Finally I Love You!

Finally I Love You!
Chapter 14



Para siswa jenjang SMU menghadapi ujian akhir semester atau biasa dikenal juga dengan ujian kenaikan kelas dengan siap. Selama satu minggu penuh mereka belajar dan berusaha giat agar mendapat nilai yang baik serta dapat naik ke level selanjutnya.


Begitu juga dengan Karin, dia yang beberapa waktu sebelumnya seringkali mendapat remedial kali ini berusaha sekeras mungkin agar tak mengulangi kesalahan yang sama. Minimal mendapat nilai satu tingkat di atas standar.


Meskipun harap-harap cemas, ia berusaha meyakinkan diri bahwa kali ini pasti bisa! Dia tak akan lagi mengecewakan ayah dan ibu di bidang akademik nya. Walaupun jauh angan-angan untuk meraih peringkat kelas, paling tidak nilai-nilainya tak terlalu menyedihkan.


Setelah berhari-hari menghadapi kertas-kertas soal, dan ketegangan di atas kursi yang lebih mirip kursi panas acara televisi jaman dulu, Karin merasakan otaknya agak membeku. Ia berpikir akan lebih baik jika ia bersama dengan teman-temannya pergi ke suatu tempat untuk healing sejenak.


Maka pada hari pengambilan laporan hasil belajar ia turut serta datang ke sekolah berdampingan dengan ayah dan ibu. Ia juga tak lupa mengabari dua temannya, Tari dan Adelia agar mereka datang.


"Gimana bu?" Tanya ayah begitu melihat ibu baru saja keluar dari ruang kelas. Ia dan Karin memilih untuk menunggu di luar, duduk di sekitar koridor.


"Hhmm.. Ya biasa. Standar. Dapat peringkat lima belas!" Jawab ibu datar.


"Tapi yang penting naik kelas kan? Itu udah lumayan deh bu. Ada peningkatan. Waktu kemarin peringkat delapan belas," Karin angkat bicara membela diri sendiri.


Ayah tersenyum sambil mengusap-usap kepala putri semata wayangnya tersebut. Ia paham, Karin bukannya tidak pintar, tapi memang prestasinya bukanlah di bidang akademik. Karena buktinya, dia sering memenangkan kompetisi basket dan menyabet beberapa piala serta medali emas.


"Aku juga nggak dapat remedial lho," Ucap Karin setengah berbisik ke telinga ayah.


"Wah.. Hebat anak ayah," Dengan mata berbinar ayah tampak bangga atas pencapaian Karin.


"Masih kurang, masih bisa ditingkatkan lagi," Celetuk ibu yang memancing Karin untuk mengerucutkan bibirnya.


"Karin!" Panggil salah seorang temannya. Adelia, ia dan ibunya menghampiri Karin yang masih berdiri tak jauh dari kelas.


"Eh Del!" Respon Karin. Kedua ibu mereka saling bersalaman karena memang sudah saling kenal.


"Adel pasti dapat peringkat pertama ya?" Tanya ibu, yang diam-diam bertanya urutan peringkat lima besar pada wali kelas Karin saat menerima raport tadi. Sementara Adelia membalas pertanyaannya dengan senyum malu-malu.


"Alhamdulillah bu Dewi," Jawab Agni, bunda dari Adelia yang berdiri sejajar dengan ibu.


"Selamat ya nak Adel.." Ucap ayah ramah.


"Terimakasih om."


"Tuh Rin, kamu harus sering-sering belajar bareng Adel. Biar ketularan pintarnya!" Ucap ibu menyindir Karin yang memilih bungkam.


Adelia yang membaca atmosfir kurang baik langsung berinisiatif mengalihkan perhatian Karin sahabatnya. "Eh, udah ketemu Tari belum?"


"Belum del. Emangnya dia udah datang?"


"Udah. Tadi dia duluan daripada aku. Tapi nggak tahu sekarang kemana."


"Jangan bilang dia pulang duluan," Karin menduga.


"Nggak ah. Tari nggak gitu kok orangnya," Bantah Adelia. Ia mengedarkan sorot matanya ke salah satu arah dimana dia yang dicari nampak dari kejauhan. Tari, ia melambaikan tangan pada dua sahabat baiknya itu.


"Hai.." Sapa gadis itu ketika akhirnya sampai di hadapan Karin dan Adelia.


"Hai Tar. Aku pikir kamu udah pulang," Kata Karin.


"Belum kok. Kan kita udah janjian. Habis ada perlu sebentar tadi," Terang Tari.


Karin mengalihkan pandangan pada sosok wanita yang berdiri di sebelah Tari. Dia merasa tidak mengenalnya. Sebab setahunya, wanita yang kira-kira berusia tiga puluh tahunan itu bukan orang tua dari Tari.


"Eh, kenalin. Ini tante Firda. Tante ku dari mami," Belum sempat Karin membuka mulut, Tari sudah lebih dulu mengenalkan wanita yang ia panggil tante tersebut. Agaknya ia paham dengan lirikan mata Karin barusan.


Sejenak mereka saling bersalaman dengan Firda, begitupun ibu, ayah, dan Agni yang melempar senyum ramah kepadanya. Karin dan Adelia paham, sebab Tari memang hampir tak pernah datang bersama orang tuanya.


Kemalangan menimpa keluarganya. Kedua orang tua Tari bertengkar hebat lalu kemudian bercerai saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Tari anak tunggal, di usia semuda itu ia harus memilih akan tinggal dengan siapa, dimana, dan merasakan sakitnya perpisahan. Meskipun pada akhirnya, hak asuh jatuh ke tangan ibunya.


Sampai sekarang, ibunya belum menikah lagi. Ia kerja keras menghidupi putri satu-satunya itu hingga jarang memiliki waktu bersama. Jangan tanya kemana ayahnya. Semenjak bercerai, lelaki itu pergi jauh dari ia dan ibunya. Bahkan terakhir, Tari sempat mendengar kabar ayahnya telah menikah lagi dengan seorang wanita muda dan tinggal di negeri sebrang.


Dia tak tahu pasti keberadaan sang ayah. Kabar itu juga ia dengar secara tidak sengaja saat menguping pembicaraan ibu dan seorang kawannya yang saat itu datang ke rumahnya dan membahas perihal lelaki tersebut.


Dan seperti hari-hari lainnya, ketika ada acara sekolah, atau momen pengambilan laporan hasil belajar, Tari akan memboyong siapapun orang yang bisa dan sempat untuk datang. Ia bahkan pernah meminta tolong pada ibu tetangga untuk mengambil rapornya.


"Jadi jalan kan kita Rin?" Panggil Adelia yang membuyarkan lamunan Karin.


"Mau kemana Rin?" Ibu ikut menimbrung.


"Jalan bareng bu. Ladies time. Hitung-hitung ngilangin pusing habis ujian. Boleh kan?" Ucap Karin sambil memasang senyum pada ibu.


"Ya boleh dong," Sambar ayah yang seolah tak ingin keduluan ibu.


"Yeay. Makasih ayah ibu.." Ucap Karin sambil bermanja. Ia memeluk ayahnya dari samping.


"Bunda, Adel pergi sama Karin dan Tari ya. Bunda pulang duluan aja," Adelia ikut berpamitan dan diberi anggukan ramah oleh ibunya. Pun dengan Tari yang juga meminta izin pada tante nya.


Begitu mengetahui anak-anak gadis nya memiliki acara sendiri, para orang tua tersebut juga turut bubar setelah sebelumnya saling memberi salam perpisahan. Sementara, tiga gadis itu langsung melanjutkan langkah beriringan. Tujuannya sekarang adalah keluar dari lingkungan sekolah terlebih dahulu.


Mereka berencana pergi ke sebuah Mall, ada satu film yang menarik untuk di tonton bersama. Namun, beberapa saat kemudian langkah mereka terhenti. Tepatnya saat gadis-gadis itu hampir mencapai pintu gerbang, sebab seorang laki-laki muda nan tampan mengenakan hoodie bikers hitam bertuliskan "Pro Street" Di bagian lengan datang menghadang.


Ia tersenyum, menampilkan visual wajahnya yang ramah nan rupawan. "Hai.." Sapa nya.


Tari dan Adelia yang bersebelahan saling melirik satu sama lain. Sementara Karin malah terpukau dengan kemunculan Darren yang tiba-tiba.


"Hai.." Balas Karin. Matanya nampak cerah.


"Lagi mau kemana nih?" Tanya Darren penasaran. Ia melepas sejenak sarung tangan pemotor yang terpasang rapi di kedua tangannya. Cuaca hari ini lumayan panas. Tentu ia merasa gerah.


"Uhm.. Kita mau jalan bareng. Kamu kesini juga beb?"


"Iya. Sebenarnya aku kesini mau cari kamu sih, karena nggak mungkin juga kalau aku jemput ke rumah. Nanti dimarah kamu," Ujar Darren sembari menggigit bibirnya. Karin yang memandangi nya lantas teringat dengan moment saat Darren hendak menciumnya di mobil. Bibir kemerahan itu, terlihat lembut dari dekat. Dan mendadak, jantungnya berdegup-degup kencang dari dalam sana.


"Oh begitu. Ada apa memangnya kamu cari aku? Tumben nggak chat atau telepon dulu?" Cepat-cepat Karin mengalihkan pikiran sembrono nya.


"Ikut aku konvoi yuk. Sama teman-teman geng motorku," Ucap Darren yang terkesan ingin memonopoli Karin dari teman-temannya.


"Konvoi?" Karin mendongak sejenak. Dari kejauhan ia melihat sekumpulan laki-laki dengan motor sejenis tengah parkir di seberang gerbang sekolah. Ia tak tahu pasti berapa jumlahnya, dan sepertinya itu yang di maksud Darren dengan geng motor.


"Ada acara apa? Tumben ngajak teman-teman kamu?" Tanya Karin lagi.


"Jalan-jalan aja sih. Sekalian ngerayain kenaikan kelas. Yuk?" Ajaknya di akhir kalimat.


Karin dirundung kebimbangan. Ia menoleh pada dua sahabatnya yang seolah sedang menunggu keputusannya. Mereka diam tak nampak akan merespon apapun. Mana yang akan ia pilih? Pergi dengan Tari dan Adelia atau mengiyakan ajakan Darren untuk ikut konvoi dengannya.


Oh Tuhan! Ia merasa sangat ingin membelah diri di saat seperti ini karena dua acara ini benar-benar sulit untuk di pilih. Ia sudah berjanji dengan Adelia dan Tari dari jauh-jauh hari, tapi mengecewakan Darren dengan menolak ajakannya, mampukah?


Lama ia diam menimbang dua pilihan, hingga akhirnya Adelia tergerak untuk memberi pencerahan. "Ikut aja sama Darren, Rin."


"Hah?" Karin melongo.


"Iya nggak apa-apa, masih banyak kok, waktu untuk kita pergi bareng," Tari ikut angkat bicara.


"Tapi kan.."


"Nggak apa-apa Rin, kita pergi lain kali ya," Senyum Adelia merekah, terlihat ikhlas. Ia mengusap bahu Karin agar sahabatnya tersebut berhenti merasa tidak enak padanya. Meski kenyataannya, hati Karin tak karuan.


"Beneran?"


Tari dan Adelia mengangguk bersamaan, hingga sejenak Karin takjub sebab mereka berdua sangat kompak.


"Ya udah, kita duluan ya Rin.." Ucap Tari.


"Iya Tar, maaf ya," Nada bicara Karin terdengar lirih.


Adelia dan Tari berlalu, wajah mereka seperti tak ada rasa kecewa, tapi Karin tentu tidak tahu bagaimana isi hatinya. Bisa saja mereka memang pandai menutupinya.


Karin masih mematung, memandang dua sahabatnya yang kemudian menghilang dari sorot mata. Hingga kibasan tangan Darren menggubrisnya, ia baru kembali mendapatkan kesadarannya.


"Yuk?" Ucap Darren.


Karin menjawab dengan segaris senyum dan anggukan. Ia lalu menyambut tangan Darren yang dijulurkan untuknya. Sembari berpegangan, mereka melangkah beriringan menuju titik kumpul geng motor di seberang jalan. Menggenapkan ajakan sang kekasih untuk pergi bersama.