Eternal Ice

Eternal Ice
Chap.3 "Let's Begin!!"




Seperti yang Eric katakan kemarin, mereka akan pergi hari ini.


Saat ini, Eric sudah menunggu di depan rumah Alice dengan perasaan kesal. Telinganya terasa sangat panas mendengar teriakan dan suara wanita yang lewat membicarakannya. Dia ingin segera pergi, lagipula dirinya tak membawa banyak barang. Hanya membawa sebilah pedang dan beberapa peralatan bertahan hidup yang tidak menjadi sebab untuk membawa tas besar.


"Alice, astaga, sudah lebih dari satu jam aku menunggumu! Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan di dalam?" Eric berteriak kesal karena sudah terlalu lama menunggu. Ia memutuskan melepaskan jubah yang dipakainya karena merasa risih, musim dingin tak pernah membuatnya harus memakai pakaian tebal.


"Kecilkan suaramu, kau malah membuat keributan di hari yang mendung ini! Tidak bisakah kau bersabar?" Alice membalas teriakan sahabatnya itu. Eric dapat melihat Alice yang sedang menatap kesal ke arahnya dari jendela lantai 2.


25 menit kemudian, gadis berambut pirang yang ditunggunya akhirnya keluar dari rumah. Kepala dan telinganya terasa terbakar, kesabarannya hampir habis. Untung saja Alice cukup peka sehingga segera keluar sebelum Eric menghancurkan pintu rumahnya.


"Ayo, kita pergi." Ujar Alice dengan enteng, berbeda dengan laki-laki yang berdiri di hadapannya. Asap mengepul terlihat mengitari kepala Eric, terdengar suara menggeram dari bibirnya. "Pfftt." Alice menahan tawa ketika melihat bagaimana reaksinya, ia teringat dengan harimau yang sengaja ditangkapnya 6 tahun lalu untuk dihadiahkan kepada ibunya. Tentu, sang ibu langsung pingsan ketika melihat putrinya yang berusia 12 tahun memasuki pekarangan rumah dengan menaiki seekor harimau.


"Hei, mau sampai kapan kau menggeram seperti harimau? Jangan membuang waktu, cepat, kita harus pergi." Alice memukul punggung Eric menggunakan buku penyihir matahari. Eric merespon dengan menghela nafas panjang, berusaha menghilangkan amarahnya.


Agar orang-orang di kota tidak curiga, mereka memutuskan untuk pergi ke perbatasan kota terlebih dahulu. Penjagaan disana sangatlah mudah untuk dilewati. Apalagi jika dilewati oleh prajurit kelas kakap seperti Eric, itu menjadi hal kecil baginya.


Sring!!


Eric dan Alice menebas dahan pohon yang menghalangi mereka. Jangan salah mengira, Alice pernah berlatih pedang bersama Theo. Walaupun hanya sedikit teknik pedang yang dipelajarinya, ia sudah mengetahui bagaimana memegang pedang dan cara mengayunkannya.


"Ck, darimana kau tau jalan pintas ini? Sebenarnya sudah berapa kali kau melakukan kriminalitas?" Alice bertanya, sudah muak dengan dahan-dahan pohon yang tumbang di sana-sini. "Prajurit bayaran tidak menggunakan pintu depan, Nona. Kami mempunyai ratusan cara untuk menyelinap." Eric menjawab, tangannya masih memegang pedang dan menebas dahan pohon yang ada di depannya.


Selama lebih dari setengah jam, mereka berurusan dengan pohon pohon. Dan akhirnya di balik semak belukar, Alice melihat gerbang menuju kota sebelah.


Dandelion, sebuah nama kota terukir di papan yang terletak tepat di sebelah gerbang. "Eric, kita sudah sampai di gerbang kota Dandelion." Bisik Alice, penjagaan di gerbang kota ternyata menjadi lebih ketat dari sebelumnya. Bukan apa-apa, prajurit Dandelion ini terkenal dengan keramahannya kepada turis yang ingin berkunjung ke kota. Namun, lain halnya dengan seorang kriminal seperti laki-laki di sebelahnya yang sedang memasukkan kembali pedangnya.


"Ini mudah. Untuk apa kita memiliki mana yang kuat jika tidak pernah menggunakan sihir?" Ucap Eric, raut mukanya seakan-akan mengejek. Lalu, ia menjentikkan jarinya.


Ctak!!


Dengan segera, Eric dan Alice berpindah tempat. Dari perbatasan bersalju, saat ini mereka berdua muncul di pegunungan es yang sangat dingin.


"Oh? Ini, Pegunungan Saicensia kan? Angin disini sangat sejuk." Alice menghirup udara dengan penuh penghayatan di pegunungan salju yang jauh dari kata 'hangat'. Eric yang mendengar perkataannya langsung menatap tajam ke arahnya, jelas-jelas ini bukan pegunungan hijau yang menyejukkan.


"Apa kau gila? Gunung Es Saicensia ini hampir setara dengan Gunung Everest! Banyak orang-orang yang tak pernah kembali setelah mendaki gunung ini, bodoh!" Eric berteriak kesal, bagaimana bisa sahabatnya ini menganggap tempat yang paling dingin di Saicensia sebagai tempat yang cocok untuk relaksasi?


"Eric, sepertinya kau membutuhkan cermin. Kau jauh lebih gila daripada diriku. Aku jadi mendadak lupa, siapa yang menyelam ke dalam lautan lepas karena ingin bertemu hiu asli berukuran raksasa pada bulan lalu." Kata Alice, ia sengaja mengungkit kembali hal berbahaya yang dilakukan Eric untuk menyindirnya.


Karena tidak ada hal yang ingin dibicarakan lagi, Eric dan Alice kembali berjalan menyusuri hutan pegunungan. Tempat pertama yang ingin didatangi adalah Gunung yang memiliki Api Sihir, tempat tinggal bagi Sang Penyihir Api. Sistem pertahanan di sana sangatlah sulit untuk ditembus, maka terpaksa mereka berdua harus berjalan sendiri hingga sampai kesana.


Alice bersyukur hari ini pegunungan sedang dalam keadaan tenang, padahal biasanya badai salju selalu menyertai orang-orang yang berjalan di sekitar gunung. Ia masih tidak bisa menggunakan sihirnya untuk mengendalikan badai. Begitu pula dengan matahari, di hutan yang dingin, matahari sama sekali tidak terlihat. Awan mendung yang cukup tebal menutupinya, sehingga menambah kesan mencekam yang terasa saat ini.


"Buka peta dimensi dan sihir milikmu, Alice. Kita butuh sesuatu untuk dijadikan pengarah, hutan ini sudah dibentengi dengan sihir yang berlapis-lapis. Arah mata angin disini terus berubah di setiap menitnya," Eric berhenti sejenak dan berlutut, kedua jarinya menyentuh salju yang bertumpuk di bawah kakinya. "arah selatan sekarang sudah berubah menjadi utara."


Alice pun membuka peta dimensi dan sihir miliknya. Peta itu berbentuk kertas yang digulung seperti peta pada umumnya, yang berbeda hanyalah yang ditampilka. Jika peta biasa menampilkan bagian dari suatu daerah maupun negara, peta miliknya ini menampilkan dimensi yang berbeda-beda. Uniknya, peta ini dapat berubah sesuai dengan keinginannya.


Bola mata Alice menjelajah, mencari dimensi mereka berasal. “Nah, ini! ". Alice menunjuk ke salah satu bagian dari peta. Dimensi asli, ketika dimensi asli tercipta maka akan terpecah menjadi banyak dimensi lain. "Apa-apaan ini, kenapa ada dimensi dimana aku dan kau menikah?" Alice meremas kertas peta karena tidak terima dengan takdir di dimensi lain. "Itu bukanlah dimensi asli, apapun bisa terjadi, aku ini sangat tampan. Bagaimana bisa kau tidak terpesona denganku?." Eric berusaha untuk terfokus dengan arah mata angin yang mulai berputar.


"Ini hanya sihir ilusi, teruslah menuju arah selatan. Gunung berapi itu memiliki banyak prajurit elf." Sementara sang 'pengantin wanita' yang sedang berbahagia di dimensi lain mengalihkan pembicaraan. Ia begitu tidak nyaman dengan topik yang tentang percintaan. Hatinya seperti sudah membeku sebagaimana es di Kutub Utara.


Setelah mendengar arahan dari Alice yang membuka peta, Eric berdiri dan merapihkan kembali mana nya yang cukup berantakan karena tadi digunakan untuk memfokuskan arah mata angin. Mana berwarna putih bercampur emas milik Eric ini bisa dibilang hampir sejenis atau memiliki aliran yang sama dengan mana yang tertanam di jantung Alice. Apa itu berarti keduanya memiliki nenek moyang mana yang sama?


"Dasar kau ini, lambat sekali! Cepat! Kita harus menemukan tempat berlindung sebelum badai datang." Alice menggerutu, mempercepat langkahnya mendahului Eric. Langit terlihat menggelap, butiran salju yang turun secara cepat dan banyak mulai menghalangi penglihatan, angin dingin bertiup kencang dari segala arah. Badai ini adalah mimpi buruk musim dingin abadi yang menghantui seluruh Saicensia.


Merasa dirinya ditinggalkan sendiri, Eric menyusul Alice. Walaupun mana nya masih berantakan, tapi ini bukan hal yang penting.


_ _ _ _ _ _ _ _


Alice pada akhirnya ambruk dengan nafas yang terengah-engah. Berlari di badai salju ekstrem ternyata bukan hal yang sepele, jika saja ia tak punya pertahanan yang bagus terhadap salju dan es, entah bagaimana nasibnya.


Mereka berdua beruntung menemukan gua kecil yang setidaknya bisa digunakan untuk berlindung sampai badai reda. "Perubahan cuaca disini lumayan cepat, padahal tadi sepertinya cerah." Eric mendengus kesal sembari menepuk-nepuk pundaknya yang penuh dengan salju, sementara Alice yang mendengar perkataan lelaki ini mendecih pelan.


'Hei, bisakah si sombong ini diam? Lagaknya yang begitu tidak peka ini membuatku tak tahan untuk membekukan wajah yang selalu dibanggakannya itu.' Kira-kira itulah yang dikatakan oleh batin si surai pirang keemasan ini.


Hal pertama yang dilakukan Eric, adalah membuat api unggun. Ia sempat memunguti kayu yang bertebaran sebelum sampai disini, kemampuannya dalam menerjang rintangan memang sangat dibutuhkan di perjalanannya kali ini.


"Aku ingin tidur, kau buatlah sihir pertahanan di gua ini. Kuserahkan semuanya padamu." Perintah yang dijatuhkan Alice ini membuat Eric hendak protes. Apa apaan perintahnya ini? Apa gadis yang sedang memposisikan diri untuk tidur di hadapannya adalah majikannya?


"Aku ini bukan pengawal pribadimu. Mana mungkin aku mau melakukan perintahmu?" Ucapan protes terlontarkan dari mulut si mata emas.


"Bayaranmu adalah artefak sihir yang akan kita dapatkan nanti." Jawab Alice, ia mulai terlelap menuju alam mimpi.


"Apa boleh buat." Gumam Eric, tangannya mengeluarkan cahaya 𝘮𝘢𝘯𝘢 yang menyebar membentuk benteng sihir.