
Rintik gerimis mulai turun sedikit demi sedikit sesampainya Rey dan Karin di rumah. Mereka bersyukur sebab selamat dari guyuran hujan yang mungkin saja lambat laun akan membasahi ibu kota dengan deras.
Karin melepas helm yang melindungi kepalanya selama perjalanan tadi ke tangan Rey, dan diterima dengan baik oleh pria itu. Ia merogoh saku celana, dan menarik selembar uang kertas dari dalam nya untuk kemudian ia berikan pada Rey.
"Nih.." Ucap nya sambil menyodorkan uang tersebut. Rey memandangnya bingung.
"Uang?"
"Iya."
"Untuk apa?," Tanya Rey yang belum mengerti maksud dari adik sepupunya.
"Tadi kan aku bilang, kalau makanannya nggak enak aku nggak mau bayar.." Jawab Karin. Sementara Rey masih diam sembari menyimak baik-baik.
"Tapi ternyata, seafood nya enak. Seperti yang abang bilang. Dan uang ini, untuk ganti uang abang. Tadi abang yang bayar semua kan," Sambungnya.
Rey mengulas senyum di bibirnya yang lama kelamaan mekar sempurna disisipi dengan gelak tawa. Tingkah Karin telah membuat nya gemas, hingga muncul keinginan untuk mengacak-acak rambutnya yang panjang dan di kuncir kuda itu.
"Nggak perlu, simpan aja uang nya. Abang traktir," Ucap nya yakin.
"Ish.. Udah ambil aja, buat beli bensin mobil abang!," Karin masih bersikeras.
"Hhmm.. Perlu kamu tahu, untuk sekali isi bensin, mobilku perlu uang dua ratus ribu. Sedangkan yang kamu kasih cuma lima puluh ribu. Kurang banyak dong,"
"Duh.. Sombong banget!" Cibir Karin.
"Ha.. Ha.. Ha.. Itu realitanya Karin.. Makanya aku bilang, kamu simpan aja, lumayan kan bisa untuk ongkos naik angkot seminggu." Ucap Rey yang nada bicaranya lebih terdengar sebagai ejekan.
"Huft.. Terserah lah.." Merasa mulai jengkel, gadis itu berlalu dari lawan bicaranya, menjauh dan mengabaikannya.
Ia membuka pintu dengan kasar, berjalan masuk ke dalam rumah dan membuat derap langkah berat hingga membuat Kamil yang tengah duduk di ruang keluarga menaruh perhatian padanya.
"Udah pulang dek?," Tanya Kamil yang sebenarnya tak begitu heran jika melihat raut wajah adik nya yang masam.
"Udah," Sahut gadis itu singkat. Ia berhenti sejenak.
"Mil.. Thanks ya," Ucap Rey yang tiba-tiba juga telah sampai di dalam dan mengembalikan kunci motor ke tangan Kamil.
"Sama-sama bang," Jawab Kamil. "Ada perkara apa sama anak judes ini bang? Pulang-pulang kecut kali lah mukanya ku tengok. Kurang kenyang apa dia?," Sindirnya.
Rey mengambil tempat di sebelah Kamil yang menduduki sofa empuk ruang keluarga. Ia menghela napas sejenak.
"Nggak.. Nggak ada perkara apa-apa. Nggak mungkin juga kurang kenyang, Karin makan banyak kok tadi." Sahut Rey.
"Eh, itu.. Kamu kenapa pakai jaketnya bang Rey dek?,"
Rasa malu menyergapnya ketika menyadari bahwa jaket Rey masih terpasang sempurna di tubuhnya. Gadis itu buru-buru melepas dan langsung mengembalikan jaket tersebut pada pemiliknya.
"Nih.. Makasih jaketnya, makasih juga traktirannya!," Ucap Karin ketus.
"Sama-sama Karin. Besok-besok, kalau mau keluar naik motor itu minimal pakai cardigan atau baju lengan panjang ya. Biar nggak usah pakai jaket orang. Kalau kamu naik ojek, kan nggak mungkin pakai jaket tukang ojek," Kalimat Rey terdengar lembut penuh perhatian, namun entah kenapa justru lagi-lagi berubah jadi kalimat ejekan di telinga Karin.
Ia kian jengkel, tanpa menjawab satu patah kata pun ia langsung bergegas pergi meninggalkan Rey dan Kamil yang hanya senyam-senyum menyaksikan perdebatan antara adik dan abang sepupunya itu.
"Bang Rey nggak kena mental jalan sama Karin?," Celetuk Kamil. Sementara Rey hanya menanggapi dengan segaris senyuman.
****
BRAAK!
"Padahal dia yang kasih sendiri jaketnya, tapi kenapa seolah-olah aku yang butuh?! Hihh.. Dasar om-om nyebelin!," Gerutu gadis itu sambil menutup pintu kamar cukup keras.
Karin merasa amat kesal pada Rey yang justru membuat mood nya makin berantakan. Ia lalu duduk di pinggir ranjang sembari memeriksa ponselnya barangkali ada pesan atau panggilan masuk dari Darren.
Namun kenyataannya tak berbeda dari tadi siang, ponselnya sunyi senyap. Tak ada apapun selain pesan masuk dari operator.
"Uugh.." Hatinya gundah lagi. Kehampaan kini menyerangnya. Ia sangat ingin menghampiri ayah, namun tentu tak mungkin dilakukan sebab pasti ayah sudah tidur dengan nyenyak.
Semesta seolah bersekongkol untuk membuat perasaannya dirundung kelabu. Tak ada yang mampu menghiburnya saat ini, kecuali jika Darren sudi menghubungi.
Di tengok nya jam dinding, sudah pukul 21:40 dan benar saja, hujan telah turun dengan intensitas yang lumayan deras di luar. Ia membanting tubuhnya ke atas ranjang sekaligus melempar ponselnya.
"Ya ampun.. Hari ini kenapa aku sial banget sih.." Rengek Karin entah pada siapa.
Perutnya yang telah terisi lambat laun membuat kedua matanya terasa berat. Gadis itu mulai mengantuk dan sedikit demi sedikit memejamkan mata.
Dalam posisi terlentang menghadap lurus ke arah langit-langit kamar, Karin perlahan terlelap dibuai mimpi. Menutup hari yang ia labeli sebagai hari paling sial versinya.
...***...
Esok harinya, setelah menelan dua lembar roti tawar beroleskan selai hazelnut serta menenggak segelas susu UHT plain, Karin siap berangkat ke sekolah, dan memulai hari yang baru. Sambil berharap semua akan baik-baik saja di Kamis mendung ini.
Ia berangkat seorang diri menggunakan angkutan umum yang selalu setia memberinya tumpangan sampai di depan gerbang sekolah. Tadinya, ayah ingin mengantar putri kesayangannya itu, sebab hari ini ia juga sudah mulai masuk kerja. Namun Karin menolak.
Dan demi menghargai keinginan putrinya, ayah mengalah dan membiarkan Karin berangkat sendiri.
Sesampainya di SMU tempatnya menimba ilmu, Karin memasang mata baik-baik sambil sesekali celingukan mencari sesuatu. Ia bukan sedang mencari Adelia, apalagi Tari. Hanya satu wajah yang ada dalam bayangannya sekarang. Dan tentu saja, itu adalah Darren.
Tumben sekali, pikirnya. Biasanya cowok itu selalu sudah berada di sekolah pada jam ini. Apa dia membolos karena terlalu kecewa padanya? Dan tak ingin lagi bertemu dengannya?
Karin tak mengerti. Padahal jika dipikir-pikir, Darren lah yang bersalah. Ia telah berbuat kasar kemarin. Tapi sekarang justru sebaliknya. Darren terkesan begitu gengsi untuk meminta maaf, bahkan tak memunculkan diri di sekolah.
Karin akhirnya menyerah, ia benar-benar tak menemukan Darren hari ini. Ketika masuk jam istirahat, keberadaan sang kekasih tak juga nampak di kantin atau dimana pun. Bahkan hingga jam pelajaran sekolah berakhir, semua harapannya terasa sia-sia.
"Rin.." Panggil Adelia sambil menepuk bahu kawannya. Mereka bertiga tengah berjalan beriringan menuju gerbang sekolah.
"Hhm?," Sahut Karin.
"Kamu ada masalah apa? Hari ini kayaknya murung terus." Tanya Adelia yang diam-diam mengamati gerak gerik Karin.
"Iya, di kelas murung, lagi makan juga murung. Padahal biasanya kalau lagi makan kamu keliatan bahagia banget." Tambah Tari.
"Nggak kenapa-kenapa kok. Aku baik-baik aja. Cuma lagi hemat energi aja." Karin menjawab tanpa memandang wajah kedua sahabatnya.
"Darren ya?." Tebakan Adelia sungguh tepat sasaran. Karin memikirkan dua kemungkinan, yang pertama adalah Adelia diam-diam memiliki kelebihan membaca pikiran orang lain. Dan yang kedua, masalah nya sangat mudah di tebak.
Meskipun jika ditelaah lagi, terdengar lebih masuk akal kemungkinan yang kedua.
"Dia juga kayaknya nggak masuk ya? Seharian ini aku nggak ada liat di sekolah." Ucap Tari. Namun Karin enggan merespon.
"Dia udah minta maaf sama kamu Rin? Soal kejadian kemarin siang?," Tanya Adelia.
Gadis itu hanya menjawab dengan gelengan kepalanya, seolah kehilangan kosa kata.
"Sabar ya Rin, kadang hubungan asmara emang suka begitu. Ya.. Aku belum pernah pacaran sih, tapi suka dengar aja dari beberapa orang yang pernah ngalamin." Adelia berusaha menghibur Karin meski ia tahu, hal itu tak membantu.
"Kamu mau langsung pulang Rin? Gimana kalau kita belajar bareng? Minggu depan udah ujian kenaikan kelas lho." Usul Tari.
"Aku mau ke GOR. Latihan buat turnamen Agustusan nanti. Paling besok atau lusa aja ya kalau mau belajar bareng." Jawab Karin.
"Oke kalau gitu. Kita duluan ya, udah ada angkot tuh.." Tunjuk Adelia.
"Iya, lagipula kan beda arah.." Sahut Karin.
"Hati-hati ya Rin.."
"Bye Karin.."
"Bye.." Jawab gadis itu sebelum menyebrang jalan untuk menunggu angkot menuju gelanggang olahraga.
Karin tergabung dalam tim basket putri mewakili sekolah nya untuk memperebutkan gelar juara di turnamen basket antar SMA yang akan di selenggarakan pada hari kemerdekaan Indonesia nanti.
Ia bersama lima kawan satu tim inti serta beberapa pemain cadangan yang lain sudah mulai berlatih sejak jauh-jauh hari, mempersiapkan fisik dan mental sebaik mungkin sebab mereka akan menghadapi lawan yang lumayan berat.
Meski suasana hatinya kurang baik hari ini, Karin tetap profesional. Ia berlatih dengan fokus tanpa sedikitpun hilang konsentrasi. Hingga tiba waktu istirahat, saat ia dan beberapa kawannya tengah duduk di pinggir lapangan dengan sebotol air mineral dalam genggaman, seseorang datang ke arahnya sambil membawa sesuatu di tangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
holaa readers setia Rose.. maaf krn saya mngkin sdh mengecewakan krn menghilang berbulan-bulan 🙏😣
terimakasih bagi yg masih bertahan menunggu kelanjutan cerita receh ini. Big hug 🤗🤗