Dihps

Dihps
Haruskah Dia?



Haruskah Dia?


Setelah kepergian Kirana dan Leo, Nana masuk kedalam rumah. Gadis itu berjalan kedapur dan mengelap pantri yang sudah ia bersihkan sebelumnya. Wajahnya cemberut. Mood yang awalnya baik, kini sudah hancur berantakan karena Andrew. Jujur, Nana bahagia saat Andrew mengajaknya sarapan walaupun Nana tau ajakan itu bukan dari hati Andrew yang paling dalam. Namun, sedetik kemudian pria bernetra biru itu berhasil menghempaskannya jatuh ketanah.


Pria yang sejak tadi mengusik pikiran Nana baru saja menuruni tangga. Pakaiannya sudah lebih rapi. Andrew mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, celana jeans hitam dan sepatu ala anak muda masa kini. “Aku pergi dulu. Mau lihat Cafe. Katanya Vina mau mengajukan program baru untuk Cafe. Kamu dirumah saja. Jangan terlalu banyak bergerak. Dan siapkan makan malam untukku.” Andrew berbicara cukup banyak kali ini, suatu kemajuan bukan? Andrew memandang Nana yang tidak meresponnya. Ia mengerutkan dahi, kemudian mendekati Nana. “Kalau orang sedang bicara, tolong direspon!” tegur Andrew.


Nana memelingkan wajahnya, menatap tajam kearah sang bos yang sudah membuatnya jengkel pagi ini. Seperti ada kilatan silet dimatanya. “Kalau mau direspon, bicaranya tolong pakai otak. Sekalipun saya babu, saya juga punya hati.”nana membanting lap yang sedang digenggamnya, kemudian berjalan meninggalkan Andrew kearah halaman belakang. Gadis dengan kucir kuda dikepalanya itu terus berjalan hingga ia tiba disebuah pondok yang ada dibelakang rumah. Biasanya Andrew berada disana jika sedang ada oertemuan keluarga atau sedang menikmati sunset jika hujan tidak turun.


Nana menghempaskan bokongnya diatas pondok. Nafasnya masih memburu karena emosinya yang tidak stabil. Wajahnya masih terlihat masam. Sebenarnya Nana sudah sering menerima caci maki dari orang lain, namun ucapan Andrew tadi benar-benar melukai hatinya.


Andrew terus mengamati Nana dari kejauhan. Merasa ada sesuatu yang aneh dengan gadis itu. “Salahku apa coba?” Andrew menatap Nana dengan tatapan menyelidik. Pria itu menghela napas pelan, membalikkan badan dan pergi.


Nana masih duduk dipondok ketika melihat mobil Andrew pergi meninggalkan halaman rumah. “Pria yang menyebalkan. Sungguh tidak peka dengan perasaan wanita. Kadang manis, perhatian, lucu, tapi banyak nyebelinnya. Andrew nyebelin. Kenapa kamu tidak seperti pak Leo. Tampan, baik, ramah, dan romantis. Sudahlah. Aku tidak akan lagi mengganggunya. Disini aku hanya akan mengerjakan apa yang sudah menjadi tugasku. Setelah itu aku akan pergi. Bodo amat sama nazar. Dia saja tidak meresponku.” Baru saja Nana selesai berucap, tiba-tiba...


Kraakkk...


Bruukkk..


Sebuah ranting yang cukup besar jatuh didepan Nana, sampai-sampai gadis berkucir kuda itu menggeser duduk karena terkejut. Padahal tidak ada angin, tidak ada hujan ada ranting yang jatuh dihadapannya. “T-tapi itu semua bohong. Aku akan tetap mendekati pak Andrew dan membuatnya jatuh cinta padaku.” Nana tergagap. Terkejut dan juga takut. Ia kembali meralat apa yang baru saja diucapnya. Takut kejadian lebih parah dari sekedar terkilir menimpanya. Sebelum ada ranting yang lebih besar lagi patah, Nana buru-buru pergi dari pondok, gadis itu kembali kedalam rumah yang ia yakini sebagai tempat yang paling aman untuknya saat ini.


***


Andrew baru saja tiba di Cafe. Pria itu bergegas masuk kedalam ruangannya yang ada dilantai dua. Membuka laptop yang ada dimeja kerjanya. Pria itu mengamati CCTV yang ia pasang dirumah, mengamati gadis yang saat ini berada disana. Untuk pertama kalinya seorang Andrew Cruice tertarik untuk mengamati seorang gadis. Ini sungguh kejadian yang sangat langka.


“Aku sudah mengingatkannya untuk tidak banyak bergerak. Tapi kenapa dia justru berlari. Tapi tunggu!” Andrew mengulang CCTV dibeberapa bagian. Tampak gadis itu sedang berlari terburu-buru dengan wajah ketakutan. ”Kenapa dia? Kenapa wajahnya ketakutan?” Andrew memutar CCTV yang ada dibelakang rumah, yang mengarah langsung pada pondok. Dan ia dapat melihat apa yang menjadi alasan Nana lari meski kakinya masih sakit.


“Aku akan menebang beberapa pohon yang ada disekitar pondok,” ucap Andrew pelan. Sepertinya ia memang harus mereboisasi pepohonan yang ada disekitar rumahnya. Sudah terlalu tinggi dan berbahaya jika ada angin kencang.


Ketukan dari pintu membuyarkan lamunan Andrew. “Masuk,” Perintahnya.


Vina muncul dari balik pintu dan tersenyum pada atasannya. “Selamat pagi, pak,” sapanya ramah.


“Pagi,” Jawab Andrew singkat.


“Sepertinya pagi ini pak Andrew fresh sekali. Saya senang melihatnya.”


“Terima Kasih.” Andrew tersenyum mendengar ungkapan hati Vina saat melihatnya saat ini. Vina adalah teman saat mereka SMA dulu. Tidak terlalu dekat sebenarnya, tapi mereka sempat satu organisasi dan Andrew itu adalah salah satu alasan kenapa Vina menjadi orang kepercayaan Andrew mengelola Cafenya itu. Vina orang yang dapat dipercaya dan bisa diandalkan. “Apa yang mau kamu laporkan?”


Vina menyerahkan satu map berwarna biru pada Andrew. Didalamnya terdapat beberapa hal yang akan dilaporkannya pada sang bos. “Seperti permintaan bapak kemarin mengenai acara ulang tahun ibu Kirana, semuanya sudah beres pak. Tinggal melaksanakannya saja. Undangan juga sudah siap cetak. Tinggal menunggu nama yang akan diundang di acara pesta saja, pak.” Vina memberi penjelasan tentang persiapan acara ulang tahun Kirana.


Andrew mengangguk dan setuju dengan konsep yang dirancang oleh Vina. “oke, saya setuju. Tolong berikan yang terbaik untuk acara ini.”


“Pasti pak. Kalau begitu saya permisi dulu.” Vina undur diri dari hadapan Andrew.


Pria itu kembali menatap sebuah foto yang diserahkan Vina tadi didalam map. Sebuah konsep sederhana yang sangat disukai oleh sang mama. Andrew jadi teringat permintaan Kirana, ia diminta untuk membawa calon istri saat acara ulang tahun mamanya minggu depan. Andrew meminjat pelipisnya, merasa ada sebuah beban yang dirasanya.


“Siapa? Siapa? Siapa?” Andrew memutar otak, siapa kira-kira yang pantas dikenalkannya. Hanya dikenalkan. Tidak ada maksud lebih jauh dari itu. Tapi syaratnya adalah ‘calon istri’ dan itu tandanya bukan sekedar perkenalan biasa. “Mama, kenapa permintaanmu begitu berat kali ini?”


Andrew kembali memandang laptopnya, ada Nana yang sedang mondar mandir membersihkan kamarnya. “Gadis itu? Tidak mungkin. Mama tidak akan percaya padaku jika dia yang akan aku jadikan istri. Lagi pula aku yakin dia tidak akan mau jika diajak berbohong. Dia itu kan gadis yang kolot. Liat saja cara pakaiannya dan juga cara menata rambutnya. Jadul sekali. Lalu siapa?”


Andrew terus berpikir. Namun tidak ada satupun wanita yang terbayang olehnya selain Nana. 'Haruskah dia?'


To Be Continue