Eternal Ice

Eternal Ice
Chap.5 "Inferno Princess"




Sudah tiga hari berlalu sejak Eric dan Alice memulai petualangannya, dan saat ini mereka baru saja sampai di kaki Gunung Api Sihir. Terlihat seperti gunung berapi yang aktif, namun selama ratusan tahun gunung itu menjulang di tengah kawasan gersang Helos yang berada di penghujung selatan hutan pegunungan es Saicensia, ledakan erupsi sama sekali belum pernah terjadi.


Perbedaannya dengan gunung berapi pada umumnya sangatlah mencolok. Dari mulai suhu lingkungan dan energi mana yang bersarang disana, magma yang ada di sekitar tampak bergejolak hebat seolah-olah dapat membuat apapun yang diterpanya meleleh seketika.


"Aiden, dia memasang sistem pertahanan sihir tingkat tinggi tanpa penjaga di sini. Aku merasa kesal jika membayangkan wajah mengesalkan nya itu memandang ejek kepada kita yang kesulitan." Eric menggenggam erat batu berapi di tangan kirinya hingga berubah menjadi abu. Ia mengangkat tangannya dan merasakan tekstur bubuk abu dari batu berapi menggunakan jari-jarinya.


"Sekilas terlihat seperti bubuk peledak tapi dengan sedikit campuran pasir dan ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข. Batu macam apa ini?" Alice ikut meremas batu berapi di tangannya sampai menjadi abu.


Eric beralih menatap sebuah menara dan bangunan besar menyerupai istana yang terdapat di puncak. Awan-awan yang semula menutupi bulan merah perlahan-lahan memudar dan hilang, suara kicauan burung gagak terdengar di segala arah.


'Buruk, ini pertanda buruk. Bulan merah seharusnya tidak muncul saat ini. Apa memang firasatku benar?


Jika ini adalahโ€ฆ.


tanda kehadiran seorang penyihir tingkat atas?' Pikiran Alice berputar kesana kemari, sesuatu yang tidak diinginkan pasti akan terjadi saat mereka berhadapan dengan penyihir tingkat atas yang memiliki kemampuan pengendalian sihir hebat.


Penyerapan mana dari jantung, ledakan sihir, kehilangan kesadaran bahkan kematian sekalipun dapat terjadi. ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข merupakan sumber kehidupan para penyihir. Sekaligus sebab kematian penyihir.


Di Kerajaan Saicensia, hal yang menentukan kasta seseorang bukan hanya kebangsawanan. Kekuatan sihir menjadi pilihan bagi para rakyat jelata untuk naik derajat. Dibukanya akademi sihir di setiap tahunnya, selalu mengundang perhatian rakyat sebagai panggung kompetisi yang mempertaruhkan nama baik keluarga.


Penyihir yang berhasil lulus akan mendapatkan gelar kehormatan. Gelar tersebut terbagi menjadi 3 sesuai tingkatannya. Bawah (Lorcan), tengah (Dawn), atas (Alpha). Diantara semua itu, penyihir Alpha memiliki kekuatan lebih superior daripada penyihir Dawn dan Lorcan.


Penyihir Alpha terbagi kembali menjadi Alpha major dan Alpha minor. Alpha major sendiri ialah penyihir yang memiliki pekerjaan berpenghasilan tinggi di kalangan masyarakat dan kemampuan sihir profesional, sebagian dari mereka bekerja pada istana.


Sementara Alpha minor, kepribadian mengerikan yang didasari dengan hilangnya perikemanusiaan dan terbutakan oleh kekuatan mengakar di dalam hati mereka. Banyak penyihir alpha minor yang menjadi buronan kriminal karena berbagai kasus.


Salah satunya adalah.......


Pembunuhan.


Itu yang menjadi alasan utama mengapa Alice mulai mengaktifkan sihirnya dan menatap tajam sekitar.


Woooshhhh......


Daun-daun berwarna kecoklatan berguguran dari pohon kering disertai angin kencang yang berhembus melewati mereka.


"Apa-apaan ini? Selain memasang sistem pertahanan tingkat tinggi, kakek api itu tampaknya menempatkan penyihir alpha minor di sini, huh?" Eric mendengus kesal ketika mengetahui adanya energi besar yang sedang mengawasi mereka.


"Sudahlah, lebih baik kita bergerak cepat sebelum alpha minor itu menangkap kita." Alice berjalan mendahului Eric sembari menghela nafas pelan.


_ _ _ _


Pagi datang dan Alice semakin mempertajam penglihatannya. Puncak gunung sudah terlihat. Suasana sekitar yang secara tiba-tiba menjadi tenang membuat kecurigaan Eric memuncak. Apa sebentar lagi Alpha minor akan menyapa mereka?


BLAR!!!


TRANG!!


Kilatan merah hampir membakar mereka jika saja Eric tidak segera menangkisnya menggunakan pedang. Keduanya melangkah mundur waspada, tak lupa sebilah pedang yang mereka genggam bersiap untuk menebas.


Seorang wanita berambut merah dengan mata oranye bercahaya mendarat di atas batu besar di hadapan mereka. Telinga runcing khas kaum elf berhiaskan anting emas rantai terlihat di sela-sela rambut merahnya yang tebal. Jubah penyihir berlambang burung phoenix menyala di punggungnya bisa menjelaskan seberapa kuat dirinya.


Bola emas menajam, menusuk pandangan mata oranye di hadapannya. Tatapan mengintimidasi untuk mengalihkan pemikiran lawan, sementara pikirannya sedang menyusun strategi menyerang secara cepat menggunakan mana.


"Kau pikir tatapan tajam dan lempengan besi biasa itu bisa mengintimidasiku, huh? Dasar konyol." Ucap wanita itu bersamaan dengan tangannya yang terangkat ke atas. Diatas telapak tangannya yang terbuka, ia membuat bola api peledak. Dan benda berbahaya itu akan dilemparkan ke arah mereka.


Bola api itu sungguh mengintimidasi pikiran Alice hingga tak dapat berpikir jernih. Yang ada di pikirannya hanyalah lari, dan menyelamatkan Eric dari hantaman bola api itu.


"Kalian tahu? Tidak ada kesempatan bagi mereka yang lemah untuk mendapatkan kekuatan matahari!" Bola api datang, wanita itu menyeringai puas. Alice melirik Eric yang seperti hendak menghadapi bola api itu.


'Bola api itu terlalu besar untuk ditangkis! Apa yang sebenarnya dipikirkan orang ini?!' Batin Alice berkecamuk dengan rasa cemas dan takut. Eric memasang kuda-kuda kemudian mengangkat pedangnya, rasa panas dirasakan ketika bola api berjarak dua meter dari pandangan mereka.


"Awas!!"


BLAR!!


DUARR!!


Impulsif, Eric melepaskan pedangnya dan mendorong Alice hingga keduanya tersungkur menjauh dari hantaman bola api. Tangan kanannya mendapat sedikit luka bakar sebagai ganti nyawa mereka.


"Eric!!"


_______


Di kastil Gunung Api Sihir.....


"Huh? Sudah pagi lagi?" Gumam seorang pria berambut merah dengan suara serak khas bangun tidur. Ia terduduk di tempat tidurnya, matanya masih menutup menolak untuk bangun. Suara ledakan beberapa menit lalu membangunkan dirinya.


"Aine? Sedang apa dia di pagi pagi begini? Ah, kenapa aku mempedulikannya? Dia bisa menyelesaikannya sendiri." Ia menarik selimutnya lalu kembali tidur. Kurang dari 30 detik, matanya membuka lagi. Teringat ancaman sang ibunda mengenai akibat jika dirinya bangun saat menjelang siang.


Sangat terpaksa, ia pun segera turun menuju lantai satu kastil. Membasuh mukanya terlebih dahulu sebelum mencari tahu apa yang sedang dilakukan adik kembarnya. Air membasahi wajah tampannya, mengingatkannya pada festival musim panas negeri elf dua tahun lalu dimana ia bertemu gadis pujaan hatinya. Tangan kekarnya mengusap rambut merah miliknya ke arah kanan, berlagak layaknya orang tertampan di dunia yang mengagumi setiap keindahan pada wajahnya. Paras gadis imut polos bermata hijau daun, ia bayangkan memakai gaun pengantin berhiaskan permata sedang bersanding dengannya di altar.


"Padahal aku sudah sempurna, kenapa Marie masih saja tidak menyadari perasaanku?" Ucapnya, ekspresi wajahnya berubah drastis menjadi murung.


"Perasaan menyesakkan ini membuatku lapar. Aine mungkin tahu tentang menu makanan hari ini." Sadar akan yang dilakukannya tidak memiliki manfaat, ia beranjak pergi untuk menemui adik kembarnya sekaligus menyapa 'tamu' yang membuatnya terbangun.


_______


Eric meringis, luka bakar itu memang terlihat sedikit dari luar. Namun, panas yang terasa benar-benar menusuk ke dalam sampai tubuhnya seperti sedang dibakar. Kekuatan regenerasi pun tak berguna, energi sihir dalam tubuh dan rasa panas dari luka beradu di pembuluh darahnya.


"Aine, sedang apa kau?" Sapa laki-laki tadi kepada adik kembarnya sembari menguap.


"Aidric? Tidak biasanya kau terbangun di pagi hari, aku hanya memberi seleksi kepada 'tamu' kita." Jawab wanita yang bernama Aine, wanita dengan rambut merah dan telinga elf yang melemparkan bola api kepada mereka.


"Hm? Kurasa mereka tak berniat mengambil kekuatan matahari api." Aidric melirik ke arah Eric & Alice dengan tatapan menyelidik.


"K-kami memang tidak berniat untuk mencuri kekuatan matahari api, tapi untuk mencari obat penyakit ibuku." Alice menjelaskan agar kesalahpahaman ini cepat berakhir.


"Hah?"


To Be Continued.......