
"Woi!" Panggil Karin seraya mengibaskan tangan di depan wajah Tari yang nampak tak fokus belajar, sebab gadis itu hanya duduk diam sambil senyum sendirian dengan sorot mata yang di curigai Karin sedang membayangkan abang nya yang nomor dua.
Ia mengerjap, lamunannya buyar, tentunya karena kaget dengan apa yang Karin lakukan barusan. "Iih.. Apa sih Riin.." Keluh Tari yang merasa terganggu.
"Mikirin apa sih? Sampai senyum-senyum sendiri begitu? Kamu kesini niat belajar atau ngelamun?" Tembak Karin.
"Ya belajar lah Rin.." Sahutnya dengan nada yang di buat memelas.
"Terus, kenapa malah ngelamun Tar? Besok kita udah ujian lho.. Kenaikan kelas ini," Adelia menimbrung.
"Rin, bang Kamil udah punya pacar belum sih?" Tanpa merespon Adelia, Tari malah kembali mengajukan pertanyaan yang sama berulang kali pada Karin.
"Hhmm.. Kan.." Cibir Adelia ketika mendengar Tari yang akhirnya secara tidak langsung memberi jawaban soal siapa yang sedari tadi membayangi pikirannya.
"Kayaknya kamu udah seratus kali deh nanyain itu melulu Tar!" Protes Karin.
"Kasih tahu lah Rin.."
"Kan aku pernah bilang kalau bang Kamil nggak suka cewek."
"Ih bohong banget!" Sambar Tari yang tak terima. "Masa ganteng gitu nggak suka cewek!"
"Ya buktinya sampai sekarang dia belum menikah, punya pacar aja nggak. Asyik kerja aja terus," Sahut Karin yang secara tak langsung telah memberi jawaban untuk temannya itu.
"He.. He.. Jadi belum punya pacar ya.." Ucap Tari sumringah.
Karin memutar bola mata dengan raut wajah sinis nya. Mendengar pertanyaan yang sama dari Tari lama kelamaan terasa menjengkelkan baginya. Dan lagi, ia juga tak dapat membayangkan sama sekali jika suatu hari nanti abangnya berjodoh dengan sahabatnya sendiri.
Akan terasa sangat aneh saat ia -secara-terpaksa- harus memanggil Tari dengan sebutan "Kak" Atau "Kak Tari".
"Udah yuk.. Fokus belajar lagi!" Ucap Karin seraya membalik lembaran buku di depannya. Sekaligus berusaha untuk menyelamatkan pikiran Tari dari bayang-bayang abangnya. Walau tetap saja gadis itu masih memikirkan Kamil diam-diam. Dan sayangnya, Karin tak mampu mencegahnya sebab ia tidak punya kemampuan membaca pikiran orang lain.
...***...
Tiga gadis sekolah menengah itu belajar dengan giat demi menghadapi ujian kenaikan kelas esok Senin, juga sebisa mungkin menghasilkan nilai di atas standar agar tak perlu mendapat remedial. Saking seriusnya, mereka bahkan menghabiskan waktu berjam-jam hingga sore hari tiba.
Tari, meski tidak bisa mengalihkan pikiran sepenuhnya dari Kamil yang begitu dikagumi, tapi ia tetap mampu menyerap materi yang tengah di bahas dalam sesi belajar bersama tersebut. Adelia yang paling cerdas, juga bersedia menjelaskan dengan baik jika ada beberapa soal yang tak di mengerti oleh dua sahabatnya itu.
Kamil sempat menemui lagi Adelia dan Tari sebelum mereka pulang. Menawarkan tumpangan kepada dua gadis itu secara gratis sampai ke rumah masing-masing, dan hasilnya adalah di tolak mentah-mentah oleh Adelia. Yang sejujurnya sedikit risih dengan cara Kamil menatapnya sebab ia masih belum mengerti apa makna nya.
Usai menerima kunjungan teman-temannya, begitu malam datang tentu Karin tetap menyempatkan diri untuk menelepon Darren sang kekasih. Meski kantuk lumayan terasa menggelayuti kedua matanya, gadis itu tetap tak bergeming.
Ia melakukan panggilan video dari ponsel, memposisikan tubuhnya tertelungkup di atas ranjang sembari memeluk bantal di bawah dada.
"Jangan tidur terlalu malam ya sayang.." Ucap Darren yang wajah tampannya memenuhi layar ponsel. Pantulan lampu di kamarnya membuat kulit wajahnya terlihat kian bersinar kinclong nan licin, hingga membuat Karin sedikit minder sebab beberapa jerawat-jerawat hormonal kecil saat ini bertengger di dahinya.
"Iya sayang.." Sahut Karin dengan perasaan bahagia.
"Kangen deh.." Desah laki-laki itu.
"He.. He.. Aku juga. Sabar ya, besok kita kan pasti ketemu," Wajah Karin mendadak bersemu pink.
"Iya. Eh tadi gimana belajarnya?"
"Lancar, kita.."
"Dek! Dek!" Karin kaget setengah mati saat Kamil tiba-tiba membuka pintu lalu masuk ke kamarnya dengan sembarangan. Pria itu, entah perkara apa yang membuatnya bertindak sembrono. Dan mengingat ia sedang melakukan panggilan video bersama Darren, dengan gerakan seribu bayangan Karin langsung menyelipkan ponsel ke bawah bantal tanpa berpamitan lagi dengan sang kekasih yang pasti dibuat bingung dari sebrang sana.
"Abang! Apaan sih! Nggak sopan banget masuk kamar orang nggak ketok pintu dulu!" Hardik Karin yang langsung terpancing emosinya.
Kamil yang datang dengan wajah innocent sama sekali tak menghiraukan omelan tersebut, ia lantas mengambil tempat duduk di sisi adiknya. Sementara Karin juga langsung bangkit dan duduk sambil tetap mempertahankan ponselnya di bawah bantal.
"Bukan urusan abang! Ngapain sih abang kesini? Ngagetin orang aja!" Protes Karin. Ia sedikit menyesal karena lupa mengunci pintu kamar.
"Maaf dek. He.. He.." Ujar Kamil. "Dek, abang mau nanya dong," Sambungnya.
"Ck.. Tanya apa?!" Dengan kejengkelan seluas lautan, Karin merespon Kamil dengan nada bicara yang tak sedap di dengar. Tapi tentu Kamil tidak heran sama sekali.
"Teman kamu.. Udah punya pacar belum?"
"Temanku yang mana?"
"Yang tadi siang datang kesini."
"Duh.. Temanku yang kesini kan ada dua. Abang tanya yang mana?" Mendengar pertanyaan macam itu, Karin sedikit menaruh perhatian padanya.
"Itu.. Yang.. Siapa tadi namanya ya, Lia.. Delia.. Eh Adelia!" Seru Kamil begitu bisa mengingat nama seorang gadis yang menarik perhatiannya.
"Kenapa abang tanya begitu?"
"Nggak apa-apa sih.. Penasaran aja."
"Kenapa juga musti penasaran?"
"Ya.. Kamu paham lah dek.." Ujar Kamil.
"Tapi sayangnya aku nggak paham," Balas Karin.
Kamil menepuk dahinya sendiri. "Kira-kira, kalau ada cowok nanya ke cewek udah punya pacar atau belum, tujuannya untuk apa?"
"Ck.. Ribet banget! Udah ah mending sekarang abang keluar dari kamarku! Aku mau tidur! Besok aku ujian!" Hardik Karin sambil mendorong bahu Kamil dengan maksud agar pria itu enyah dari kamarnya.
"Ya ampun dek.. Tinggal di jawab aja sudah atau belum."
"Yang butuh jawaban siapa?"
"Yaa.. Abang."
"Ya sudah abang lah yang tanya sendiri. Nggak gentle!"
"Tapi kan itu teman kamu dek. Pasti kamu tahu semua tentang dia kan?" Tuding Kamil dengan jari telunjuk yang mengacung ke arah wajah adiknya.
"Nggak! Aku nggak tahu!" Karin lantas beranjak dari ranjang sambil meraih sebelah lengan Kamil. "Sekarang, ayo keluar!" Perintah nya seraya dengan sekuat tenaga menarik lengan mulus abang nya.
"Dek, masa nggak mau nolong abang.." Nada bicara Kamil mengiba, tapi ia menyerah atas kehendak Karin yang bersikeras menyuruhnya keluar dari kamar. Ia berdiri, dan melangkah gontai dengan lengannya yang masih digenggam Karin hingga mencapai pintu.
"Aku mau tidur! Bye!" Ucap Karin, dan selanjutnya pintu tertutup dengan cepat setelah Kamil benar-benar sudah berada diluar kamar. Ia juga tak lupa mengunci rapat-rapat agar si bujang lapuk itu tak bisa lagi masuk sembarangan.
"Dek.. Kamu gitu banget sama abang!" Karin masih mendengar rengekan Kamil dari luar. Tapi daripada menghiraukannya, ia justru malah memikirkan hal lain.
Dia ingat betul, Tari lah yang begitu menyukai Kamil. Lantas sekarang Kamil sendiri agaknya malah jatuh cinta pada Adelia. Oh, sungguh ironis kisah cinta segitiga ini. Mirip seperti yang ada di film-film. Ia merasa iba pada Tari jika nanti gadis itu tahu bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan.
Jadi atas dasar persahabatan yang kental, ia tak akan pernah merespon abangnya jika lain hari nanti laki-laki itu bertanya lagi soal Adelia. Pun dengan kumpul-kumpul dirumahnya, ia takkan lagi mengizinkan teman-temannya datang dan berpeluang besar bertemu dengan Kamil. Dia benar-benar tidak ingin mempertaruhkan persahabatannya dengan resiko kehancuran hanya karena cinta.
Karin yang tiba-tiba tersadar dari lamunannya menepuk kening agak keras sebab teringat sesuatu. "Ya ampun! Darren!"
Buru-buru ia melompat ke ranjang dan menyingkirkan bantal yang sedari tadi telah berjaya menyembunyikan ponselnya. Ia meraih dan mengamati dengan saksama layarnya yang telah mati.
"Yah.. Dimatiin.." Sesal Karin begitu menyadari panggilan videonya sudah terputus. Ia menggenggam ponsel kuat-kuat, meratapi nasib menyedihkan ini. Sekaligus merutuk atas tingkah Kamil dalam hati.
"Semua gara-gara bang Kamil!"