
Kecewa
“Jadi ini, cucu mantu nenek?” Bunda mendekati Nana dan mengecup keningnya.
Nana tersenyum awkward, tidak tau harus menjawab apa. Apa dia sedang di prank oleh keluarga besar ini? Tapi rasanya tidak mungkin. Tawa bahagia mereka terlihat tulus.
Diliriknya Andrew yang menatap tajam kearahnya. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan, yang pasti wajah pria itu benar-benar tidak enak dipandang.
Andrew mendekati Kirana. “Mama, Andrew mau bicara sebentar. Bisa?”
“Bisa dong...” Kirana berdiri dan mengikuti Andrew yang berjalan terlerlebih dahulu.
Merasa sudah berada ditempat yang tenang, Andrew membalikkan badannya dan menatap sang mama yang berjalan kearahnya.
“Mama, kenapa bicara seperti itu?”
“Seperti apa?”
“Memperkenalkan pada seluruh anggota keluarga kalau Nana adalah calon istriku, itu tidak benar, ma. Kalau seandainya Nana punya pacar, mama tidak memikirkan perasaannya?”
“Kalau dia masih sendiri, bagaimana? Kamu mau?”
“Ya, tidak juga.”
“Nah, keputusanmu yang plin plan ini yang membuat mama dan papa harus bertindak..”
“Jadi mama sudah mendiskusikan ini dengan papa?”
“Tentu saja. Kami mau yang terbaik untuk kamu, sayang.” Nana mengusap pipi Andrew sayang. “Dia anak yang baik, And. Mama yakin itu.”
“Ini sama saja dengan perjodohan. Mama bilang tidak mau menjodoh-jodohkan anak-anak mama. Nyatanya..”
“Nyatanya kamu tidak mampu mencari jodohmu sendiri,” Leo datang menghampiri Andrew dan Kirana. “Bicaralah dengannya. Yakinkan dia kalau kamu ingin hidup bersamanya,” perintah Leo.
“Papa... Aku tidak mau. Aku belum siap untuk ini semua. Lagipula aku tidak mengenalnya.”
“Kamu tidak mau dan tidak mengenalnya, tapi kamu tidur didepan rumahnya sepanjang malam. Apa itu namanya?” ledek Leo saat putranya berusaha berkelit.
Andrew terdiam. Darimana papanya tau kalau dirinya pernah tidur didepan rumah Nana beberapa waktu lalu. Dan entah kenapa saat itu ia seperti hilang akal, hanya mencoba melangkah kemanapun hatinya ingin.
“Benarkah? Kapan?” tanya Kirana penasaran. Pasalnya suami juga anaknya tidak ada yang bercerita tentang hal ini.
“Beberapa waktu lalu saat kita menginap disini,” Leo merangkul dan mengecup kening istrinya. Sengaja melakukan itu didepan Andrew yang masih saja berkeras tidak mau berumah tangga.
“Papa membuntutiku?” tanya Andrew tajam.
“Tidak. Papa tidur.”
Kirana tersenyum melihat perdebatan antara anak dan ayah itu. Kemudian menatap Andrew.
“Dari mana papa tau kalau aku ada disana?”
“Mudah saja, papa cek lokasi kamu berada,” jawab Leo cuek.
“Aku sudah setua ini dan papa masih melakukan hal semacam itu? Overprotektif sekali,” dengus Andrew kesal.
Leo mengendikkan bahunya. “Awalnya papa hanya iseng saja saat kamu keluar tengah malam. Ternyata memang ada kejadian tak terduga...” Leo menatap mata biru yang sama dengan miliknya. “Cobalah, And. Papa yakin kamu bisa menghapus traumamu dengan cara ini.” Leo menepuk bahu Andrew kemudian pergi.
Ya, papa dan mamanya tau persis bagaimana seorang Andrew Cruice yang tidak percaya akan cinta. Dimasa mudanya ia pernah mengalami sebuah kejadian yang sangat menyakitkan, disakiti oleh seseorang yang seharunya paling mencintainya didunia ini.
Sampai hari ini, semua kejadian itu masih membekas dengan jelas dibenaknya dan meninggalkan luka yang cukup parah dihatinya.
Beberapa kali orang tuanya mencoba mengenalkannya dengan seorang gadis, tapi Andrew dengan gamblang menjelaskan tidak ingin memiliki pasangan. Ia masih sibuk bekerja dan ingin fokus membangun karirnya saat itu dan alasan-alasan lainnya yang tidak masuk akal. Kini Andrew sudah mapan, usahanya sukses. Jelas saat sang mama meminta dirinya untuk mencari jodoh ia tak bisa lagi mengelak, sudah kehabisan akal untuk mencari alasan.
Andrew berjalan gontai masuk kembali kedalam rumah. Keluarga besarnya sedang sibuk menikmati makanan yang terhidang dimeja makan. Siapa lagi yang memasaknya kalau bukan gadis yang saat ini sedang tersenyum dan tertawa bersama anggota keluarganya yang lain. Sepertinya gadis itu bisa akrab dalam sekejap dengan siapa saja.
Nana menangkap bayangan Andrew yang baru saja masuk kedalam rumah. Wajahnya terlihat seperti benang kusut. Nana belum berani mendekat, hanya memperhatikan dari jarak jauh saja.
Dahi Nana mengernyit saat Andrew lebih memilih naik kelantai atas dari pada bergabung dengan anggota keluarganya yang lain.
Keluarga ini sangat hangat dan terbuka. Nana senang berada disana. Tapi ada yang aneh dengan bosnya yang lebih memilih menyendiri saat suasana sedang ramai seperti ini.
Nana beranjak dari duduknya, berpamitan dengan anggota keluarga yang lain. Karena sejak tadi ia terus saja dibombardir oleh pertanyaan seputar hubungannya dengan Andrew, terutama sang nenek.
Nana berjalan kearah meja makan, kemudian diambilnya piring dan diisi nasi dengan laukpauknya. Nana berjalan perlahan mengikuti arah Andrew pergi. Ternyata pria itu sedang duduk dibalkon kamar. Memandangi pepohonan rimbun yang mengelilingi rumahnya.
“Pak...” panggil Nana.
Andrew menoleh, mendapati Nana sedang berdiri didepan pintu kamar sambil membawa sepiring makanan dan segelas air putih ditangan mungilnya. Tangan gadis itu terlihat gemetar, mungkin kapasitas beban melebihi kekuatan tangannya.
Andrew menghela napas. Kemudian mendekati Nana dan mengambil alih piring dan gelas yang ada ditangan gadis itu. Andrew membalikkan tubuhnya lagi dan kembali ke posisi semula. Ia meletakkan makanan yang dibawa Nana diatas meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Makanan itu saya bawa untuk bapak. Dimakan ya..”
Andrew tidak merespon. Hanya diam menatap bagian luar rumahnya.
Merasa tidak ada sambutan dari Andrew, Nana memutuskan untuk kembali kebawah. “Saya pamit ya pak. Sekalian mau pulang. Selamat makan.” Nana membalikkan tubuhnya dan beranjak pergi, namun baru saja beberapa langkah terdengar suara Andrew menahannya.
“Apa kamu senang sudah menghasut keluargaku?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Andrew tanpa bisa dikontrol.
“Menghasut? Saya tidak pernah menghasut siapapun disini. Untuk apa? Tidak ada manfaatnya untuk saya.”
“Ada. Kamu tidak bisa mendapatkan hatiku kamu langsung mendekati keluargaku agar kamu langsung diterima masuk oleh mereka.”
“Apa saya terlihat seperti itu? Saya juga sangat terkejut mendengar pernyataan ibu Kirana tadi, saya tidak tau sama sekali masalah ini. Ini seharusnya urusan keluarga anda, dan tidak menyeret-nyeret nama saya. Saya memang beberapa kali pernah meminta bapak secara resmi untuk jadi pacar saya, tapi tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk memanfaatkan orang lain demi kepentingan saya sendiri.” Nana membalikkan badannya. “Mulai besok saya tidak akan datang lagi. Terima kasih untuk kesempatan yang anda berikan pada saya untuk bekerja disini... Saya pamit...” Nana berucap tanpa menoleh. Meninggalkan Andrew yang masih terdiam ditempatnya. Menatap punggung Nana yang semakin menjauh.
Gadis itu benar-benar marah padanya. Dan pergi tanpa menoleh lagi.