
Eric menatap pantulan wajah rupawan nya pada sebuah bongkahan es, merasa ada yang berbeda dengan kondisi wajahnya.
"Wajahku terlihat kusam, apa ini semua karena ulah duo kurang ajar itu?" Eric mendengus kesal, tangannya meraba-raba wajahnya.
"Semua hal saja kau salahkan kepada mereka. Jelas jelas itu karena ulahmu sendiri yang tidak mencuci muka dengan benar." Alice yang sedang membuka peta dimensi di sampingnya menyahut, muak dengan kebiasaan Eric yang selalu menyalahkan orang lain.
"Oh, begitu?" Eric menyisir rambutnya ke kiri, berharap dapat memperbaiki penampilan. Yang dikatakan oleh Alice memang ada benarnya. Saat petualangannya ini, ia hanya membasuh muka lebih sebentar dari yang biasa dilakukannya sehari-hari di markas. Jika ditanya, ia akan menjawab.
"Airnya sangat dingin."
Dan tentu saja Alice membalas.
"Siapa yang menyuruhmu mencuci muka di sungai? Gunakan sihir air mu!"
"Sudahlah, kau bukan anak gadis yang menjaga penampilan agar dilirik oleh putra bangsawan." Alice menyudahi, ia memutar-mutar jari telunjuk nya hingga memunculkan pusaran salju kecil di atas jarinya.
"Tapi aku adalah remaja laki-laki yang ingin menjadi yang terbaik?" Eric menatap Alice, tak lama kemudian Alice menatapnya balik dengan malas.
"Jiwa kompetitif mu itu, Eric."
"Hm." Eric hanya membalas dengan singkat.
Angin kencang tiba-tiba menerpa mereka berdua, disertai butiran salju yang ikut berterbangan. Badai angin salju itu terus bertambah kuat ketika angin sihir biru menerjang. Pandangan mulai mengabur drastis, Alice bisa saja ikut terbawa angin jika kakinya tidak menahan dengan kokoh tubuhnya.
Srrrrr.....
"Ah, peta ku!" Alice berusaha menggapai gapai peta dimensinya yang terbawa angin. Pertahanan tubuhnya mulai tidak seimbang, tubuhnya terhuyung kesana-kemari karena tekanan angin, sebentar lagi saja ia akan menyatu dengan pusaran salju.
"Alice, tunggu!!" Eric bereaksi, tangannya menarik tudung jubah putih Alice hingga tubuh temannya tertarik ke belakang.
"Kita harus mengungsi terlebih dahulu! Peta itu bisa kita urus nanti." Eric menarik pergelangan tangan Alice, kemudian berlari sekuat tenaga ke arah utara untuk keluar dari area badai.
...----------------...
"Eric!! Petaku!!" Ujar Alice bernada cemas sesaat setelah sampai di penghujung utara Gunung Saicensia, kedua tangannya mencengkeram kerah kemeja putih Eric.
"Hei, santai. Itu hanya selembar peta dimensi bukan? Aku dapat mencarikan mu yang baru." Eric melepas cengkraman Alice dan merapihkan kembali kemejanya.
"Hanya katamu?! Itu pemberian ayahku!! Kerajaan saja tidak memiliki artefak sihir semacam peta itu! Bagaimana kau bisa menggantikannya?!" Alice meninggikan suaranya, ekspresi serius yang tersirat di wajahnya sungguh membuat Eric tertekan.
"Baiklah, aku minta maaf." Eric mengalah, ia mengangkat kedua tangannya tanda kekalahan. "Aku tidak tahu bahwa peta itu begitu berarti bagimu." Sambungnya.
"Cih." Alice mendudukkan dirinya pada sebuah batu, menyilangkan kedua tangannya kesal.
"Kau semakin jelek jika cemberut seperti itu." Ujar Eric yang ikut duduk disamping Alice.
"Dasar menyebalkan!! Kau yang jelek! Aku ini sedang serius, buang candaan tak berguna mu itu!" Teriak Alice sembari menginjak kaki Eric dengan sepatu nya.
"Aw! Seperti biasa, sepatumu itu selalu menyakitkan, Alice." Eric kembali berujar, lalu berdiri, menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor karena salju, dan mengatakan sesuatu lagi.
"Tunggu apa lagi kau? Kau bilang ingin mencari peta berharga mu itu?" Eric menjulurkan telapak tangannya kepada Alice, menawarkan bantuan untuk berdiri.
"Ya." Alice menerima tangan Eric dan berdiri.
......................
"Sudah lebih dari 4 jam kita mencari, apa benar kompas itu bisa melacak keberadaan artefak?" Eric bertanya dengan lemas. Sebenarnya stamina nya masih tersisa banyak, ia hanya malas.
"Tentu saja! Kau meragukan kemampuan sebuah alat sihir yang kubeli dengan harga delapan puluh keping emas?!" Suara Alice kembali meninggi di depan sahabatnya.
Alice menatap serius kompas antik berbahan perunggu yang sedang dipegangnya, berharap satu atau lima detik kemudian terdapat kemajuan. 'Andai saja peta itu bukan sebuah artefak sihir sekelas permata kerajaan, aku bisa saja memunculkannya kembali di hadapanku.' Ia memijat pelipisnya dan memejamkan mata sejenak.
Srrrr.....
CRING!!
"Woah!" Alice berteriak kaget dan mundur beberapa langkah hingga menabrak Eric.
Tiba-tiba muncul sosok mungil dibalik cahaya yang beberapa detik lalu mulai mengelilingi mereka. Tubuhnya mungkin hanya setinggi seperlima pedang milik Eric, rambutnya bergelombang pendek sebahu berwarna putih bergradasi biru, gaun pendek yang dipakainya terlihat cantik dengan kilauan kepingan salju sihir yang menghiasinya, lalu sayap peri kecil yang terpasang di punggungnya.
"Tadaa!! Akulah sang peri es imut yang akan membawa kalian ke--" Peri kecil itu bergaya narsistik sebelum tangan kekar Eric menangkap dan mencengkeram tubuhnya.
"Siapa kau? Beraninya berlagak imut di hadapanku, kau akan membawa kami kemana? Aku bisa saja menghancurkan mu bahkan sebelum kau melanjutkan perkataanmu tadi." Eric mempererat cengkraman nya, sementara peri yang berada di genggamannya meronta ronta ketakutan.
"A-aku..... Le-lepaskan a-aku te-terlebih d-dahulu...." Wajah peri itu mulai memucat dan membiru.
"Kyaaa!!" Entitas tersebut menjerit terkejut saat Eric melepaskannya. Kemudian menghirup udara dengan rakusnya setelah kerja organ paru-parunya sedikit terganggu.
"Dasar manusia kejam! Seenaknya saja mau membunuh peri! Akan kubalas nanti!" Eric hanya memutar bola matanya jengah mendengar ancaman peri kecil di hadapannya.
"Hei, kalian berdua bisa melanjutkan pertengkaran tak berguna itu nanti. Sekarang aku butuh penjelasan mengenai siapa kau." Alice berkacak pinggang, matanya beralih menatap tajam peri mungil.
"Namaku Ellie, salah satu dari kelima peri elemen utama di dunia sihir ini. Aku adalah peri es yang berada dibawah perintah Nyonya Ravegne, roh es penjaga Saicensia." Ellie memperkenalkan dirinya dengan sopan, ia melebarkan gaun pendeknya dan sedikit membungkuk.
'Ravegne?'
Ravegne, roh es yang melegenda di Kerajaan Saicensia. Konon merupakan keturunan dari pemimpin bangsa peri barat dan manusia yang hidup tersembunyi di balik dinginnya salju dan es, kemudian saat perang sihir, ia terbunuh dalam pertempuran melawan manusia. Jiwanya tidak bereinkarnasi ke tubuh lain ataupun terlepas selama-lamanya dari kehidupan, melainkan bangkit kembali menjadi roh penjaga hutan Saicensia sekaligus penguasa elemen es di dunia sihir. Tidak ada satupun manusia yang mengetahui keberadaannya. Namun, dalam beberapa alasan, beberapa abad yang lalu terdapat seorang manusia penyihir Dawn Minor yang dapat bertemu dengan Ravegne. Mereka berdua saling jatuh cinta, ikatan keduanya yang begitu kuat membalikkan takdir. Ravegne kembali pada tubuh aslinya dan hidup bahagia.
'Cerita yang diketahui tentang Ravegne benar-benar klise, tidak mungkin roh penjaga dapat berubah kembali kepada tubuh asli selamanya. Itu lebih terdengar seperti cerita pengantar tidur yang sengaja dibuat dengan akhir bahagia agar terkesan menyenangkan. Aku tahu itu tidak berakhir bahagia seperti yang dipercayai orang-orang.' Monolog Alice dalam pikirannya.
"Oh, ya? Konyol sekali perkenalan mu itu, cebol." Eric menyunggingkan senyum meremehkan dengan alis yang terangkat sebelah.
"Siapa yang kau sebut cebol?! Jika kau tak percaya akan kubuktikan!" Ellie melakukan gerakan berputar dan dalam sekejap mereka bertiga sudah berpindah tempat.
'Mata air?!' Eric dan Alice tersentak bersamaan, setelah gerakan berputar Ellie mereka muncul di depan mata air hutan es. Air itu mengalir dan menggenang tanpa membeku, persis sungai Arve yang membentang sepanjang kota Amarath, ibukota Saicensia, menuju penghujung kota Dandelions yang menjadi perbatasan dengan negara lain.
Cring!
Srrrrrr.....
Cahaya tampak berkumpul di atas mata air. Tak lama kemudian muncullah seorang roh wanita yang melayang diatas permukaan air jernih. Rambut perak panjangnya terurai selutut, mata biru safir nya berkilauan indah, tubuh nya terbalut gaun putih sutra berlengan pendek dengan panjang sampai menutupi kedua kakinya, mahkota bertahtakan permata terpasang sempurna di atas kepalanya. Benar-benar mewujudkan gambaran ibu peri yang dikisahkan dalam cerita-cerita.
Ravegne, ia adalah sosok wanita itu.
"Ellie, siapakah gerangan dua manusia ini?" Suara lembut Ravegne yang berbicara bahasa kuno bagaikan angin semilir musim semi, lembut mengalun di pendengaran.
"Mereka berdua adalah manusia dengan aliran mana yang berbeda daripada yang lainnya, saya berpikir bahwa jika membawa mereka berdua ke hadapan Nyonya merupakan tindakan yang baik dalam menyelidiki ketidakstabilan dunia sihir dalam satu abad ini." Ellie menjawab menggunakan bahasa yang sama, bahasa kuno asli yang dipergunakan ratusan tahun yang lalu.
Ravegne terdiam sejenak, lalu mendekat ke arah Alice dan Eric yang sedari tadi memperhatikannya. Dengan reflek, Alice membungkuk dan mendorong tengkuk Eric kebawah agar ikut membungkuk di depan Ravegne.
"Kami memberi salam kepada Ravegne, sang roh es penjaga hutan pegunungan Saicensia. Semoga keagungan dan kehormatan harimau barat selalu menyertai anda." Alice memberi salam dengan sopan, diiringi rasa kagum dan takut yang melanda bersamaan.
"Tidak perlu membungkuk, angkatlah wajah dan pandangan kalian." Ravegne memegang sebelah pundak Alice.
Eric kembali berdiri tegak, baru saja mulutnya terbuka semili hendak berkata sesuatu, Alice menarik rambut bagian belakang Eric 'pelan'.
".............. "
"Darimana asal kalian? Manusia biasa bahkan penyihir Alpha Major tidak akan sanggup menahan dinginnya pegunungan Saicensia saat dilanda musim dingin. Jika kalian hanya ingin bermain-main atau sekedar melihat pemandangan maka kembalilah. Kekuatan mana yang lebih kuat tidak akan menjamin keselamatan kalian." Ravegne memegang sebelah pundak keduanya, tentu, reaksi yang timbul pun berbeda dari setiap pihak.
'Tangannya hangat, seperti tangan lembut ibu....' Alice menatap berbinar Ravegne, ia teringat bagaimana lembut dan hangat tangan ibunya yang telah membesarkannya.
'Hiiii, dingin!! Rasanya bahuku seperti dihantam setumpuk salju besar!!' Berbeda dengan Alice, Eric bergidik kedinginan.
"Nama saya Alice, saya dan orang ini berasal dari kota Freesia, sebelah selatan ibukota Saicensia. Saya meninggalkan kampung halaman dan pergi ke pegunungan adalah untuk mencari obat penyakit ibu saya, tapi sekarang kami sedang kehilangan arah karena peta sihir milik kami menghilang tertiup angin badai salju." Alice memberi balasan dengan bahasa kuno yang baru saja ia pelajari. Eric yang berdiri di sampingnya menaikkan alis saat menyadari bahwa 'orang ini' yang dimaksud Alice adalah dirinya.
"Aku bisa memberikanmu yang baru, terimalah peta ini. Berhati-hatilah pada setiap langkah yang kau pilih dan jalani. Dunia sihir sedang tidak baik-baik saja." Ravegne mengangkat sedikit tangan kanannya.
Lalu......
POOFF
Sebuah gulungan peta muncul di depan Alice, membuatnya langsung menangkap gulungan itu tanpa ragu. Benar-benar seperti peta dimensi miliknya yang hilang tertiup angin, masih dengan tali kecil bercorak emas yang mengikatnya.
"Woah!!" Alice dan Eric berteriak kagum bersamaan, rasanya seperti sedang melihat pertunjukan penyihir penghibur di festival.
"Te-terimakasih." Alice kembali membungkuk, kali ini ia tidak memaksa Eric untuk membungkuk. Karena Eric sendiri sudah melakukannya.
"Peta ini akan membantu mu dalam menyingkap rahasia terdalam dunia sihir yang damai ini, dan mungkin akan mengubah hidupmu." Ujar Ravegne.
Eric & Alice kemudian pergi menggunakan portal dimensi Ellie setelah berbincang-bincang dengan Ravegne. Interaksi mereka yang kira-kira hanya berjalan selama lima belas menit sangat menarik atensi keempat peri elemen lain.
"Ellie! Kudengar Nyonya Ravegne bertemu dengan manusia yang dapat melihatnya dan memberikan artefak sihir kepada manusia itu! Apakah itu benar?" Cyra, peri elemen api, ia langsung bertanya kepada Ellie saat datang tanpa menghentikan kepakan sayapnya dan turun.
"Itu terdengar seperti bualan tapi juga terdengar fakta! Aku bahkan tidak ingat kapan Nyonya Ravegne menyambut kedatangan manusia dengan baik." Skye, peri langit, menambahkan.
"Nyonya Ravegne sudah kehilangan kepercayaannya kepada manusia, bagaimana mungkin beliau menyerahkan sebuah artefak sihir secara cuma-cuma?" Charley, peri angin, berujar dibalik tubuh Skye.
"Ini mencurigakan! Aku tahu beliau pasti menemukan sesuatu yang tak biasa pada manusia itu!" Anne, peri air, ikut berkomentar dibalik cermin kecil yang dipegangnya.
Mereka berempat menghampiri Ellie yang sedang duduk terdiam menopang dagu di atas batu besar. Wajahnya terlihat sedang memikirkan keras sesuatu.
Kemudian Ellie berkata.
"Entahlah, aku tidak mengerti. Nyonya Ravegne sudah kehilangan rasa percayanya kepada manusia, tapi hanya karena mana milik manusia itu lebih spesial, beliau sampai memberikan barang berharga.
Atau mungkin.....beliau teringat dengan Tuan Acheron dan kekuatannya yang berbeda dengan manusia pada umumnya?"
____________
Beberapa hari kemudian....
"Ibunda."
Seorang pria berambut putih perak dan bermata biru safir, datang ke mata air Ravegne dengan membawa sebuket bunga lily. Parasnya tampan, ditambah dengan kesan dingin yang melekat di wajahnya, sorot matanya seperti harimau putih yang mengembara seorang diri.
"Putraku." Ravegne seketika muncul di permukaan mata air setelah mendengar putranya memanggil.
"Ibu, aku membawakan bunga lily kesukaan ibu." Pria itu menyerahkan buket bunga yang dibawanya pada sang ibu.
Ravegne mengambil buket bunga tersebut disertai senyuman hangat seorang ibu, tak lama kemudian ia mengusap lembut surai putranya seraya berkata.
"Theseus, akhir akhir ini kau sering menemui ibu, apa ada sesuatu? Pekerjaanmu selama satu abad terakhir ini bertambah banyak bukan? Ibu baik-baik saja disini." Ravegne berkata kepada Theseus, pekerjaan yang harus dikerjakan putranya ini terbilang sangat banyak, ia khawatir jika putranya terus menunda pekerjaan dan pada akhirnya akan mempengaruhi berjalannya sistem dunia sihir.
"Tidak apa, aku hanya merindukan ibu." Theseus menatap ibunya dengan sorot mata melembut.
"Beberapa hari lalu ibu menemukan seorang gadis manusia yang sangat mirip denganmu, apa dia adalah manusia yang kau berikan cahaya mana?" Ravegne mengacak-ngacak rambut Theseus.
'Mirip denganku? Alice?' Theseus menaikkan sebelah alisnya sebelum menjawab.
"Aku tidak tahu, ibu. Mungkin hanya kebetulan saja."
'Bianca.... Apa yang terjadi dengannya? Mengapa Alice dapat bertemu dengan ibu?'
To be continued.....
Bonus!! Free wallpaper