
Ketika Favsion tiba di lokasi,Ia langsung melesat masuk ke dalam gedung.Ia tak memiliki waktu untuk berbicara dengan para polisi dan pasukan militer khusus yang berkerumun di luar dan tidak berdaya menghadapi kegilaan yang berlangsung di dalam gedung tersebut.
Dan begitu ia memasuki lantai 7 di gedung hotel tersebut,Favsion dapat langsung melihat pasukan khusus yang putus asa telah disudutkan oleh Dhika.
Dan Dhika sendiri kemudian langsung membentuk semacam tangan bayangan berwarna ungu yang panjang dan langsung menggenggam ke semua anggota pasukan khusus tersebut.
Namun mereka tidak benar-benar digenggam.Saat tangan tersebut ditarik oleh Dhika,Terlihat sesuatu keluar dari tubuh mereka.Sesuatu yang memancarkan cahaya redup.Itu adalah jiwa mereka.
Dan begitu itu ditarik keluar dari tubuh mereka,Mereka seketika tewas dan langsung terbujur kaku tanpa meninggalkan luka apapun.
Dhika kemudian melihat Favsion yang menatap ke arahnya dengan tatapan serius dan tajam menusuk.
Dhika tertawa kecil :"Ehehe....Apa ini?Mangsaku lainnya malam ini?Dan dia adalah Dimension Traveler bodoh yang kutemui siang tadi...." Katanya sembari menunjukkan deretan giginya saat ia menyeringai.
"Hentikan semua ini.... Atau aku akan membuatmu menyesalinya....." Kata Favsion sembari melangkah maju tanpa gentar sedikitpun.
Dhika yang juga sama beraninya dengan Favsion pun tidak mundur satu incipun.Sebaliknya,Ia membentuk bola energi ungu gelap di tangannya yang menyala-nyala layaknya sebuah api.
Dan Dhika pun berkata :"Aku selalu penasaran....Sekuat apa kira-kira jiwa seorang Dimension Traveler??"
Setelah mengatakan hal tersebut,Dhika melontarkan bola energi yang segera berlipat ganda dengan cepat.Favsion kemudian memanfaatkan tempat mereka bertarung yakni di koridor di lantai tersebut.Favsion segera melesat dengan gerakan spiral memutari lorong dari atas ke bawah.Dan Favsion langsung berdiri di belakang Dhika.
Favsion sempat bergumam di belakang Dhika :"Kau?Merasakan kekuatan dari jiwa Dimension Traveler?Jangan mimpi"
Dan disaat itulah Dhika ditendang oleh Favsion dari belakang dan menyebabkannya terpelanting cukup jauh hingga menghantam dinding yang menjadi ujung dari gedung tersebut dengan keras.Bahkan dinding tersebut langsung jebol.
Dhika kemudian kembali berdiri dan menggunakan tangan bayangan yang sebelumnya ia gunakan untuk merenggut nyawa para anggota pasukan khusus sebelumnya untuk menggapai Favsion.
Favsion mencoba menghindar,Namun tangan tersebut telah mengincarnya dan pada akhirnya menangkapnya.Namun yang terjadi sungguh diluar dugaan,Dhika tidak dapat memisahkan jiwa Favsion dari tubuhnya.
"Apa?!?!" Dhika terkejut.Dia memunculkan tangan bayangan lainnya untuk menangkap Favsion dan mencabut jiwanya dari tubuh kasarnya.Namun hasilnya sama saja,Favsion tetap hidup hanya saja ia tergenggam oleh kedua tangan bayangan tersebut.
Favsion kemudian membuat sebuah ledakan medan energi yang langsung membuat tangan bayangan yang menahannya menghilang dalam sekejap.
Favsion langsung melaju kencang ke arah Dhika dengan kaki kanannya yang mengarah lurus ke arah Dhika.
Dhika tidak siap menghadapi serangan balik tersebut dan itu membuatnya harus menerima serangan untuk yang kedua kalinya yang melontarkannya ke luar gedung.
Semua orang yang mengerumuni area diluar gedung melihat sosok Dhika yang sekilas terpental keluar dari lantai gedung yang tinggi.Disusul Favsion yang terlihat seperti sebuah bintang jatuh yang melesat ke arah Dhika sebelum kemudian keduanya menghilang dari pandangan orang-orang yang kebingungan.
Dhika dibawa ke dimensi buatan Favsion.Disana,ia harus berhadapan lagi dengan Favsion.
Favsion menyerangnya dengan berbagai serangan jarak dekat dan pusaran energi yang terkonsentrasi.Sementara Dhika mencoba menjaga jarak dan menyerang Favsion dengan lontaran kekuatan kegelapan dan jiwa yang berasal dari orang-orang yang telah dihabisinya.
Duel tersebut benar-benar berlangsung sengit di tempat yang tampak terlihat seperti dunia lain,Dan karena memang begitulah adanya.
Favsion kemudian maju ke arah Dhika sementara di depannya sudah terlihat ratusan bola energi gelap yang Dhika buat.
Favsion menghancurkan sebagian bola energi tersebut dengan kekuatan cahayanya dan disaat Favsion berada di jarak kurang dari satu meter dengan Dhika,Favsion langsung menjeratnya dengan tali cahaya yang keluar dari tangannya.
Dan setelah Dhika terikat,Favsion langsung menyeret Dhika ke portal yang ia buat dan membawanya langsung ke rumah dimana Felika,Hitomi,dan Mely menunggunya.
Tentu mereka bertiga terkejut karena Favsion tidak datang sendiri dan dia bersama dengan Dhika.
"E-Eh?!?Senpai?!Kok dibawa kesini dia??" Tanya Felika dengan ekspresi kaget.
Favsion kemudian menjawab sembari menyeret Dhika ke sofa :"Aku perlu tau satu atau dua hal dari dia...."
Dhika kemudian melirik ke arah Mely.
Mely tersenyum sinis.Ia kemudian berkata :"Wah wah wah.....Aku tidak menyangka,Seorang tangan kanan Raja Iblis yang disebut sebagai pengumpul jiwa pada akhirnya tertangkap dengan begitu mudah...."
Dhika hanya bisa menggerutu kesal sebelum di dudukkan di sofa dengan keadaan tubuh yang terikat dengan tali cahaya dari Favsion.
Felika kemudian mendekati Favsion dan menarik-narik lengan bajunya.
"Senpai....Senpai....Felika bisa membaca pikirannya....Kalau Senpai mau..."Ujar Felika.
Favsion tersenyum dan kemudian ia mengangguk sebagai pertanda jika Felika dipersilahkan untuk menggali informasi dari Dhika dengan cara membaca pikirannya.
Felika mendekatkan wajahnya ke wajah Dhika yang terlihat masih mencoba melepaskan diri.Felika kemudian memegangi wajah Dhika yang bergerak-gerak dan menahannya agar tetap di tempatnya.
"Diamlah.....Felika tidak berniat menyakitimu...."Ujar Felika kepada Dhika.
Dan disaat itulah Felika kemudian menempelkan dahinya di kepala Dhika yang membuatnya dapat melihat semua isi kepala dari sang "Soul Collector" tersebut.
Felika melihat banyak hal dalam pikiran Dhika.Mulai dari kepingan-kepingan masa lalunya,pertemuan Dhika dengan Raja Iblis dan kontrak penukaran jiwa yang mereka jalin,perjalanan Dhika membunuh orang dan mengumpulkan jiwa,sosok gadis misterius,dan gambaran para Raja Iblis tengah mengumpulkan pasukan dari masing-masing kerajaan untuk menyerang bumi yang katanya dihuni oleh Dimension Traveler.
Felika membuka matanya lebar-lebar dan Favsion,Mely,serta Hitomi penasaran dengan apa yang Felika lihat.
"Apa yang kamu lihat,Felika??"Tanya Hitomi.
Felika tanpa diduga langsung menghampiri Hitomi dan memegangi kedua tangan kakaknya itu.
"Kak.....Kak Hitomi....Gawat....Mereka akan.....Iblis.....Mereka....."Felika tampak panik saat menjelaskan yang membuat nada bicaranya terbata-bata.
Hitomi dan Mely tentu terkejut mendengar hal tersebut.Rencana para Iblis yang sebenarnya untuk menyerang Bumi hanya untuk memusnahkan Dimension Traveler yang begitu mereka benci.
Favsion tetap terlihat tenang dan menatap Dhika dengan serius.Sementara Dhika kemudian tertawa cekikikan sebelum kemudian berkata : "Ihi....Ihi....Ihi~
Kalian tau?Sejujurnya,Aku bisa membantu kalian menghadapi para Raja Iblis yang sombong itu....Tapi—"
"Apa?Membantu?Kau adalah tangan kanan Raja Iblis.....Semua perkataanmu adalah bohong dan dusta!" Mely memotong perkataan Dhika yang membuat Dhika langsung menoleh ke arah Mely dengan seringai di wajahnya yang mengerikan.
Mely terdiam,Namun segera Favsion melindungi Mely dengan mengedepaninya lalu mulai menengahi keadaan.
"Hmmm.....Membantu....Bagaimana kami bisa mempercayai perkataanmu itu?" Tanya Favsion.
Dhika kemudian memperlihatkan sebuah bekas yang terlihat seperti luka sayatan yang dalam dan rapi di matanya.Dan luka tersebut memancarkan cahaya yang sewarna dengan yang dipancarkan dari matanya.
"Kau lihat?Mereka sudah melakukan ini padaku....Apa kau pikir aku tidak punya keinginan untuk membalas mereka??"
Favsion terdiam sejenak.Bila ia pikir-pikir kembali,Perkataan Dhika tidak sepenuhnya salah.
Dan tiba-tiba ikatan dari tali cahaya yang mengikat Dhika terlepas,Favsion membelakangi Dhika sambil berkata :
"Jika kau melakukan yang macam-macam....Aku tak segan-segan mengikatmu lagi dan mengurungmu dalam dimensi lain...."
Dhika terlihat mengusap-usap pergelangan tangannya sendiri sebelum kemudian kembali menyeringai.
"Aku akan menjadikan jiwaku sebagai jaminan....Yah,kalau aku punya jiwa...."Jawab Dhika sebelum kemudian melangkah keluar.
...[BERSAMBUNG]...