
"Hmm." Alice bergumam sembari bertopang dagu, matanya memperhatikan butiran salju yang turun dari langit. Ia masih bingung dan merasa dilema, antara meninggalkan kampung halaman dan ibunya demi mencari bunga emas atau tetap diam dan mencari cara lain. Alice masih tak rela, meninggalkan tempat dimana ia lahir dan ibu yang terbaring lemah. Bagaimana jika ibunya terbangun ketika dirinya sedang pergi berpetualang? M𝘢𝘯𝘢 nya butuh pemulihan sehingga tak bisa bergerak untuk sementara waktu. Bergerak berlebihan sebentar saja pasti bisa pingsan. Tidak, jangan dibayangkan, itu mimpi buruk. Ibunya bisa saja tak sadarkan diri bahkan mati.
Buku yang ia dapatkan dari kakek penyihir gelap memang sangat berguna. Namun Alice lebih tertarik dengan bagian Penyihir Es Abadi. Seperti seseorang yang memiliki hubungan dengannya.
"Apa aku minta tolong saja kepada Bibi Eira untuk menjaga ibu? Tidak tidak. Bisa bisa si wanita tua gila uang itu menuntut bayaran yang besar. Astaga." Akhir-akhir ini, Alice semakin sering bergumam. Berbagai masalah terus berdatangan di setiap harinya.
Rasanya saat ini seperti serba salah. Jika ia pergi, ibunya bisa saja terbangun dan tak bisa melakukan apa apa, Alice mempunyai firasat buruk mengenai hal itu. Dan jika ia diam saja, ibunya juga bisa saja tidak pernah bangun dan kondisinya terus memburuk.
"Andai saja ayah ada disini." Alice kembali mengingat ayahnya. Tapi ia bahkan tidak tahu sang ayah masih hidup atau tidak.
"Haaaahhhh." Alice menghela nafas lelah. Begitu banyak masalah di hidupnya yang belum terselesaikan. Ditambah ocehan tak berguna dari bibinya semakin memperkeruh suasana hatinya. Bibi Eira, kakak tiri ibunya itu sungguh menyebalkan. Hanya karena ia adalah anak sulung dan ibunya adalah putri dari seorang Baron, Eira menjadi semena mena terhadap adik tirinya. Bianca, ibu yang sangat disayangi oleh Alice. "Lebih baik aku pergi menemui Georgia." Alice pun beranjak pergi dari perpustakaan kecil di rumahnya itu.
Hari ini salju tidak turun. Orang-orang mulai melanjutkan aktivitas mereka sehari-hari. Jalanan terlihat begitu ramai. Pedagang yang menawarkan ataupun bertransaksi dengan pembeli, nyanyian dari para penyanyi jalanan, hingga atraksi sihir yang dilakukan oleh penyihir penghibur sudah menjadi pemandangan yang pasti akan dilihat jika melewati pasar. Langkahnya berhenti di depan bangunan perpustakaan yang cukup besar.
'PERPUSTAKAAN SIHIR', Nama bangunan itu terpampang di papan yang menempel di atas jendela.
Kring!
Suara dari bel pintu perpustakaan terdengar ketika Alice membuka pintu. Orang-orang sedang sibuk dengan aktivitas mereka yang sempat terhenti karena hujan salju kemarin, sehingga perpustakaan pun sepi. Alice menghampiri seorang gadis seumuran dengannya yang sedang tidur sambil menopang pipinya di pusat informasi perpustakaan.
"Georgia!" Teriak Alice sembari menggebrak meja pusat informasi.
"Astaga, Alice! Bisakah kau membangunkanku dengan santai? Kau mengagetkanku!" Balas gadis dengan rambut pirang keabu-abuan yang bernama Georgia, mata hazelnya menatap kesal ke arah Alice. "Kita ini sudah bersahabat sejak kecil, mana mungkin aku tidak tahu bagaimana kelakuan sahabat ku sendiri huh? Kau tidak akan bangun jika aku hanya memanggil nama mu dengan santai." jawab Alice, ekspresi wajahnya seperti sedang mengejek Georgia.
"Lalu untuk apa kau datang kemari? Jika kau mengajakku untuk pergi ke pameran di kota sebelah aku menolak. Ibuku itu, dia memaksaku untuk menjaga perpustakaan." ucap Georgia, rasa malas bisa dirasakan oleh Alice di setiap kata yang Georgia ucapkan. Jelas-jelas gadis ini ingin kabur dan pergi ke pameran patung es di kota sebelah. Tapi, ia sama sekali tidak bisa menang dari ibunya yang lebih menyeramkan dari nenek sihir gelap.
Alice kembali menghela nafas. "Bukan itu yang aku maksud, aku hanya butuh teman mengobrol. Aku tak bisa menjadikan bunga mawar biru di kebun rumahku sebagai teman berbicara." ujar Alice sedikit bercanda. "Ha ha ha, kau lucu. Tapi baguslah, aku memang bosan disini. Karena kemarin hujan salju dan hari ini cerah, minat membaca mereka malah menurun." kata Georgia.
Mereka berdua kemudian duduk di kursi dekat rak buku besar dimana buku buku tebal berjejer. "Jadi, apa masalahmu kali ini Alice? Apa Eric mengatakan sesuatu yang menyakitimu? Kurang ajar sekali ia, lain kali aku akan menghajarnya." Georgia terlihat bersemangat untuk mendengarkan masalah Alice. Ia bahkan menghujani Alice dengan berbagai pertanyaan. "Ck, mana mungkin dia berani kepadaku." Alice menepuk dahi nya.
"Aku akan pergi berpetualang ke luar kerajaan. Mengelilingi dunia, mencari bunga untuk pengobatan ibuku." ujar Alice, sorot matanya yang sedih mengarah ke arah jendela.
Perkataan Alice yang memang 'sangat mengejutkan' berhasil membuat Georgia menyemburkan teh yang sedang di minumnya. Uhuk! Uhuk! "Apa telingaku tak salah dengar?" tanya Georgia terbatuk batuk akibat tersedak. "Ya, Georgia. Kau tak salah dengar." jawab Alice santai, berbeda dengan sahabatnya yang sudah terkejut sampai tak bisa berkata-kata.
Georgia meletakkan cangkir teh nya, menarik nafas sejenak lalu berbicara. "Apa kau yakin bisa mengarungi dunia di luar sana yang kejam? Lalu bunga apa yang akan kau cari? Jika soal bunga penyembuh ibuku juga menanam banyak di kebun." Georgia kembali bertanya dengan khawatir. Mungkin ia bisa ikut dengan Alice. Tapi, sihirnya tidak terlalu kuat. Ia takut merepotkan sahabatnya.
"Bunga Emas adalah bunga yang ingin ku cari, Georgia. Di buku sejarah, tertulis bahwa bunga emas memiliki sihir penyembuh yang luar biasa." kata Alice. "Aku bisa ikut dengan mu, Lalu apa lagi yang kau permasalahkan?" ujar Georgia.
"Tidak, tidak. Ku yakin petualangan ini bukan sesuatu yang tak berbahaya. Aku hanya khawatir dengan ibuku. Kalau aku pergi, bagaimana jika ibu tersadar dan tak bisa melakukan apapun? Itu mengerikan, kau tahu?" Alice bercerita dengan penuh semangat. "Hei, bagaimana dengan bibi mu yang katanya mempunyai banyak uang? Bukankah ia mempunyai banyak tanah yang diperjualbelikan? Kau bisa meminta uang lalu membayar seseorang untuk menjaga ibumu itu kan?" Saran yang diberikan Georgia kali ini membuat Alice sedikit kesal.
"Untuk apa aku berharap kepada wanita itu? Bunga dari pinjamannya begitu besar. Ia selalu menuntut untuk membayarkan hutang pinjaman dalam waktu singkat atau seluruh hartanya akan dirampas, jalan lain dalam melunasi hutang adalah memberikannya nyawa diri kita sendiri. Terkadang aku berdoa supaya dia mendapatkan karma." Alice bercerita mengenai bibinya itu yang sangatlah apatis.
Sahabatnya yang mendengar hal itu akhirnya memasang wajah menyerah. Tapi tiba-tiba saja wajahnya menjadi cerah, seperti sebuah ide cemerlang datang ke pikirannya. "Alice, bagaimana jika begini," Georgia mendekati Alice lalu membisikkan sesuatu ke telinganya. "Maksudmu, kau dan Paman Theo? Ah, baiklah!" Wajah Alice seketika menjadi ceria kembali setelah mendengar ide temannya itu.
"Kenapa kau tidak berpikir sedari tadi? Kau ini malah mendramatisir keadaan." ucap Georgia, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Alice. "Bukannya aku mendramatisir keadaan. Aku hanya tidak enak dengan Paman Theo, kau tahu kan setiap hari dia harus berurusan dengan para bangsawan yang ingin membeli tanah." ujar Alice panjang lebar. "Jadi, orang yang akan menemanimu?" Georgia menatap Alice dengan alis yang terangkat satu.
"Ya, tentu saja Prajurit bayaran bermata emas andalan kita." jawab Alice
"Aku sudah bisa menebak keputusanmu." sahut Georgia
"Keputusanku sudah bulat."
Setelah selesai mengobrol bersama Georgia, Alice pergi menemui pamannya di salah satu tanah luas yang kosong milik keluarganya. Laki-laki yang berusia 30 tahun yang ia panggil paman itu adalah adik tiri dari ibunya sendiri. Pamannya ini jauh lebih baik daripada bibinya. Jadi setidaknya ada yang membantunya.
"Paman!" Alice berteriak memanggil Theo, pamannya dengan terengah-engah. Ia berlari sekuat tenaga agar cepat sampai disini. "Alice! Sedang apa kau disini? Dimana ibumu? Apa ibumu sudah sadar?" Sama seperti sahabatnya, Theo membanjiri Alice dengan berbagai pertanyaan. 'Sudah kuduga mereka ini cocok, sangat cocok' batin Alice, sembari mengisyaratkan kepada pamannya agar sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi mereka. "Jadi paman, aku butuh bantuan paman," Alice membisikkan rencananya, kakinya terlihat berjinjit.
"Apa kau yakin temanmu yang berambut pirang keabu-abuan itu akan ikut? Kau tidak sedang mengelabuiku untuk masuk ke perangkap mu kan?" Theo bertanya, sebenarnya hanya bercanda. "Paman tenang saja! Aku yakin, saat aku pulang nanti, upacara pernikahan kalian pasti akan dilaksanakan!" ucap Alice bersemangat, Theo seperti melihat kobaran api menyala-nyala di sorot mata biru safir milik Alice.
Selesai berunding bersama pamannya, tersisa satu orang lagi yang harus ia temui. Prajurit bayaran sebayanya yang identitasnya penuh dengan misteri. Sama misterius nya dengan ayah Alice.
Di sisi lain, ada seorang laki-laki muda dengan rambut coklat sedang duduk di kursi pinggir jalan. Punggungnya menyender di sandaran kursi, kepalanya menengadah dengan selebaran koran tampak menutupi wajahnya. Panggil dia 'Eric'.
"Eric!"
Mendengar namanya diteriakkan, Eric pun menoleh. Koran yang menutupi wajahnya jatuh, menampilkan wajahnya yang sangat tampan dan sepasang manik berwarna emas yang sangat menawan. "Cih, dasar. Hei ayolah, aku hanya ingin bersantai sebentar saja. Kenapa semesta seolah-olah tidak merestui ku untuk beristirahat?" keluh Eric mengacak-acak rambutnya kesal.
Eric ini memang misterius, sangat misterius. Namanya yang memiliki arti 'Penguasa Abadi' adalah nama yang hanya boleh diberikan kepada anak laki-laki pertama raja yang akan menggantikan ayahnya memimpin kerajaan. Sementara dirinya yang hanyalah anak laki-laki yang tidak jelas asal usulnya, sangat tak pantas untuk diberikan nama yang memiliki arti yang agung. Matanya yang berwarna emas juga menjadi bahan perbincangan orang-orang yang melihatnya. Sesuai perkataan penyihir gelap yang hidup selama ribuan tahun, penyihir ini sudah membantu keluarga kerajaan selama beberapa abad, itu menjadi alasan mengapa namanya dapat tercantum di buku sejarah kerajaan.
'Mereka yang menjadi permata kerajaan ialah yang bermata emas dan merupakan keturunan dari pemilik tahta.'
Akan tetapi, orang-orang hanya memperbincangkan hal itu sebentar. Tidak berlarut-larut seperti pembahasan gosip rumah tangga para bangsawan. Dikarenakan sejak awal, Eric hanyalah anak yang hidup tanpa tujuan yang pada akhirnya menjadi prajurit bayaran setelah ditemukan oleh salah satu komandan prajurit. Seseorang yang lemah dan bahkan tak bisa menghidupi dirinya sendiri, berubah menjadi seorang prajurit bayaran yang paling berbahaya di eranya.
"Diam, Eric! Lagipula ini salahmu juga! Dimana pikiran mu sampai bisa mengira bahwa kau dapat beristirahat dengan tenang di kursi pinggir jalanan yang ramai seperti ini?" Alice membalas, ia menginjak kaki Eric karena sudah terlanjur kesal.
"Arghhh, sakit! Sepatumu itu, Alice! Untuk apa kau memanggilku?" Eric menjerit kesakitan ketika sepatu Alice menginjak kakinya.
"Wahai tuan prajurit, apa kau ingin mendapatkan uang banyak dari hasil menjual artefak sihir? Kau tahu kan, acara lelang barang barang sihir. Seluruh bangsawan berdatangan dan menawarkan harga yang tidak murah. Mungkin, bisa saja kau membeli mansion ataupun hidup dengan berfoya-foya sampai muak." Alice seperti penjual lihai yang sedang menawarkan barang dagangannya.
Sementara pria muda yang duduk di hadapannya mulai bereaksi ketika mendengar kata 'uang'. Eric pun langsung berdiri lalu mengguncang guncang kan bahu Alice. Uang adalah segalanya di hidupnya.
"Kenapa kau masih bertanya? Tentu saja aku, orang tertampan di alam semesta ini menginginkan uang!" Eric setengah berteriak di depan wajah Alice. Kedua tangannya masih menggoyangkan bahu temannya itu. Bahkan ia sempat sempatnya menyombongkan ketampanannya.
"Hei, bisa bisanya disaat seperti ini kau masih sempat memamerkan dirimu? Dan apa kau pikir jika kau menggoyangkan bahu orang lain, orang itu akan senang?" Alice mendorong tubuh Eric. Terkadang teman masa kecilnya ini tidak bisa membaca situasi dan yang paling membuatnya kesal adalah tingkat kepercayaan dirinya yang setinggi langit. Ia bisa membanggakan dirinya kapan saja dan dimana saja tanpa rasa malu dan keraguan. Jujur, ibu Alice juga mengakui bahwa Eric adalah orang yang paling percaya diri dari semua orang yang pernah ia temui.
"Dimana aku dapat menemukan artefak sihir itu?" Eric kembali duduk dan bersidekap. Raut wajahnya berubah menjadi serius.
Alice mengambil nafas lalu menceritakan segalanya. Eric yang mendengarkan hanya mengangguk, tapi Alice ragu jika Eric menyimak hal yang diceritakannya.
"Baiklah, baiklah. Aku akan ikut. Kau pasti akan sangat membutuhkan ku. Ya, aku tidak tahu mengapa diriku ini sangat luar biasa". Eric beranjak dari kursinya dan melangkah pergi.
"Kau mau kemana?" teriak Alice.
"Kemana lagi? Aku akan bersiap, kita pergi esok hari. Banyak yang harus kuurus terlebih dahulu sebelum pergi. Termasuk meminta izin kepada komandan." jawab Eric sebelum langkahnya semakin menjauh.
Setelah itu, Alice tersenyum lega sembari menatap langit yang cerah. Ia sudah menemukan solusi dari masalahnya. Hatinya terasa benar-benar tenang.
"Sebaiknya aku juga harus mencari ayah selain mencari bunga emas ajaib. Ibu pasti akan senang jika aku membawa ayah kembali."
To Be Continued.....