Finally I Love You!

Finally I Love You!
Chapter 7



"Makasih ya bang," Ucap Karin seraya menyerahkan helm pada Kamil. Motor bersuara gahar nan bising itu berhenti sejenak di depan gerbang sekolah yang masih ramai oleh para siswa.


"Sama-sama. Belajar yang rajin ya! Jangan pacaran melulu."


"Ish.. Siapa yang pacaran?" Tanya Karin dengan nada tak terima. Sebetulnya, ia merasakan seolah ada gendang yang ditabuh nan ramai di dadanya. Khawatir kalau-kalau Kamil mencurigainya.


"Itu.. Sama cowok yang kemarin nganter ke rumah sakit. Siapa namanya? Da-?"


"Abaang.. Udahlah.. Kan udah dibilangin, dia temanku."


"Ha.. Ha.. Ha.." Kamil nampak ingin tertawa lebih kencang jika dilihat dari rona wajahnya yang memerah. Namun, ia sadar ini bukan di rumah. Apalagi sedari tadi ada beberapa gadis-gadis yang melirik sambil malu-malu ke arahnya, membuat naluri nya sebagai laki-laki memerintah agar tetap stay cool.


"Kamu bisa cerita apapun ke abang dek. Jangan sungkan." Lanjut nya setelah kembali menguasai diri.


"Udah gih abang berangkat. Nanti di pecat kalau telat! Orang dewasa ini, kenapa suka banget buang-buang waktu sih?!" Karin mencibir.


"Haduh.. Keluar deh judesnya. Ya sudah, abang jalan ya." Ucap Kamil seraya menghidupkan kembali mesin motor nya.


"Iya. Hati-hati.." Pesan gadis itu sambil berlalu. Ia melanjutkan langkahnya masuk ke halaman sekolah.


Di sana masih banyak siswa yang duduk-duduk sambil berbincang di depan kelas, ada juga beberapa di antaranya yang berdiri, dan beberapa menyapa Karin yang berjalan melewatinya


"Karin!." Panggil seseorang yang sudah sangat ia kenali suaranya. Gadis itu menoleh, mendapati Adelia, disusul Tari yang berlari ke arahnya.


"Hei.." Sapa Karin.


"Rin.. Tadi kamu di antar abangmu ya?," Tanya Tari yang napasnya masih tersengal-sengal.


"Iya.."


"Abangmu yang mana Rin? Pertama, kedua, apa ketiga?," Tari makin gencar mengajukan pertanyaan. Karin menduga, ada maksud terselubung dari pertanyaan sahabatnya itu.


"Kamu kepingin tahu banget buat apa Tar?," Adelia menengahi.


"Emangnya nggak boleh?."


"Suka ya kamu sama abangnya Karin?," Tembak Adelia.


"He.. He.." Tari menanggapi sambil mesam mesem. "Rin, siapa namanya?," Sambungnya.


"Kamil.." Jawab Karin singkat. Ia menghentikan langkah sejenak tepat di depan pintu kelas yang mereka tempati. Begitupun dua sahabatnya yang seolah tersihir untuk mengikuti tiap gerak geriknya.


"Tapi.. For your info, dia nggak suka cewek!." Ucap Karin sambil berbisik. Ide jahil yang keluar dari otaknya tentu membuat Adelia terutama Tari yang begitu mengagumi Kamil langsung tercengang.


Karin suka melihat ekspresi wajah Tari yang seperti itu, terkejut, serta mulutnya sedikit menganga hingga ia takut seekor lalat datang dan masuk ke dalam nya. Gadis itu juga merasa menang sebab telah berhasil membuat gosip untuk Kamil yang menurut nya suka sok merasa tampan, walau memang kenyataannya demikian.


"Kariinnn... Serius dong ah.." Rengek Tari.


Karin sangat ingin tertawa, apalagi saat mengingat gosip tentang abangnya yang baru ia katakan. Sungguh konyol, pikirnya.


...***...


Pukul 12:00 siang, kegiatan belajar mengajar di SMU swasta elite itu usai. Namun Karin yang menjabat sebagai sekretaris kelas diminta Arka si ketua kelas untuk membicarakan beberapa hal terkait kepentingan kelas mereka.


Sebenarnya mereka rapat bertiga di dalam kelas dengan Linda si bendahara. Namun ia pamit ke kantin untuk membeli minuman, dan tinggallah Karin bersama Arka yang nampak serius saling berbicara.


Di tengah pembicaraan mereka, terdengar derap langkah kaki mendekat, masing-masing dari dua siswa itu menduga bahwa itu adalah Linda yang baru kembali dari kantin. Namun saat orang tersebut telah berdiri tepat di hadapan mereka, barulah keduanya sadar bahwa dugaannya benar-benar meleset.


Orang itu, laki-laki, dan dia, Darren.


"Darren?," Ucap Karin.


Tampak wajah rupawan itu seperti menahan amarah.


"Aku mau bicara." Ucap nya singkat.


"Oh.. O-oke, tunggu sebentar lagi ya, aku lagi-"


"Sekarang." Ucap Darren lagi, bagai tak memberi Karin pilihan. Ia langsung melenggang keluar begitu saja, membuat gadis itu serba salah.


Karin dan Arka saling melempar pandangan, namun dengan isi pikiran masing-masing.


"Bentar ya Ka," Ucap Karin.


"Iya Rin.." Jawab Arka.


Gadis itu keluar dari kelas mengikuti arah langkah Darren yang sudah berjalan lebih dulu. Mereka berdua berhenti di ujung koridor sekolah, tempat yang sudah sepi sebab semua siswa sudah pulang sejak tadi.


"Ngapain kamu ngobrol berduaan sama Arka di kelas? Trus, kenapa belum pulang?," Pertanyaan penuh nada interogasi meluncur dari bibir nya.


"Tadi itu lagi rapat, ada yang perlu dibahas tapi memang lebih enak kalau sudah pulang sekolah." Jawab Karin berusaha menjelaskan se-detail mungkin.


"Kenapa nggak bilang sih? Aku nunggu kamu daritadi!."


Melihat wajah Darren yang antagonis membuat nyali nya makin menciut. Entah mengapa, biasanya dia tak pernah takut dengan siapapun, apalagi hanya seorang anak laki-laki.


"Iya maaf." Ucap Karin singkat.


"Aku nggak suka ya, kamu dekat-dekat dengan cowok lain. Apalagi berduaan kayak gitu!."


"Aku nggak berduaan, sebenarnya ada Linda, tapi dia lagi ke kantin untuk beli minuman." Karin membela diri.


"Pokoknya aku nggak suka! Kamu dengar itu!" Nada bicara Darren mendadak tinggi, jelas sekali ia sangat marah.


Karin merasa tak terima dengan bentakan Darren yang terdengar menyebalkan. "Memang nya kenapa sih? Lagi pula kami cuma teman!"


"Arka itu suka sama kamu!."


"Apa?."


"Nggak dengar? Arka suka sama kamu!."


"Kemarin, kamu bilang kalau bang Rey suka sama aku. Sekarang, Arka. Lalu besok siapa lagi yang akan suka sama aku?," Cibir Karin.


Darren yang makin terpancing emosi mendekatkan diri pada Karin dan menarik serta memegangi wajah sang kekasih dengan kasar. Kini wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Karin bahkan dapat merasakan hembusan napas kasar yang keluar dari hidung Darren.


"Aku lagi nggak bercanda! Dengarkan aku, atau kamu akan tahu akibatnya!." Darren jelas menggunakan kalimat ancaman, tapi Karin sama sekali tak berkutik seolah kehilangan seluruh power yang di miliki untuk melepaskan diri dari genggaman kekasihnya.


"Pulang lah sendiri! Aku nggak sudi mengantarmu!," Ucap nya lagi seraya melepaskan kedua tangannya dari wajah Karin, yang lagi-lagi dengan kasar.


"Darren tunggu!," Merasa semua nya belum selesai, Karin hendak menahan langkah Darren dengan menggenggam lengannya, namun yang terjadi malah lelaki itu menghalau keras-keras hingga membuatnya jatuh tersungkur.


"Ahh.." Desah Karin begitu tubuhnya menyentuh dataran.


"Jangan sentuh aku!," Darren memandang Karin yang terjatuh namun enggan menolongnya. Ia seakan telah kehilangan belas kasih pada gadis yang dipacarinya itu. Dan selanjutnya, Darren melanjutkan langkah menjauh dari Karin yang masih shock seorang diri.


Sebenarnya bukan hanya kaget, dia juga tak menyangka sama sekali bahwa Darren bisa begitu kasar pada nya.


"Karin.. Kamu nggak apa-apa?," Tari datang menghampiri begitu mengetahui Karin baru saja mendapat perlakuan kasar dari pacarnya. Ia dan Adelia diam-diam melihat pertengkaran di antara keduanya dari kejauhan sebab kebetulan mereka juga belum pulang.


"Yuk Rin.." Adelia membopong Karin agar ia bangkit dan mempergunakan kaki nya dengan baik.


"Ya ampun Rin, kamu diapain sampai kayak gini? Duh.. Tanganmu lecet.." Ucap Tari iba.


"Kita ke UKS yuk, cari plester." Ajak Adelia sembari mengarahkan Karin yang masih diam tanpa kata menuju UKS.


Karin masih mencerna baik-baik apa yang baru saja menimpanya, selama ini, Darren memang sedikit posesif. Tapi baru hari ini dia bereaksi sedemikian berlebihan. Ia paham bahwa kemungkinan besar pacarnya merasa cemburu pada Arka yang di tuding diam-diam menyukainya.


Namun tindakannya tadi sungguh bukan hanya melukai fisiknya, tapi juga hatinya.


"Sini Rin, aku balut lukanya.." Ucap Adelia yang telah memegang plester. Ia memasang baik-baik di atas luka lecet pada bagian siku Karin. Saking hanyut sampai sebegitu dalam di pikirannya, Karin bahkan tak menyadari bahwa ia sudah sampai di UKS bersama dua sahabatnya yang nampak khawatir.


"Rin, kamu nggak apa-apa?," Tari memastikan.


Gadis itu menjawab dengan gelengan kepalanya.


"Ada apa sih? Kalian berantem apa gimana? Kok Darren bisa kasar gitu ke kamu?,"


"Emang kalian lihat?," Karin balik bertanya, dan kedua sahabatnya mengangguk bersamaan.


"Rin, itu sudah bisa di katakan suatu kekerasan lho. Nggak seharusnya Darren dorong kamu sampai jatuh gitu." Tari berpendapat.


"Nggak dorong kok. Kayaknya dia cuma nggak sengaja."


"Kalau nggak sengaja harus nya kamu di bantu untuk bangkit dong," Tari masih belum puas dengan jawaban Karin.


"Aku yang tahu, Tar."


Adelia menyenggol lengan Tari agar ia berhenti bicara sebab Karin jelas begitu membela Darren.


"Ya sudah yuk kita pulang." Ajak Karin sambil berlalu, sementara Adelia dan Tari saling melempar pandangan.


"Nasihatin orang yang lagi jatuh cinta itu percuma," Ucap Adelia pada Tari.