Eternal Ice

Eternal Ice
Chap. 12 "Perspective"




Namaku Alice, dan ini adalah temanku sejak dua belas tahun lalu, Eric. Kami sedang melakukan perjalanan petualangan, mencari obat untuk penyakit misterius ibuku--walaupun kami sama sekali tak mendapatkannya setelah berminggu-minggu meninggalkan tanah Saicensia.


Akan tetapi, kami menemukan banyak rahasia yang ada di dunia sihir ini. Semuanya tak seindah yang dilihat, banyak hal-hal kelam dibaliknya. Rahasia antar tiga dunia, penyihir matahari dan bulan, juga ...


Ayahku.


Tidak pernah terlintas dalam pikiran jika ayahku adalah seorang penyihir elemen utama. Dengan mengetahui siapa ayahku sendiri, segalanya menjadi terhubung bagai untaian takdir. Kekuatan es, mana biru istimewa, pertahanan terhadap suhu dingin, dan sebagainya yang menjadi ciri bahwa aku adalah seorang Signorina yang mewarisi garis kekuatan sihir penyihir matahari.


Ibu sebelumnya tak pernah bercerita lebih lanjut, begitu pula Paman Theo. Pamanku itu, ia pernah mengatakan, "Ayahmu itu merupakan orang yang penuh misteri, sorot mata biru safirnya seperti memiliki ribuan cerita yang disembunyikan. Dia jelas bukan termasuk orang yang ekspresif, lama-lama ia terlihat menyeramkan."


Saat itu aku mengira bahwa Paman hanya bergurau, karena ia mengatakannya sembari menahan tawa. Dan aku baru percaya saat sesudah menyentuh Pohon Harapan.


Aku ingin segera menemui ayah, melihat wajahnya yang seringkali disebut-sebut mirip denganku oleh ibu. Hanya beliau satu-satunya harapanku saat ini. Aku tahu segala yang tercatat dalam buku penyihir matahari adalah fakta yang tak terelakkan, namun eksistensi Bunga Emas bagaikan kepercayaan fiktif bagiku. Petunjuk mengenainya begitu sempit. Setiap hendak mencari petunjuk, pertarungan tidak dapat dihindari.


Dan aku berjalan tak tahu arah sekarang ...


"Alice! Kau mendengarkanku atau tidak?" Ah, aku lupa jika ada si menyebalkan ini bersamaku.


Aku melirik Eric dengan malas, sedari tadi ia hanya bercerita mengenai kehebatannya dalam menjalankan misi prajurit bayaran yang berbahaya. Astaga, aku sudah mendengar tentang ini sejak dahulu!


"Telingaku masih berfungsi dengan baik, Eric. Aku mendengar dengan jelas seluruh celotehanmu itu." Aku terpaksa menimpalinya sambil tetap berjalan.


"Oh, ya?" Ia mengacak-acak rambutnya yang berantakan hingga semakin kusut, nada bicaranya seperti menunjukkan keraguan padaku. "Kalau begitu, jelaskan kembali semua cerita yang kuberitahu tadi."


Aku mendadak merasa jengkel, "Aku tak mau membuang-buang waktu hanya untuk mengulang kembali hal yang kau lakukan."


"Seperti yang aku katakan!" Dia menyibakkan poni rambutnya ke samping, gaya rambutnya masih acak-acakan. "Kau tidak mendengarkan."


"Katakan apapun yang kau inginkan, Eric. Tapi aku sudah berulang kali mendengar ceritamu itu dengan berbagai versi. Entah dalam versi kau menang dan berhasil, kau kalah dan gagal, atau kau seri melawan musuh dan memperpanjang misi. Sampai-sampai aku tidak tahu mana yang benar." Aku menjawab acuh tak acuh, kembali menatap ke depan. Berjaga-jaga aku menabrak dahan pohon atau semacamnya, seperti Eric yang terkena sial beberapa kali saat di Hutan Lyberinth.


Eric terdengar menghela nafas pasrah dibelakang sana. Sudahlah, biarlah dia bertingkah sesuka hati selama tidak menggangguku.


Dua jam kami terus melangkahkan kaki menjelajahi hutan dengan pepohonan berdaun warna-warni bak pelangi. Langit mulai berubah warna, sang surya di barat sana telah bergulir ke peraduannya.


"Lebih baik kita istirahat hingga esok hari, Alice. Perjalanan malam hari bukan pilihan yang tepat." Eric berujar, kali ini perkataannya serius. Tak mengandung unsur ingin jahil.


Aku mengangguk. Sepuluh menit habis digunakan untuk mencari tempat bersinggah yang tepat, kami akhirnya memutuskan untuk istirahat di sebuah padang rumput yang dikelilingi pohon berdaun merah muda dan kuning.


Kaki-ku terasa pegal setelah berjalan tanpa henti selama dua jam, aku mencoba duduk dan meluruskan kakiku diatas hamparan rumput yang hanya setinggi satu jengkal tangan ini. Ini brilian sekali, rumput-rumput ini benar-benar membuatku rileks, seolah-olah sedang memijat kaki-ku dan menghilangkan rasa pegal.


"Eric, kau tak menangkap hewan buruan?" Aku menatap heran pada Eric yang malah membuka jubahnya dan meletakkan pedangnya di rerumputan.


"Untuk apa menangkap hewan jika kita sudah punya sumber makanan disini?" Ia berkata sambil memutar badannya, berjalan menuju sebuah pohon dengan daun berwarna kuning yang paling tinggi disini.


Alih-alih melihat-lihat sekitar untuk mencari hewan buruan, Eric justru menendang batang pohon itu. Tendangan itu sepertinya keras sekali, sampai-sampai menggugurkan beberapa ranting dan membuat buah-buahan yang bergelantungan di pohon itu jatuh ke tanah.


Eric memungut salah satu dari buah itu, melirik kearahku. "Kau lihat?"


Aku mengangguk sekilas, "Bawa kemari, Eric. Aku sudah lapar sekali."


Dia memungut lebih banyak buah dan ranting-ranting yang berjatuhan, membawanya ke tempatku. Sebenarnya aku sempat tercengang saat ia memilih cara lain untuk mengambil buah diatas pohon, bukan dengan memanjat melainkan dengan menendangnya! Si kusut ini memang selalu punya cara tersendiri dalam melakukan sesuatu.


Eric kemudian menyusun ranting-ranting tadi, membentuk api unggun dan membuatnya menyala dengan menggunakan sihir.


Aku mengambil satu dari lima buah yang dibawa oleh Eric. Warnanya kuning agak kemerah-merahan, kulitnya bertekstur keras seperti batu, namun aromanya sungguh manis sekali. Buah apa ini?


Setelah bermenit-menit memikirkan cara untuk mengupas kulit buah ini, aku akhirnya menyerah. "Kulitnya persis seperti batu, bagaimana cara memakannya?"


"Sebentar." Eric bangkit dari posisi jongkoknya setelah berhasil menyalakan api. Mengambil belati miliknya dan satu buah itu. "Seperti ini." Dia mengetuk-ngetuk kulit buah itu dengan ujung belati yang tajam, kemudian melakukan gerakan memotong secara vertikal.


Ajaib sekali! Kulit yang sekeras batu tersebut seketika terbelah menjadi dua, menampakkan daging buah yang berwarna oranye terang. Hanya membutuhkan ransangan dari benda tajam untuk membuka kulitnya.


"Makanlah." Eric menyodorkan buah itu kepadaku. Aku segera memakannya sementara Eric mengupas beberapa buah lain.


Tidak semanis harumnya, buah ini memiliki perpaduan rasa antara asam dan manis. Wujud dan rasanya memang tak ada bedanya dengan buah yang biasa dikonsumsi oleh manusia, tapi buah ini mengenyangkan seperti daging.


Eric menelan terlebih dahulu yang sedang dikunyahnya, lalu menjawab, "Aroma buah ini tercium dari jauh, kau tahu. Dan jika kau bertanya mengapa aku bisa mengetahui cara untuk membuka cangkang kulit buah ini. Kau masih ingat buku Seribu Keajaiban Flora dan Fauna yang sempat populer dikalangan anak-anak dan murid akademi lima tahun lalu? Buah ini adalah perwujudan nyata dari bab ketiga halaman kedua puluh baris keempat pada buku itu, penjelasannya detail sekali hingga ke jumlah biji didalamnya. Buah ini adalah Buah Frees yang berasal dari Pohon Kron yang memiliki daun warna kuning dengan batang keabu-abuan seperti itu." Ia menunjuk pohon dimana ia mendapat Buah Frees setelah menyelesaikan kalimatnya yang panjang.


Oh, ternyata ia masih mengingat isi buku yang sudah hampir dilupakan di Kota Freesia.


Dia Eric, jika ia bisa serius sedikit dalam kehidupan akademisnya, ia dipastikan sudah menjadi panglima militer termuda di Saicensia. Eric sudah masuk kedalam kelompok orang-orang yang berpotensi tinggi, kecerdasan intelektual dan kemampuannya dalam bidang kekesatriaan sudah tak dapat diragukan lagi. Tapi sayang sekali, dia bahkan benar-benar tak mau mengenyam pendidikan formal di akademi. Dia pintar, namun sering berpura-pura tidak tahu dan melakukan hal konyol.


"Kau masih mengingat hal itu bahkan saat semua orang di Freesia sudah melupakannya. Mengapa kau tidak mencoba belajar di akademi sejak dahulu?" Aku bertanya kembali padanya.


"Kenapa aku tidak masuk ke akademi? Karena aku tidak suka belajar disana." Eric membaringkan dirinya di hamparan rerumputan dengan alas jubahnya sesaat setelah menghabiskan dua Buah Frees. "Aku benci duduk berlama-lama hanya untuk mendengarkan guru mengoceh, memakai baju yang sama dan terjadwal disetiap harinya, pekerjaan rumah yang memuakkan, ujian yang membebani pikiran, lalu aturan-aturan yang mengikat. Aku tak suka semua hal itu."


Aku tertawa, nyaris terbahak-bahak ketika mendengar pernyataan Eric mengenai kehidupan di akademi. Namun, aku tidak bisa menyangkalnya karena segala yang dikatakannya ada benarnya juga.


"Sayang sekali, Eric. Padahal lulus dari akademi merupakan impian banyak orang, kau bisa saja naik pangkat dengan mudah menjadi panglima. Tempat tinggalmu bisa seluas rumah para bangsawan, namamu akan dielu-elukan rakyat, atau pedangmu akan berhiaskan permata? Mungkin saja, kau akan menjadi pahlawan bagi orang-orang saat gelar panglima disematkan pada namamu." Aku berbicara panjang lebar, Eric hanya diam tanpa berkomentar apapun. Entah dia memasang telinganya dengan baik atau tidak.


Lima detik kemudian Eric tertawa lebar, melawan keheningan malam hari di padang rumput. Dia aneh sekali, aku tak merasa jika aku memasukkan unsur komedi dalam kata-kataku tadi, lantas mengapa Eric tertawa?


"Aku menghargai opinimu. Hidup diposisi atas nan tinggi memang selalu indah bagi siapapun, akan tetapi aku hanya bekerja untuk diriku sendiri bukan untuk negara." Eric berbicara dengan setengah terduduk dari posisi tidurnya.


Aku terdiam mendengarnya, mengapa ia tidak mau bekerja untuk negara?


"Begitulah." Eric kembali membaringkan tubuhnya, berbalik badan menjadi posisi menyamping membelakangiku. "Aku mengantuk. Bangunkan aku saat kau ingin berganti giliran berjaga."


Dua puluh detik lengang, hanya ada suara kobaran api dari api unggun yang menghangatkan suasana.


"Eric?" Aku memanggilnya. Dan tidak mendapat respon apapun.


Aku berjalan mendekatinya, mencoba melihat dia sudah tidur atau tidak.


Tak seperti biasanya, Eric sudah terlelap dalam dua puluh detik. Aku tahu ia biasanya mengalami kesulitan untuk tidur. Masih membekas dikepalaku ketika ia diperiksa oleh dokter tentang masalah kesehatannya, dokter itu bertanya mengenai keseharian Eric yang mungkin dapat menjadi sebab susah tidurnya. Lalu, si menyebalkan itu menjawab "Mungkin karena aku terlalu merasakan adrenalin bertarung saat misi? Kau tahu? Aku selalu bertarung layaknya ksatria sejati. Ya, aku memang hebat." Dan ia berujung memamerkan kemampuannya.


Selama berjaga, tidak banyak hal yang bisa kulakukan. Hanya menatap bulan dan ribuan gemintang di langit, dan sesekali bermain-main dengan sihir.


Tepat tengah malam, sudah lebih dari lima jam aku berjaga. Aku sudah mulai mengantuk. Tanganku terulur mengguncang-guncangkan tubuh Eric yang terlelap di alam mimpi dengan posisi aneh. "Hei, bangun. Ini giliranmu berjaga."


Perlahan-lahan ia membuka mata hingga sepasang manik emas itu terlihat, diam dalam beberapa saat dan berdiri, meregangkan otot-otot tubuhnya. "Hoamm--sudah tengah malam? Aku seperti baru tidur satu jam." Eric menguap lebar sejenak, lalu membasahi tangannya dengan sihir air dan mengusapkannya pada wajahnya.


Aku beranjak melipat jubahku--sebagai bantal, aku masih bisa menggunakan jubah Eric sebagai alas tidur. "Jangan bangunkan aku terlalu siang, besok kita akan pergi sesaat setelah matahari terbit." Aku berpesan pada Eric sambil mulai mengambil posisi tidur.


Eric mengangguk, namun kemudian ia menggerutu. "Ya, dasar cerewet. Hendak tidur pun mulutmu tidak bisa diam rupanya." Di akhir kalimat ia tertawa.


Cih. Kali ini aku tidak membalasnya karena rasa kantuk, lihat saja nanti.


Aku memejamkan mataku, berharap bisa tidur nyenyak hingga terbitnya fajar.


Tapi harapanku tidak terwujud saat itu.


Tak butuh lama bagiku untuk membuka mata, situasi berbalik menegangkan. Eric mengguncang tubuhku dengan keras, sembari berteriak memanggil namaku berkali-kali.


"Bangun, Alice!" Untuk sekian kalinya ia memanggil namaku.


"Kita dikepung!" Kesadaranku seketika terkumpul kembali menjadi satu sepersekian detik setelah Eric berseru memberitahu keadaan.


Langit mulai menandakan matahari akan terbit, sungguh itu akan menjadi pemandangan indah jika situasinya tidak seperti ini. Aku merasakan berbagai tipe mana dari segala penjuru, hampir menyentuh angka lima puluh.


Tak ada waktu lagi untuk berdiam. Aku dan Eric segera memasang posisi bertempur, menarik pedang masing-masing.


Melihat kami yang sudah siap melawan, puluhan prajurit yang bersembunyi melompat maju, mendarat di padang rumput. Mereka membawa pedang dan tombak, sepuluh dari mereka membawa panah dan busur silang.


Nafasku tercekat di tenggorokan saat melihat siapa pemimpin dari pasukan prajurit tersebut yang muncul diantara mereka, paling mencolok. Seorang wanita yang kami kenali, dengan rambut merah membara, dengan anting rantai yang menghiasi telinga runcingnya.


Eric berseru tertahan, "Kau ... "


To Be Continued...