Finally I Love You!

Finally I Love You!
Chapter 12



Sejak peristiwa percobaan ciuman yang di lakukan Darren sore itu, Karin seringkali merasa kikuk saat sedang bersama sang kekasih. Ia sendiri tak tahu mengapa, padahal Darren sendiri bereaksi seolah tak pernah terjadi apapun.


Apalagi ketika ia mengingat moment dimana wajah Darren yang berada sedekat itu dengannya, hingga ia bisa merasakan hembusan napas lembut yang keluar dari hidungnya.


Saat itu, ia bukannya sama sekali tak ingin. Jika saja tidak ada rasa takut yang mendominasi, mungkin ia sudah merasakan bibir Darren mendarat di bibirnya. Bagaimanapun, ia adalah seorang gadis yang beranjak dewasa, tentu ada sedikit rasa penasaran bagaimana rasanya mencium, dan di cium oleh lawan jenis.


"Kamu lagi ngapain?" Suara lembut Darren menginterupsi Karin yang diam-diam masih membayangkan momen tiga hari lalu.


Pagi ini, di akhir pekan yang cerah Karin masih bermalas-malasan dengan posisi tertelungkup di atas ranjang sembari menelepon pujaan hatinya. Ia masih memakai piyama, belum cuci muka, menggosok gigi, apalagi mandi. Rambut panjangnya juga dibiarkan tergerai berantakan di atas punggung.


"Mmm.. Nggak lagi ngapa-ngapain. Kamu?" Balasnya.


"Lagi mikirin cewek paling cantik yang ada di hidupku.."


"Hmm? Siapa tuh?"


"Karina Alamanda," Kata Darren dari seberang.


Seketika senyumnya mekar kala mendengar ucapan sang kekasih barusan. Ia tak peduli andai kata ungkapan itu hanya sebuah bualan belaka yang diucapkan Darren sekadar untuk menyenangkan nya. Yang jelas, ia sangat senang jika Darren mulai menggombal.


"Pasti kamu lagi senyam-senyum kan?" Tebak Darren.


"Ish.. Tahu darimana?"


"Kebayang aja siih.. Sama senyum kamu yang candu itu."


"He.. He.. He.." Wajah gadis itu memerah bagai udang rebus. Jika saja ada orang yang melihat, sudah pasti ia mengira bahwa Karin terserang demam mendadak.


"Video call yuk.." Ajak Darren tiba-tiba.


"Hah?" Karin terperanjat seketika mendengar kalimat Darren barusan sebab tampilannya saat ini lumayan mengerikan. Ia tentu tak ingin image nya jatuh berantakan di depan Darren.


"Video call sayang. Aku kangen deh."


"Uhmm.. Aku juga beb, t-tapi.."


Tok.. Tok.. Tok..


"Riin.. Kariin.. Kamu sudah bangun nak?" Samar-samar terdengar suara ibu yang mengetuk pintu kamarnya.


"Udah bu.." Sahutnya sedikit berteriak sambil menurunkan ponsel dari telinga.


"Bantu ibu sebentar dong Rin.. Penting.." Pinta ibu.


"Iya.. Sebentar ya bu.. Habis ini Karin turun."


"Oke.. Ibu tunggu di dapur ya.."


Karin sedikit bernapas lega, karena kali ini, secara tidak sengaja ibu telah menolongnya.


"Uhm.. Beb, maaf ya kayaknya udahan dulu deh teleponnya. Ibu barusan manggil, minta tolong sama aku. Kita lanjut lagi nanti ya.." Ucapnya.


"Hmm.. Yasudah nggak apa-apa. Tapi nanti video call-an lho ya. Harus! Nggak boleh nolak!" Ucap Darren menegaskan permintaannya.


"Siap my boss!"


"Bye.. I love you!"


"Love you too," Tutup gadis itu dengan senyumnya yang kian merekah.


Usai meletakkan telepon genggamnya di atas ranjang serta mengikat rambutnya terlebih dahulu, Karin langsung turun ke dapur demi menggenapkan janjinya pada ibu. Dia sudah tahu, ibu pasti meminta tolong untuk membantu proses pembuatan kue atau mengepaknya ke dalam kotak per porsi.


Dan sesampainya ia di sana, dugaannya benar-benar tepat. Ibu menyuruh untuk meletakkan kue-kue tersebut ke dalam kotak agar bisa segera di bawa pemesan yang diperkirakan datang sekitar tiga puluh menit lagi.


"Bu.. Boleh sisihin sedikit nggak?" Tanya Karin sembari meletakkan kue dengan tangannya yang di balut sarung tangan plastik.


"Kamu mau?"


"Iya, buat nyuguhin teman-temanku. Hari ini kita mau belajar bareng di sini," Jawabnya.


"Oh begitu. Boleh aja, ibu kan memang selalu ngelebihin buat orang rumah. Nanti kamu ambil aja semua buat suguhin teman-temanmu."


"Makasih ya bu.." Ucap Karin yang di balas dengan senyum ramah dari ibu.


...***...


Matahari telah mencapai titik tertinggi saat dua orang gadis berjalan santai di pinggir trotoar dengan salah satunya menenteng kantong belanja berisi beberapa camilan yang baru saja di beli dari minimarket depan komplek perumahan.


"Berat Tar?" Tanya Adelia pada Tari yang menenteng kantong belanjaan, ia tak sudi membawanya sebab sudah menanggung beban berat tas ransel berisi buku-buku tebal di punggungnya.


"Nggak terlalu sih, cuma kalau sambil jalan gini berasa juga," Jawab Tari yang dahinya mulai berpeluh.


"Kan udah aku bilang, nggak usah beli banyak-banyak, repot bawanya."


"Belajar itu suka bikin bosan Del, kalau sudah bosan lama-lama ngantuk. Nah buat ngilangin ngantuk, mulut harus sambil ngunyah.. Jadi belajarnya nggak berhenti deh.." Ucap Tari.


"Terserah kamu lah.." Adelia menutup perdebatan singkat mereka sebab ia tahu, Tari selalu punya seribu jawaban.


"Apa sih Tar? Bikin orang kaget aja!" Protes Adelia yang dahinya otomatis berkerut.


"Dompet aku! Kayaknya ketinggalan deh!" Tari makin panik sambil menepuk-nepuk saku celana serta menyelami isi dari kantong belanja yang di genggamnya.


"Hah? Ketinggalan dimana?"


"Di minimarket tadi!"


"Duh.. Gimana dong, mana udah deket rumahnya Karin," Adelia ikut berpikir.


"Yasudah, biar aku aja yang balik. Nih.. Aku titip kantong belanjanya ya! Kamu duluan aja ke rumah Karin, nanti aku nyusul. Ya Del ya!" Tari langsung tancap gas menggerakkan kedua kakinya berlari secepat mungkin menuju minimarket tadi usai menyerahkan kantong belanja pada Adelia.


"Ish.. Ya ampun si Tari ini.. Pelupa banget sih! Ck.. Jadi aku yang bawa pula! Udah bawa tas, bawa kantong juga. Mana berat lagi," Adelia menggerutu seorang diri sambil melanjutkan perjalanannya. Rumah Karin sudah terlihat jelas, beberapa langkah lagi pasti akan sampai. Namun ia tetap merasa jengkel.


"Duh.. Panas banget.." Peluhnya mulai menjejak di dahi dan turun menelusuri lekukan wajahnya. Sambil sesekali menyeka dengan punggung tangan, Adelia meneruskan langkahnya.


Hingga akhirnya ia hampir menggapai pintu gerbang rumah Karin, seseorang dari dalam malah menabraknya dengan sembrono. Cukup keras, membuat kantong belanja tersebut ikut lepas dari genggamannya. Seketika beberapa isi di dalamnya keluar berantakan, dan si penabrak spontan ikut membantunya mengambil kembali bungkus makanan dan botol minuman dingin yang berserakan.


"Aduh.. Maaf.. Maaf.. Saya nggak sengaja. Lagi buru-bur-" Ucapan permintaan maaf itu terhenti kala Kamil, yang baru saja menabrak Adelia justru terpaku pada gadis di depannya.


Pandangan mereka saling beradu, Adelia tak bereaksi apapun sementara Kamil dibuat terpesona oleh kecantikannya.


"Eh, ini bang.."


"Kamil.." Pria itu menyerobot sambil memperkenalkan diri.


"Oh iya, bang Kamil. Karin ada kan bang?" Tanya Adelia basa basi.


Kamil tidak menjawab, binar-binar matanya masih menatap intens wajah Adelia. Entah apa yang ada di dalam isi kepalanya, yang jelas Adelia mulai merasa tak nyaman dengan cara Kamil memandangnya.


"B-bang? Maaf? Karin nya ada kan?" Ulang Adelia berharap Kamil segera sadar dari lamunannya.


"Ah? Oh.. Uhm.. Iya. Siapa? Karin?" Nada bicara Kamil jelas terdengar gugup. "Karin ada kok. Ada di dalam. Oh iya, kamu temannya Karin ya? Siapa namanya?"


"Saya Adelia."


"Adelia ya. Cantik," Kamil makin salah tingkah diiringi dengan wajah bingung dari Adelia.


"Uhmm.. Maksudnya. Cantik, namanya. Orangnya juga sih.." Di akhir kalimat, Kamil menurunkan volume suaranya jadi sekecil mungkin.


"Oh iya, ini minumannya. Maaf, tadi aku buru-buru lagi teleponan sama kurir mau ambil paketku. Kesasar dia, he..he.." Ucap Kamil sambil menyerahkan botol minuman dingin yang jatuh dari kantong belanja ke tangan Adelia.


"Oh.. Iya, begitu ya bang," Sahut Adelia singkat.


"Iya, begitu.." Ujar Kamil sambil menggaruk-garuk kepala. Ia bahkan telah melupakan panggilan teleponnya dengan kurir yang masih memanggil-manggil di sebrang sana.


"Huh.. Huh.. Akhirnya sampai juga. Del.. I got it!" Ucap Tari yang baru tiba dengan napasnya yang terengah-engah sambil menunjukkan dompet pada sahabatnya.


"Kamu lari?" Tanya Adelia keheranan.


"Iya, huh.. Huh.. Biar cepat sampai.. Huh.." Nampak Tari masih berusaha mengatur napas sebelum irama jantungnya lantas mengalami peningkatan sebab melihat sosok pria yang selama ini dikagumi tengah berdiri di depan mata.


"Bang Kamil?" Ucap Tari yang seolah baru saja melihat pangeran tampan.


"Iya.. Kamu temannya Karin juga?" Kamil menanggapi.


"Iya.. Benar.. Aku Tari bang.."


"Oh. Hai Tari."


"Hai.." Sepasang mata gadis itu berbinar-binar memandangi makhluk ciptaan Tuhan yang tampan di depannya.


Kamil memang yang paling tampan di antara dua saudara laki-lakinya. Karin sendiri pun pernah menobatkan Kamil paling tampan di urutan nomor satu, sedangkan Khalid nomor dua, dan Kanaka jadi yang terakhir. Meski ironis nya, hingga kini Kamil masih belum memiliki pendamping.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Si Bujang Lapuk - Kamil Adhi Satya Iskandar