Eternal Ice

Eternal Ice
Chap.9 "Secret Mission"




"Astaga...Apa Lyberinth memang seramai ini?" Alice dan Eric menatap takjub keramaian kota Lyberinth saat mereka menginjakkan kaki di pusat kota. Banyak orang-orang dan kereta kuda yang berlalu lalang, sebagian besar diantara mereka adalah orang-orang pendatang yang sedang beristirahat dari perjalanan, orang-orang yang hanya sekedar melintasi kota untuk sampai di tujuan, dan orang-orang yang datang untuk berbisnis.


Kota Lyberinth terkenal sebagai kota lintas dunia sejak dahulu, lokasinya yang berada di pertengahan dunia membuat Lyberinth menjadi tempat yang strategis sebagai persimpangan jalur antar negara.


"Alice, sebaiknya kita mencari penginapan terlebih dahulu. Kantung mata mu yang sehitam awan badai membuat wajahmu semakin jelek." Kata Eric, sementara fokus pandangannya tertuju pada pedang berhiaskan permata berkilau yang sengaja dipajang di depan toko senjata untuk menarik perhatian.


"Ck! Apa kau tahu bahwa kata 'jelek' itu benar-benar berdampak bagi perasaan seorang perempuan?!" Alice setengah berteriak.


Kebisingan kota menghiasi setiap langkah demi langkah mereka menyusuri jalan kota. Eric tetap memfokuskan pandangannya pada barang-barang dagangan yang terlihat menarik baginya, sementara Alice menatap satu persatu bangunan yang berjejer untuk mencari penginapan yang tepat.


Lima menit mereka mencari, pada akhirnya Alice menemukan penginapan yang berlokasi tepat di sebelah kanan air mancur pusat kota.


"Dua kamar kelas sedang dengan kamar mandi selama tiga hari." Ucap Alice kepada wanita yang menjaga pusat pelayanan saat mereka sudah masuk dan meletakkan sekantung koin perak diatas meja pelayanan.


Wanita itu mengambil dua kunci dan menyodorkan nya kepada Alice. "Pelayan akan mengantarkan anda, Nona." Ucap wanita berambut merah batu bata tersebut.


"Pergilah ke kamar telebih dahulu, Alice. Aku ingin berkeliling di sekitar sini." Eric setengah berbisik kepada Alice.


"Baiklah." Balas Alice, singkat. Lalu beberapa saat kemudian menaiki tangga bersama dua orang pelayan penginapan.


"Selamat siang. Lama tidak bertemu, apa yang sedang kau lakukan di sini, Eden?" Suara wanita tadi yang tiba-tiba mengatakan sesuatu mengejutkan membuat mata Eric membola, kemudian memicing tanda serius.


"Rachelle, lama tidak bertemu juga. Setelah kau meninggalkan markas selama lebih dari dua tahun, ternyata kau sekarang hanya berdiri di belakang meja dan melayani orang-orang, huh?" Eric menyilangkan kedua tangan di dada, kali ini ia merendahkan suaranya.


"Aku berdiri disini tidak untuk kabur dari masa lalu ku, dua tahun lalu markas pusat memberikan tugas padaku menggantikan Rocellia yang terbunuh oleh Alpha Minor. Kau sendiri sedang apa berkeliaran di Lyberinth bersama seorang gadis?" Wanita yang bernama Rachelle tersebut membalas Eric.


"Itu sama sekali bukan urusanmu. Satu croissant dan secangkir teh." Eric berkata singkat sebelum mengalihkan pembicaraan dengan memesan makanan, tidak lama kemudian ia meletakkan delapan keping perunggu di hadapan Rachelle.


"Itu jelas bukan urusan ku. Tapi dirimu yang meninggalkan tugas sebagai prajurit bayaran Freesia adalah salah satu urusanku sebagai senior." Rachelle mencatat pesanan Eric di sebuah kertas kecil, ia segera menyelesaikan kalimatnya sebelum menyodorkan kertas pesanan pada pelayan dapur.


"Kapten bahkan sudah memberi izin kepadaku." Ucap Eric. "Rachelle, orang yang duduk di ujung sebelah kiri restoran penginapan ini..." Sambungnya, melirik ke sebelah kiri.


"Insting mu memang tajam, Eden. Duduklah di sana, orang itu akan menyampaikan misi untukmu kali ini." Rachelle mengambil tiga keping perunggu dan memberikannya kepada Eric.


"Apa?"


"Untukmu, kuberi harga hanya lima keping."


Eric mengangguk, berbalik dan berjalan menuju meja di sebelah ujung kiri restoran penginapan ini.


Ia menatap ketiga koin diatas telapak tangannya. 'Ukiran sandi?' Gumamnya dalam hati saat menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda pada permukaan koin-koin yang ia dapatkan dari Rachelle.


'Meja itu ditempati oleh pimpinan bayangan Lyberinth.'


Begitulah arti kode sandi yang diukir pada permukaan koin perunggu tersebut. Eric menyeringai paham dan memasukkan koin itu ke dalam saku pakaiannya.


"Lama tidak bertemu, nak. Ternyata kau sudah sebesar ini. Terakhir kali aku bertemu denganmu, kau bahkan masih bermain-main dengan pedang kayu berukuran kecil." Ujar seorang pria yang duduk di meja tujuan Eric. Rambut hitam pria itu mulai diselingi warna putih dengan mata merah-coklat yang terkesan palsu.


"Jangan berbicara seolah-olah kau adalah kakek ku, Griffin. Aku tahu kau tidak setua penampilan mu ini, lalu apa-apaan warna mata mu itu? Apa Rachelle yang merekomendasikan gaya mu kali ini? Astaga aneh sekali penampilan kau itu." Jawab Eric yang sedang menggeser kursi dan duduk berseberangan dengan pria yang bernama Griffin tersebut.


"Hanya penyamaran, Eden, hanya sebatas untuk penyamaran. Mulut frontal mu itu tak pernah berubah sedari dahulu, atau mungkin kau sengaja mengembangkannya?" Griffin meneguk sisa sisa cairan pada gelasnya setelah menyelesaikan perkataannya.


"Gaya bicara frontal diriku itu sepertinya merupakan sebuah naluri. Lagipula aku hanya berbicara jujur."


Griffin menatap malas Eric yang baru saja berbicara dengan nada sombong. Dirinya tak pernah menyangka jika bocah menggemaskan yang ia temui sepuluh tahun lalu akan berubah menjadi seorang narsistik yang menyebalkan.


"Lupakan itu. Kembali pada misi, aku membawa misi dari markas pusat yang ditujukan kepada prajurit bayangan berbakat seperti mu, Eden." Griffin merubah suasana diantara mereka berdua menjadi serius.


"Katakan saja." Eric.


"Salah satu mata-mata markas yang bertugas di pusat kota mendapati seseorang yang cukup mencurigakan berkeliaran di sekitar perpustakaan Lyberinth. Menurut penyelidikan, orang itu merupakan anggota organisasi rahasia Trace yang mulai bergerak di kota ini selama satu tahun akhir. Tugasmu adalah merebut paksa barang yang dibawa oleh orang itu, dan bunuh dia secepatnya. Jika kau membiarkannya tetap hidup, itu sama saja dengan menyulut pertikaian antar organisasi Bayangan kita dengan Trace." Griffin menjelaskan secara panjang lebar kepada Eric.


"Ya, tugasku disini hanya menunggu salah satu prajurit dan menyampaikan misi. Bergerak cepatlah, Eden. Estimasi barang itu digunakan adalah hari ini, waktu mu hanya sampai matahari tenggelam di ufuk barat." Griffin beranjak pergi, ia mengangkat topi yang dipakainya lalu mengembalikannya lagi ke posisi semula.


"................ " Eric menatap datar punggung Griffin yang bergerak menjauh.


"Pesanan anda, Tuan." Seorang pelayan wanita yang membawakan pesanan Eric membuatnya tersentak.


"Ya." Eric


'Bahkan disaat-saat seperti kali ini pun, aku harus tetap menjalankan misi?' Batinnya.


...----------------...


'Orang itu memiliki kemampuan menyamar yang payah sekali, bahkan diantara ratusan pengunjung di perpustakaan ini, ia benar-benar terlihat mencurigakan.' Eric bergumam dalam benaknya sembari berpura-pura membaca sebuah buku tebal di Perpustakaan Lyberinth. Samar-samar matanya mengamati seorang pria berjanggut tipis yang sedang mondar-mandir membawa tas di dekat rak buku bagian atas yang menjulang tinggi hingga menyentuh langit langit ruangan ini.


'Rachelle...... Apa dia sudah gila? Bisa-bisanya ia memasukkan segulung kertas kecil sketsa musuh ke dalam croissant yang kupesan. Tapi itu membantuku untuk menemukan target.' Ia membolak-balikkan lembaran buku tanpa berniat membacanya.


Bel pada menara jam kota telah berbunyi, pertanda waktu tengah hari. 'Sudah tengah hari lagi? Waktuku kurang dari enam jam lagi.' Eric menatap tajam pria yang mencurigakan tersebut.


Sepuluh menit berlalu, dan ia mulai bosan melihat target misinya hanya berjalan kesana-kemari seperti dilanda kecemasan. 'Tunggu, ia berbicara dengan siapa? Apa wanita itu adalah sekutunya?' Eric bereaksi cepat saat mendapati pria itu tengah berbincang bersama wanita yang berpakaian seperti bangsawan.


"Aku sudah menghubungi ketua, dan bangunan itu harus diledakkan tepat saat matahari terbenam."


"Aku mengerti. Kalau begitu aku akan pergi ke tempat tujuan dan mempersiapkan segalanya."


Eric sempat terkejut saat menajamkan pendengaran nya pada pembicaraan kedua targetnya. Ia menutup bukunya, bangkit, dan menuju rak buku bagian atas. Langkahnya berkesan tergesa-gesa, hingga menarik perhatian sejumlah orang, tidak butuh lama baginya untuk sadar, Eric memperlambat langkahnya.


'Hampir saja, aku harus lebih berhati-hati.' Eric menyibakkan rambutnya ke sisi kanan.


Pria mencurigakan itu segera berlari menuju pintu belakang saat menyadari Eric sedang memperhatikannya seksama.


'Cih, aku harus mengikutinya.' Eric berjalan cepat, menerobos kerumunan tanpa mengalihkan pandangannya.


......................


Pria tersebut menjatuhkan tas yang dibawanya saat sampai di bagian lorong luar kiri, dan mencari sesuatu di saku pakaiannya, mencari kertas mantra untuk berpindah tempat.


"Permisi, tuan." Suara laki-laki yang tiba-tiba terdengar di belakangnya membuat keringat dingin bercucuran pada pelipis nya.


"Apakah anda adalah Xav, salah satu anggota organisasi Trace yang ditugaskan untuk meledakkan Balai Kota tepat saat matahari terbenam?" Eric berkata dengan intonasi merendahkan, ia senang melihat wajah panik targetnya.


"A-apa?" Pria yang bernama Xav tersebut melangkah mundur perlahan-lahan, susul menyusul dengan Eric yang maju mendekatinya selangkah demi langkah.


"Jika begitu...." Eric mengeluarkan pedangnya, membuat rasa takut menyeruak seketika dalam diri Xav.


"Nyawamu akan kuhabisi sekarang!"


Sang pemegang pedang melesat mendekati Xav, dan si target pun ikut melangkah menjauh.


Tindakan yang salah, Xav bukanlah pelari yang hebat, ia kalah dalam hal ini.


Dan.....


JLEB


Pedang Eric telah menancap pada dada Xav, menusuk hingga ujung pedang menembus punggung. Darah mulai bercucuran, mengotori tanah yang dipijak nya, mata sipitnya membola bereaksi akan sakit luar biasa yang dirasakannya.


"K-kau! U-uhuk!" Xav menggeram kemudian memuntahkan cairan merah dari dalam mulutnya.


"Terlalu mudah bagiku untuk menghabisi nyawa orang sepertimu." Eric berbisik lirih pada telinga Xav yang sekarat.


Eric menarik pedangnya dari dada Xav, membiarkan tubuh yang sedang meregang nyawa tersebut jatuh tergeletak di tanah. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku pakaiannya dan membersihkan noda darah pada pedang miliknya, kemudian memasukkannya kembali ke dalam sarung pedang.


"Sepertinya kau memiliki barang yang menarik disini......" Eric membuka tas yang semula dibawa Xav. Tas itu berisi beberapa kantung bubuk peledak dan kertas mantra api yang dapat digunakan jarak jauh.


Ia melirik Xav yang telah menutup mata dengan ekor matanya. "Apa lebih baik jika aku menguburkan barang ini dengannya?"


...----------------...


Di sisi lain


*Selamat siang pamanku Griffin dengan mata palsunya! Aku ingin melaporkan jika misi yang kau berikan sudah terlaksana dengan baik, bukankah diriku ini terlalu hebat?


Sebagai hadiah kejutan, aku membantu mu dengan meledakkan tempat tujuan misi panjangmu, Pelabuhan Sryce, kau tidak perlu berterimakasih padaku paman!


- Eric*


"Apa? Bocah kurang ajar, padahal aku ingin merampas karung karung emas di Pelabuhan itu!" Griffin meremas kertas surat yang dikirimkan oleh Eric dengan perantara burung gagak bayangan.


"Biarkan saja, Griffin. Semakin kau menasihatinya, ia akan terus melawan hingga kau jengah." Rachelle yang sedang menikmati secangkir teh disampingnya berkata. Ia sudah tahu betul bagaimana tingkah laku Eric ketika dinasihati.


"Dan juga dia memanggilku paman? Setua itu kah tampangku?" Griffin beralih pada Rachelle.


"Itu karena penampilan penyamaran mu. Sudahlah, ia memang selalu menyebalkan seperti itu, beruntung Eric tidak memanggilmu kakek." Rachelle tersenyum maklum dan kembali menyesap tehnya.


"Astaga, anak itu......" Griffin


...----------------...


"Hatchoo!!" Eric menggaruk hidungnya yang gatal. "Siapa yang sedang membicarakanku dibelakang?!"


Langit sudah berubah warna, matahari telah tenggelam di barat, ia harus segera kembali ke penginapan sebelum Alice menghujani nya dengan berbagai pertanyaan.


To be continued.....