Eternal Ice

Eternal Ice
Chap.4 "Strange Dream"




"Papa! Papa! Selamat ulang tahun, papa! Alice sudah buatkan kue untuk papa!" Seorang gadis kecil berusia 5 tahun terlihat berlari-lari ke arah pria bermata biru safir yang senada dengannya, sembari membawa piring berisi potongan kue.


Suara putri tersayang terdengar masuk ke telinganya, membuat laki-laki yang dipanggil 'papa' mengalihkan atensinya dari buku yang sedang dibaca. Ia bangkit dari kursi dan berjongkok di depan putrinya. Tangannya mengusap lembut rambut pirang keemasan milik Alice, yang sama persis dengan wanita yang dicintainya. Kedua sudut bibirnya terangkat, senyum mengembang di wajahnya. "Kamu yang membuatkannya untuk papa? Papa yakin, rasanya pasti enak."


Pujian yang diucapkannya membuat Alice senang, ia terkekeh saat memasukkan buah bluberi yang sengaja ia letakkan di atas kue sebagai hiasan, ke dalam mulut sang ayah menggunakan tangan mungilnya. Tentu, lelaki berambut putih yang sedang berjongkok di hadapannya tersenyum hangat ke arahnya.


Alice terkejut dan merasa khawatir melihat ayahnya memalingkan wajah dan menutup mulut saat ia menyuapkan potongan coklat berikutnya.


"Pa-papa, apa coklat buatan Alice tidak enak? Padahal Alice sudah membuatkannya sesuai resep mama." Sekarang gadis kecil itu merasa bersalah, pandangannya tertunduk, kedua tangannya meremas kuat baju yang dipakainya. Sebentar lagi ia akan menangis, bisa dipastikan jika ayah dari anak ini akan mendapatkan sejuta omelan dari istrinya.


"Bu-bukan seperti itu sayang, coklat buatanmu ini setara dengan yang dibuat mama." Ayahnya menenangkan sang putri.


"Ayo kita rayakan bersama mama." Ia mengangkat tubuh anaknya dan mendekapnya, piring kecil yang dibawa Alice tadi sekarang dipegang olehnya.


Langkah demi langkah terdengar menuruni tangga menara yang jumlahnya begitu banyak. Mereka berdua berniat merayakan ulang tahun bermata hijau emerald cantik kesayangan mereka.


...----------------...


Bianca sedang memetik bunga bluebell di taman depan menara, ia ingin membuat buket dari bunga tersebut untuk hari ini.


"Mama!!"


"Bianca."


Suara dua orang yang sangat dikenali nya mengalun halus di telinganya, seperti bunyi kicauan burung di pagi hari yang selalu membuat nyaman.


"Mama, mama! Mama ingat hari ini hari apa?" Alice bertanya dengan semangat, matanya berbinar seolah-olah menembakkan ratusan bintang ke arah ibunya. "Tentu saja sayang, bagaimana mungkin mama lupa dengan ulang tahun papa?" Bianca mengacak-acak rambut Alice gemas.


"Bianca, lihatlah putri kita ini, ia sudah berusaha membuatkan kue ulang tahun untukku. Alice tahu papa umur berapa?" Pria yang sedang menggendong Alice berbicara kepada Bianca.


"Alice tahu! Papa umur delapan!!" Alice menunjuk lilin berbentuk lambang tak terhingga yang ditancapkan diatas kue. Ia pernah melihatnya di buku jika lambang itu menunjukkan sesuatu yang tidak akan berakhir, tapi Alice yang polos mengira bahwa itu adalah angka delapan.


"Hahahaha"


......................


Alice menggeliat dalam tidurnya, tak lama kemudian ia membuka matanya. Sama sekali tidak percaya bahwa dirinya bisa tidur nyenyak di atas permukaan yang dingin. Setelah selesai di tahap mengumpulkan nyawa, manik safirnya menatap sekitar. Mencari entitas sahabatnya yang sekarang telah menghilang. Seharusnya Eric sedang tidur dengan posisi aneh menghadap ke pintu luar gua.


"Sudah bangun, wahai putri tidur? Kukira kau akan tidur selamanya sebelum pangeran tampan menyelamatkanmu." Suara bariton yang baru muncul begitu menggali kedalam telinganya. Siapa lagi jika bukan tuan prajurit yang bisa kita katakan sebagai manusia paling percaya diri yang dilihatnya.


"Putri tidur katamu, huh? Jadi kejadian saat kau tidur sepanjang hari itu apa? Kau sedang beralih pekerjaan menjadi pemeran pangeran tidur?" Alice menyindir balik. "Kau membunuh seekor rusa? Bukankah itu sudah dilarang oleh pihak istana?" Pertanyaan seketika terlontar dari mulut Alice setelah melihat rusa yang sudah mati dibawa oleh Eric.


"Aku tidak pernah peduli dengan aturan. Lagipula, kau mau mati kelaparan disini?" Eric berkata tanpa menoleh, tangannya sibuk menyalakan api menggunakan sihir.


Alice mendecih pelan, kemudian mengeluarkan buku penyihir matahari dari tasnya. Sosok pria berambut seputih salju dan mata biru safir yang dipanggil 'papa' di mimpinya sangat mengundang rasa penasarannya.


'Aku yakin buku ini menampung segala pengetahuan tentang sihir' Batin Alice, tangannya membuka satu persatu lembaran buku.


Mata biru nya membola, tangannya bergetar saat membaca lembaran informasi tentang penyihir es. Tiba-tiba Alice teringat akan bros permata safir milik ayahnya yang diberikan paman Theo


'Bros ini mungkin tak memiliki manfaat di perjalananmu. Tapi insting sihir ku mengatakan aku harus memberikan ini padamu'


Alice merogoh tasnya, bros cantik bertahtakan batu permata biru safir itu bercahaya dan mengeluarkan mana.


"Hei, benda apa itu yang bercahaya? Jangan-jangan kau sudah menemukan artefak sihir dan tidak memberitahuku?" Bola mata emas Eric menatap Alice, penasaran dengan sesuatu yang bercahaya tersebut.


"Bukan apa-apa, aku hanya sedang bermain dengan sihir." Alice berbohong, bros itu sudah pasti merupakan artefak sihir yang sangat langka. Harga lelang nya saja sudah pasti bisa mengubah kehidupan menjadi layaknya seorang raja.


Penyihir yang hidup abadi.


Dengan jantung membeku bagai es.


Seorang legenda yang hidup menyendiri seperti harimau putih yang memisahkan diri dari kawanannya.


Rambutnya yang seputih salju dan matanya yang lebih biru daripada lautan.


Dialah sang penyihir es abadi.


Alice tertegun sejenak ketika membacanya, deskripsi yang sama seperti yang dilihat di mimpinya. Hm? Apakah mungkin?


"Buku apa ini? Huruf kuno? Aku baru mengetahui jika hobi barumu ini membaca buku kuno yang menjelaskan tentang hal konyol." Eric mengambil paksa buku penyihir matahari dan membacanya sedikit.


"Kembalikan!" Alice menarik tangan Eric, namun Eric sudah terlebih dahulu mengangkat buku itu tinggi-tinggi.


"Tidak akan, sebelum kau memberi tahu ku apa hubungan perjalanan kita dengan buku ini." Eric berkata, setiap kata yang diucapkannya mengandung unsur 'ingin tahu tapi tidak ingin mengakui'.


Alice menyambar buku dari tangan Eric ketika Eric lengah, ia menghela nafas sejenak sambil berbicara dalam hati.


'Rasanya aku agak menyesal telah mengajaknya' batinnya.


"Buku ini sebuah barang yang kuno. Jelas sekali karena ditulis berdasarkan tata bahasa kuno asli di jaman dahulu, ditambah sebagian halamannya sudah menguning. Kemungkinan besar sebuah mantra sihir ditanamkan di buku ini untuk menjaga keawetan nya, mengingat bahasa kuno asli telah punah sejak ratusan tahun yang lalu. Sekarang jelaskan padaku darimana kau mendapatkan buku ini." Eric berbicara panjang lebar. Mau tak mau, pada akhirnya Alice menjelaskan semuanya.


"Kakek tua pemilik toko barang antik pasar? Setahuku toko barang antik sihir yang mendapatkan izin langsung dari istana untuk beroperasi hanyalah yang dimiliki oleh bibi Lydia." Ucap Eric yang sekarang sedang asik memakan daging rusa.


"Toko itu ilegal, setiap toko barang antik pasti memiliki surat izin dari istana yang tertempel di dinding dalam toko. Toko milik kakek tua itu sama sekali tak memilikinya." Alice memasukkan kembali buku ke dalam tas nya dan beranjak ikut memakan daging rusa yang sudah dimasak oleh Eric menggunakan api sihir.


"Bagaimana bisa kau mempercayai kakek penyihir gelap seperti nya?" Eric kembali bertanya. Rasa penasarannya ini berkali-kali lipat daripada keingintahuannya akan ibu kandungnya.


"Entahlah, kurasa buku ini memang menyatakan kebenaran.”


...----------------...


Trivia


Makna bunga bluebell : kerendahan hati, keteguhan, rasa syukur dan cinta abadi