
Selamat Ulang Tahun, Mama!
Hari yang ditunggu tiba. Semua orang yang ada dirumah itu bersuka cita. Bersyukur atas kesehatan dan umur yang panjang yang diberikan Tuhan untuk orang yang paling penting dalam keberlangsungan keluarga Cruice ini.
“Selamat ulang tahun, Mama.” Andrew mendekati Kirana dan mengecup dahi sang mama. Rasanya bahagia bisa tumbuh besar oleh kedua tangan wanita itu meski Andrew tidak terlahir dari rahimnya.
“Terima kasih, sayang.” Kirana mengusap pipi Andrew dengan sayang.
“Mama mau kado apa?” tanya Andrew, meski beberapa waktu lalu ia sudah menanyakannya. Berharap kali ini jawabannya akan berbeda.
Kirana memalingkan wajahnya dan tersenyum menatap putra sulungnya. “Jika kamu bertanya maka jawaban mama akan tetap sama, bawakan mama calon istrimu. Itu hadiah yang ingin mama dapatkan darimu saat ini, And. Jika kamu keberatan dengan Nana, mama tidak masalah jika ada gadis lain jika memang itu yang terbaik untukmu. Mama akan coba menerimanya.” Kirana kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda oleh kehadiran Andrew.
Andrew termenung. Kembali ia memikirkan permintaan mamanya. Tak bisa dipungkiri bahwa Nana memanglah gadis yang baik. Beberapa hari berkerja sama membuat Andrew terbiasa dengan kehadiran gadis itu. Sepanjang pagi ini sudah berapa kali Andrew mondar mandi didepan pintu masuk, melihat kearah luar. Berharap melihat sosok Nana ada diluar sana, berjalan kearah rumahnya menatapnya dan tersenyum manis seperti biasanya.
Tapi sampai menjelang siang, Nana tak juga muncul. Andrew juga beberapa kali menghubunginya. Namun nomer handpone Nana tidak aktif. Apakah ucapannya terlalu menyakiti gadis itu? Haruskan Andrew mendatangi Nana dan memohon maaf lagi atas apa yang telah ia ucapkan?
Andrew menghela napas panjang. Ia mulai beranjak dari hadapan sang mama.
“Kemana?” tanya Nana saat mendapati Andrew pergi.
“Kekamar ma.. mau siap-siap.”
“Siap-siap?”
“Iya, siap-siap jemput calon mantu mama.” Jawab Andrew dengan wajah datar.
Kirana tersenyum. Kemudian mengangguk. “Pergilah... Hati-hati ya...”
Andrew mengangguk dan mulai menelusuri tangga menuju kamarnya. Berulang kali Andrew menghela napas. Akhirnya hari ini tiba, dimana ia akan memperkenalkan seorang gadis pada keluarga besarnya.
“Aku akan menunggunya di Cafe. Dia pasti datang!” Andrew menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Memakai pakaian yang rapi dan berangkat ke Cafe. Menunggu seorang gadis yang akan ia kenalkan pada keluarganya disana.
***
Nana menatap wajahnya dicermin. Iya sudah berpakaian cukup rapi dengan mengenakan dress coklat muda serta rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja melewati bahunya. Ia akan menghadiri acara ulang tahun Nyonya besar keluarga Cruice. Jika bukan karena wanita nan anggun itu yang memintanya datang, Nana tidak akan pernah datang kesana. Terlebih lagi ada sosok yang sedang ia hindari.
Nana memalingkan wajahnya saat suara ponselnya berdering.
Bibi memanggil...
“Halo bi...”
“Na... Sehat kan?” tanya sang bibi dari seberang sana.
“Sehat bi. Bibi bagaimana?”
“Bibi juga Sehat. Bibi kangen sama kamu. Ini udah masuk Antapani, kamu dirumah kan?”
“Bibi ke Bandung? Iya, Nana dirumah. Nana tunggu ya.”
Setelah berpamitan, sang bibi memutus sambungan telfonnya.
Nana menghela napas pelan, jika paman dan bibinya datang dadakan seperti ini pasti ada sesuatu yang sangat penting dan genting. Nana yang awalnya sudah siap pergi ke Cafe mengurungkan niatnya. Menunggu paman dan bibinya samapi dirumahnya.
Mungkin jika memang pertemuan kali ini berlangsung lama, Nana akan membatalkan pergi pada acara keluarga Cruice itu.
***
Andrew baru saja tiba di Cafenya. Memandang keseliling tempat itu yang sedikit berbeda dari biasanya. Sedikit dekorasi bunga-bunga untuk acara ulang tahun meski sang mama tidak memintanya begitu.
Pria beriris mata biru itu melangkah dengan semangat. Ia berharap bertemu dengan sosok yang sejak tadi dinantikan pertemuannya oleh Andrew. Namun, senyuman yang sejak tadi tersemat diwajahnya perlahan hilang melihat sosok lain yang berdiri dihadapannya. Sedang berbincang dengan Vina dan memunggunginya.
“Selamat sore, pak Andrew.” Sapa Vina.
Gadis yang ada dihadapan Vina pun sontak berbalik menghadap kearahnya. “Hai... Aku sudah menunggumu sejak tadi.”
Andrew tersenyum pada Vina sebelum wanita itu meninggalkan mereka berdua.
Vanessa berjalan mendekati Andrew dan mengecup pipi pemuda yang ada dihadapannya itu. “Aku pikir acaranya sudah dimulai.. Aku takut membuatmu kecewa karena datang terlambat.”
Andrew menggeleng. “Tidak. Kan sudah aku bilang kalau acaranya pukul tujuh malam.”
“Sama-sama. Aku juga senang kamu datang.” Andrew berjalan mendekati salah satu tempat duduk yang sudah tersedia di taman. Andrew meminta konsep outdoor untuk acara sang mama kali ini. Acara keluarga akan terasa lebih hangat jika menyatu dengan alam. Dan bersyukurnya adalah hari ini cuacapun cukup bersahabat.
Vanessa mengikuti Andrew dari belakang, duduk disebelah pemuda itu dan menyandarkan kepalanya pada bahu Andrew. Tidak ada yang berucap. Larut dalam suasana sore yang sejuk ini.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Satu persatu anggota keluarga datang. Tidak ada tamu undangan, memang acara ini dikhususkan untuk keluarga saja. Mata mereka tertuju pada sosok yang berdiri disebelah Andrew dengan tatapan penuh tanya. Tentu saja, kemarin bukan wanita itulah yang dikenalkan oleh Kirana sebagai pendamping Andrew. Tapi justru malam ini gadis lain yang ada disisi Andrew.
Sejak awal kedatangan keluarga Cruice di Cafe itu, Vanessa mendekati mereka dengan begitu agresif. Kemanapun Andrew pergi, selalu ia ikuti. Masuk dalam lingkaran keluarga yang sedang asyik mengobrol.
Axel yang tengah duduk menyendiri diujung taman memperhatikan intreraksi Andrew dan gadis barunya. “Abang playboy juga,” desis Axel sembari menyeruput minumannya.
“Sepertinya itu bakat terpendamnya. Tapi aku tidak suka orang itu btw.” Alea yang baru saja datang langsung menyahut ucapan Axel dengan wajah cemberut.
“Ada apa dengan wajahmu?”
“Kau tau bang?”
“Tidak...” jawab Axel enteng.
“Ishhh... dengarkan dulu.. dia baru saja muncul hari ini dan sudah menyuruhku. Aku tidak akan pernah menyetujui bang Andrew menikah dengannya, titik.”
“Jika kamu seperti itu, bang Andrew akan jadi bujang lapuk. Biar saja dia bersama orang yang ia sukai.”
“Tidak, kecuali kak Nana. Aku akan mendukung mereka seribu persen.”
Axel hanya menggelengkan kepalanya, melihat sang adik dengan wajah berkerutnya.
Acara inti pun tiba, kue ulang tahun sederhana ditempatkan ditengan lingkaran. Leo membawa sang istri mendekati kue tersebut. Kirana mulai memejamkan mata dan memanjatkan doa, bersyukur atas apa yang telah diberikan Tuhan padanya. Kesehatan, keluarga, serta orang-orang yang ada disekelilingnya tak luput dalam doa yang ia panjatkan. Kemudian meniup lilin disertai tepuk tangan mengiringinya.
Ucapan selamat kembali diucapkan orang-orang disekeliling Kirana. Anak sulungnyapun mendekat. Andrew memberi selamat pada sang mama entah sudah yang keberapa kalinya hari ini. “Selamat ulang tahun, mama. Aku mencintaimu!” ucap Andrew sembari memeluk Kirana erat.
Kirana tersenyum, dibalasnya pelukan Andrew dan diusapnya punggung kekar sang putra.”Terima kasih, sayang. Mama juga sangat mencintaimu.”
Andrew melepaskan pelukannya, dan tersenyum pada sang mama.
“Tante...” panggil Vanessa yang sejak tadi berdiri dibelakang Andrew.
Andrew dan juga Kirana memandang kearah sumber suara.
Vanessa berjalan mendekati Kirana dan memeluk wanita paruh baya itu. “Saya Vanessa, Teman dekat Andrew.. Hmmm... Selamat ulang tahun ya tante...”
“Terima kasih, Vanessa. Terima kasih juga sudah datang.” Kirana menatap Andrew dengan penuh tanya.
Vanessa melepas pelukannya dan tersenyum. “Andrew mengundang saya, tentu saya datang. Apalagi ini adalah ulang tahun tante.”
“Sudah makan?”
“Sudah tante.”
“Kalau butuh sesuatu, bilang saja sama Andrew ya.”
“Iya tan...”
“Tante mau melihat nenek dulu.”
“Silahkan tante...”
Kirana pergi meninggalkan Andrew dan juga Vanessa.
Sejak tadi pria bermata biru itu terus saja menjulurkan kepalanya. Mencari seseorang yang tak kunjung tiba sejak tadi.
“Mencari seseorang?” tanya Vanessa.
Andrew menggelengkan kepalanya dan kembali duduk.
Yang namanya kawasan Dago secerah apapun cuacanya pasti jika malam tiba akan terasa dingin. Vanessa yang kebetulan hanya mengenakan dress berwarna hitam tanpa lengan berulang kali mengusap lengannya sendiri ketika angin mulai menyapa kulitnya. Andrew yang sejak tadi berada disamping Vanessa tentu tidak enak jika membiarkan gadis yang ada disampingnya kedinginan. Dilepasnya jas yang melekat pada tubuhnya dan disampirkannya pada bahu Vanessa.
Bersamaan dengan itu, suara Alea melengking menyebut nama seseorang. “Kak Nana...”