Eternal Ice

Eternal Ice
Chap.6 "Feeling Inside"




"Ahahaha!! Jadi, kalian sampai diserang Aine hanya karena kesalahpahaman saja? Hahahaha." Aidric menyembur tawa saat berada di meja makan. Tentu, aksi menyebalkannya ini dihadiahi senggolan siku oleh Aine. Terkadang kembarannya ini bertingkah tak mengerti keadaan.


Luka Eric sudah mengalami sedikit penyembuhan dengan bantuan perban. Sebagai permintaan maaf, Aine dan Aidric mengundang mereka untuk sarapan bersama di kastil. Karena ini adalah jamuan yang 'gratis' maka Alice menerimanya dengan senang hati. Daging dan sup, kombinasi paling sempurna saat pagi hari, sungguh menggugah selera orang lapar seperti mereka berdua. Memang tak biasanya jika Eric hanya terdiam dingin ketika berbagai hidangan lezat tersaji di depan matanya. Tapi kali ini, ia hanya diam menatap dendam sembari menggenggam erat garpu.


"Aku minta maaf atas perlakuanku tadi, makanlah semua hidangan ini." Aine mempersilahkan mereka berdua untuk makan.


Alice mengambil garpu dan pisau yang berada di sebelah piring, ia menancapkan garpu pada daging lalu memotongnya perlahan menggunakan pisau. Suapan pertama, rasanya bisa dibilang cukup 'unik' untuk cita rasa daging panggang.


"Ekhem.... tidak buruk." Alice berdehem mengomentari, wajahnya dipaksakan untuk terlihat baik-baik saja.


'Astaga....lada hitamnya! Daging ini bahkan lebih pedas daripada kari! Hiks...air mataku hampir keluar!!' Alice berteriak tersiksa dalam hati. Sekarang ia menyadari bahwa tingkat kepedasan kari buatan Georgia tidak terlalu buruk untuk dikonsumsi.


"Cih." Eric mendecih tidak senang sembari memalingkan wajahnya. Kondisi garpu yang digenggamnya hampir memasuki tahap 'menyedihkan'.


'Garpu itu lama-lama akan patah! Hei, tidak bisakah kau berpura-pura bersikap baik di hadapan mereka? Apa kau tidak puas dengan luka di tanganmu? Kau mau mereka bertindak lebih jauh terhadap kita?' Alice menginjak kaki Eric dan menatapnya intens, berusaha memberi isyarat dengan tatapan agar merubah perilakunya.


Eric menghela nafas pasrah, kemudian mengambil sendok yang berada di samping piring dan mulai memakan sup. Terasa lebih asin dari sup yang biasa ia makan, tapi rasa lapar yang bergejolak di perutnya mendahului pendapat lidahnya.


"Penyembuh apa yang kalian cari di gunung ini? Jika penyembuh penyakit biasa, mungkin di luar sana pun banyak." Aine memulai pembicaraan, kecanggungan luar biasa ini membuat tidak nyaman.


Alice mengambil buku dari tas selempangnya, kemudian berkata, "Penyembuh yang kami maksud adalah bunga ini. Buku ini merupakan catatan sejarah asli dari Penyihir Matahari legendaris yang hidup lebih dari seribu tahun yang lalu, terdapat lembaran yang mengatakan bahwa bunga emas memiliki kekuatan penyembuh yang luar biasa, maka dari itu aku berpikir untuk mencarinya."


Alis Aine terangkat sebelah, lima detik kemudian ia bertatapan dengan Aidric. Setelah beberapa saat berhasil mencerna perkataan Alice, mereka kembali menatap ke depan. "Kami memang keturunan langsung dari Penyihir Api, ayah mengajarkan segalanya mengenai Penyihir Matahari hingga ke dasar-dasarnya. Tapi kami sama sekali belum pernah mendengar bunga yang kau katakan tadi." Aidric menjelaskan disertai anggukan dari Aine yang sedang menyilangkan tangan di depan dadanya.


"Ck, aneh sekali. Bunga itu memiliki energi mana positif yang tidak akan memberikan dampak buruk. Mungkin pemahaman kalian saja yang terlalu buruk sehingga tak dapat memahami yang diajarkan." Eric angkat suara, entah ia berniat untuk membela atau memperburuk situasi. Tapi jelas-jelas sekarang ia sudah menyulut api amarah lawan bicaranya.


Kilatan sengit menyambar diantara tatapan mata Eric dan Aidric, keduanya memasang sorot mata setajam elang, bersitegang mengintimidasi untuk menjatuhkan satu sama lain.


"Eric! Apa yang kau lakukan?! Kau malah membuat hubungan dengan mereka berantakan! Bisa-bisa kita mati terlebih dahulu sebelum mencapai tujuan! Cepat, minta maaf!" Alice berbisik sembari mencubit lengan Eric. Cablak frontal dan mulut pedasnya sudah menjatuhkan bom besar di sini.


Aine hanya mendengus sedikit sebelum berbicara, ejekan 'bodoh' itu tidak terlalu berpengaruh dibanding kata 'jelek'. Memang, ia lebih sedikit kepala dingin dari kembarannya.


"Sudahlah, kami benar-benar tidak mengetahui apapun mengenai yang kau cari. Tapi kami tahu cara untuk membantu..."


____________


"Kau tahu paman Aeolus? Penyihir badai yang tinggal di utara? Ya, dia adalah murid dari Penyihir Matahari yang mewarisi dan menguasai elemen sihir angin secara langsung. Ia juga termasuk kelima murid legendaris Penyihir Matahari. Mungkin ia tahu tentang bunga itu."


Eric mendadak membisu sejak pertengkaran dengan si kembar api. Mata emasnya menggelap menandakan bahwa suasana hatinya sedang buruk. Aneh, sangat aneh. Diserang sampai tangannya terluka saja sudah membuatnya sedingin ini, apa kabar dengan kejadian dua tahun lalu yang membuatnya terluka seluruh badan?


"Kau masih kesal dengan yang tadi?" Alice berkata tanpa menatap Eric. Jujur saja, ia masih kesal dengan sikap Eric yang menyulut permasalahan.


"Hm." Jawab Eric singkat.


"Salah kau sendiri juga, siapa yang menyuruhmu mendorongku menjauh secara tiba-tiba?" Alice menendang kaki temannya hingga Eric sedikit kehilangan keseimbangan.


"Apa? Kau tak senang kuselamatkan?" Balas Eric, entah apa yang terjadi, suaranya sedikit bergetar.


"Bukan seperti itu, yang kau lakukan memang heroik. Namun, mengandung seribu nilai spontanitas dan kecerobohan yang terbukti melukai dirimu sendiri." Alice memijat pelipisnya, efek kurang tidur yang diberi tahu ibunya benar-benar nyata.


"Dua detik saja aku terlambat, tubuhmu itu pasti akan terbakar." Eric mempertajam aksen menegas pada nada bicaranya.


"Dua detik itu cukup untuk membuat tabir pelindung, Eric." Tak mau kalah, Alice mempertegas setiap kata kata yang diucapkannya.


"..................... " Eric terdiam, menatap Alice sekilas lalu menatap ke depan kembali.


"Sudah lama aku bertanya-tanya mengenai ini, mengapa kau selalu peduli dan seperti akan melakukan apapun saat diriku sedang kesulitan?" Alice menatap Eric lekat. Iris biru safir miliknya beradu pandang dengan bola mata emas Eric.


"K-karena kau sahabatku." Eric memalingkan wajahnya, menatap langit.


"Georgia, Lyvia, Damian dan Lucas juga sahabatmu bukan? Kau tak pernah bersikap seperti itu kepada mereka." Alice terus memprovokasi Eric, penasaran dengan jawaban yang sebenarnya.


"Mereka bukan sahabatku, terutama perempuan aneh yang menyukai pria jauh lebih tua darinya." Eric berkata sembari menyindir Georgia.


"Ck, padahal Damian dan Lucas merupakan orang yang paling dekat denganmu. Aku penasaran apa jika aku memberitahu ini kepada mereka, mereka akan--"


"Karena kau adalah orang yang spesial bagiku." Eric menjawab, memotong perkataan Alice disertai telinganya yang memerah.


"Hah?" Alice tak mengerti.


"Lupakan itu!!" Eric mempercepat langkahnya mendahului Alice, lama-kelamaan wajahnya menjadi merah seperti kepiting rebus.


"Ada apa dengannya?"


To Be Continued.......