
Karin mengajak Darren makan siang bersama di sebuah warung mie ayam pinggir jalan yang terletak persis di seberang rumah sakit. Gadis itu memesan dua porsi mie ayam dan dua air mineral botolan, mereka terdiam selama berdetik-detik sebelum akhirnya Karin menyadari bahwa mood kekasihnya nampak kurang baik.
Ia menatap Darren meski cowok famous itu tak memandangnya sama sekali. "Beb?," Panggilnya.
"Hmm?," Sahut Darren sedikit acuh. Ia belum juga menatap Karin.
"Kamu kok diam aja?"
"Kan lagi makan."
Karin menghela napas. "Kamu bete ya?."
"Habis kamu ini masih saja nggak mau kenalin aku sebagai pacarmu."
"Beb, moment nya nggak tepat. Kamu lihat sendiri kan gimana ayahku?," Karin balik protes. Ia menjawab sembari menuangkan beberapa sendok sambal ke mangkuknya.
Hening sepersekian detik.
"Kamu ngerasa ada yang aneh nggak sih sama abang sepupumu itu? Siapa tadi namanya? Roy?"
"Rey.." Sahut Karin sambil menyuap mie ke mulutnya.
"Iya.. Tatapannya sedikit aneh," Ucap Darren.
"Aneh gimana maksud kamu?"
"Gimana ya. Kalau dia menatap kamu itu seperti ada ketertarikan. Aku merasa dia suka sama kamu," Ucap Darren berasumsi.
"Suka?"
"Iya. Semacam jatuh cinta."
Karin terkekeh pelan. "Ha.. Ha.. Ngawur kamu."
"Aku serius. Beb, aku ini cowok, aku paham gelagat cowok yang biasa aja, dengan cowok yang memang sedang naksir ke cewek."
"Nggak mungkin beb," Ucap Karin, ia meneguk air mineral dingin terlebih dahulu. "Dia itu abang sepupuku. Kami sudah saling kenal sejak kecil. Mustahil lah kalau dia jatuh cinta sama aku."
Karin melanjutkan kembali menyantap mie ayam nya. "Dan lagi, usia nya jauh banget di atas aku. Dia itu sepantar dengan bang Khalid, jadi nggak mungkin cowok sematang itu suka sama abege kayak aku beb."
"Ya.. Mudah-mudahan cuma kecurigaanku aja," Sahut Darren.
"Kamu nggak apa-apa jadi nemenin aku begini beb?," Tanya Karin mengalihkan topik.
"Nggak masalah," Ucap cowok itu santai.
"Tapi kamu jadi ikut ngebolos kan."
"Take it easy beb. Santai," Lanjutnya sambil mengerlingkan mata ke arah Karin.
"Genit!," Ujar Karin pura-pura protes meski dia amat menyukai apa yang dilakukan Darren.
Hingga petang tiba, Karin masih tetap tinggal bersama Darren. Bahkan saat Kamil datang sebab ia baru bisa keluar ketika selesai jam kantor, dua sejoli ini masih asyik bercengkrama berdua di sebuah kursi tunggu luar ruang kamar rawat.
Dengan sedikit rasa curiga, Kamil menyapa adik bungsunya yang nampak antusias dengan obrolan mereka.
"Dek?," Panggilnya.
"Eh, abang."
"Sama siapa?," Pertanyaannya mengarah pada cowok yang duduk di sebelah adiknya.
"Oh, ini.. Kenalin bang, ini Darren," Ucap Karin menengahi.
"Darren bang," Cowok itu langsung ikut bangkit dan menjulurkan tangannya pada Kamil.
"Kamil," Jawab Kamil singkat sambil menjabat tangan Darren. "Pacar kamu Rin?"
"Uhmm.. Nggak bang, bukan. Cuma teman kok," Kalimat Karin terdengar gugup, dan Kamil menyadari itu.
"Oh.." Tanggap Kamil sembari melirik Darren yang hanya diam tanpa kata. "Gimana ayah sekarang?"
"Udah lebih baik bang. Barusan aku habis nengok ke kamar, lagi tidur."
"Syukurlah.." Nada kelegaan meluncur dari bibir Kamil.
"Kalau begitu, aku pamit dulu ya Rin.." Darren menginterupsi.
"Iya, kamu hati-hati ya. Makasih sekali lagi udah nganter aku kesini."
Darren menjawab dengan segaris senyum dan anggukan.
"Bang Kamil, saya permisi."
"Ya, silahkan. Makasih ya, hati-hati di jalan," Jawab Kamil, sementara Darren berlalu.
"Kamu masih pakai kostum basket gini, belum ganti baju dari tadi?" Kamil menggubris adiknya yang nampak asyik memandang Darren dari kejauhan.
"Aku lagi tanding tadi bang. Trus dapat kabar kalau ayah masuk rumah sakit, ya udah aku langsung datang kesini."
Kamil memandang Karin, lalu menanggapi uraian kalimatnya dengan anggukan sembari memberi isyarat pada sang adik untuk mengikuti langkahnya. Masuk ke ruang rawat dan menemui ayah mereka yang ternyata masih tidur dengan nyenyak.
...***...
Tak ada hal apapun yang mampu mengguncangnya selain kabar kurang mengenakkan yang baru saja menimpa ayahnya. Beliau adalah cinta pertamanya, laki-laki pertama yang paling di sayangi sebelum ia mulai menyayangi tiga abang nya.
Gadis itu dilimpahkan kasih sayang yang tak pernah sedikitpun berkurang kadarnya sepanjang hidupnya, membuat ia seringkali merasa beruntung sebab dikelilingi sosok laki-laki hebat dan penyayang.
Tiga hari berlalu, dokter telah mengizinkan ayah pulang dengan beberapa syarat yang harus dipatuhi, salah satunya adalah tidak boleh beraktifitas terlalu berat untuk sementara waktu. Dan pagi ini, sebelum berangkat sekolah Karin menyempatkan diri menengok ayah nya yang nampak mulai sibuk membuka laptop. Ia duduk sambil bersandar di atas ranjang.
"Pagi yah.." Sapa Karin yang sudah rapi dengan seragam putih abu-abu. Berkemeja dan rok span pendek. Ia juga mengaitkan sebelah tali tas ransel pada bahu sebelah kanannya. Gadis itu duduk di pinggir ranjang tepat di samping ayah nya.
"Pagi nak", Sahut ayah ramah.
"Pagi-pagi udah sibuk aja. Ayah udah sarapan?"
"Sudah, baru selesai. Tuh, mangkuknya belum di ambil ibu." Ucap ayah seraya memberi isyarat melalu lirikan ke arah nakas yang di atasnya terletak mangkuk putih kosong bahan keramik sebagai bukti.
"Minum obat?"
"Oo.. Itu yang nggak akan ayah lupakan."
"Syukurlah.." Karin tersenyum bersamaan dengan napas lega yang dihembuskan.
"Nanyain ayah terus. Karin sendiri sudah sarapan belum?," Ayah balik bertanya.
"Sudah juga yah.."
"Pasti cuma makan roti."
"He.. He.. Iya." Aku nya.
"Kamu itu tinggi nak, ayah saja kalah. Orang tinggi itu biasanya tidak gampang gemuk. Jadi tidak perlu lah ngurangin porsi makanmu." Ucap ayah sembari membelai lembut kepala putrinya. Sementara Karin tak membantahnya.
"Lho, Karin belum berangkat?," Tanya ibu yang baru saja masuk ke kamar.
"Mau ketemu ayah dulu bu, sekalian pamit."
"Oh.." Tanggap ibu singkat. Ia menoleh pada nakas di samping ranjang dan merasa lega sebab melihat mangkuk disana telah bersih.
"Bu.. Kemarin bang Khalid ibu kabarin nggak? Soal ayah masuk rumah sakit?."
"Iya, ibu telepon Khalid. Memang kenapa?."
"Tapi kenapa dia nggak datang juga sih.. Kayaknya sekarang tuh bang Khalid makin jarang kesini ya." Kalimat protes meluncur dengan lancarnya dari bibir gadis cantik itu.
"Ya mungkin memang dia belum sempat nak. Namanya juga orang kerja." Sahut ibu.
"Tapi kan bu.."
"Tidak perlu dipermasalahkan nak, yang terpenting kan sekarang ayah sudah sembuh. Khalid sudah punya keluarga, dan pekerjaan yg pasti menyita waktunya. Jadi kita do'akan saja dia supaya selalu sehat, lancar rezekinya agar bisa sering datang kesini." Ucap ayah berusaha menenangkan Karin yang mulai akan mengeluarkan argumen.
Dia paham, Karin masih belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan bahwa kini Khalid sudah menikah dan memiliki keluarga. Selain dengannya, Karin juga sangat dekat dengan si sulung Khalid sebab ia memiliki sifat penyayang dan lemah lembut persis dirinya.
Kurang lebih setahun silam Khalid bahkan harus repot-repot meminta restu dari adik bungsunya yang merajuk berhari-hari ketika mengetahui rencananya untuk menikah. Gadis itu merasa takut kehilangan salah satu orang yang paling di sayangi nya selain ayah jika abang nomor satunya itu memiliki keluarga.
Ia hanya takut kehilangan Khalid meski kenyataannya masih ada dua orang abang yang juga menyayanginya. Hal itu karena Kamil dan Kanaka lebih sering menggodanya ketimbang mendengarkan segala cerita dan keluh kesahnya.
Gadis itu memilih diam usai mendengar kalimat ayah. Dia merasa harus begitu, meski pikirannya sedikit melawan.
"Ya sudah, sekarang Karin berangkat ya. Sudah siang tuh." Lanjut ayah lagi.
"Iya. Ya sudah aku berangkat. Ayah jangan sakit lagi ya." Ucap gadis itu parau.
"Ayah sudah sangat sehat sekarang. Maaf ya, ayah tidak bisa antar kamu."
"Nggak masalah yah," Sahut Karin seraya meraih tangan ayah dan mencium punggung tangannya. Ia beranjak, kemudian turut mencium punggung tangan ibu.
"Hati-hati di jalan ya nak," Pesan ibu pada anak gadisnya.
"Iya bu.." Karin berlalu dari hadapan ayah dan ibu yang beberapa detik kemudian mulai saling mengobrol di kamar.
Semburat cahaya matahari mulai terasa lebih hangat dibanding tadi. Agaknya cuaca hari ini akan lebih terik daripada hari-hari yang lalu, dimana pada siang jelang sore seringkali awan mendung mulai memenuhi langit dan tak jarang butiran hujan turun membasahi sebagian wilayah ibu kota.
Karin melangkah keluar dari rumah dengan tas ransel yang bertengger di punggungnya. Ia berencana naik ojek yang mangkal di depan komplek pagi ini, sebab tak cukup waktu jika harus menunggu angkutan umum.
"Dek, kamu belum berangkat?," Panggil Kamil yang tengah sibuk mengelap motor dual sportnya di teras. Perhatiannya sedikit teralihkan saat melihat adiknya baru keluar dari rumah.
"Ini baru mau jalan. Abang kok juga belum berangkat?."
"Ngelap motor dulu, berdebu. Kamu naik angkot?."
"Nggak kayaknya. Mau naik ojek aja." Jawab gadis itu.
"Abang antar aja yuk." Ajaknya.
"Nggak apa-apa nih? Nanti abang telat."
"Nggak kok," Jawab Kamil, ia berdiri tegak sembari merapikan kemeja berlengan panjangnya yang sedikit keluar dari bagian atas celana bahan yang di kenakan. Kemudian juga memasukkan lap kanebo ke dalam tempatnya.
"Tunggu sebentar ya, abang ambil helm dulu sekalian pamit sama ayah ibu." Ucap Kamil yang segera bergegas masuk ke dalam rumah, sementara Karin menunggu nya sambil bersedekap.
Tidak lama berselang pria yang menjabat sebagai manager di sebuah perusahaan software itu kembali sambil menenteng sebuah helm di tangannya. Dia juga sudah mengenakan jaket lengkap dengan sarung tangan pemotor.
"Nih.. Pakai helmnya," Perintah Kamil pada sang adik. Karin pun menurut dengan patuh.
Ia langsung naik ke jok belakang usai Kamil menyalakan motor dan suara mesin cukup mengganggu indera pendengaran itu menguar di udara. Sebetulnya, ia kurang suka menaiki motor dual sport trail milik Kamil tersebut.
Tapi apa daya? Pikirnya, lumayan dapat tumpangan gratis.