Finally I Love You!

Finally I Love You!
Chapter 17



"Ayo amm lagi.. Aaa," Kanaka membuka mulutnya sendiri dengan maksud agar Karin mengikutinya. Sembari menyodorkan sendok berisi makanan, ia menyuapi makan siang sang adik dengan telaten. Pagi tadi, sesampainya di Jakarta, ia memilih untuk langsung datang ke rumah sakit tempat adiknya di rawat.


Ibu memang sudah memberi kabar padanya sejak hari pertama Karin di rawat. Namun karena ia masih banyak urusan dengan kuliah dan kerja part time nya, Kanaka menunda sejenak kedatangannya. Hingga begitu ia sampai, sang adik langsung menyambut dengan kegembiraan yang tak dibuat-buat.


"Uhh.. Pinter!" Puji Kanaka. Sementara Karin mengunyah sambil membuat senyum yang sedikit dipaksakan.


"Dulu abang sering banget suapin kamu dek. Hampir setiap hari," Ucapnya lagi.


"Masa sih? Lupa aku," Sahut Karin usai menelan makanan di mulutnya.


"Iya kamu masih kecil. Wajar aja kalau lupa," Ia kembali mengaduk nasi dan ayam fillet goreng yang dibalut tepung beserta capcay sayur di atas piring dan bersiap untuk menyuapkan lagi ke arah adiknya. "Ayo lagi.."


Karin mengangkat tangan agar Kanaka berhenti sejenak. "Tunggu. Minum dulu."


Dengan sergap Kanaka meraih segelas air putih di meja samping ranjang dan ia berikan pada sang adik yang nampak kehausan. Lalu setelahnya, ia kembali menyuapi dengan gerakan tangan selembut mungkin.


"Abang, sampai disini ham bewapa?" Karin bertanya dengan mulut yang masih penuh. Rahangnya masih bergerak tanda ia sedang mengunyah lantas membuat kosa katanya terdengar tidak jelas.


"Telan dulu, baru ngomong dek." Kata Kanaka sembari terkekeh kecil. "Tadi sekitar jam delapan. Ambil penerbangan pagi. Dari bandara abang langsung kesini. Tuh, kopernya juga abang bawa." Jelasnya dengan matanya yang memberi isyarat ke arah satu buah koper berukuran besar di sudut ruangan. Sementara Karin mengangguk.


"Tadi sempat ketemu ibu sama ayah. Tapi kamu masih tidur. Katanya, kamu baru dipindahkan ke kamar rawat biasa subuh tadi setelah dua hari koma di ICU. Dek, ini pertama kalinya lho, kamu opname di rumah sakit. Langsung parah begini. Walaupun biasanya kita kayak kucing sama tikus, tapi abang beneran khawatir banget waktu denger kabar tentang kamu." Nada bicara Kanaka terdengar penuh empati. Binar-binar di kedua matanya juga nampak murni tanpa dusta.


Karin menarik dua sudut bibirnya, mengukir senyum yang ia hadiahkan untuk abangnya yang nomor tiga itu. Beda usia mereka hanya tiga tahun, itulah salah satu faktor yang sering membuat mereka bergelut. Sedangkan faktor lainnya adalah, karena Kanaka memiliki sifat jahil yang entah ia wariskan dari siapa, melawan Karin dengan sifat emosional dan juteknya.


Dulu seringkali ibu dan ayah mereka kewalahan jika harus jadi wasit di antara dua anaknya itu, lantaran Karin yang cenderung galak dan tak segan-segan main fisik dengan abangnya. Dan Kanaka yang jahil namun lemah akan kalah dari adiknya.


Namun pertarungan menjengkelkan yang harus dihadapi ayah dan ibu hampir setiap hari itu berhenti dengan sendirinya di saat Kanaka mulai beranjak remaja, dan Karin yang juga mulai sibuk dengan sekolahnya. Meski satu atau dua kali cekcok terdengar di telinga, tapi hal itu tak terlalu berarti.


Hingga akhirnya Kanaka memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta, rumah mereka hampir tak pernah lagi terdengar bising pertengkaran antar saudara, kecuali saat Kamil sedang kumat menggoda Karin, adiknya. Tapi sisanya, hari-hari lain terasa tenang dan damai.


"Makasih abang udah khawatirin aku," Ujar Karin.


"Duh, pakai makasih segala.." Sahut Kanaka. "Makan lagi ya."


"Udah bang. Cukup," Tolak Karin yang merasa lima suap makanan sudah cukup mengisi perutnya.


"Tapi ini masih ada sisa dek."


"Nggak apa-apa, aku kenyang bang."


"Oke." Sahut Kanaka pendek. "Minum obatnya ya, ada yang tiga kali sehari nih," Ia meraih bungkus obat milik Karin dan membantu adiknya untuk segera menenggaknya.


"Ayah sama ibu kok belum datang juga ya," Karin bertanya usai meminum obatnya.


"Sebentar lagi mungkin dek. Tadi katanya ayah harus masuk kerja hari ini, jadi ibu ikut pulang untuk bantu siapin keperluan ayah. Untung abang udah sampe, jadi bisa jagain kamu," Jelas Kanaka.


"Tapi bang Khalid...."


"Permisi..." Karin belum selesai bicara saat terdengar suara knop pintu yang dibuka oleh seseorang dari luar. Keduanya lantas menoleh berbarengan, dan sosok laki-laki dewasa bertubuh tinggi nan atletis muncul dari sana. Ia memakai jaket winter hitam yang nampak tebal serta celana panjang warna nude. Di cuaca kota Jakarta yang cenderung panas, setelan yang digunakannya sungguh tidak cocok.


Di tangannya, ia membawa sekeranjang parsel berisi buah-buahan yang di tata dengan cantik.


"Eh, bang Rey?" Kanaka menerka. Di sisi lain, Karin masih termangu memandang Rey. Sebab di benaknya, bukan lelaki itu yang diharapkan untuk datang.


"Hei, Kanaka. Kamu pulang?" Rey menyapa Kanaka lebih dulu. "Ini ada sedikit buah tangan," Ucapnya lagi sambil menyodorkan parsel tersebut pada Kanaka.


"Terimakasih bang. Iya, aku baru sampe sini tadi pagi."


"Maaf, aku baru sempat datang hari ini." Sesal Rey yang sorot matanya langsung mengarah pada Karin. Ia juga mendekat pada gadis itu. "Gimana keadaan kamu Karin?" Matanya lagi-lagi mengedar sembari mengamati bagian kaki Karin yang dibalut gulungan gips nan tebal. Begitu pula dengan area tangan kirinya.


"Seperti yang abang lihat. Aku baik-baik aja," Sahutnya dengan nada bicara yang seolah tidak menghiraukan rasa khawatir lelaki itu.


"Kaki dan tanganmu di gips dan kamu bisa bilang kalau kamu baik-baik aja? Ini.. Ini kacau Karin..." Rey jelas terlihat tak tenang. Tapi Karin malah acuh.


Mendengar pertanyaan seperti itu Karin malah diam. Sebab ia merasa tidak nyaman dengan cara Rey bertanya. Menurutnya, nada yang seperti itu lebih mirip interogasi dibanding peduli.


"Iya bang. Karin sempat koma dua hari, dan baru sadar tadi malam. Jadi subuh tadi dia juga baru di pindah ke kamar rawat ini," Kanaka mengambil alih dengan menjawab pertanyaan Rey yang sebetulnya ditujukan pada Karin yang terlihat pasif.


"Syukurlah.." Ucap Rey seraya mengembuskan napas. Ia memandangi adik sepupunya yang acuh dengan sorot mata sendu. Hari itu, saat Lily, mami nya memberi kabar tentang kecelakaan yang di alami Karin, hatinya langsung dilanda kekhawatiran yang dalam.


Ia sedang dalam perjalanan bisnis ke Australia bersama rekannya. Dan hal itu sedikit menyita pikirannya hingga ia tak bisa terlalu fokus pada pekerjaan. Rey telah lama memiliki perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan benar pada Karin. Jika dibilang suka, rasanya semua orang juga bisa suka padanya. Atau jika dibilang sayang, itu sudah pasti. Mengingat mereka memang memiliki hubungan kekeluargaan. Dan ia juga menganggap Karin seperti adiknya.


Tapi kalau cinta, pantaskah demikian? Maksudnya, point kedua yang dipikirkannya adalah ia menyayangi Karin seperti adiknya sendiri. Jika benar ia mencintai Karin dalam ruang lingkup yang berbeda, apa perasaan itu tidak salah tempat?


"Assalamu'alaikum..." Ucap seseorang dari balik pintu yang setengah terbuka, hingga lama kelamaan melebar dan menampilkan dua orang wanita paruh baya berdiri di sana. Mereka adalah ibu, bersama tante Lily yang datang untuk menjenguk Karin yang kedua kalinya.


"Eh, ada Rey..." Ucap ibu yang masuk lebih dulu.


"Iya tante," Ia meraih tangan ibu dan langsung mencium punggung tangannya. "Maaf ya tante, Rey baru sempat datang."


"Nggak apa-apa Rey, namanya juga orang kerja," Sahut ibu.


Tante Lily turut masuk dan berdiri di samping ibu. "Kamu langsung kesini Rey? Tapi, barang-barang kamu dimana?" Tanya mami nya.


"Tadi Damar jemput di airport, dia nge drop aku disini, trus barang-barangnya aku suruh bawa pulang," Jelas Rey. Damar yang di maksud adalah asisten yang juga merangkap jadi sopir pribadi nya.


"Iya nak," Lily melempar senyum untuk putranya.


"Karin gimana nak? Udah dapat makan siang?" Ibu lanjut mengalihkan perhatian pada anaknya yang tutup mulut.


"Udah bu," Jawab Karin.


"Udah dimakan?"


"Iya. Tadi disuapin bang Naka."


"Obatnya?"


"Udah juga bu."


"Syukurlah.."


Karin memahat senyum tipis. Terutama untuk Lily tantenya. Di antara yang lain, memang hanya Lily yang memiliki hubungan baik dengannya. Dulu, waktu kecil, seingatnya saat duduk di bangku sekolah dasar, Lily sering mengajaknya jalan-jalan. Membeli es krim, kadang-kadang mainan, atau sekadar pergi ke taman hiburan. Tentunya bersama dengan Rey juga yang pada saat itu belum memiliki perasaan aneh pada adik sepupunya.


Wanita itu menyukai anak-anak, apalagi yang perempuan. Mengingat ia hanya memiliki Rey, anak laki-laki pewaris tunggal di keluarganya. Ia bukannya tidak berusaha, tapi memang mungkin Tuhan sudah menggariskan takdir hidup nya demikian. Hanya memiliki satu anak dan sebetulnya, itu pun sudah lebih dari cukup.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kanaka Adhi Wira Iskandar