
Untuk Kedua Kalinya
Sore menjelang malam, Andrew baru keluar dari ruangannya. Wajahnya tampak muram. Seperti ada sesuatu hal yang sangat sulit ia pecahkan. Baru beberapa langkah menuruni tangga, Andrew mendengar sebuah tawa yang sangat renyah, yang sangat ia hafal nadanya meski baru beberapa hari bertemu.
“Nana,” gumamnya. Kemudian ia bergegas menuruni tangga dan menghampiri sumber suara. Benar saja. Nana sedang berdiri didapur Cafe sambil sesekali menutup mulutnya dengan tangan karena tertawa terlalu lebar.
“Sudah Can. Jangan membuatku tambah sakit perut. Kamu sungguh lucu sekali,” ujar Nana sembari memegangi perutnya yang mulai terasa sakit.
“Apa sih Na, aku sedang tidak melakukan apapun kenapa kamu tertawa terus. Memangnya aku ini badut,” Can menggembungkan wajahnya dengan mata berputar. Persis seperti bad....uut” Nana memelankan suaranya kala melihat sosok Andrew dihadapannya. Pria itu tiba-tiba muncul, seperti jailangkung.
“Kenapa kamu ada disini?” tanya Andrew ketus. Entah kenapa Andrew tidak suka melihat kedekatan Nana dan Can.
“Tugas saya sudah selesai dirumah bapak. Saya disini mengunjungi teman. Apa saya salah?”
“Salah. Jelas salah. Temanmu itu sedang bekerja dan kamu menganggunya, membuat dia hilang konsetrasi. Jika kamu datang kesini, bersikaplah layaknya tamu dan tunggu didepan. Bukan malah masuk diarea privasi milik Cafe,” ucap Andrew dengan nada meninggi.
Mata Andrew dan juga Nana saling menatap tajam. Seperri ada aliran listrik yang menghubungkan tatapan mereka berdua. Rasa marah, kecewa dan sedih. Semua berbaur menjadi satu.
Dengan masih menahan amarah, Andrew keluar dari ruangan itu terlebih dahulu. Kemudian masuk kedalam mobil dan membawanya keluar Cafe, membelah jalanan kota Bandung yang tak pernah sepi.
Nana mengerjap ketika ia merasakan bahunya diguncang.
“Na, sudah. Pak Andrew sudah pergi.” Can yang sejak tadi ada diantara Nana dan Andrew menyadarkan kembali Nana yang masih tersulut emosi.
“E-eh, Can... Maaf ya, aku sudah membawaku dalam masalah. Seharusnya aku tidak datang kesini,” sesal Nana.
“I'm oke, Na. Kalau boleh jujur, kalian berdua tadi seperti dua sejoli yang sedang.. hmmm,” Can menjeda kalimatnya, mencari ungkapan yang pas untuk menggambar kan perasaan Nana dan Andrew saat ini. “Cemburu. Ya, kalian seperti dua insan yang sedang terbakar api cemburu,” ucap Can akhirnya sembari menganggukkan kepala.
“Cemburu apanya? Kami itu...”
“Saling cinta, tapi tidak ada yang mengakuinya.” potong Can lagi.
“Caaan...” protes Nana.
“Hehe... Iya iya... Maaf...” Can menangkup kedua tangan didepan wajahnya.
“Ya sudah, aku pulang duluan ya. Dari pada tambah masalah.” pamit Nana.
“Kapan-kapan kita ketemu diluar ya, Na. Aku yang traktir deh.”
Nana mengangguk, melambaikan tangan
Vina yang baru saja tiba bertemu dengan Nana tepat didepan pintu masuk Cafe.
“Nana.. Disini?” sapa Vina.
Nana tersenyum. Dan memeluk Vina yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri. “Iya teh. Teteh sehat kan?”
Vina membalas pelukan Nana. “Teteh sehat. Gimana kerja dirumah pak Andrew? Aman kan?”
Nana melepas pelukannya dan menatap Vina. “Aman teh. Bapak baik kok. Keluarganya juga.”
“Wow, apa ini? Udah dikenalin aja sama orang tuanya..” canda Vina.
“Ih teteh, bercandanya gak lucu deh.”
“Teh, lain kali Nana mampir ya. Ini mau pulang dulu..”
“Buru-buru banget, Na?”
“Iya teh. Udah dari tadi sih sebenernya. Sempet ngobrol juga sama Can. Lain kali Nana janji mampir lagi. Nana pamit ya teh.. Bye...” Nana berlalu pergi sambil melambaikan tangan pada Vina.
Saat ini tujuan utamanya adalah kembali kerumah. Dalam sehari ini Andrew sudah dua kali membuatnya badmood. Entah apa salahnya, namun nana merasa ada sesuatu yang sedang terkadi sehingga Andrew bersikap seperti itu padanya.
Sepanjang perjalanan Nana terus memikirkan Andrew. Sudah dicoba mengusir jejak pria beriris mata biru itu dari pikirannya, namun terus saja mengikuti. “Pak, sebenarnya ada apa? Kenapa anda membuat saya jadi serba salah. Kalau saya salah, katakan dimana letak kesalahan saya. Jangan marah-marah seperti ini. Saya sedih..” Nana bermonolog salam hati.
Baru menempuh setengah perjalanan pulang, akhirnya Nana memutuskan untuk kembali kerumah Andrew, meski perjalanan semakin jauh karena harus memutar arah. Angkot yang ditumpanginyalun harus ganti beberapa kali sampai didepan rumah Andrew.
***
Andrew masih terdiam disudut ruangan uang tampak remang-remang. Alunan musik serta sorot lampu yang berkedip tidak membuatnya melupakan apa yang sejak tadi ada didalam pikirannya.
“Hai.. Sendirian?” sapa seorang gadis yang semalam menghampirinya. Vanessa.
Andrew memaksakan senyumnya. “Ya begitulah.”
“Kamu ini, tipe orang yang irit bicara ya. Sedang memikirkan apa?” tanya Vanessa penasaran, karena seseorang yang menarik hatinya sedang duduk termenung dengan wajah berkabut.
“Nothing. Aku hanya sedang merasa lelah,” jawab Andrew sembari menggoyang gelas yang ia pegang sejak tadi. Bunyi es batu yang beradu dengan gelas menjadi hiburan tersendiri untuknya.
Vanessa mengambil alih gelas yang ada ditangan Andrew, sehingga pria iti menatapnya tanpa ekspresi. Vanessa meletakkan gelas diatas meja dan menari lengan Andrew untuk turun dilantai dansa. Musik masih mengalun pelan. Vanessa mulai melingkarkan tangannya dileher Andrew. Dan secara otomatis, tangan Andrew melingkar dipinggang gadis yang ada dihadapannya itu.
“Kenapa kamu membawaku kesini?” tanya Andrew, matanya tak lepas memandang mata Vanessa.
“Meski kamu berkata tidak, tapi aku tau kamu sedang memikirkan sesuatu. Aku hanya ingin membawamu supaya lebih enjoy dan rileks,” ucap Vanessa sambil tersenyum wajah ayunya semakin merona saat mata Andrew tak lepas menatapnya.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Vanessa tersipu malu.
Andrew tersenyum dan menggelengkan wajahnya. Bahkan dirinya sedang bersama wanita lain saat ini, kenapa gadis itu terus membayanginya. Andrew tidak mau terpengaruh oleh sosok Nana. Gadis itu bukanlah siapa-siapa. Hanya asisten yang ia pekerjakan dirumah.
“Hei.. kenapa melamun?” tanya Vanessa lagi. Sungguh ia sangat penasaran dengan apa yang menjadi sumber masalah untuk Andrew.
“Vanessa, kamu bisa membantuku?”
***
Andrew pulang lewat dari dini hari. Sudah hampir jam tiga pagi ia tiba dirumahnya. Suasana rumah terlihat terang dan hangat. Seperri ada seseorang yang menyalakan lampu-lampu itu dan menunggunya pulang.
Malam ini Andrew pulang dengan menggunakan Taxi karena ia minum cukup banyak, membuat fokusnya berkurang. Daripada terjadi sesuatu, Andrew lebih memilih untuk memarkirkan meninggalkan mobilnya diparkiran bar.
Andrew menekan password dan masuk kedalam rumah. Hawa dingin mulai menusuk kulitnya jika ia tidak langsung masuk.
Andrew masih berusaha mengedarkan pandangannya. Memfokuskan apa yang ingin dilihatnya sejak tadi.
Saat Andrew berjalan ke dapur, peia bernetra biru itu menyipitkan matanya ketika melihat sosok yang sedang tertidur diatas meja makan. Tampak beberpa jenis makanan terhidang dimeja makan.
“Nana..”