
"Timu, Eric. Kita harus menuju ke arah timur." Alice menahan langkah Eric yang sudah hendak bergerak ke arah selatan.
Wajah Eric tampak kebingungan. "Bukankah arah ini adalah timur?" Ia menunjuk arah selatan dengan jarinya.
Alice menghela nafas pasrah untuk kesekian kalinya dan menepuk bahu Eric. "Sepertinya kepalamu sudah bermasalah semenjak kau sadar dari pingsan. Sejak kapan pula arah selatan menjadi timur?"
"Tapi instingku mengatakan jika timur mengarah ke sini! Siapa yang tahu jika hutan ini dilapisi sihir ilusi?!" Eric bersikeras dengan pendapatnya.
"Instingmu sungguh mengada-ngada, tempat ini hanyalah hutan tanpa sihir apapun yang melapisinya. Cepat, kita tak bisa membuang-buang waktu hanya demi perdebatan ini." Alice berkata sembari menarik tangan Eric dan berjalan ke arah matahari terbit.
Mereka sudah meninggalkan Kota Lyberinth sekitar satu jam yang lalu. Pada awalnya Alice berencana untuk pergi sebelum pagi matahari naik, namun Eric masih memiliki urusan dengan para Prajurit Bayangan sehingga beralasan pada Alice bahwa kepalanya masih terasa sakit. Dan setelah semua sandiwara Eric terlaksana dengan baik, mereka berdua keluar dari daerah Lyberinth.
"Seharusnya tadi saat di kota kita membeli kuda terlebih dahulu, tidakkah kau merasa lelah berjalan kaki terus menerus?" Ujar Eric kepada Alice yang masih terfokus dengan buku penyihir matahari.
Alice melirik Eric sekilas, lalu kembali ke buku. "Menunggang kuda terlalu berisiko. Kuda yang dijual di perkotaan tidak terlalu terlatih seperti kuda militer, daya tahan dan kecepatan mereka lebih rendah. Mereka tak bisa dipaksa untuk terus berlari jika sudah mencapai batas, dan pada akhirnya kita harus berjalan kaki bukan? Terlepas dari semua itu, daripada merelakan tiga keping emas untuk membeli kuda lebih baik disimpan baik baik untuk membeli makanan."
"Oh, baiklah." Eric menjawab pendek.
Keheningan terjadi dalam beberapa saat, mereka terus berjalan tanpa henti menuju timur. Rintangan yang muncul semakin bertambah seiring dengan keduanya yang terus melangkah, bahkan Eric sudah berkali-kali menjadi korban rintangan yang ada di hutan ini.
BRUK!
Sekali lagi, Eric menabrak dahan salah satu pohon yang berukuran cukup besar. Pohon itu sangat tinggi dengan banyak dahan bercabang-cabang dari atas hingga bawah.
Eric meringis, tangan kirinya sibuk mengusap-usap dahinya yang memerah, sementara tangan kanannya sudah menarik pedangnya dan memotong dahan pohon tadi.
"Hei, bukankah kau baru saja tersandung tadi? Sekarang apalagi?" Alice berhenti berjalan lalu memutar badan untuk melihat kondisi Eric.
"Ck, dahan pohon menyebalkan ini!" Eric memasukkan kembali pedangnya dan menendang dahan yang dipotongnya ke depan.
Alice tertawa sejenak melihat keadaan temannya sebelum berkata serius. "Lebam kecil itu tak mungkin mengganggu cara berpikir dan fisikmu, Eric. Masih banyak petunjuk yang belum kita pecahkan." Kemudian berbalik badan dan kembali berjalan.
Eric memandangi punggung Alice yang terus berjalan di depannya. 'Akhir-akhir ini ia terlihat ambisius ... ' Batinnya.
Semua berjalan dengan baik, sebelum Alice menghentikan langkahnya dan melirik Eric yang berjalan dibelakangnya.
"Eric, tidakkah kau merasa aneh?"
Eric ikut menghentikan pergerakan kakinya, raut wajahnya berubah drastis seperti sedang melihat hal yang menyeramkan. "Apa maksudmu?"
Bukannya menjawab, Alice meletakkan jari telunjuk di bibirnya. "Sssttt ... Jangan membuat banyak suara." Bisiknya pelan.
"Hei, apa-apaan. Kau sengaja mengerjaiku?!" Eric meninggikan suaranya, membuat burung-burung kecil yang semula bertengger santai di sekitarnya terbang berhamburan. Suaranya terdengar menggelegar di hutan ini.
"Dengarkan aku terlebih dahulu!"
Eric tersentak ketika mendengar nada suara Alice yang menunjukkan emosi marah. Ia memilih diam sebagai isyarat mempersilahkan Alice untuk berbicara.
Alice memungut daun pohon yang berserakan di bawah kakinya. "Hutan ini aneh, hampir sama sekali tidak terlihat seperti hutan yang sering dilewati kereta kuda. Kondisinya bahkan lebih 'liar' daripada hutan penyihir angin, seperti tak pernah dijamah manusia."
Menelan ludah, Eric menatap serius Alice. "Lalu?"
"Apa mungkin ada sesuatu berbahaya yang bersembunyi di sini?"
Belum sempat menjawab, Eric merasakan adanya pergerakan makhluk berukuran besar dengan radius yang tak jauh dari mereka. Ia menggigit bibirnya tegang.
Suara mengaum dari makhluk itu terdengar mengerikan, bahkan telah menumbangkan pohon-pohon disekitarnya. Sebentar lagi mereka berdua lah yang akan menjadi sasarannya.
Alice tak bisa bergerak--ia benar-benar dilanda ketakutan sekarang, jauh lebih takut daripada saat ia bertemu kawanan serigala di Hutan Freesia. Berbanding balik dengan Eric yang sudah berlari mendahuluinya.
"LARI!" Eric berteriak, namun Alice masih tidak bergerak dari posisinya.
Makhluk yang terlihat seperti harimau putih raksasa itu sudah semakin dekat dengan Alice. Bulu putihnya lebat, netra birunya mengilap seperti permata, dan tubuhnya setinggi pepohonan. Makhluk ini sungguh berbeda dari harimau yang ia tangkap enam tahun lalu.
Setiap harimau itu melangkah, tanah pun dibuat bergetar olehnya. Tak terbayang apa yang akan terjadi jika kakinya yang begitu besar menginjak Alice yang sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.
Alice mundur beberapa langkah, berusaha menjauh. Naas, punggungnya menabrak pohon dibelakangnya, yang berarti ia tak punya pilihan lain selain berlari ke arah lain.
Harimau itu semakin mendekat, wajah garangnya terlihat seperti hendak memangsa Alice hidup-hidup.
Alice sudah tak berdaya sekarang, kendali akan tubuhnya benar-benar dilahap habis oleh rasa takut. Ia memejamkan mata, bersiap akan segala kemungkinan yang terjadi.
'Apakah hidupku akan berakhir seperti ini? Oh ibu, maafkan putrimu ini yang belum cukup berbakti kepadamu ..... ' Batinnya pasrah. Air mata berlinang di pipinya.
Eric yang menyadari bahwa Alice tidak mengikutinya berlari dengan segera berbalik arah, kembali ke tempat semula dimana mereka bertemu dengan harimau itu.
"ALICE!"
Tangannya terangkat ke udara saat melihat Alice terpojok, membuat bola sihir. Kemudian ia melompat ke arah harimau itu, menghantarkan serangan. Belum sempat bola sihir di tangannya menyentuh tubuh hewan mengerikan itu, dengan mudah harimau itu menghempaskan tubuh Eric dengan kakinya sehingga tubuh pemuda bersurai coklat itu terbanting ke tanah dan bola sihir yang dibuatnya berbalik menyerangnya.
Alice menatap temannya yang sudah terkapar di tanah, jika Eric bisa dibuat jatuh oleh harimau ini, maka ia bisa terluka lebih parah lagi.
Dugaannya salah. Harimau di depannya tidak bergerak menerkamnya, tubuh harimau itu menyusut menjadi seukuran harimau pada biasanya. Dirinya dibuat kebingungan lagi saat harimau itu bersujud di hadapannya.
"Senang bisa bertemu denganmu, Putri."
Alice seakan tak percaya dengan pendengarannya, harimau itu baru saja berbicara dengan bahasa kuno. Jelas sekali perkataan itu keluar dari mulut harimau ini, bukan karena dikendalikan oleh sihir.
"A-apa maksudmu?" Alice berbicara dengan nada bergetar, rasa takut dan ingin tahu bercampur aduk dalam hatinya.
"Kau bisa menggunakan bahasa kuno rupanya. Namaku Daenerys, harimau putih dari barat yang mengabdi kepada sang Penyihir Es Abadi." Harimau betina yang bernama Daenerys tersebut memperkenalkan diri layaknya manusia biasa kepada Alice.
Nafas Alice tercekat, hal yang mustahil baru saja dialaminya. Seekor harimau berbicara tanpa pengaruh sihir? Sekarang ia seperti sedang berjalan di negeri dongeng.
"Dan seperti yang telah kukatakan, aku adalah hewan abdi pada Theseus, maka secara tidak langsung kau merupakan majikanku juga." Daenerys melanjutkan kata-katanya.
"Apa hubungan antara diriku dengan beliau?!" Alice bertanya penuh penekanan.
Daenerys diam sejenak sebelum menjawab. "Kau akan mengetahuinya suatu hari nanti, Putri."
Kemudian ia mengangkat salah satu kaki depannya, dan tak lama terlihat harimau putih yang lebih kecil berlari ke arah mereka.
"Kau hendak kemana, Putri? Mari saya antarkan." Ia bergerak bersimpuh di depan Alice, mempersilahkan tuannya untuk menaiki punggungnya.
Alice menaiki punggung Daenerys dengan penuh keraguan, ia sempat mengalami kesulitan menyeimbangkan diri di atas harimau tersebut, tapi dapat diatasi dengan mencengkeram bulu putih Daenerys dan merubah posisi duduk.
Setelah mengetahui jika Alice telah nyaman di punggungnya, Daenerys melirik harimau yang ia panggil beberapa waktu lalu.
"Harimau ini adalah putraku, Etoirir. Ia akan membawa teman kurang ajarmu yang berusaha menyerangku tadi."
"B-baiklah, terimakasih." Alice menjawab, jujur saja ia merasa kasihan melihat Eric yang terluka karena berniat menolongnya.
Etoirir melompat mendekati Eric, lalu mengangkat tubuh Eric dengan sihir ke punggungnya. "Kami sudah siap, ibu."
"Putri, sebelum aku mengantarkanmu ke tujuan, bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat?" Daenerys mulai berlari, diikuti dengan Etoirir.
Alice mengangguk pelan dan mencengkeram lebih kuat bulu Daenerys.
Sebuah portal tercipta di depan mereka, Daenerys dan Etoirir mempercepat laju berlari mereka.
"Berpeganglah padaku lebih kuat, Putri!" Daenerys berseru, lalu masuk ke dalam portal bersama dengan Etoirir yang mengangkut Eric di belakangnya.
Terang dalam beberapa waktu saat memasuki portal. Lalu, mereka muncul di dekat pohon besar. Warnanya biru, terang benderang, seperti menyimpan kekuatan sihir yang luar biasa dengan sejuta rahasia. Alice dibuat terpana, matanya menjadi bercahaya karena reaksi mana di dalam tubuhnya. Dengan cepat ia turun dari punggung Daenerys, memandang pohon itu lebih dalam. Ia tak mengedipkan matanya, seolah-olah keindahan pohon ini begitu menghipnotis dirinya.
"Indah, bukan? Inilah Pohon Harapan, pohon penjelmaan jiwa sang Penyihir Matahari yang menyimpan kekuatan besar, dan rahasia tentang tiga bagian dunia di bumi ini. Konon jika kau memetik selembar daun dari pohon ini, semua kehidupanmu akan berubah menjadi lebih baik. Itulah mengapa pohon ini diberi nama sebagai 'Pohon Harapan'." Daenerys menjelaskan dan menyentuh batang Pohon Harapan.
Alice tidak menanggapi, masih tenggelam dengan pesona Pohon Harapan yang sangat memukau, melebihi semua pohon di dunia.
Daenerys yang melihat Alice tidak berkutik, mengambil serbuk kristal yang bertebaran di bawah kakinya dan melemparnya ke kepala Alice. Serbuk itu bertekstur halus, tidak akan terasa sakit jika dilemparkan ke anggota tubuh.
DEG!
Alice tersadar, matanya kembali seperti semula. "A-apa yang terjadi padaku?"
" Jangan terlalu tenggelam dengan pesona pohon ini jika kau tak ingin energi mana-mu terhisap dan kau mati." Daenerys menegur.
"Maaf, aku tidak tahu tentang itu." Alice menunduk, merasa bersalah.
Daenerys kembali menyentuh Pohon Harapan. "Coba kau sentuh pohon ini."
Alice sama sekali tidak membantah, pohon ini seperti sedang memanggilnya. Ia memegang pergelangan tangannya untuk beberapa saat dan berkata. "Sebelum itu, bisakah kau menyembuhkan temanku terlebih dahulu?"
Eric memang sangat menyebalkan. Namun, Alice tetap menganggapnya sebagai teman yang selalu membantunya disaat-saat sulit. Ia tak bisa membiarkan Eric yang terluka.
Daenerys tampak terkejut, lalu berjalan ke arah Etoirir yang sudah membaringkan Eric di tanah.
Harimau betina itu mengangkat kakinya dan meletakkannya di dada Eric, mengalirkan mana berwarna hijau yang kemudian menyebar keseluruh tubuh Eric.
Sihir penyembuh tersebut berhasil. Eric membuka mata, mengerjapkannya untuk beberapa saat, kemudian terduduk.
"Dimana aku?"
Ia bertanya dengan kondisi setengah sadar. Baru setelah kesadarannya kembali sepenuhnya ia terperanjat kaget, melihat ia berada di tempat aneh juga dikelilingi dua harimau putih.
"Eric, hentikan!" Alice segera maju untuk menghentikan Eric.
Seolah perkataan Alice hanyalah angin lalu, Eric tetap mempertahankan keputusannya untuk melawan. Ia mulai mengalirkan mana pada pedangnya guna menambah kekuatan.
Bzztt...
"Ack!" Kepala Eric secara tiba-tiba terasa tersengat listrik, kuda kudanya mulai tak beraturan dan berakhir jatuh terduduk. Pedang yang semula digenggamnya erat, kini ikut jatuh ke tanah sepertinya.
Alice berjongkok, menyejajarkan dirinya dengan Eric, lalu bertanya dengan cemas. "Kau tak apa?"
Eric terlalu tak berdaya untuk menjawab pertanyaan Alice yang mengkhawatirkannya. Mana dalam tubuhnya seperti sedang dipermainkan oleh energi pohon besar di depannya.
"P-pohon itu!" Eric menatap pohon harapan dengan wajah meringis kesakitan.
"Emosi negatifmu mengundang respon buruk dari Pohon Harapan, tenangkanlah perasaaanmu, niscaya dirimu akan kembali baik baik saja." Kali ini Etorir yang menjelaskan.
"Tenang Eric, tenang. Mereka berniat membantu kita." Bisik Alice.
Eric menarik nafas dan mencoba untuk tenang. Berkali-kali ia mencoba berpikir jernih, akhir-akhir ini ia sering kehilangan kendali atas tubuh dan pikirannya.
Etoirir mendekati Eric. "Sudah lebih tenang?"
"Ya." Eric menjawab, kemudian berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya. "Siapa kalian?"
Daenerys tidak merespon apapun akan pertanyaan Eric--seperti mengisyaratkan bahwa ia tidak mengerti bahasa yang digunakan Etoirir dan Eric.
Etoirir maju beberapa langkah. "Aku Etoirir, dan yang disebelahku ini adalah ibuku, Daenerys. Kalian berdua tak perlu menggunakan bahasa kuno untuk berbicara denganku, aku mengerti bahasa modern yang biasa digunakan oleh kalian di masa ini."
"Apa yang kalian bicarakan, Etoirir?" Tanya Daenerys yang sama sekali tidak mengerti dengan arah pembicaraan.
"Tidak, bukan apa-apa, Ibu." Etoirir melirik ibunya.
"Aku memang tak mengerti apapun yang kalian bicarakan, tapi kalian harus melakukan sesuatu terlebih dahulu. Terutama kau, Putri." Daenerys berbalik dan berjalan ke arah Pohon Harapan.
Alice menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
"Ya, dirimu, Putri."
"Kenapa harus diriku?"
"Kau mungkin tidak akan tahu alasannya jika kau belum melakukannya, Putri."
Alice terdiam, memikirkan seribu kemungkinan yang akan terjadi saat ia menyentuh Pohon Harapan. Masih ada keraguan dalam dirinya. Bagaimanapun ia dan Daenerys baru saja bertemu, ia tidak tahu harimau betina tersebut baik atau tidak.
Perlahan Alice mengulurkan tangannya menyentuh batang Pohon Harapan.
"Alirkan sedikit mana-mu pada batang Pohon Harapan." Daenerys mengarahkan.
Alice mengerti, ia mengalirkan mana birunya melalui telapak tangannya. Seketika sebagian pohon itu membeku bereaksi akan mana Alice yang mengandung sihir es.
Dalam sekejap, pikirannya terbawa masuk kedalam dunia Pohon Harapan, yang kemungkinan membangkitkan alam bawah sadarnya dan memunculkan ingatan-ingatan yang tak pernah ia alami.
"Lorraine, sadarlah! Dia akan menusuk kita dari belakang jika kau tetap mengasihaninya!"
"Ideologis dunia damai-mu itu hanya akan terwujud di dalam mimpimu."
"Tetaplah bersamaku, Bianca."
"Putri kecilku, ia akan kuberi nama Alice."
"Walau begitu, kau dan putri kita akan selalu ada di dalam jiwaku."
"Akh!" Alice mundur beberapa langkah dan meremas kepalanya. Kepalanya terasa sakit setelah melihat beberapa adegan yang tiba-tiba melintas di kepalanya, air matanya hampir mengalir.
Eric spontan mengarahkan pedangnya pada kepala Daenerys. "Dasar hewan buas! Apa yang kalian lakukan kepada Alice?!"
Daenerys tetap tenang, ia hanya melirik sekilas ujung runcing pedang Eric yang berada di samping mata kanannya. "Sopan sekali tutur katamu, Nak. Ini mungkin terasa menyakitkan baginya, tapi akan lebih menyakitkan jika ia harus hidup dalam bayang-bayang segalanya tanpa mengetahui apapun. Ia belum menemukan jati dirinya, Pohon Harapan akan membantunya untuk itu."
Eric berdecak sebal, namun pada akhirnya ia percaya dan menurunkan pedangnya kembali.
"Ayah ... " Alice bergumam dengan air matanya yang mengalir deras. Sekarang ia tahu siapa ayahnya, siapa yang mewariskan kekuatan mana yang begitu hebat padanya.
Dialah Sang Penyihir Es Abadi, Theseus. Yang memiliki netra biru safir indah seperti miliknya, yang memiliki kekuatan sihir es sepertinya.
Pengungkapan siapa ayahnya juga menjawab banyak pertanyaan mengenai dirinya.
Alice tak kuasa bertahan untuk berdiri, ia jatuh terduduk. Sementara Eric menatap sendu sahabatnya yang menangis, jarang sekali ia melihat Alice dilanda kesedihan seperti itu.
Tapi air mata Alice bukanlah kesedihan, melainkan tangis bahagia. Namun mengapa ayahnya meninggalkannya bersama ibunya?
Alice mengelap air matanya dan bangkit menghadap Daenerys. "Apa kau bisa mengantarkanku ke Hutan Es? Aku ingin bertemu ayahku." Ia memohon dengan suara serak.
Daenerys tak menjawab. Eric yang merasa bahwa Daenerys akan menolak berkata, "Tolong pertemukan ia dengan ayahnya. Hanya beliau satu-satunya harapan bagi Alice."
Etoirir menggeleng, "Tidak bisa. Hutan Es tak bisa dimasuki oleh sembarang orang untuk saat ini, bahkan para signorina dan signore tak diizinkan masuk ke sana."
"Maaf, Putri. Kami tak bisa membawamu kesana. Hutan Es adalah pusat kekuatan sihir dari seluruh penjuru dunia. Dan saat ini kestabilan dunia sihir sedang terguncang sehingga para penyihir yang mewarisi kekuatan matahari sedang berusaha untuk memperbaikinya. Putri bisa berkunjung lain kali." Jelas Daenerys mempertegas penjelasan putranya.
Alice meremas bajunya lalu berkata, "Aku mengerti. Tapi tolong sampaikan ini pada ayah, katakan jika aku baik-baik saja dan akan segera menemuinya di kala ada kesempatan."
"Dengan senang hati akan kusampaikan pesanmu, Putri. Kalau begitu kami pamit undur diri, kalian dapat memanggil kami kapan saja." Daenerys dan Etoirir sedikit membungkuk pada Alice dan Eric, kemudian membuka portal dan hilang ketika memasukinya.
"Alice." Panggil Eric, "Ayahmu ... "
"Theseus, Sang Penyihir Es Abadi." Alice menjawab tanpa menatap lawan bicaranya, ia tak tahu perasaan apa yang dirasakannya saat ini. Bahagia, senang, dan kecewa karena ayahnya meninggalkannya.
Si mata emas menghela nafas lalu menunjuk daun daun Pohon Harapan yang berkilau. "Pohon Harapan. Itu berarti pohon ini dapat memberikan harapan kepada mereka yang merasakan derita mendalam di dalam hidupnya bukan? Mengapa kau tidak memetiknya untuk menyembuhkan ibumu?"
"Aku ini seorang signorina, entitas yang memiliki kekuatan matahari yang mengalir di tubuhnya tak pantas memakai kekuatan Pohon Harapan untuk memperbaiki hidup." Jelas Alice dengan senyum tipis terukir di bibirnya. "Andai saja jika ayahku bukan dia, mungkin aku sudah mengambil daun Pohon Harapan untuk ibuku." Sambungnya, tersenyum sedih.
"Kau masih beruntung dapat mengetahui siapa ayah dan ibumu. Lihatlah aku. Aku bahkan tak mengetahui apa orangtuaku masih hidup di muka bumi ini atau tidak." Eric berusaha menghibur Alice dengan mengatakan takdirnya yang lebih buruk dibanding Alice.
Alice menatap Eric disampingnya, "Aku tak bermaksud mengutuk takdirku. Aku hanya sedikit kecewa padanya ... "
...----------------...
"Selamat siang, Tuan. Saya membawa apa yang diperintahkan Tuan." Daenerys berjalan memasuki ruangan dimana Theseus berada.
Theseus bangkit dari kursi kerjanya, mengelus perlahan bulu lebat Daenerys dan mengambil setumpuk kertas yang dibawa Daenerys di punggungnya, membuka lembaran demi lembaran sejenak. "Darimana kau mendapat semua ini?"
"Apapun demi majikan saya, Tuan. Saya mendapatkannya dari mata-mata di kediaman keluarga Leilhart." Jawab Daenerys.
"Kerja bagus." Ucap Theseus tanpa ekspresi, ia beranjak duduk kembali dan memeriksa dokumen tersebut.
"Tuan, ada yang ingin saya bicarakan." Daenerys memulai kembali pembicaraan. "Nona Alice, signorina berdarah manusia yang anda tinggalkan di Saicensia delapan belas tahun yang lalu. Apa tuan masih ingat?"
DEG!
Theseus seketika berhenti dari pekerjaannya, mata biru safirnya melebar, kemudian ia menatap Daenerys. "Darimana kau mengenalnya?"
"Saya bertemu dengan beliau di Hutan Lyberinth, beliau sedang bersama lelaki bermata emas khas kerajaan. Saya dan Etoirir membawa mereka ke dimensi Pohon Harapan, disana Signorina Alice menemukan jati dirinya sebagai putri anda, Tuan." Daenerys menceritakan mengenai pertemuannya dengan Alice.
Theseus menggenggam penanya hingga hampir membeku, "Siapa yang memerintahkanmu untuk membawa putriku ke Pohon Harapan?" Ia berujar dengan nada dan ekspresi dingin yang mengintimidasi.
Daenerys segera membungkuk. "Ampun, Tuan. Saya mengira jika membawa Signorina Alice ke Pohon Harapan adalah hal yang paling tepat untuk dilakukan."
"Keluarlah." Perintah Theseus. Lalu Daenerys keluar menuruti titah tuannya.
'Alice putriku ... ' Batin Theseus memanggil nama putrinya. 'Ya Tuhan, apa yang harus kukatakan padanya ... '
To be continued....
Signorina : Panggilan untuk keturunan perempuan dari para murid penyihir matahari, yang dimaksud ialah keturunan biologis. Mereka bebas memilih pasangan mereka baik dari kalangan rendah maupun tinggi. Signorina tak dapat menggantikan ayah ibunya di posisi penyihir elemen kecuali merupakan anak tunggal dan tak memiliki saudara laki-laki. Setiap Signorina mewarisi perhiasan ajaib dari leluhur mana mereka, Lorraine.
Signorina :
• Aiden : Signorina Aine
• Theseus : Signorina Alice
• Astraeus : Signorina Celestine, Signorina Celine
Signore : Panggilan untuk keturunan laki-laki dari para murid penyihir matahari. Para Signore lah yang paling berhak menggantikan ayah atau ibunya dalam menduduki posisi penyihir elemen. Seorang Signore mesti memiliki pasangan dari keluarga berstatus tinggi di kalangan sosial. Sama seperti Signorina, hanya keturunan biologis yang dapat dipanggil dengan Signore. Setiap Signore mewarisi senjata pusaka dari leluhur mana mereka, Lorraine. Signore yang sudah menginjak usia dewasa memiliki wilayah kekuasaan tersendiri layaknya bangsawan.
Signore
• Aiden : Signore Aidric
• Aeolus : Signore Rei, Signore Rai, Signore Rayn
• Sereia : ???