
Deru suara knalpot motor terdengar bising memekakkan telinga. Enam motor sport dengan beraneka macam design itu berjalan berurutan. Darren ada di urutan ketiga, bersama Karin yang duduk di jok belakang memeluknya dengan erat sambil menopang dagu di atas bahu sebelah kirinya.
Ia memakai helm yang dibawa Darren. Sedikit longgar, sebab tidak sesuai dengan ukuran kepalanya. Tapi tak apa pikirnya, yang penting pakai helm agar tak di stop polisi. Tubuhnya juga tidak dibalut jaket seperti Darren, sebab acara konvoi ini mendadak jadi ia tak sempat menyiapkan apapun.
Sudah seperempat jalan, tapi Karin masih memikirkan bagaimana perasaan dua sahabatnya itu. Mereka pasti kecewa, dan Karin lantas makin merasa bersalah. Pikirnya, seharusnya tadi ia tolak saja secara halus ajakan Darren. Jika begini, sama saja ia sudah mempertaruhkan keutuhan persahabatannya.
Tapi jika ditolak, belum tentu Darren juga akan terima. Bisa jadi justru hubungan asmara nya yang malah berantakan. Karin bergidik sendiri membayangkan bagaimana jika akhirnya ia dan Darren putus.
Terlalu hanyut dalam pikirannya sendiri, Karin hampir tak menyadari bahwa sekarang Darren memacu kendaraannya cukup kencang. Angin pun kian terasa kasar menerpa tubuhnya yang tidak dibalut jaket tersebut.
"Beb, pelan-pelan sedikit dong," Ucap nya agak keras.
"Kenapa sayang? Kamu takut?" Sahut Darren sambil sedikit menolehkan kepala.
"Ngeri aja."
"Eratkan lagi pelukannya, kamu akan aman!" Perintahnya yang segera di patuhi sang kekasih. Karin makin mengencangkan pelukannya, hingga nampak tak ada lagi sedikitpun ruang di antara mereka.
BRUUMMM...
Gadis itu menggigil di jok belakang melihat bagaimana Darren memacu motornya dengan kencang. Mereka menyusuri semacam komplek perumahan dengan jalanan yang lumayan luas serta sepi. Bahkan katanya, kalau malam datang seringkali tempat itu dijadikan landasan balap liar oleh kawanan geng motor.
Seperti siang ini, bagai memiliki sembilan nyawa, Darren dan teman-temannya melaju dengan kecepatan tinggi. Saling adu kecepatan dan unjuk kehebatan motor masing-masing. Hingga membuat suara gahar knalpot enam motor itu beradu menciptakan kebisingan di sepanjang jalan yang di lewati.
"Beb, awas!!" Seru Karin saat ia melihat seekor binatang menyebrang sembarangan tepat di depan motor yang ditumpanginya. Darren terkejut bukan main, ia langsung berusaha menginjak pedal rem namun tak keburu dan meleset dari perhitungan, motor yang tengah melaju kencang tersebut lantas kehilangan kendali hingga kecelakaan pun tak terelakkan.
Motor Darren menabrak sebuah pohon besar di tepi jalan, ia jatuh tepat di samping motor sementara tubuh Karin terpental lalu kemudian berguling lumayan jauh. Benturannya bahkan mampu melepaskan helm yang memang terpasang kurang baik di kepalanya.
Darren tergeletak tidak sadarkan diri. Lantas teman-temannya langsung berhenti dan cepat-cepat menghampiri. Namun ia beruntung lantaran helm yang di kenakan masih melindungi kepalanya, berbeda dengan Karin.
Gadis itu, dalam posisi tertelungkup setengah sadar, dengan darah yang mulai mengalir turun dari kepalanya yang luka, menutup perlahan kedua matanya. Ia tak langsung hilang kesadaran, masih mampu melihat dengan penglihatannya yang agak buram seorang teman dari Darren menghampiri nya.
Lalu setelahnya, gelap. Karin tidak tahu lagi apa yang terjadi, bagaimana kondisi tubuhnya, apa dia sudah di angkat malaikat ke akhirat, atau di angkat seseorang menuju rumah sakit. Yang pasti, dia merasa damai. Ringan, seolah hidupnya selesai sampai disitu.
...***...
Beberapa jam setelahnya, kabar mengejutkan itu sampai pada ibu. Ia histeris membayangkan bagaimana kondisi putrinya yang di laporkan kecelakaan dan tak sadarkan diri. Ayah yang pada saat itu sedang berada di rumah langsung mengajak ibu ke rumah sakit secepat yang ia mampu.
Mereka masih belum mengerti bagaimana bisa Karin mengalami kecelakaan motor? Sementara tadi, waktu di sekolah ia berpamitan dan mengatakan bahwa akan pergi bersama teman-temannya. Tiga gadis itu tak ada yang pernah membawa motor, lantas motor siapa yang Karin tumpangi?
Begitu sampai di rumah sakit, ayah dan ibu belum mendapat pencerahan tentang bagaimana kronologi kecelakaan tersebut sebab tak ada satupun orang yang dapat dimintai keterangan. Tidak ada Adelia dan Tari, atau siapapun yang di kenal. Dokter pun masih di dalam ruang IGD dan belum mengizinkan mereka untuk masuk.
Hingga beberapa waktu berselang, akhirnya dokter yang menangani Karin keluar sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari kerabat atau keluarga dari pasien. Ibu yang menyadari itu langsung menghampiri, dengan wajah cemas dan sisa air mata yang masih menjejak ia bertanya dengan suara lirih, "Bagaimana anak saya dok?"
"Ibu dari keluarga pasien?"
"Betul dok, kami ayah dan ibu nya Karin." Jawab ayah se segera mungkin.
"Baik. Kondisi pasien atas nama Karin cukup serius pak, bu. Dia mengalami cedera patah tulang lutut serta patah di tangan sebelah kanan akibat trauma energi tinggi saat kecelakaan terjadi. Ada benturan juga di kepalanya yang menyebabkan Karin kehilangan kesadaran."
Ibu tak mampu lagi berkata-kata, tangisnya pecah. Sementara ayah berusaha menenangkan dengan mendekapnya erat.
"Lalu langkah apa yang harus dilakukan sekarang dok? Tolong bantu selamatkan anak kami." Ucap ayah parau.
"Lakukanlah dok! Apapun yang bisa menyelamatkan anak saya." Tegas ayah.
"Baik pak. Mari bapak ikut saya, untuk menandatangani surat persetujuan tindakan operasi nya," Ucap sang dokter sembari mengarahkan ayah agar mengikuti langkahnya.
Ayah meminta ibu untuk tetap menunggu di depan ruang IGD, meski ia merasa berat meninggalkan ibu yang begitu rapuh sendirian walau hanya sebentar.
Tidak lama setelah ayah pergi, terdengar suara ribut-ribut dari dalam ruang IGD. Ibu yang berdiri sambil menyandarkan punggung ke dinding tepat di depan ruangan tersebut mendengarnya samar-samar, nampak seperti suara seorang wanita yang menangisi sesuatu. Mungkin anak, atau bisa jadi suaminya yang sedang tertimpa musibah di dalam sana. Sebelas dua belas dengannya, terdengar sedikit histeris.
Lalu, agaknya mereka hendak keluar dari sana, terlihat dari pintu yang mulai terbuka sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya orang itu muncul dari balik pintu, hal lain justru menyita perhatiannya. Ibu mengenali salah satu wajah familiar tersebut. Laki-laki, kira-kira sepantar dengan putrinya. Ia mendapat perban di dahi, serta nampak beberapa luka lecet di tangan.
Ibu mengernyitkan dahi, sembari mengamatinya lekat-lekat. "Nak Darren?" Katanya berusaha menerka.
Darren, bersama kedua orang tuanya langsung memusatkan pandangan ke arah ibu yang wajahnya seolah memiliki segudang pertanyaan.
...***...
"Saya masih belum mengerti, bagaimana bisa Karin pergi bersama Darren sementara sebelumnya dia pamit untuk pergi dengan Tari dan Adelia?" Ayah mengajukan pertanyaan pada Darren yang duduk lemas di atas sofa.
Mereka, Ayah, ibu dan Kamil yang baru datang menyusul, serta Adam dan Diana orang tua dari Darren yang duduk di kedua sisi putranya memutuskan untuk membicarakan soal kronologi kecelakaan yang menimpa dua remaja tersebut. Di sebuah ruang tunggu rumah sakit, yang terletak paling ujung, sedikit sepi dari orang yang berlalu lalang. Hanya ada sesekali satu atau dua orang suster mondar mandir.
Mereka duduk saling berhadapan, dengan Kamil yang memasang mata elangnya. Setelah mendengar bahwa adiknya kecelakaan disebabkan oleh Darren, emosinya langsung tersulut pada anak laki-laki itu.
"Saya yang mengajak Karin om. Saya jemput dia di sekolah," Darren angkat bicara. Suaranya sedikit di redam, ia bahkan tak berani menatap ayah, ibu apalagi Kamil.
"Kenapa harus Karin?" Lanjut ayah.
Darren diam sejenak, ia mengembuskan napas pelan. "Karena Karin pacar saya."
Hening sejenak. Ayah dan ibu saling melempar pandangan, sedikit terkejut dengan kenyataan bahwa diam-diam putrinya memiliki hubungan spesial dengan seorang teman laki-lakinya.
"Tadi, saya sempat bertemu dengan saksi mata di tempat kejadian. Kebetulan dia ikut membantu mengantar Karin ke rumah sakit. Dia bilang, sebelum kejadian Darren sempat kebut-kebutan dengan teman-temannya," Ucap ayah. Kalimatnya mengandung nada interogasi.
Setelah mengurus surat persetujuan tindakan operasi untuk Karin, ia bertemu dengan seorang laki-laki paruh baya yang mengaku sebagai saksi mata saat kejadian. Atas keterangan darinya, ayah mengetahui sedikit dari bagian peristiwa tersebut.
"Apa benar begitu, Darren?" Ayah menyambung dengan pertanyaannya.
Darren masih tertunduk. Sesekali ia melirik ke arah papa dan mama nya yang juga nampak menunggu jawaban keluar dari bibirnya.
Lalu dengan gerakan ragu-ragu akhirnya Darren menganggukkan kepala.
"Lo kalau belum becus bawa motor, nggak usah sok kebut-kebutan bocah ingusan! Hebat lo? Hah?!" Kamil yang kian tersulut emosinya langsung bangkit sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah Darren.
"Kamil.." Ayah ikut bangkit seraya memegangi kedua lengan Kamil berusaha meredam emosi putranya yang meledak-ledak.
"Lo liat sekarang apa yang terjadi sama adik gue! Dia di operasi karena patah tulang, sementara lo cuma dapat luka kecil? Harusnya lo yang ada di posisi dia!"
"Kamil.. Cukup," Ucap ayah lagi. Mendengar suaranya, api emosi yang berkobar itu turun satu tingkat. Ia mundur perlahan meski nampak jelas napasnya masih naik turun dengan kasar. Jika saja bukan di rumah sakit, ia sangat ingin menjotos wajah Darren yang seolah tanpa dosa itu.
"Pak Ahmad, ibu Dewi, kami selaku orang tua dari Darren memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian yang menimpa Karin. Kami akui bahwa ini semua sepenuhnya kesalahan anak kami." Ucap Diana akhirnya.
"Dan atas pertanggung jawaban dari kami, seluruh biaya pengobatan Karin sampai ia sembuh akan kami tanggung sepenuhnya."