Dihps

Dihps
Cemburu Menguras Hati



Cemburu Menguras Hati


Andrew mendekati Nana yang masih berdiri dihadapannya. Kemudian memegang dahi sang gadis dengan telapak tangannya.


“Aku rasa kamu tidak sakit. Tapi kenapa cara bicaramu ngelantur?” Andrew menarik lagi tangannya dan diselipkan kedalam saku. Satu tangannya lagi memegang cangkir dan membawanya ketaman. “Siapkan sarapannya dan bawa keluar!” Perintah Andrew tanpa menoleh. Ia terus berjalan keluar rumah menuju taman belakang.


“Apa? Mengapa dia memegang kepalaku? Aku sehat. Aku enggak sakit.” Nana memegang dahinya, ia menggelengkan kepala karena tidak merasakan apapun selain tangan yang bertengger disana.


Nana segera memanaskan makanan yang semalam tak sempat disentuh oleh Andrew.


Nana bersandar dipantry membayangkan saat Andrew memeluknya pagi tadi. Rasanya begitu hangat dan mendebarkan. Tapi kenapa pria itu selalu menolaknya. Apa dia terlalu jelek? Kurang modis? Nana menatap dirinya dari pantulan lemari pendingin, ia memutar tubuhnya disana. “Enggak jelek-jelek amat kok.”


Ting....


Bunyi oven menandakan makanan terakhir yang Nana panaskan sudah selesai. Ia menaruhnya diatas nampan dan membawanya kehadapan Andrew. Pria itu tengah memandangi gadgetnya. Sesekali melirik kearah Nana yang dengan lincah menata makanan dihadapannya. Nana juga mejuangkan air minum untuk Andrew.


“Sudah selesai, pak. Selamat sarapan.” Nana membungkuk lalu berbalik meninggalkan Andrew.


“Siapa yang suruh kamu pergi? Duduk!”


“Saya? Duduk?”


“Iya, disini kan cuma ada kita berdua. Memangnya siapa lagi?”


Nana duduk dihadapan Andrew. Melihat gerak gerik pria beriris mata biru itu ketika mengambil makanan.


“Kenapa hanya melihat? Ayo makan.. Aku mana mungkin menghabiskan makanan sebanyak ini.”


“Jadi, segini kebanyakan ya, pak? Nanti saya kurangi porsinya biar tidak terbuang.”


“Tidak perlu, segini sudah cukup untuk kita berdua. Mulai hari ini kamu temani aku makan jika tidak ada orang lain disini. Setelah aku pikir, tidak enak juga kalau makan sendirian.” Andrew mulai menyuapkan makanannya kemulut. Seperti yang pernah mamanya ucapkan, masakan Nana memang enak. Sesuai dengan seleranya, meski belum seperti masakan sang mama.


Mereka masih menikmati sarapan ketika suara ponsel mengintrupsi kegiatan Andrew. .”Ya benar. Dengan saya sendiri... Hmm... Siang ini saja, lebih cepat lebih baik.” Andrew berbicara dengan orang diseberang sana, tak lama Andrew menutup telfonnya dan kembali menikmati makanannya.


“Apakah anda mau pergi, pak? Nanti malam perlu saya siapkan makanan untuk anda?” tanya Nana.


“Tidak. Aku akan berada dirumah seharian ini. Siapkan makan siang dan malam untukku.”


“Iya baik...”


Dari kejauhan terdengar suara mobil datang. Nana memalingkan wajahnya. Mencari tau siapanyang datang sepagi ini. “Bapak punya janji dengan seseorang?”


“Ada, nanti siang.”


“Dan itu, ada wanita cantik yang datang kesini,” ucap Nana lirih sambil menggigit sendoknya, melihat kedatangan seorang wanita cantik tinggi semampai berjalan melenggak lenggok bak model yang sedang berjalan dicatwalk.


Andrew mendongak, melihat siapanyang dimaksud Nana.


“Selamat pagi, Andrew...” sapa siwanita cantik saat tiba


“Vanessa...” Andrew menyebut nama wanita yang sedang berjalan kearahnya. “Selamat pagi..”


Vanessa mendekati Andrew dan mengecup pipi pria itu. “Bagaimana keadaanmu pagi ini? Sudah jauh lebih baik?” tanya wanita itu sembari mengusap rambut Andrew. Tampak mesra sekali.


“Hmmm... Aku sudah jauh lebih baik.”


Nana yang sejak tadi berada diantara mereka merasa tidak enak melihat adegan yang terjadi didepan matanya. Ia bergegas merapikan meja dan pergi.


“Hmmm... Mbak, tolong buatkan saya jus alpukat ya... Jangan dikasih gula... Kasih susu saja sedikit.” Perintah Vanessa seolah-olah Nana adalah pembantunya.


“Menyebalkan sekali. Dia pikir aku ini pembantunya. Kenapa tidak buat sendiri saja?” ucap Nana sambil mengendus kesal. Dengan berat hati, ia mulai meracik dua jus alpukat. Dan menyajikannya kedalam gelas. Nana membawa dua jus itu taman belakang. Tampak disana Vanessa yang terus bergelayut pada Andrew.


'Masih sepagi ini tapi dia sudah bertingkah memuakkan,' geram Nana dalam hati.


Nana kembali meninggalkan dua sejoli yang sedang bermesraan ditaman belakang itu.


“Ada perlu apa kamu kesini?” tanya Andrew datar.


“Aku rindu padamu.” Vanessa mengeratkan pelukannya dipinggang Andrew. Pria itu tampak tidak senang dengan tingkah Vanessa.


“Tapi aku tidak. Pergilah. Aku sedang banyak pekerjaan.” Andrew mencoba melepaskan pelukan Vanessa dari tubuhnya.


“Kenapa kamu selalu menghindariku?”


“Aku tidak menghindarimu. Aku memang sedang sibuk.”


“Sibuk dengan pembantu itu?”


“Dia bukan pembantu!” bantah Andrew.


“Kamu suka sama dia?”


“Tidak,” jawab Andrew cepat.


“Jadi, kamu free kan?”


“Free?” Andrew mengulang pertanyaan Vanessa.


“Iya, maksudku pasangan?”


Andrew menggeleng. “Aku sedang tidak berminat menjalin hubungan dengan seseorang.”


“Kenapa? Pernah patah hati?”


“it is none of your business,” jawab Andrew sinis, ia merasa risih mendengar rentetan pertanyaan Vanessa tentang dirinya.


“Aku ingin mengenal jauh tentang kamu.”


“Tidak ada yang istimewa, Vanessa. Hidupku ini biasa saja. Tidak ada yang perlu kamu tau.” Andrew menghela nafas, kemudian beranjak dari sisi Vanessa. “Sebelumnya aku sudah bilang kalau aku sibuk kan? Jadi, maaf aku harus meninggalkanmu. Kamu boleh pulang atau tetap disini juga tidak apa-apa. Terserah padamu.” Andrew meninggalkan Vanessa yang masih terpaku memandangnya. Gadis blasteran itu penasaran, untuk pertama kalinya ada seseorang yang menolaknya. Padahal sebelumnya Andrew minta tolong padanya untuk menemaninya ke suatu acara tapi Vanessa tidak tau acara apa. Yang pasti Vanessa selangkah lebih dekat dengan pria yang menjadi incarannya itu.


Nana masih membersihkan sisa sarapan tadi saat Andrew memasuki rumah. Pria itu terus saja berjalan meninggalkan Nana yang terus mengikuti arah gerak Andrew dari ekor matanya.


“Senang sekali yang habis dikunjungi pacar, ternyata itu alasan kamu menolakku. Katakan saja kalau memang sudah punya pendamping. Bukan malah diam saja.” Nana menggosok piringnya dengan tenaga ekstra. Menyalurkan emosinya dengan kegiatan tersebut.


Tak lama Vanessa datang dengan senyuman manis diwajahnya. “Hai... Aku mau tanya sesuatu, boleh?”


“Apa?”


“Kamu tau makanan kesukaan Andrew?”


“Tanyakan saja pada orangnya, kenapa kamu tanya saya?” Nana membanting lap yang dipegangnya. Kemudian melangkah pergi meninggalkan Vanessa.


“Kenapa semua orang meninggalkanku? Memangnya aku salah apa?” Vanessa mengangkat bahunya. Kemudian pergj meninggalkan rumah Andrew.


Nana berjalan kesembarang arah, entah kemana tujuannya. Yang pasti saat ini dirinya sedang tidak ingin berada didalam lingkaran Andrew dan juga Vanessa.