memandangnya secara detail?
Ataukah karena ia telah tersihir oleh pesona Darren hingga merasa tak ada lagi laki-laki tampan selain dirinya?
"Hei.. Rin? Are you ok?," Rey mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Karin dan langsung membuatnya tersadar.
"Ah.. Ya.." Gadis itu malu sendiri hingga Rey dapat melihat dengan jelas wajahnya yang merah padam.
"Makananmu hampir dingin. Jangan ngeliatin aku terus, kalau jatuh cinta repot!," Goda Rey.
"Mati aku. Dia sadar kalau dari tadi aku merhatiin dia, duh.. Habis gimana ya, aku kok merasa hari ini dia ganteng banget! Pakai hoodie gitu kayak nggak se-dewasa umurnya!," Batin Karin yang begitu menyesal sebab telah memandangi Rey sembarangan.
"Ayo makan.." Ucap Rey menggubris lamunan Karin.
"Oke, Karin.. Jangan norak. Jangan lagi bereaksi yang bikin dia ge-er. Kamu nggak mungkin suka sama Rey. Dia kan sepupu kamu.. Ayoo sadaar.. Ayoo!," Karin masih berperang dengan batinnya sendiri. Ia lalu menyendok makanan dan langsung menyuap ke mulutnya, seafood yang benar-benar enak! Persis seperti yang Rey bilang.
Tak ada percakapan di antara mereka selama acara makan malam bersama di warung seafood yang mulai sepi itu, Karin membisu, hanya terdengar sesekali suara mengecap dari mulutnya yang keluar secara tak sengaja.
Begitupun Rey yang tampak menikmati mie goreng non vegetarian yang harum nan nikmat. Sudah lama ia tak makan di tempat ini, sejak dokter menyatakan bahwa ia mengidap kolesterol tinggi.
Udara malam berhembus semakin dingin, usai menghabiskan seluruh makanan, Rey dan Karin cepat-cepat pulang, khawatir hujan akan turun jika di prediksi dari angin yang terasa lebih dingin.
Karin yang di bonceng dengan motor hanya memakai helm dan piyama tidur berlengan pendek, hanya area kakinya saja yang selamat dari terpaan angin sebab tertutupi oleh celana panjang.
Ia mulai menggigil, jarak tempuhnya masih setengah jalan lagi. Jika saja yang di depannya adalah Darren, sudah pasti ia akan memeluknya erat demi mengusir rasa dingin yang lumayan menusuk.
Rey melirik dari kaca spion mulai khawatir dengan Karin. Ia sudah menduga dari awal, bahwa gadis itu akan kedinginan jika dilihat dari pakaiannya yang tak cocok untuk pergi naik motor malam-malam.
"Eh.. Eh.. Kenapa berhenti?," Tanya Karin yang tak mengerti kenapa Rey tiba-tiba menepi.
Pria itu menahan motor dengan kedua kakinya dan tetap membiarkan Karin berada di belakang nya. Kemudian ia melepas jaket hoodie yang di kenakan untuk diberikan pada Karin yang kedinginan.
"Nih.. Pakai." Ucapnya.
"Nggak usah. Aku nggak apa-apa kok," Tolak Karin.
"Aku tahu kamu kedinginan.."
"I-iya, tapi.. Itu bukan masalah.. Aku.. Aku kuat."
"Kuat apanya? Ngomong aja suaranya gemetar begitu. Ayo cepat pakai!," Ucap Rey sedikit memaksa.
"Tenang aja. Jaketku wangi kok, baru dipakai malam ini." Tambahnya.
Karin tak punya pilihan lain, ketimbang memeluk Rey, ia lebih sudi memakai jaketnya. Dengan segenap keterpaksaan, ia meraih jaket tersebut dan memakainya setelah sebelumnya melepaskan helm terlebih dahulu.
"Udah?," Tanya Rey.
"Hhmm.." Sahut Karin acuh.
Rey memacu kembali kendaraannya, menembus angin malam yang benar-benar dingin. Karin merasa terselamatkan sebab jaket Rey seketika memberinya kehangatan. Pria itu, tak se-menyebalkan yang ia pikir di awal pertemuan mereka. Dia, cukup baik.