
Dahulu kala, hiduplah seorang putri marquess bernama Yuriel. Ia terkenal dikalangan para pria karena parasnya yang begitu jelita, bahkan hampir semua lelaki yang mengedarkan pandangan kepadanya akan luluh dan jatuh hati.
Gadis yang dikenal sebagai bunga mawar di negaranya tersebut berhasil memikat sang penguasa kerajaan, Raja Oscar. Namun, Yuriel segera menarik tangannya saat sang raja berlutut dihadapannya. Yuriel meninggalkan Oscar yang telah menaruh hati padanya sejak lama, dan menyambut Helio, Duke muda yang merupakan ahli pedang terhebat di masanya.
Hubungan Yuriel dan Helio mendapatkan banyak rintangan, akan tetapi ikatan perasaan keduanya menguatkan mereka untuk melewati segalanya. Hal itu menimbulkan kecemburuan mendalam bagi Oscar. Sehingga ketika seminggu sebelum pernikahan mereka, Oscar memerintahkan Helio untuk pergi memimpin perang melawan pasukan iblis di perbatasan.
Helio berhasil kembali dengan selamat seminggu kemudian, tepat di hari pernikahannya dengan Yuriel. Hari pernikahan yang seharusnya menjadi hari bahagia berubah menjadi hari penuh bencana. Sang raja menangkap Helio dan mengasingkan nya ke sebuah menara di daerah terpencil dengan jalan keluar yang menantang maut.
Oscar segera memerintahkan bawahannya untuk membawa Yuriel ke hadapannya secara paksa. Maka dengan terasingkan nya Helio, Oscar berhasil mempersunting dan menjadikan Yuriel sebagai ratu dan ibu dari pewaris takhta.
Helio yang diasingkan, diam-diam mengumpulkan kekuatan untuk keluar dari tempat terkutuk dimana ia dikurung. Pada akhirnya, tiga tahun berlalu sejak Yuriel menjadi ratu, Helio terbebas dan kembali memegang posisi sebagai Duke Trovis dan menjatuhkan Oscar bersama bangsawan lain yang melakukan pemberontakan.
Yuriel kembali kepada Helio, dan mereka hidup bahagia hingga akhir hayatnya.
____________
"Luar biasa Rayn, aku sampai ingin tertawa mendengar ceritamu itu." Ujar seorang laki-laki bersurai hitam legam dengan manik hijau topaz, sembari bertepuk tangan pelan di hadapan kembarannya yang baru saja menceritakan cerita romansa yang begitu 'mengharukan'.
"Darimana kau mendapat cerita 'seindah' itu?" Tanya laki-laki berwajah mirip dengannya yang duduk dan bertopang dagu di sebelahnya.
"Kak Celestine yang menceritakannya kepadaku. Katakan saja cerita membosankan, Rai." Jawab Rayn, laki-laki yang merupakan kembar termuda diantara ketiganya.
"Hentikan juga tepuk tangan sarkastik mu, Rei." Sambungnya beberapa saat kemudian.
Ketiga orang yang berwajah identik satu sama lain ini adalah kembar tiga, putra dari Aeolus sang penyihir badai. Mereka cukup pintar dalam hal positif, dan sangat pintar dalam konteks negatif. Seperti mengelabui dan mempermainkan orang lain seperti mainan.
Seperti sekarang, ketiganya sedang bersantai di tebing Gunung Angin, yang merupakan daerah milik ayahnya. Sedang menunggu penyusup untuk mereka kerjai.
"Aku bosan." Keluh Rai, ia membaringkan tubuhnya di samping Rei dan menatap langit.
"Lakukan sesuatu, jangan mengeluh padaku." Ucap Rei, matanya masih terfokus pada kompas antik yang dipegangnya.
"Rayn, apa yang kau lakukan?" Rei mengalihkan fokusnya pada adik kembarnya yang tumben sekali tidak ikut berkomentar.
Rayn tidak menjawab dan tidak menoleh. Dirinya sedang melakukan ritual di tengah-tengah lingkaran sihir berwarna hijau.
Lima detik berlalu baru ia menyahut.
"Diam Rei, aku sedang memindahkan dinosaurus kesini. Aku ing--"
BLETAK!!
Ucapan Rayn terpotong tiba-tiba saat lemparan batu dari Rai tepat sasaran mengenai kepalanya. "Gunakan logikamu dengan benar, bayangkan saja jika makhluk berbadan besar itu muncul dan membuat berantakan. Kau mau bertanggungjawab atas segala kekacauan di hadapan ibu?" Rei berbicara panjang lebar, diikuti dengan anggukan Rai.
"Ck, baiklah. Aku akan meng--eh?" Perkataan Rayn lagi-lagi terhenti sebelum selesai. Keberadaan mana yang terasa familiar dan asing di waktu bersamaan membuatnya teralihkan.
"Apa lagi? Sekarang kau hendak membawa raksasa kesini, huh?" Rai berbicara sembari membalikkan tubuhnya hingga membelakangi kedua kembarannya.
"Tidak. Lihatlah, ada dua orang disamping pohon oak itu." Rayn menunjuk ke arah pohon oak yang menjulang tinggi.
Rei yang mendengar hal itu segera mengambil teropong lipat dari saku pakaiannya dan mengarahkannya ke samping pohon oak itu. "Hm, aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat." Rei terkekeh pelan di sela-sela perkataannya, di dalam pikirannya ia sedang merencanakan skenario permainan yang berunsur parasitisme.
"Apa yang harus kita lakukan untuk memberi pelajaran kepada mereka?" Rai mendudukkan dirinya, ia menatap kembarannya dan menaikturunkan alisnya.
"Hei!"
Rei dan Rai kompak berteriak saat Rayn tiba-tiba menarik keduanya ke balik semak semak. "Sebelum itu, aku menemukan secarik kertas ini diatas meja kerja ayah. Apa kita harus membukanya?" Rayn mengeluarkan kertas kecil dengan jentikan jarinya.
"Ya, dan sebelum kita membuka kertas itu, bisakah kita berpindah tempat?" Ujar Rai yang terlihat sedang menyingkirkan dahan kecil dan daun yang menempel di pakaiannya.
"Tutup saja mulutmu. Biar aku yang membacanya." Rei merebut paksa kertas itu dari Rayn, lalu menghela nafas kecil sebelum membukanya.
Rei, Rai, Rayn
Ayah dan ibu akan pergi selama beberapa hari ke Frave untuk mengurus beberapa hal. Dan selama kami pergi, ayah ibu berharap kalian bersikap baik dan tidak mengacau dirumah. Walaupun kalian bisa membereskan segala kekacauan yang terjadi, ayah bisa menyadarinya dengan sekali melihat. Maka dari itu, jangan lakukan hal yang bisa membuat berantakan.
Dan satu hal lagi. Aine memberitahu bahwa dalam jangka waktu dekat, terdapat dua orang spesial akan datang ke rumah kita. Jangan lakukan hal aneh kepada mereka.
Mereka adalah tamu kehormatan.
- Ayah mu
"Hanya itu saja?" Rayn dengan mudahnya meletakkan lengan kirinya di atas bahu Rai sebagai tumpuan untuk merubah posisi duduk.
"Lalu kau ingin apa? Singkirkan lenganmu, kau pikir lenganmu itu seringan bulu?" Ujar Rai, mendorong tangan kembarannya untuk menghilangkan beban pada pundaknya.
"Lanjutkan pertengkaran kalian itu saat ayah pulang. Sekarang kita harus beraksi." Rei memberi komando, dan ketiganya melompat tinggi lalu berpencar ke tiga titik berbeda.
...... ------------------......
"Hutan ini tenang sekali, sampai terkesan mencurigakan. Tidak ada fauna besar dan semuanya tampak dikendalikan." Eric berujar dibalik tubuh Alice yang sedang mengamati sehelai bulu berwarna coklat tua.
"Hmmm...." Si kepala pirang sama sekali tak menggubris perkataan Eric, matanya masih saja terfokus pada benda yang ia temukan di sela sela dahan pohon sekitar sepuluh menit yang lalu.
'Bulu ini terlihat unik sekali, berwarna coklat dan berkilau seperti emas. Jika bulu ini dijual di toko antik Lyvia mungkin harganya dapat melampaui mutiara kerang raksasa laut tenggara. Atau lebih baik kujual saja saat sampai di Lyberinth?' Alice berbicara dalam hati, tatapan matanya tampak berbinar binar.
"Cih." Eric mendecih pelan.
"Ada apa? Kau kesal? Ini adalah hutan sihir milik Aeolus, wajar saja tempat ini berbeda dari hutan Freesia." Alice berbicara panjang pada sahabatnya itu.
"Ya, ya. Aku mengerti, diamlah." Eric mengangkat kedua tangan dan bahunya mengejek.
Eric memicingkan matanya tajam ke arah suara benturan itu muncul, tidak terlalu dekat dari tempat mereka berdiri. Namun, suara itu terdengar seperti keberadaan manusia atau hewan besar yang terasa sedang mengintai mereka.
Syuutt.....
Duarr......
"Alice! Cepat mundur!" Eric menarik pedangnya dan melangkah ke depan hingga menutupi Alice dibalik punggungnya.
Anak panah tersebut tiba-tiba melesat mengarah ke kepala Alice, dan meledak tepat di hadapan mereka sebelum menghantam Alice.
"Eric!"
"Alice! Aku bisa menangani ini! Cepat pergi ke menara di puncak gunung!" Eric berteriak dibalik perisai sihir yang dibuatnya.
"Apa kalian datang kemari untuk bunuh diri?" Rei yang terbang melayang di hadapan Eric berujar mengejek, busur panah dengan aura sihir berwarna hijau sudah berada di tangannya.
'Rupanya ia yang melesatkan anak panah peledak itu.' Eric mempererat pegangannya pada pedang.
SET!...
"A-akh!" Alice yang hendak berlari pun seketika terhenti saat Rai tiba-tiba datang dan mencekik lehernya hingga hampir menutup akses paru-paru untuk bernafas.
"Jika sudah diberi umpan yang ampuh, mangsa secerdik apapun tidak akan melewatkannya. Nona, kau tidak akan bisa lolos dengan semudah itu." Rai mengambil sebuah belati disamping pedang miliknya, kemudian mengarahkan ujung tajam belati pada leher Alice.
Freeze...
Kedua tangan Rai perlahan-lahan membeku, rasa dingin yang menusuk terus menjalar hingga hampir menyentuh jantungnya.
"Rai!" Pekik Rayn yang baru saja tiba di area pertempuran, dengan segera Rayn menyiapkan serangan berupa bola angin yang dapat merobek apapun yang dihantam nya.
CRING!
PRAK!
BLAR!
Perisai sihir berlapis-lapis muncul di sekitar Alice dan melindunginya, bagian berwarna putih dari perisai itu memantulkan sihir angin Rayn hingga berbalik padanya dan mengeluarkan petir yang menyambar Rai.
Rei menatap tak percaya kedua adiknya yang terbaring lemah diatas tanah, rasanya tidak mungkin mereka mengalami kekalahan selain melawan kekuatan matahari.
"Kau...!!" Rei menggeram, ia menjulurkan tangan kanannya ke depan dan mulai membuat pusaran angin.
FWOOSHH....!
Angin dari segala arah berhembus membentuk sebuah pusaran angin besar di sekitar mereka. Eric dengan tanpa keraguan segera memasukkan kembali pedangnya dan mendekati Alice, kesempatan mereka untuk menang melawan Rei di tengah angin kencang sangat lah tipis. Jika tidak bisa melawan, mereka harus pergi dari hadapan lawan.
'Ck! Energi mana mereka menghilang, dasar pecundang! Bisa-bisanya mereka kabur saat pertempuran!' Rei mulai menghentikan pusaran angin dan menapakkan kakinya di atas tanah.
'Aku harus membereskan semua kekacauan ini dengan cepat sebelum ayah dan ibu mengetahuinya.' Ia beranjak membopong kedua tubuh adik kembarnya lalu membawanya ke menara.
...... ________________......
CRING!
Eric dan Alice berpindah tempat secara instan menggunakan sihir teleportasi, saat ini mereka berdua berada di depan gerbang menuju kota Lyberinth, kota lintas dunia.
Alice masih mengatur nafasnya yang tidak beraturan setelah sempat tercekik oleh Rai, dan ia pun sempat terguncang oleh peristiwa tak terduga yang menjadi penolongnya. Dirinya sendiri bahkan tidak tahu bahwa sebuah perisai sihir berlapis-lapis yang memantulkan sihir dan mengeluarkan petir dapat muncul di saat ia dalam bahaya.
"Kita tidak bisa langsung masuk ke kota dengan keadaan seperti ini. Para penjaga bisa berprasangka bahwa kita adalah orang-orang yang mencurigakan." Sahut Eric sembari melepaskan jubahnya.
"Ya, kau benar." Alice menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor dan merapikan rambutnya.
'Kebetulan sekali di Lyberinth.' Alice bergumam dalam hati.
...... ......
...----------------...
"Rei..! Jangan mengikat perban nya terlalu kuat! Rasa sakit luka ku bertambah berkali-kali lipat!" Rai meringis saat Rei mengikatkan perban pada luka sambaran petir di dadanya dengan kuat.
"Kak! Singkirkan kakimu!" Rayn spontan menjerit saat Rei menjadikan kakinya pijakan untuk memperbaiki perban Rai.
Reine, ibu dari kembar tiga tersebut, menatap prihatin interaksi ketiga putranya. Sementara Aeolus yang berdiri di sampingnya hanya menyilangkan tangan di dada, raut wajahnya seperti sedang menyelidiki sesuatu. Mereka kembali lebih cepat karena khawatir akan ketiga putra mereka.
"Sepertinya terjadi sesuatu saat kami pergi. Rei, apa kau bisa menjelaskan semua ini kepada ayah?" Aeolus melirik putra tertuanya yang tampaknya tidak memiliki keberanian untuk menatap sang ayah.
"Kami mencari masalah dengan dua orang yang kau sebutkan di surat, ayah. Dan kekuatan mereka sungguh luar biasa. Bahkan bisa disetarakan dengan kekuatan matahari." Jelas Rei kepada Aeolus.
"Jadi mereka yang menyebabkan Rai dan Rayn terluka hingga dibalut perban seperti ini? Apa yang terjadi dengan kekuatan regenerasi sihir kalian?" Kali ini sang ibu angkat bicara, tangan nya mengusap lembut pipi Rai.
"Entahlah, ibu. Rasanya seperti ilusi, tapi semua itu benar-benar sebuah kenyataan." Rei berkata sembari memperbaiki perban Rai.
'Aine, apa ini adalah maksud sebenarnya dari keistimewaan kedua orang itu?' Batin Aeolus.
To be continued.......
Bonus! Free wallpaper