
Perlakuan Darren siang tadi di sekolah sungguh membekas di benaknya. Sejak pulang sampai sore hari Karin kehilangan semangat untuk melakukan apapun, seolah kehilangan seluruh tenaga, bahkan ia tak berminat sama sekali menyicipi kue klapertart buatan ibu yang harumnya mampu menembus pintu kamarnya di lantai dua.
Ia hanya berbaring di ranjang empuknya, memandang langit-langit kamar, lalu berguling ke sisi kiri, kemudian ke sisi kanan dan terus berulang. Sesekali Karin juga mengecek ponselnya yang sunyi senyap sebab tak ada pemberitahuan apapun di dalamnya.
Darren yang di tunggu, tak juga menghubungi, padahal diam-diam ia berharap sang kekasih menelepon atau mengirim pesan entah hanya untuk sekadar basa basi atau sekalian minta maaf. Nampak nya, dia benar-benar marah.
Karin membenci hal ini, perasaan yang gundah, seperti ada sesuatu yang mengganjal dan membuat sesak di dada. Waktu itu, ia tak mempertimbangkan soal ini. Begitu Darren mengajak untuk berpacaran, meminta hatinya untuk ia miliki, Karin memberikannya dengan sukarela.
Ia tak tahu, dalam hubungan akan ada juga perasaan yang membuat mentalnya jatuh, membuat nya tak lagi percaya diri.
Bukan Karin yang memulai, semua berawal dari Darren yang sangat mengagumi nya. Cowok itu populer di sekolah, ada banyak gadis-gadis yang mengincarnya, kecuali Karin. Pada saat itu, ia hanya mengenal nama dan wajahnya, tapi tidak tertarik untuk ikut-ikutan mengincar. Tapi ternyata Darren malah memilihnya, dengan janji akan selalu membahagiakannya.
Walau kenyataannya, hari ini, dia mematahkan janji nya sendiri.
Jika saja dari awal ia tahu akan ada momen menyebalkan nan mengganggu harinya seperti ini, mungkin Karin akan berpikir lebih lama untuk menerima Darren jadi orang yang memiliki ruang di hatinya.
Merenungi nasib sial berlama-lama membuatnya lelah dan kosong, Karin akhirnya memutuskan untuk turun ke lantai satu berniat menghirup udara segar di halaman belakang. Barangkali bisa sedikit me-refresh pikirannya yang mirip benang ruwet.
Tapi sebelum sampai di halaman ia mampir ke area dapur terlebih dahulu untuk meminum segelas air guna melegakan kerongkongannya. Di sana nampak ibu yang tengah sibuk menata beberapa jenis kue ke dalam kotak, salah satunya adalah klapertart kue kesukaan Karin.
"Ada pesenan bu?," Sapa nya.
"Iya nih, lumayan.." Jawab ibu. Ia melirik ke arah putrinya, "Tumben nggak nyomot?"
"Lagi nggak kepingin bu," Sahut Karin singkat.
Ibu memang mahir membuat kue dan roti, namun untuk sekarang ia hanya memproduksi jika ada pesanan yang masuk. Sebenarnya ibu ingin membuka toko kue hasil buatan tangannya, namun ada beberapa pertimbangan yang membuat niatnya tak juga terealisasi hingga sekarang.
"Ayah mana bu?," Tanya Karin yang kemudian meneguk segelas air mineral.
"Tuh di halaman belakang. Lagi nyiram tanaman kayaknya." Jawab ibu tanpa menolehkan kepala.
Gadis itu meletakkan kembali gelas ke atas meja, dan melanjutkan niatnya untuk menghirup udara segar di halaman belakang.
Sesampainya di sana, ia mendapati ayah yang terlihat begitu serius menyiram sambil sesekali menggunting beberapa ranting bunga alamanda kuning yang menjalar tak beraturan di pagar belakang.
Ayah begitu menyukai jenis bunga rambat tersebut hingga ia menanamnya di dua titik rumah. Teras depan, dan halaman belakang yang sebenarnya tidak begitu luas. Di sana hanya terdapat sebuah tiang ring basket, satu pohon mangga, dan satu kursi besi panjang diletakkan berdekatan dengan pohon.
"Ada yang lagi serius nih kayaknya.." Ujar Karin menghampiri.
"Eh, ada anak gadis ayah." Sahut ayah sambil sedikit menoleh, ia masih sibuk berkutat dengan ranting dan gunting bunga di tangannya.
Karin tersenyum tipis seraya menarik napas panjang dan dalam, berharap seluruh kegundahan yang dirasa terbuang bersamaan dengan karbon dioksida yang terlepaskan.
"Udah rimbun banget yah," Ucap Karin, merujuk pada tanaman bunga milik ayah nya itu.
"Iya, ini makanya ayah potongin."
"Kenapa sih ayah suka banget sama bunga terompet ini?."
"Alamanda.." Ayah mengoreksi.
"Iya.. Itu.. Sama seperti namaku."
"Karena.. Ada kenangan yang tersimpan dalam bunga ini." Ucap ayah. Ia kembali mempergunakan gunting untuk memotong ranting yang daunnya nampak layu.
"Apa itu?."
"Dulu, bunga alamanda ini tumbuh dengan subur di teras rumah kakek mu." Jawab nya. Ia memandang langit sejenak seolah tengah me-reka ulang kejadian masa lalu.
"Setiap ayah datang untuk bertemu ibu, bunga ini yang selalu menyambut ayah duluan, sebelum kakek yang muncul di depan pintu dengan tatapan garang, hi.. hi.." Lanjut nya sambil terkekeh sendiri.
"Pasti kakek nggak suka kalau ayah sering-sering datang trus ngencanin ibu kan?," Tebak Karin.
"Kalau itu, ayah tidak tahu. Tapi, yang jelas bunga ini jadi ikonik. Bikin ayah ingat ibu terus.."
"Cie.. Ternyata ayah bucin banget ya sama ibu." Ucap Karin menggoda.
"Budak cinta. He.. He.."
"Waduh.. Istilah anak-anak zaman sekarang tuh ada-ada saja ya.." Ucap ayah, sementara Karin tertawa.
"Makanya, begitu kami menikah, ayah sudah menyiapkan nama alamanda untuk anak perempuan ayah. Meskipun dulu hampir putus asa juga karena berpikir keinginan ayah tidak kesampaian, yang lahir tiga anak, laki-laki semua." Lanjut ayah.
Ia lalu memandang lembut Karin di hadapannya, gadis itu bahkan dapat melihat mata ayah nya yang berkaca-kaca.
"Tapi di last minute, ketika ayah sudah pasrah se pasrah-pasrahnya, Tuhan tunjukkan kekuasaannya. Ia kirimkan anak perempuan cantik, yang keluar dari rahim perempuan yang ayah cintai. Tidak ada yang lebih indah daripada ini nak, akhirnya ayah memiliki alamanda yang nyata, bukan sebuah bunga."
Rangkaian cerita yang disampaikan ayah sungguh telah menyentuh perasaannya. Karin terharu dan merasa berharga, perasaan kalut yang sedari tadi menawannya kini berangsur hilang.
"Makasih ya yah, karena sudah sabar menunggu Karin.."
"Ayah yang berterima kasih, karena Karin sudah bersedia jadi anak ayah.."
Gadis itu tak kuasa lagi menahan haru, ia memeluk erat ayah, tentu sembari menahan jatuhnya air mata mati-matian. Dia tak ingin terlihat lemah di depan ayah nya.
"Tapi.. Pernah nggak ayah bersikap kasar ke ibu?," Tanya Karin penasaran. Ia ingin tahu bagaimana tanggapan ayah.
"Itu salah satu hal yang paling ayah hindari. Berbuat kasar ke perempuan hanya dilakukan oleh laki-laki lemah. Kenapa lemah? Ya masa' punya badan kekar, tenaga yang kuat, tapi lawannya perempuan?." Ucap ayah.
"Pecundang." Tambah nya.
Karin melepas pelukannya sambil merenungi ucapan ayah barusan. Namun ada satu kata yang belum ia setujui sepenuhnya, pecundang? Benarkah Darren yang ia cintai adalah seorang pecundang?
"Sekarang, gimana kalau kita tanding basket? Sudah lama juga tidak main bareng kamu.." Ajak ayah.
"Tapi kan ayah nggak boleh capek-capek dulu.."
"Halah.. Capek apa coba. Dari pagi, kerjaan ayah cuma tiduran. Justru ayah harus olahraga supaya makin sehat. Ayo! Yang terakhir kambing ompong.." Ucap ayah sembari meletakkan gunting sembarangan lalu berlari kecil mendahului putrinya.
"Iihh.. Ayaah.. Aku nggak mau jadi kambing ompong!," Rengek Karin seraya ikut mengejar ayah nya yang telah memegangi bola basket dan bersiap melempar bola ke dalam ring.
Mereka menghabiskan sisa sore hari dengan bermain basket, olahraga yang ditekuni Karin sejak duduk di bangku SD. Gadis itu, merasa amat beruntung sebab memiliki ayah yang mau membagi waktu dengannya, menghapus rasa sedihnya, mengisi tangki cintanya hingga penuh.
Tak dapat terbayangkan olehnya jika tidak ada ayah di sisinya, hidupnya sudah pasti takkan lengkap lagi.
...***...
"Aku nggak sudi dekat-dekat denganmu lagi!"
"Pergi! Pengkhianat!."
"Aku benci kamu!"
"Hahh!!," Karin terperanjat, matanya terbelalak. Suara-suara kebencian terdengar begitu bengis menembus indera pendengarannya.
Namun ia segera tersadar dan mendapati tubuhnya tertelungkup di atas ranjang dalam kamarnya.
"Apa itu barusan? Aku mimpi ya?," Ia membangunkan tubuhnya sambil sesekali mengucek mata.
"Ya ampun, aku ketiduran." Gumamnya seolah menyesali yang telah terjadi.
"Tapi.. Kok kayak suaranya Darren ya?." Ucap Karin bagai bicara dengan diri sendiri, seraya menggigiti ujung kuku jarinya. "Ck.. Nggak tahu ah, capek otakku mikir dia terus." Lanjutnya gusar.
Ia merasakan perutnya yang mulai keroncongan, waktu sudah menunjukkan pukul 20:15 sudah terlalu malam untuk sesi makan bersama, ia pasti telah melewatkannya.
Sejurus kemudian ia memutuskan untuk turun ke dapur, mencari sesuatu untuk di makan agar bunyi-bunyi diperutnya hilang. Sambil menuruni tangga ia mengamati ruangan di lantai satu yang nampak sudah sepi. Mungkin ayah dan ibu sudah tidur, sedangkan Kamil? Entahlah, mungkin juga sudah masuk kamar.
Gadis itu sampai di dapur, membuka lemari pendingin seraya mencari-cari minuman dingin di dalam nya. Sebelum makan, ia merasa harus menghilangkan dahaga terlebih dahulu.
"Mana ya?," Karin masih sibuk mencari minumannya sembari membungkuk hingga ia tak sadar bahwa seseorang datang menghampirinya.
"Ngapain?," Suara yang terdengar berat mengejutkannya.