Dihps

Dihps
Tak Suka Melihatmu Dengannya!



Tak Suka Melihatmu Dengannya!


Nana yang baru saja tiba berhenti sejenak tepat digerbang Cafe. Ia melihat Andrew sedang menyampirkan jasnya dibahu Vanessa. Tatapannya nanar menyaksikan adegan itu. Namun sebuah pekikan yang memanggil namanya membuatnya kembali tersadar jika apa yang selama ini menjadi harapannya sudah berakhir. Tidak ada alasan lagi untuknya berada disisi Andrew.


“Kak Nana...” Suara Alea terdengar memanggil namanya.


Nana mengerjapkan matanya dan tersenyum pada anak bungsu keluarga Cruice itu. “Hai Alea...”


Alea datang menghampiri Nana dan memeluk gadis itu erat. “Kakak lama sekali datangnya? Aku sudah menunggumu sejak tadi.” Alea berucap dengan wajah cemberutnya.


Nana mengusap rambut gadis kecil yang hampir sama tinggi dengannya itu. “Maaf ya. Kakak terlambat.”


Alea menengadahkan wajahnya. “Hmmm... tapi tidak masalah. Yang penting kakak sudah datang. Oya, kakak lihat orang yang duduk disebelah bang Andrew. Aku tidak menyukainya. Dia jahat,” adu Alea pada Nana.


Sebenarnya Nana tak ingin mendengarkan itu, namun ia berusaha menjadi pendengar yang baik untuk Alea. “Tidak baik seperti itu. Bagaimanapun wanita itu teman saudaramu, hargai dia.”


“Dia tidak sebaik kamu, kak. Jika bang Andrew bersamanya, aku adalah orag yang paling pertama menentang mereka.”


Nana tersenyum. Dibungkukan tubuhnya didepan Alea sehingga wajahnya sejajar dengan wajah gadis kecil itu. “Tidak boleh seperti itu.” Nana menjawil hidung Alea. “Sudah, ayo masuk,” ajak Nana.


“Eh iya. Ayo kak, kita bertemu Mama. Mama juga menunggu kedatang kakak sejak tadi.” Alea menyeret lengan Nana, melewati Andrew yang tak henti menatapnya.


Mata biru milik pria itu terus saja mengikuti kemana Nana pergi. Meski disebelahnya ada Vanessa yang sedang sibuk bercerita panjang lebar tentang pekerjaannya dibidang modeling, namun Andrew hanya menanggapinya dengan gumaman saja.


“Nana... Akhirnya kamu datang sayang...” Kirana mendekati Nana dan memeluk gadis itu.


“Maaf ya bu, Nana terlambat,” Nana membalas pelukan Kirana dan memintan maaf untuk keterlambatannya dengan wajah penuh penyesalan.


Kirana melepas pelukannya dan menangkup wajah Nana. Wanita paruh baya itu tersenyum. “Tak apa. Yang penting kamu sudah disini.”


“Ini untuk ibu, Nana membuatnya sendiri. Semoga suka.” Nana menyerahkan kadonya pada Kirana.


“Ya ampun. Kamu tidak perlu seperti ini, Nana. Kamu datang saja ibu sudah sangat senang.”


“Tidak apa-apa, bu. Nana senang kok.”


Kirana tersenyum. “Terima kasih ya.. Ayo duduk.”


Nana mengangguk, namun sebelum duduk ia menyalami beberapa anggota keluarga lain yang ada disana.


“Nana sendirian?” tanya Nenek.


“Iya nek, tadi ada acara jadi sekalian kesini. maafin Nana ya nek, datang terlambat.”


Nenek memanyunkan mulutnya. Kemudian membelai pipi Nana. Sungguh jika Nana ada dikeluarga ini selalu disambut dengan hangat. Seperti keluarga sendiri. “Nenek, cuaca diluar dingin. Nenek baik-baik saja?”


Nenek tersenyum mendapat perhatian dari Nana. Tak jauh beda dengan Kirana yang juga mengingatkannya tadi. “Sedikit.”


“Nana antar kedalam yuk. Nanti kelamaan kena angin malam nenek bisa sakit loh.”


Nenek mengangguk, tak membantah lagi ucapan gadis yang sudah dianggap cucunya sendiri itu.


Nana merangkul bahu nenek dan membawa wanita tua itu masuk kedalam Cafe. Alea juga turut mengiringi neneknya. Entah kenapa jika ada Nana disana, Alea si gadis tomboy berubah manis.


“And, Kamu mendengarku tidak sih?” Vanessa mulai menggerutu ketika Andrew tak lagi menyahutnya.


“Eh, hem.. Sorry.. Aku tadi sedang memikirkan sesuatu.” Andrew menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Hmmm... Seperti katamu, ini sudah malam. Sebaiknya seorang gadis tidak berada diluar rumah sampei selarut ini. Sebaiknya kamu pulang, Vanessa.”


“Aku tidak sedang membicarakan diriku, Andrew.” Suara Vanessa sedikit meninggi, tidak terima jika Andrew menyuruhnya pulang dengan cara seperti ini. Padahal niatnya adalah menyindir Nana.


“Aku paham maksudmu. Tapi setidaknya kamu tidak perlu membicarakan orang lain sebelum kamu melihat dirimu sendiri. Yang kamu bicarakan tadi Nana kan? Dia disini diundang langsung oleh mama. Sama sepertimu, aku yakin dia datang karena harus menepati janjinya pada mama untuk datang diacara malam ini.”


Vanessa terdiam. Ia tahu jika dirinya membalas Andrew dengan ucapan, itu sama saja dengan bunuh diri. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah menuruti ucapan pria itu dan kembali menemuinya besok. Setidaknya ia sudah dekat dengan keluarganya dan itu adalah kemajuan yang luar biasa. “Aku tadi diantar sopir. Bisa kamu mengantarku pulang sekarang? Setidaknya aku ingin menjadi wanita yang baik untukmu. Tidak keluar malam dan pulang tepat waktu.”


Andrew hanya tersenyum. Kemudian mengangguk. Padahal dalam hatinya tertawa mendengar ucapan Vanessa. Wanita itu bilang tidak keluar malam dan pulang tepat waktu. Tapi kenyataannya hampir setiap malam terlihat di club malam.


“Vanessa, maaf jika aku menyinggung perasaanmu.”


“Tak apa.. Aku tahu kamu tidak bermaksud seperti itu..” Vanessa mendekati Andrew dan mengecup pipi pria dihadapannya itu. “Ayo...”


Andrew mengangguk. Vanessa meminta diantar pulang olehnya. Tentu saja Andrew sungkan menolak karena Vanessa datang atas undangannya meski hatinya sangat ingin menolak.


Vanessa mengandeng tangan Andrew hingga mobil, kemudian menanti dibukakan pintu baru ia mau masuk kedalam mobil. Ia benar-benar ingin mendapatkan perhatian penuh dari Andrew hari ini.


Dari kejauhan ada sepasang mata yang mengawasi mereka berdua. Meski tak ingin, namun matanya terus saja tertuju pada dua sejoli yang tengah berduaan diluar sana. Nana menghela napas pelan. Mungkin keberadaannya disini tidak tepat. Membuat suasana hatinya yang sudah buruk kini semakin bertambah buruk.


“Kak, kapan-kapan Alea main kerumah kakak boleh?” tanya Alea saat mereka duduk bersebelahan, menemani nenek yang tengah menikmati sinetron favoritnya di ruangan Cafe.


“Boleh. Datang aja. Kakak dengan senang hati menyambutmu.”


Alea tersenyum kegirangan. “Ajari Alea masak ya kak!” pinta gadis kecil itu.


“Pasti dong.. Nanti kakak ajari.”


“Yes yes... Makasi kak Nana cantik.” Alea tersenyum kemudian merangkul bahu Nana.


Nana tergelak melihat tingkah lucu Alea. Gadis itu terlihat sangat sangar dari tatapan wajahnya saja. Belum lagi dengan perpaduan penampilan tomboynya, namun dibalik semua itu Alea memiliki sisi manis menurut Nana.


“Alea, ambilkan nenek air putih hangat boleh?”


“Ah nenek, Alea capek,” rengak Alea.


“Nenek, biar Nana aja yang ambilkan air minum untuk nenek ya.” Nana mengambi gelas tinggi milik neneknyang sebelumnya terisi air hangat dan kini telah kosong. Ia berjalan menuju dapur Cafe, para karyawan yang memang hari ini ditugaskan membantu acara tampak sedang santai dibelakang sana.


Nana tersenyum pada mereka, sebelumnya sudah say hai saat Nana baru datang tadi. Melihat Nana tengah berdiri sendiri didapur, Can mendekati Nana.


“Nana... Sedang apa?”


“Can... Aku sedang ambil air hangat untuk nenek..”


“Aku terkejut melihatmu datang dijam semalam ini dengan penampilan seperti ini...”


“Kenapa Can? Aku jelek ya?” tanya Nana sembari mengerucutkan bibirnya.


Can menggeleng. Ditatapnya wajah gadis yang ada dihadapnnya itu. “Kamu cantik, dan aku su...”


“Nana...” panggil sebuah suara yang sangat dikenali Nana. Sudah dua kali suara itu memanggilnya dengan intonasi penuh penekanan.


Belum sempat Nana membalikkan tubuhnya, pria bermanik mata biru itu sudah menarik tangan Nana dengan keras dan membawanya pergi dari sana. Gelas yang ada dalam genggaman tangan Nana terlepas, jatuh kelantai menjadi kepingan-kepingan kecil. Namun Nana tak lagi menghiraukannya, matanya hanya tertuju pada satu arah yaitu pria yang menariknya pergi dari sana.