Dihps

Dihps
Kamu Lucu Aku Suka



Kamu Lucu Aku Suka


Leo menatap lekat kedua netra biru milik Andrew. “Papa tidak merestuimu, tidak akan pernah.” ucapnya dengan sorot mata tajam.


Kirana yang duduk disamping Leopun menatap tajam kearah Andrew, seperti bocah itu sudah berbuat dosa yang tak termaafkan. Ia percaya apa yang akan dikatakan oleh suaminya adalah yang terbaik untuk putra sulung mereka.


“Tapi pa, aku...”


Leo menghela napas. “Bagaimana papa memberi restu kalau kamu belum bisa menjaganya dengan baik. Lihatlah, gadis yang ada dibelakangmu itu sedang menggigil. Apa kau tidak memperhatikannya? Bajumu juga basah kuyup. Cepat carikan Nana handuk atau apapun yang bisa menghangatkan tubuhnya.” Leo berucap dengan nada tinggi.


Mendengar ucapan sang papa, Andrew langsung membalikkan tubuhnya, menatap gadis yang sejak tadi berada dibelakangnya. Benar saja, Nana sedikit mengigil. Bibir gadisnya itu gemetar. Tak menunda waktu lagi, Andrew langsung berlari menuju ruang kantornya. Mengambil selimut dan langsung kembali berlari kebawah, dimana Nana dan orang tuanya berada.


Kirana sedang duduk disamping Nana sembari menggenggam tangan gadis itu. “Kok hujan-hujanan sih sayang? Kurang kerjaan banget kalian,” ucap wanita paruh baya itu.


Nana tersenyum malu mendengar ocehan Kirana. Pasalnya ia tidak tahu harus menjawab apa. Tak mungkin pula berkata seperti apa yang telah ia dan Andrew lakukan. Bisa tambah malu dia nanti


Andrew datang dengan selimut tebal ditangannya. Dan langsung menyelimutkan diatas tubuh Nana. Namun sepertinya selimut itu juga tidak membantu.


“Sayang, kamu punya baju ganti kan disini? Ajak Nana ganti dulu, nanti masuk angin.” Kirana mengingatkan agar kedua muda mudi yang ada dihadapannya ini segera berganti pakaian.


“Iya ma.” Andrew merangkul tubuh Nana dan membawanya keatas, sesekali diusapnya lengan mungil yang tertutup selimut itu berharap bisa memberi kehangatan pada Nana.


“Aku bisa jalan sendiri.” Nana berucap sembari melirik Andrew yang terus merangkulnya saat mereka tengah melewati tangga menuju ruang kerja Andrew.


“Kamu tidak lihat papa marah padaku karena membawamu bermain hujan malam-malam begini? Kamu tahu, itu pertama kalinya papa marah padaku, ck,” dengus Andrew.


Nana tertawa kecil. Diliriknya wajah Andrew yang sedang memandang kearah lain. Sungguh pemandangan baru yang Andrew tunjukkan padanya. Terlihat lucu dan imut dimata Nana. Menggemaskan.


Andrew yang merasa ditatap langsung memalingkan wajahnya, mendapati sang gadis yang sedang tertawa melihatnya. “Kamu senang ya aku dimarah papa?” ucap Andrew lagi.


“Tidak, bukan itu. Kamu terlihat lucu kalau sedang merajuk,” ujar Nana sembari menahan suaranya menjadi lebih pelan.


Andrew hanya memanyunkan bibirnya, namun tak dipungkiri jika hatinya mulai menghangat karena ada Nana disampingnya. Mereka akhirnya tiba dikantor Andrew, dan sedang berada diruang ganti. Andrew membuka lemari. “Kamu mau pakai yang mana?”


Nana mendekati lemari yang dibuka Andrew, mengamati pakaian mana yang bisa dipakaianya. “Yang abu-abu itu aja.” Nana menunjuk setelan baju olahraga yang tergantung disana. Dibanding pakaian lain, mungkin itu yang bisa dipakai Nana karena dari segi ukuran pakaian Andrew yang lainnya jelas kebesaran jika dipakainya.


Nana mulai menjinjit, menciba menggapak hanger yang menggantung pakaian olahraga itu. Andrew tersenyum, kemudian membantu Nana mengambil pakaian yang akan dikenakan oleh gadis itu dan juga mengambil pakaian untuknya. “Bilang kalau tidak bisa, aku akan membantumu,” ucap Andrew sembari mengacak rambut Nana sayang.


“Ish.. aku bisa sendiri kok. Bapak aja yang enggak sabaran.”


Andrew tersenyum kemudian memeluk tubuh Nana.


“Jangan peluk-peluk, pak. Belum halal.”


Mendengar ucapan Nana, Andrew tergelak. Sungguh ia merasa lucu sekaligus tersindir dengan ucapan gadis itu. “Btw, jangan panggil pak. Aku merasa tua jadinya.”


“Jadi mau dipanggil apa? Sayang? Enggak mau ah, bapak aja. Udah biasa.”


“Udah, bapak keluar dulu. Aku mau ganti baju.”


“Biar aku bantu ya..” Andrew menawarkan bantuan pada Nana sembari mengangkat kedua alisnya berulang-ulang.


“Enggak... Keluar dulu gih...” Nana mendorong tubuh Andrew keluar ruang ganti. Dengan sekuat tenaga ia kerahkan untuk membuat Andrew keluar dari sana.


Pria itu tersenyum ketika pintu ruang ganti tertutup rapat. Mendapati gadisnya berganti pakaian didalam sana dan berganti pakaian dengan miliknya. Pasti pakaian itu akan terlihat kebesaran jika dipakai oleh Nana.


Andrew menatap pakaian yang akan dipakaianya. Kemudian melirik pada pintu yang masih tertutup rapat. Dengan segera Andrew mengganti pakaiannya yang basah, sesekali menahan senyum mengingat kisah dibalik baju basah itu.


Pintu terbuka, Nana menunduk memunguti pakaian basahnya. Saat ia mengangkat wajahnya, terlihatlah oleh sosok Andrew yang tengah bertelanjang dada. Memperlihatkan dada bidang serta perutnya yang berotot.


Nana menelan salivanya, kemudian memalingkan wajahnya yang sudah merah padam. Tidak ingin melihat sesuatu yang bekum seharusnya ia lihat. Ia merasa penglihatannya sudah tercemar saat ini.


“Sudah selesai?” suara Andrew terdengar sangat dekat ditelinga Nana. Ternyata pria itu sudah berdiri tepat dibelakang Nana dan yang disyukuri Nana, pria itu sudah berpakaian lengkap.


“Eh, Hmmm... S-sudah...”


“Kamu sakit? Kenapa wajahmu merah?” tanya Andrew dengan dahi berkerut.


Nana menggelengkan wajahnya. “Tidak. Aku baik-baik saja.” Nana keluar dari pintu ruang ganti setelah membereskan pakaiannya.


“Letakkan saja disitu. Nanti dicuci disini.” Andrew menunjuk keranjang pakaian tempat ia meletakkan pakaian basah miliknya tadi.


“Biar aku cuci sendiri dirumah.” Nana berniat membawa baju basahnya pulang.


“Iya, nanti kamu bawa. Sekarang letakkan saja dulu disitu. Kita harus segera menemui mama dan papa. Terlalu lama disini membuat mereka berfikir yang macam-macam.”


Bluuusshh..


Mendengar kata macam-macam keluar dari mulut Andrew, Nana langsung memerah. Ia langsung melepaskan pakaian basahnya begitu saja diatas keranjang pakaian dan keluar ruangan begitu saja tanpa memperdulikan Andrew lagi. Ya, seperti yang pria itu tadi bilang bahwa jika mereka berdua terlalu lama pasti akan menimbulkan pikiran yang negatif.


Andrew mengulum senyumnya, kemudian mengikuti Nana keluar dari kantornya. Gadis yang memakai pakaiannya itu datang mengahampiri sang mama yang baru saja tiba membawa nampan berisi 2 kopi dan 2 coklat hangat.


Nana membantu Kirana menurunkan keempat cangkir dari dalam nampan. Kirana pun turu. Tersenyum pada bakal calon anak mantunya itu.


“Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?” Kirana menyerahkan 1 cangkir coklat hangat pada Nana dan mengambil miliknya. I duduk diatas sofa dan meminta Nana duduk disebelahnya dengan menepuk-nepukkan tangan pada bagian sofa yang kosong.


Nana datang dan duduk disisi Kirana. Sedangkan Andrew duduk di sofa lain disebelah Leo.


Leo memandang Andrew dan Nana secara bergantian, kemudian menghela napasnya pelan. Anak bujangnya kini datang membawa seorang gadis dan meminta restunya. Sudah tiba saatnya bagi Leo melepaskan putra kesayangannya. Anak yang sejak awal menemani perjuangannya meniti hidup.


Andrew begitu berarti untuk Leo dan pria paruhbaya itu ingin Andrew jika anak sulungnya itu sudah dewasa dan berumah tangga, ia sangat berharap kegagalan yang pernah dialaminya tidak akan pernah dialami oleh Andrew.