
Eric mengacak-acak rambutnya frustasi, ia tengah dilanda kebingungan. Saat ini ia sedang berdiri di depan rak yang diletakkan di depan toko senjata dimana pedang pedang berjejer. Ia sungguh tak bisa memilih, deretan benda runcing yang terpampang jelas di matanya sungguh berharga.
"Cih! Apa yang kulakukan disini?" Menyadari jika kebingungan nya itu takkan menemukan titik akhir, Eric berpaling dan kembali berjalan menyusuri kota, mencari hal-hal yang menarik--daripada mengurung diri di dalam kamar penginapan seperti Alice.
Dan pada akhirnya, yang dilakukannya hanya berjalan tanpa tujuan, mengitari Lyberinth, bergabung dalam kerumunan, dan mengamati sekitar.
BRUK!
Sebuah ketidaksengajaan, Eric menabrak salah satu orang di jalan Lyberinth. Belum sempat ia memaki orang yang menabraknya, seluruh tubuhnya tiba-tiba tak dapat bergerak, ia mematung pada posisi yang sama dalam beberapa saat, dan aliran mana yang mengalir di seluruh tubuhnya mulai bereaksi bergerak menuju kepalanya.
DEG!
Dalam sekejap, berbagai potongan peristiwa melintas dalam pikirannya. Orang-orang dan tempat asing terus bermunculan, mana di jantungnya bergejolak dan mengacau keteraturan sihirnya.
"Halo Eric, ini Ibu."
"Penghinaan atas kekuatan gelap harus dibalas dengan kematian!"
"Dan kau pikir takhta adalah segalanya?"
"Kau tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu takdir."
"Seorang budak yang setia tidak akan pernah mengkhianati majikannya."
Pandangannya seketika mengabur, kesadarannya mulai menghilang, perasaan aneh berkecamuk dalam hatinya.
"Hei!" Suara seorang pria menyadarkannya, butuh waktu sejenak hingga Eric sadar sepenuhnya.
"A-apa?" Ia bertanya dengan ekspresi penuh keterkejutan.
"Jika pikiranmu sedang tidak fokus, janganlah bergabung dalam kerumunan ramai. Kau tidak akan tahu apa yang ada dalam pikiran mereka. Banyak kejadian buruk yang terjadi saat seseorang lengah." Nasehat pria itu bagai angin lalu bagi Eric yang masih memproses segala hal yang terjadi padanya beberapa saat lalu.
Kemudian, pria itu akhirnya pergi setelah memastikan Eric benar-benar sadar, dan tak butuh lama bagi pria itu untuk menghilang dari pandangan Eric karena tertutupi keramaian.
Eric menggaruk kepalanya yang tak gatal dan kembali melangkah. Ingatan yang terlintas di kepalanya sama sekali tak pernah ia alami, datang sekejap dan membekas dalam pikiran.
"Sepertinya kau baru saja membangkitkan kekuatanmu yang tersembunyi, Nak." Suara wanita yang merdu mengalun di telinganya. Dan ia menoleh, mendapati bahwa sumber suara tersebut adalah dari dalam sebuah perpustakaan yang tak jauh dari tempat dimana ia berdiri.
Semakin ia mendekati pintu perpustakaan itu, semakin pula pintu terbuka tanpa ada tangan yang membukanya.
Saat menginjakkan kaki di lantai perpustakaan, ia disambut oleh wanita penyihir bertudung merah yang mungkin adalah pemilik suara merdu yang menyapanya tadi.
"Aku takjub sekali denganmu, Nak. Kau bisa menghadapi kebangkitan kekuatan yang luar biasa tanpa kehilangan setengah dari mana mu dan mampu menahan cahaya mana mu agar tidak menyebar." Wanita itu menutup buku kuno yang sedang dibacanya, beralih duduk di kursi yang berada diantara dua rak buku besar.
Eric mengepalkan tangannya dan menggeram "Apa yang kau bicarakan wanita tua?! Apa yang kau maksudkan dengan kekuatan yang luar biasa?!"
Wanita yang merupakan lawan bicaranya hanya terkekeh pelan. "Jangan berbicara kasar padaku, Nak. Aku hanya ingin meluruskan pandanganmu tentang dunia ini, memberitahumu segala yang tidak kau ketahui, dan rahasia antara matahari, bulan, dan bayangan." Kalimat-kalimat yang terlontar dari bibir wanita tersebut benar-benar memunculkan tanda tanya pada benak Eric.
Eric hanya diam, menatap wanita itu serius.
"Baiklah, darimana bisa kita mulai...."
CTAK!
Eric terperanjat saat wanita itu mengetikkan jarinya. Jendela-jendela dan pintu menutup dan terkunci seketika, menambah ketegangan antar dua individu yang sedang berinteraksi saat ini.
"Dunia sihir yang damai, itulah hal yang para manusia percayai, bukankah begitu? Para manusia membuat pemikiran bahwa dunia telah damai selamanya, memperdayai keturunan mereka dengan mengatakan ideologi yang sama, mereka bahkan dapat hidup nyaman tanpa adanya pengaruh peperangan. Tapi mereka tak pernah menyadari, jika diri mereka telah terlena dengan kebahagiaan yang tidak abadi itu." Wanita itu berbicara panjang lebar. Kemudian ia tersenyum puas, melihat Eric yang tampak tak bisa berkutik setelah mendengar perkataannya.
"Dan kau tahu, Nak? Dunia sihir tak pernah merasakan kedamaian sepenuhnya, mereka yang tertawa bahagia akan berubah menjadi jasad lemah tak berdaya dalam pertikaian sebagai bukti betapa kejamnya dunia tempat mereka lahir.
"Aku yakin kau pasti pernah mendengar kisah penyihir matahari. Lorraine yang merupakan keturunan peri kuil dengan manusia diturunkan ke tanah bumi karena menodai kehormatan kuil, lalu hidup menderita dan mengasingkan diri, membangun kekuatan hingga menjadi penyihir agung, mengangkat lima murid dan mewariskan seluruh kekuatan sihirnya saat ia mati.
Itu adalah lelucon konyol. Lorraine tidak diturunkan karena merusak kehormatan, tapi untuk dijadikan ujung tombak perlawanan atas kegelapan. Penyihir bulan yang memegang kekuatan kegelapan lahir sebagai keturunan iblis dan manusia, ia menjadi harapan bagi para iblis untuk memerangi cahaya supaya mendapatkan kembali posisi mereka di mata dunia. Penyihir bulan tersebut diturunkan ke tanah bumi dengan tujuan menghancurkan kekuatan cahaya. Dan saat itulah, perseteruan tanpa akhir dan kehancuran dimulai." Wanita itu menyeringai setelah menyelesaikan kalimatnya. Eric menggigit bibirnya, segala hal yang dikatakan wanita itu terlalu mengguncang pikirannya. Kondisi mana miliknya sedang tidak terkontrol, seolah-olah dikendalikan oleh wanita misterius yang sudah bercerita banyak sedari tadi.
"Ribuan malam berlalu, dan kedua pihak kekuatan tersebut menemukan titik terang. Mereka berdamai, kemudian menggabungkan kekuatan sehingga terbentuklah elemen bayangan. Dunia sihir menjadi damai dalam beberapa abad.
Sebelum tragedi itu terjadi......
Tragedi mengenaskan yang membuat tiga kekuatan itu terpecah belah kembali. Kedamaian berakhir, kembali pada era peperangan yang menebar penderitaan dan bencana. Terdapat retakan besar yang terbentuk diantara cahaya dan kegelapan. Itulah yang menjadi alasan mengapa Lorraine memiliki murid, ia sengaja mengangkat lima anak yang tak bersalah untuk dididik menjadi pion perlawanan." Ia bangkit dari duduknya, lalu mengambil salah satu buku yang berada di sebuah rak.
"Lima anak itu akhirnya tumbuh besar dengan mewarisi tekad Lorraine, dan melanjutkan perjuangannya hingga sekarang. Puncak pertikaian itu terjadi saat perang besar dunia sihir, dan dunia terbagi menjadi tiga bagian yang berjalan serempak di tanah bumi.
Dalam berabad-abad, kekuatan terus bertambah dari segala pihak, bahkan kelompok matahari memperluas kuasa mereka dengan cara memiliki keturunan dan menyebarkan cahaya mana."
"Nak, tidakkah kau penasaran mengapa mana dan kemampuan sihir mu sangatlah kuat walaupun dirimu tak pernah melatihnya? Apa kau penasaran dengan dirimu yang dapat bertahan lama di dalam air?
Dan.....
Apa kau bertanya-tanya akan kemampuan menggali serta melihat gambaran ingatan yang tak pernah kau alami dan mata emas mu itu?"
Eric seketika terdiam seribu bahasa, perkataan wanita misterius ini sangatlah terdengar seperti kebohongan, tapi hatinya berkata untuk percaya dan tetap mendengarkan.
"A-apa?" Eric hanya sanggup berbicara satu kata, ia terlalu dalam tekanan untuk melawan dengan kata-kata.
"Itu karena, kau adalah keturunan langsung dari salah satu murid Lorraine. Tak hanya itu, darah sang penguasa mahkota negeri sihir juga mengalir dalam dirimu, bersatu padu menjadi sebuah kekuatan yang tak tertandingi."
BRAK!
Eric mundur beberapa langkah hingga menabrak daun pintu, nafasnya tersengal sengal, jantungnya terasa seperti hendak meledak, dua jenis mana di dalam pembuluh darahnya bertabrakan, memberikan efek yang menyakitkan pada sekujur tubuhnya.
"Sepertinya aku terlalu banyak berbicara, kau masih di tahap permulaan untuk menghadapi semua ini." Wanita itu berjalan mendekati Eric, mengangkat tangannya dan membentuk sihir.
"Sekarang tidurlah......."
...----------------...
Eric membuka matanya, dan mendapati dirinya terbaring di kamar penginapannya. Matanya menyapu sekitar, netranya menangkap Alice yang sedang tertidur sembari duduk di kursi di sisi ranjangnya.
"Alice...." Panggilnya, lirih.
"Eric?! Kau sudah sadar?!" Alice setengah berteriak, ia langsung terbangun dan menanyakan kabar temannya.
"Dimana aku.." Eric berusaha untuk bangkit, tapi usahanya itu ditahan oleh Alice yang segera membaringkan nya kembali.
"Di kamar penginapan. Kau membuatku khawatir setengah mati, kau tahu?! Jantungku hampir lepas saat melihatmu terkapar pingsan di depan pintu kamarku!" Alice menyilangkan tangan di dada seraya mengomeli Eric.
Wajah keheranan terukir di wajah Eric, kemudian ia berusaha mendudukkan dirinya, dan kali ini ia berhasil tanpa ditahan Alice.
"Ayolah, jelek. Setidaknya tanyakan terlebih dahulu keadaan temanmu yang baru saja sadar ini. Lalu apa maksudmu dengan aku yang pingsan di depan pintu kamarmu?!" Balas Eric, tak mau kalah dengan Alice yang meninggikan suaranya.
"Jangan berpura-pura lupa ingatan, jelas sekali jika aku melihatmu terbaring pingsan dengan wajah pucat di depan kamarku! Ah, sudahlah. Aku akan turun untuk makan siang, pelayan akan mengantarkan bagianmu." Alice bangkit dari duduknya dan beranjak untuk keluar.
"Istirahatlah." Ujarnya singkat, lalu menghilang dibalik pintu.
Eric terdiam sesaat, kemudian memegang kepalanya dan bergumam. "Aku seperti mengalami mimpi yang panjang....."
To be continued......