
Ungkapan Rasa
Andrew terus menarik tangan Nana, melewati kerumunan keluarganya yang sudah mulai masuk kedalam Cafe karena pengaruh cuaca yang dingin diluar sana. Beberapa diantaranya memandang kepergian Andrew dan Nana dengan tatapan menyelidik. Tentu saja, beberapa saat yang lalu Andrew pergi dengan seseorang dan kini Andrew pergi dengan gadis lain pula.
“Pak, lepaskan tangan saya,” pinta Nana.
Andrew hanya diam dan terus membawa Nana keluar Cafe. Dirasa sudah cukup jauh dan tidak terpantau oleh orang lain, Andrew menghentikan langkahnya. Pria beriris mata biru itu selangkah lebih maju dari Nana, kini ia membalikkan tubuhnya dan menatap gadis yang ada dihadapannya dengan tatapan tajam dan mengunci.
“Tolong, lepaskan tangan saya,” pinta Nana sekali lagi.
Tanpa disadari, Andrew menggenggam lengan Nana terlalu erat. Saking eratnya membuat tanda merah disekitar gadis itu. Andrew terus saja tak bersuara. Mencoba mencari alasan yang tepat untuk disampaikan pada Nana. Namun ia tak juga menemukannya. Bahkan lidahnya kelu hanya sekedar menanyakan kabar pada gadis yang ada dihadapannya itu.
“Jika memang tidak ada yang ingin anda sampaikan, tolong lepaskan tangan saya. Saya mau pulang.” Nana berusaha melepas cengkraman tangan Andrew dari tangannnya. Ia sedang tak ingin menatap lama sepasang manik biru itu. Untuk apa Andrew melakukan ini jika pria itu tak mau bicara.
“Jangan tersenyum pada pria lain selain aku.” Andrew berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Nana yang menunduk.
Sontak Nana menengadahkan wajahnya. “Memangnya apa hak bapak melarang saya untuk senyum pada pria lain? Bibir juga bibir saya.”
Andrew terus memandangi bibir Nana yang bergerak-gerak. Dan cup...
Andrew menempelkan bibirnya pada gadis itu sehingga ocehan yang sejak tadi menggema kini lenyap seketika. Andrew memejamkan matanya, menikmati first kissnya dengan gadis yang ada dihadapannya itu.
Mata Nana membulat merasakan benda lembut dan dingin milik Andrew yang menempel dibibirnya. Degup jantungnya tak karuan merasakan sentuhan itu. Demi apa ini adalah pertama kali selama hidupnya dicium oleh seorang lelaki. Bagaimanapun seorang Andrew telah merebut ciuman pertamanya.
Andrew melepaskan tautan bibirnya dan membuka mata. Menatap mata indah milik Nana yang masih membulat sempurna.
Andrew mengusap pipi Nana pelan. “Ini bibir milikku. Hanya boleh tersenyum padaku.”
Kembali kedunia nyata, Nana mengerjapkan matanya. Kembali berusaha melepaskan genggaman tangannya dari Andrew dan menyingkirkan tangan pria itu dari pipinya. “Tidak ada yang menjadi milikmu disini..”
“Ada. Kamu dan seluruh hidupmu milikku. Hari ini. Detik ini.”
Nana mengerutkan dahinya. “Hah?” Nana mengangkat tangannya dan memegang dahi Andrew. “Aku rasa kamu sedang sakit.” Nana membalikkan kata-kata Andrew beberapa waktu lalu.
“Aku tidak sakit dan aku sadar sepenuhnya.”
“Sadar? Hahaha... Terdengar lucu sekali. Tadi kamu bersama wanita lain, memeluknya, menciumnya. Sekarang kamu datang padaku memelukku, menciumku. Dimana sadarnya?”
“Dia hanya teman dan dia juga yang mendekatiku. Aku tidak menciumnya dan juga tidak memeluknya. Aku hanya memeluk dan menciummu.”
“Lalu sekarang apa?”
“Kamu jangan dekati pria lain selain aku.”
“Karena aku... aku suka kamu.” Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Andrew bersamaan dengan rintik hujan mulai turun. Percikannya mengenai Andrew dan Nana.
“T-tapi A-aku...” Nana tergagap mendengar ungkapan hati Andrew. Entah benar atau tidak, entah prank atau memang itu kata hati pria itu yang pasti membuat Nana bingung.
“Tidak ada tapi. Mungkin awalnya tidak. Tapi ketika seluruh keluargaku sudah menerimamu, lalu apa lagi yg aku tunggu jika bukan membawamu kehadapan mereka. Itu yang mereka inginkan dariku, Nana. Dan tidak dipungkiri, akupun mulai menyukaimu.”
“Aku tidak bisa... Kamu tahu alasanku datang terlambat di acara ulang tahun ibumu?”
Andrew menggelengkan kepalanya pelan. Ia membenahi rambut Nana yang tergerai. “Apa? Katakan saja...”
“Ada yang melamarku sebelum aku kesini. Jadi jangan harapkan aku lagi.” Nana menundukkan wajahnya. Jelas tergambar rasa sedih yang begitu mendalam.
Andrew terdiam mendengar penuturan Nana. Hatinya seperti tersengat listrik saat ini. Ternyata ia kalah cepat dengan orang itu. “Kenapa kamu tidak menolaknya?”
“Untuk apa aku menolaknya, tidak ada alasanku untuk melakukan itu.”
“Ada. Jelas ada. Beberapa waktu lalu kamu terus nendekatiku. Kamu juga mengungkapkan perasaanmu. Tapi kenapa kamu malah memilih pergi bersama pria lain?”
“Karena kamu yang membuatku harus begitu. Kamu terus menolakku dan mengucapkan kata yang sungguh membuatku terluka. Aku benci kamu.” Nana berucap dengan menatap lekat sepasang iris mata yang menjadi daya tarik baginya.
Andrew membalas tatapan Nana. Bukan benci yang dilihatnya, tapi sebuah kegundahan yang dirasakan Nana. Sungguh pada akhirnya iapun menyesal kenapa tak sejak dulu saja ia ungkapkan perasaannya. Kenapa baru saat ini, ketika gadis dihadapannya sudah dilamar orang baru ia bisa mengucapkan kata-kata itu. “Kamu sudah menjawab lamarannya?”
Nana menggeleng. “Belum.. tapi paman dan bibiku memintaku untuk menerima pria itu dan menikah dengannya.”
Andrew berjalan mendekati Nana dan memeluk gadis itu erat. “Kalau begitu jangan menerimanya. Tidak ada yang boleh memilikimu selain aku!” ucap Andrew mulai melembut. Ia sungguh lega mendengar Nana belum menjawab lamaran itu. Setidaknya masih ada kesempatan untuknya memenangkan hati Nana.
Nana meneteskan air mata seiring dengan hujan deras yang turun menggantikan gerimis. “Aku takut kamu berubah pikiran.. Kemarin kamu begitu membenciku, dan sekarang kamu memintaku untuk menolak orang lain. Bisakah aku mempercayaimu bahwa kamu akan selalu ada untukku?”
“Maafkan ucapanku kemarin. Aku terbawa emosi. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu padamu. Jadi aku mohon, percayalah padaku. Jika kamu mau bukti, aku akan membuktikannya sekarang juga.” Andrew melepas pelukannya. Menatap mata Nana dan tersenyum. Andrew menggenggam tangan gadis itu dan membawanya kembali masuk kedalam Cafe.
Hujan semakin deras. Baju Andrew dan Nana sudah basah kuyup pastinya. Dari balik kaca, Kirana dan Leo dapat melihat dengan jelas dua sejoli itu berjalan dibalik hujan. Anggota keluarganya yang lain sudah pulang, menyisakan dirinya dan Leo saja didalam Cafe.
Kirana memutuskan untuk menunggu karena melihat tingkah aneh Andrew tadi saat menarik tangan Nana pergi. Ia ingin memastikan bahwa keduanya baik-baik saja.
Andrew dan Nana sudah berada didalam Cafe, mereka langsung berdiri tepat didepan kedua orang tua Andrew.
Leo mengernyitkan dahinya melihat tubuh basah Andrew dan Nana. “Apa yang terjadi? Kenapa kalian main hujan selarut ini?”
Andrew menatap wajah mamanya yang terlihat mengkhawatirkan mereka. “Ma pa, aku datang membawa seorang gadis yang aku sukai. Mama pernah meminta hadiah padaku untuk membawa calon istri dihari ulang tahun mama. Hari ini aku membawanya, ma pa. Aku harap kalian merestui kami.”
Leo menatap lekat kedua netra biru milik Andrew. “Papa tidak merestuimu, tidak akan pernah.”