
Suasana hening kembali, beberapa detik sebelum ayah merespons ucapan Adam barusan.
"Terimakasih.." Ucapnya pendek.
"Tapi, kami minta satu hal pak Ahmad. Agar kejadian ini cukup sampai disini saja. Anggap semuanya sudah selesai," Diana buka suara.
Ayah menangkap ucapannya barusan, tapi ia merasa butuh validasi terhadap apa yang di maksud dengan 'cukup sampai disini'.
"Maksudnya, bu Diana?"
"Tidak perlu dibawa ke jalur hukum."
"Oh, jelas nggak bisa!" Kamil yang mulai kembali terpancing lantas menyambar giliran ayahnya yang baru saja hendak membuka mulut. "Darren perlu di proses secara hukum!" Katanya lagi.
"Untuk apa lagi? Kami kan sudah tanggung jawab, Karin juga masih bisa di selamatkan, lalu apa yang kurang? Lagipula, Darren ini masih pelajar, bagaimana masa depannya jika dia harus di penjara dan namanya terlibat kasus hukum?" Diana jelas tidak terima.
"Lalu bagaimana dengan masa depan Karin, bu Diana? Apa dia tidak layak untuk dipertimbangkan?" Balas ayah yang membungkam Diana seketika.
"Darren tetap harus di proses secara hukum. Dia sudah lalai berkendara, dan juga pasti tidak memiliki SIM. Bukankah itu semua adalah pelanggaran?"
Tiga orang di depannya diam tanpa sepatah kata pun keluar lagi. Tapi ayah menangkap sorot mata tak terima dari Adam yang kemudian tampak menegak di tempat duduknya.
"Saya peringatkan anda, pak Ahmad. Jangan main-main dengan saya," Ucapan nya jelas bernada ancaman.
Dalam ketenangan yang tidak dibuat-buat, ayah menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Sorot matanya yang teduh, membuat siapapun percaya bahwa ia sama sekali tak dibuat murka.
"Terimakasih, atas peringatannya pak Adam. Saya akan mengingatnya dengan baik," Tutur nya.
Jelas sekali Adam begitu jengkel dengan jawaban ayah yang berada diluar ekspektasinya. Awalnya, tentu ia berharap lawan bicaranya itu akan menunjukkan gurat kekhawatiran dengan ancamannya. Mengingat ia adalah salah satu orang penting di sekolah anaknya yang bisa membuat ia melakukan apa saja pada Karin.
Pun dengan reputasi sebagian keluarga besarnya yang terdiri dari aparat hukum juga bisa berbuat apapun yang dikehendaki. Ayah pasti tahu semua tentang itu, namun ternyata yang terjadi malah sebaliknya, Adam tak mengira sama sekali.
Sekarang justru ia yang dibuat murka. Seraya memberi isyarat, Adam mengajak istri dan putranya yang mendadak bisu untuk angkat kaki dari sana. Tanpa pamit, tanpa permisi, mereka melenggang pergi begitu saja menyisakan kesan tidak menyenangkan untuk orang-orang di depannya.
Kamil bersama kejengkelannya, memandang mereka bertiga sambil mencibir. "Nggak punya sopan santun! Dia pikir siapa dia? Cih.."
...***...
Proses operasi selesai dalam kurun waktu dua setengah jam. Dokter memutuskan untuk memasang pen pada kaki sebelah kiri Karin yang mengalami patah tulang. Namun ia beruntung sebab tangan kanannya masih bisa diselamatkan tanpa harus di pasang pen seperti kaki nya. Hanya ada luka sobek di sana.
Tapi malang, shock yang terjadi di area kepala membuatnya koma. Ibu histeris dan sempat pingsan menghadapi kenyataan tersebut. Ia tidak mengira masalahnya akan jadi sepanjang ini. Putri yang di kasihinya harus melewati masa-masa seperti itu.
Namun di tengah kepanikan yang melanda keluarganya, ayah masih mampu berpikir dengan jernih. Perangainya yang cenderung tenang menggiringnya untuk tetap berpikiran positif dan yakin akan kesembuhan putrinya. Ia percaya, Karin hanya sekadar membutuhkan waktu untuk beristirahat. Dan ia pasti akan bangun sebentar lagi.
Hingga dua hari berlalu, hampir masuk hari ketiga ketika Karin mulai menunjukkan tanda akan siuman. Kira-kira pukul 22:10 ia menggerak-gerakkan jemarinya yang langsung di sadari ibu. Saat itu, ia tengah duduk di sebelah ranjang Karin, menungguinya sembari membaca kitab suci Al-Qur'an seukuran telapak tangannya. Sejak hari pertama Karin di rawat, ibu memang selalu membacanya, sesering yang ia mampu.
Tentu hal itu di sambut gembira olehnya. Seolah mendapat keajaiban yang nyata, ibu bahkan rela bersujud di lantai begitu menyadari Karin benar-benar telah mendapatkan kesadarannya kembali. Ternyata benar adanya ucapan ayah, lewat koma dua hari ini, Karin hanya membutuhkan waktu untuk istirahat.
Dokter telah memeriksanya, dan Karin juga telah membuka mata dengan lebar meski tatapannya masih terlihat kosong. Ia mirip bayi yang baru dilahirkan. Tidak tahu apapun yang ada di dunia ini. Tidak tahu tentang dirinya sendiri.
Karin memandangnya, sambil sesekali mengedipkan mata. "Ibu?" Nada bicara Karin terlontar seperti sebuah pertanyaan.
"Iya nak.." Ibu spontan menahan napas, ia dibuat takut. Pikiran jeleknya menduga sembarangan bahwa Karin telah kehilangan ingatannya.
Lama Karin termangu. Membuat ibu harap-harap cemas.
"Ayah mana bu?" Napas penuh kelegaan berhembus seketika kala mendengar Karin menanyakan ayahnya. Syukurlah pikirnya, Karin tidak kehilangan ingatan seperti yang di khawatirkan.
"Ayah pulang, mau mandi dan ganti pakaian. Sebentar lagi juga datang bareng bang Kamil," Jelas ibu. Ia masih memegangi tangan Karin yang terbaring lemah di kasur.
"Bang Khalid sama bang Naka datang juga nggak bu?"
Ibu mengulas senyum begitu mendengar pertanyaan putrinya, nampaknya ia merindukan dua abang yang tinggal berjauhan darinya itu. "Belum. Mungkin tunggu nanti libur dulu. Tapi ibu sudah ngabarin ke mereka kalau Karin sakit."
"Bu.."
"Iya?"
"Tanganku sakit. Kakinya juga. Aku luka parah ya bu?"
"Karin jangan khawatir, sebentar lagi juga sembuh.." Ibu memberi penghiburan semampunya.
Karin diam. Nampak mengingat-ingat kejadian sebelum ia sampai disini dan mendapat perban-perban yang membungkus kaki dan beberapa bagian di lengannya. Saat ia meraba kepalanya, perban itu ternyata juga menempel di sana. Tapi, sedikit terasa nyeri sebab juga ada luka yang dijahit dokter dua hari lalu.
Ingatannya lantas melayang kembali pada peristiwa hari itu. Hari yang seharusnya membahagiakan untuknya, dimana ia dinyatakan naik kelas dan tengah menikmati jalan-jalan bersama lelaki yang dicintainya.
Sepersekian detik kemudian, ia mengerjap, matanya membulat, memorinya teringat pada dia, Darren.
"Bu.. Dimana-"
"Assalamu'alaikum.." Ucap ayah dari balik pintu. Ia membukanya perlahan, merasa takut mengganggu putrinya yang ia pikir masih terlelap dalam tidur tenangnya. Ayah datang dengan mengenakan surgical gown serta penutup kepala serupa dengan ibu, sebab Karin yang mengalami koma harus menempati ruang ICU demi mendapat perawatan intensif.
Ibu dan Karin memandang ke arahnya. Dan di waktu yang bersamaan, ayah baru sadar bahwa Karin telah siuman. Nampak jelas pendar keharuan bermain di kedua matanya. Kenyataan bahwa Karin telah membuka mata, terasa seperti kejutan atas kedatangannya. Ia segera mendekat ke arah sang putri yang menyambut dengan senyum tertutup masker oksigen yang dipasang pada area mulut dan hidungnya.
Ibu minggir sedikit. Memberi ruang bagi ayah yang tentu ingin menyapa Karin.
"Nak.." Panggilnya. Nada bicaranya terdengar sedikit bergetar. "Karin sudah sadar?"
Dengan gerakan dibuat selembut mungkin, Karin menganggukkan kepalanya. Matanya sendu, memandang sang ayah yang baru saja ia datang.
"Alhamdulillah.. Ayah senang sekali nak." Ia meraih sebelah tangan Karin. Mencium, lalu menggenggamnya erat seolah ia baru saja kehilangan putrinya dalam waktu yang lama. Setidaknya memang begitu yang ia rasakan. Dua hari seperti dua tahun baginya, sejak Karin dinyatakan koma, waktu seakan berjalan begitu lambat.
"Ayah takut sekali Karin kenapa-kenapa. Syukurlah sekarang kamu sudah sadar. Jangan tinggalkan ayah ya nak.." Ia menitikkan air mata untuk pertama kalinya sejak hari itu. Meruntuhkan sendiri pertahanan yang dibuatnya.
"Aku baik-baik aja yah. Jangan khawatir ya," Ucap gadis itu lemah.
Ayah mengangguk-angguk, air matanya masih turun melewati setiap lekukan wajahnya. Ia terisak cukup lama menikmati momen kehadiran putrinya yang utuh lagi. Meski nampak cengeng tapi ayah tidak peduli. Ia hanya membutuhkan waktu untuk larut dalam kebahagiaan ini.