
"Hai Karin.." Sapa orang tersebut menyita perhatian Karin sepenuhnya.
"Ini untukmu.." Ia menyerahkan setangkai bunga mawar merah pada Karin. "Boleh minta waktu sebentar?" Sambungnya.
Gadis itu seolah tersihir begitu saja. Darren, dia memang selalu mampu menaklukan Karin kapanpun, dan di manapun. Bahkan ketika banyak pasang mata memperhatikannya, Karin sungguh tak peduli. Ia terus mengekor di belakang Darren yang berjalan perlahan menuju bagian depan dari aula.
Mereka berhenti di tempat yang diyakini tak ada satu orangpun berada di sana. Darren memasang wajah penuh pengharapan sembari menatap Karin yang masih nampak dingin seolah sama sekali tak tertarik dengan kehadirannya.
"Karin.. Aku.." Ucap Darren terbata. "Aku.. Minta maaf sama kamu, soal.. Kejadian kemarin. Di sekolah," Sambungnya.
Karin masih diam tak menjawab.
"Aku baru sadar kalau ternyata perbuatan ku sungguh telah menyakitimu," Darren menghela napas sejenak. "Mau nggak, kamu maafin aku?"
Perlu waktu beberapa detik untuk Karin menyiapkan jawabannya, sebab ia masih merasa malas merespon Darren. Sebenarnya, ada kombinasi perasaan aneh yang di rasakan, antara senang dan marah. Dan masalahnya, ia sendiri tidak tahu yang mana yang lebih dominan.
"Karin?," Panggil Darren, sekedar memastikan bahwa diamnya Karin bukan karena sedang ketempelan makhluk halus.
"Kamu kemana aja seharian ini?" Pada akhirnya Karin angkat bicara.
"Aku.. Bolos."
"Kenapa?"
"Karena.. Aku terlalu takut ketemu kamu."
"Takut?"
"Ya.."
Karin diam lagi.
"Aku takut kamu nggak bisa maafin aku. Dan, sungguh, aku merasa bersalah sama kamu."
"Kalau takut, kenapa sekarang kamu ada disini?" Tanya Karin tegas.
"Aku merasa perlu memperbaikinya. Aku nggak bisa menghindar terus dari kamu. Karin, aku sayang sama kamu, terlalu sayang sampai rasanya aku benar-benar takut kehilanganmu."
Nada bicara Darren terdengar tulus di telinganya. Karin mulai tersentuh melihat sang kekasih mengiba sampai sedemikian rupa. Mengharap pengampunan darinya hingga rela datang dan menemuinya di gelanggang olahraga.
Gadis itu berpikir, pantaskah jika ia menolak permintaan maafnya, sementara sejak kemarin ia sendiri yang menunggu saat-saat ini tiba? Dimana Darren dengan kerendahan hatinya sudi meminta maaf dan mengakui kesalahan?
"Karin? Kamu mau kan? Maafin aku?" Darren masih setia menanti jawaban dari bibir Karin yang masih terkatup rapat. Ia menegaskan lagi pertanyaannya yang masih di gantung.
Kemudian dengan mengambil keputusan secepat mungkin, Karin mengangguk yakin untuk memberi pintu maaf bagi Darren. Terukir senyum sedikit demi sedikit di bibirnya.
"Terimakasih Karin. Aku sayang kamu," Ucap Darren lega. Ia nyaris memeluk sang kekasih jika gadis itu tak sedikit menghalau kedua lengannya yang hendak menarik tubuhnya dalam dekapan.
"Darren, maaf.. Jangan peluk-peluk di sini," Ucap Karin sambil berbisik.
"Uhm.. Sorry. Aku senang banget soalnya," Ujar Darren dengan wajahnya yang memerah. "Kamu sudah selesai?" Darren melanjutkan dengan pertanyaan barunya.
"Belum. Ini aku lagi break aja."
"Masih lama?"
"Mungkin sekitar empat puluh menit lagi," Jawab Karin.
"Aku tunggu kamu ya.."
"Mau?"
Tuhan telah berbaik hati dengan mengabulkan keinginannya hari ini. Tak ada lagi kesialan, tak ada kerenggangan dalam hubungannya dengan Darren, semua membaik seperti sedia kala.
Karin merasa Darren telah kembali menyirami dan memupuk taman bunga di hatinya, hingga membuat yang semula layu jadi kembali bermekaran.
Lubang yang seolah mulai terbentuk dari lingkaran kecil di dadanya juga berangsur tertutup lagi lalu kemudian pulih seutuhnya. Semua karena Darren, dia amat jatuh cinta padanya, lelaki pertama yang telah berhasil memiliki hatinya.
...***...
Hari mulai gelap, kumandang adzan tanda panggilan ibadah umat muslim terdengar bersahut-sahutan dari satu masjid ke masjid lainnya. Beberapa orang jamaah juga nampak berjalan cepat-cepat menuju rumah ibadah untuk melaksanakan shalat magrib, kecuali Karin. Dia justru baru di antar pulang oleh Darren setelah mampir terlebih dahulu ke sebuah cafe.
Selepas latihan, Darren mengajaknya berjalan-jalan sebelum pulang. Dan agar lebih leluasa mengobrol, ia memilih untuk bertandang sejenak di sebuah cafe langganannya.
Sembari memesan makanan dan minuman masing-masing, dua sejoli ini menghabiskan waktu sore hari bersama. Bercengkrama dengan hangat, memperbaiki keadaan yang sempat renggang, dan saling melupakan kesalahan satu sama lain.
Darren menghentikan laju mobil BMW hitam mengkilap yang dikendarainya tepat di seberang portal masuk komplek perumahan tempat tinggal Karin. Tentu saja karena gadis itu yang memintanya. Ia tak ingin ada siapapun yang memergokinya keluar dari mobil tersebut dan berasumsi yang bukan-bukan.
Sebab sangat jarang sekali ada seorang pelajar yang mempunyai bahkan diperbolehkan mengendarai mobil mewah seperti itu sendiri.
"Beb.. Makasih ya.." Ucap Darren pada Karin yang nampak membereskan beberapa barangnya.
"Sama-sama. Makasih juga ya, untuk hari ini," Sahut Karin.
"Aku bahagia banget kamu udah mau maafin aku," Ucap Darren lagi, ia meraih tangan sebelah kanan Karin sementara sang empunya hanya memandang sekaligus mematung. Sejujurnya, bukan tanpa alasan. Karin menatap Darren sambil mengamati gurat wajah laki-laki itu dan juga gelagatnya.
"I-iya.." Respon Karin sedikit gugup. "Ya udah, aku pulang ya beb. Makasih sekali lagi, untuk tumpangannya," Tangan kirinya berusaha meraba dan hendak membuka handle pintu mobil meski ia sadar, Darren belum juga melepas sebelah tangannya yang di genggam.
"Emmh.. Karin.."
Darren menariknya pelan. Karin tak tahu apa tujuan sang kekasih mendekatkan wajah padanya. Mereka saling bertatapan sekarang, bahkan Karin dapat melihat dengan jelas wajah Darren yang putih mulus dengan bibirnya yang berwarna merah muda cerah tanda ia tak pernah merokok, serta pori-pori wajah yang nyaris tak nampak meski tanpa pencahayaan yang maksimal.
Gadis itu gugup, amat gugup. Memikirkan bagaimana kelanjutannya, dan apa yang akan dilakukan Darren. Dalam situasi seperti ini, pikirannya benar-benar berhenti. Lagi-lagi ia telah di sihir jadi batu, hingga tak bisa bergerak walau sekadar menggeser posisi duduknya barang sejengkal.
Entah di menit ke berapa wajah Darren semakin dekat, Karin bahkan hampir tak menyadarinya. Laki-laki itu mulai sedikit memiringkan kepala, memejamkan mata dan.. Ting!
Seolah mendapat bisikan dari alam lain, Karin akhirnya benar-benar sadar bahwa gelagat Darren yang seperti itu adalah karena ia ingin menciumnya!
"Mmh.. Darren.." Desah Karin sambil menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit menjauh dari Darren agar ciuman mendadak itu tak sampai.
Wajah Darren merah padam, ia kembali membuka mata tapi tidak bereaksi apapun. Ia justru membiarkan Karin menjauh dan melepaskan genggaman tangannya.
"Uhm.. Beb, m-maaf ya.. Aku harus cepat-cepat pulang, sepertinya ibu sudah menungguku. Ini.. Ponselku getar terus dari tadi, itu pasti ibu yang telepon," Ucap Karin yang memang merasakan telepon genggamnya bergetar di dalam tas.
"K-kamu.. Hati-hati di jalan ya beb.." Pesannya pada Darren, sementara sang kekasih masih diam dengan tatapan kosong tanpa arti. Mungkin sedang menetralkan suatu gejolak dalam diri.
Karin bergegas menarik handle pintu mobil dan segera keluar. Sembari melangkahkan kaki cepat-cepat, ia tak dapat membohongi perasaannya sendiri bahwa dirinya amat sangat gugup.
Kolaborasi antara takut, gugup dan senang menciptakan ledakan hebat dalam hati. Jantungnya yang tadi seolah lompat sampai ke perut bahkan terasa masih berada di bawah sana.
Dalam gejolak yang dirasakannya, Karin masih mampu berpikir, kenapa pada akhirnya Darren berusaha menciumnya? Padahal selama empat bulan berjalan, ia tak pernah menyentuhnya lebih dari sentuhan tangan ke tangan.
Apakah ini benar? Maksudnya, ciuman itu? Apa semua pasangan yang masih berstatus pacaran juga melakukannya?
Jika iya, itu artinya bertolak belakang dengan wejangan-wejangan yang selama ini di dengarnya. Bahwa, ciuman, berpelukan dan berhubungan yang lebih intim hanya boleh dilakukan ketika sudah terikat pernikahan.
Apakah ini yang menimpa Julie sepupunya yang baru saja dikabarkan hamil diluar nikah hingga harus putus kuliah?
"Duuhh.. Nggak tahu aah.. Jantung ku.. Ini bener-bener nggak baik. Tapi.. Darren.. Aah Darren!" Gumam Karin yang makin salah tingkah sendiri. Ia bahkan tak menyadari bahwa pintu gerbang rumah sudah di depan mata.