Dihps

Dihps
Kamu Harus Jadi Pacarku!



Kamu Harus Jadi Pacarku!


Andrew mendekati gadis yang masih tertidur dengan menyandarkan kepalanya diatas meja makan, beralaskan lengan. Nana tampak merasa nyaman dengan posisi tidur seperti itu. Terbukti ia tetap terlelap meski dingin menyelimuti tubuhnya. Dengan posisi setengah sadar, Andrew mendekatkan wajahnya pada wajah lelap Nana. Bibir gadis itu terlihat sangat menggoda dengan warna pink khas yang dimilikinya. Bukan karena pewarna bibir. Nana bukan tipe wanita pesolek. Namun wajahnya sudah sangat cantik meski tidak ada polesan make up tebal disana.


Andrew duduk disamping Nana. Menyandarkan kepalanya sejajar dengan kepala Nana dan menghadap pada gadis itu. “Hei... bangun...” Andrew menusuk pipi Nana dengan jari telunjuknya. Dingin yang ia rasakan.


Namun Nana tak bergeming. Ia masih saja terpejam sesekali menggoyangkan mulutnya seperti sedang mencecap sesuatu.


Andrew membuka jaget jeans yang ia kenakan. Menutupi punggung Nana yang juga mulai dingin. “Kenapa kamu selalu menggangguku, hmmm? Kenapa kamu selalu hadir dalam pikiranku? Aku tidak suka itu? Aku tidak suka jika ada wanita yang bermain-main dalam pikiranku. Tapi kamu, kenapa kamu melakukan hal yang tidak aku suka? Tapi... tapi aku suka kamu... tapi aku tidak mau kamu masuk dalam kehidupanku. Satu orang yang seharusnya mencintaiku membuatku tidak mungkin mencintaimu, jadi pergilah Nana.. Jangan ganggu aku!” Andrew mengusap wajah Nana dengan jempolnya. Kemudian mendekatkan wajahnya, bibirnya menyentuh bibir Nana yang sangat menggoda itu.


Cuuup...


Andrew memejamkan matanya menikmati bibir ranum Nana yang lembut dan dingin. Lambat laun alam bawah sadar Andrew semakin menguasainya, dan akhirnya iapun tertidur disamping gadis itu.


***


Pagi mulai menyingsing. Matahari masih tampak malu-malu muncul menyinari bumi. Dua muda mudi masih terlelap meski posisi tidurnya bukan ditempat yang nyaman. Sang gadis masih meringkuk dengan kepala beralaskan lengan. Sedangkan sang pemuda merebahkan kepala disamping sang gadis dengan alas sebelah tangannya, sedangkan tangan satunya memeluk punggung sang gadis.


Mata Nana mulai mengerjap. Ia merasakan dingin menjalar dikakinya. Namun punggungnya terasa hangat. Nana menatap wajah Andrew. ia tersenyum memandang wajah pria beriris mata biru itu.


“Ternyata kamu tidak hanya didunia nyata, dialam mimpipun kamu hadir. Hei... bangun.. sudah pagi..” Nana memegang pipi Andrew dan membelainya, membuat sang pemuda turut mengerjapkan matanya dan terbangun.


Nana membelalakkan matanya. Yang ia sangka mimpi adalah sebuah kenyataan. Nana mencoba menarik diri dan mengangkat tangannya dari pipi Andrew. “Maaf pak, saya kira bapak ada dalam mimpi saya.”


Namun Andrew tidak begitu saja melepaskan Nana. “Hanya menganggapku dalam mimpi?”Andrew mengeratkan pelukannya dipunggung Nana.


“P-pak, j-jangan seperti ini.” Nana mencoba bangun tapi Andrew kembali menahannya, pemuda itu malah menggeser duduknya semakin dekat pada Nana dan mengeratkan pelukannya.


“Kamu mau kemana? Kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuatku tidur semalaman disini?” bisik Andrew.


Wajah Nana merona. Ia memalingkan wajahnya dan menutupnya dengan lengan.


“Nana, lihat aku.”


Nana yang awalnya menghadapkan wajahnya pada meja, kini kembali menatap sepasang netra berwarna biru itu. ‘sangat indah sekali’ gumam Nana dalam hati.


“Kenapa kamu ada dirumahku? Bukankah kamu pergi bersama koki itu?”


“Siapa? Can? Tidak. Aku memang berniat pulang. Aku datang ke Cafe hanya untuk memastikan bapak baik-baik saja.” Nana semakin terhanyut dalam tatapan Andrew. “Aku bertanya pada Can apa yang bapak lakukan seharian dikantor. Dia bilang bapak sedang banyak pekerjaan, tapi bapak sudah makan dengan baik. Aku lega. Dan aku berencana pulang sebelum bapak datang.”


“Lalu?”


“Bapak marah-marah padaku yang aku sendiri tidak tau salahku dimana.. Bisa anda jelaskan? Emh tapi tunggu. Bisakah kita duduk seperti biasa saja. punggung saya sudah terasa sakit,” ujar Nana.


“Tentu saja sakit. Semalaman kamu tidur disitu.” Andrew mulai bangun, duduk tegak dan sedikit meregangkan ototnya. Terasa sedikit nyri dibagian punggung karena terlalu lama tidur menunduk.


Nana membenarkan posisi duduknya. Ia baru sadar kalau jaket Andrew tersampir dipundaknya. Nana hendak melepaskan jaket itu dan mengembalikannya pada Andrew.


“Pakai saja. Masih dingin.”


“Tidak. Ini sudah cukup hangat. Lihat, mataharinya mulai menerobos celah-celah pepohonan. Oya, pak Andrew mau saya buatkan apa? Kopi?”


“boleh juga.”


Nana mendekati mesin pembuat kopi milik Andrew. sebelumnya can pernah mengajarinya mengoperasikan benda itu. Setidaknya Nana ingat semua pelajaran itu.


“Itu.. bapak mau makan itu?” tanya Nana tak percaya.


“Iya.. Sayang kalau dibuang. Lagi pula kenapa kamu siapkan makanan sebelum saya pulang?”


“bapak yang minta saya sediakan makan malam sebelum bapak pulang.”


Andrew hanya menjembikkan bibirnya sembari melihat Nana yang berjalan kearahnya dengan membawa secangkir kopi.


“Terima kasih.”


Nana mengambil semua makanan yang sudah ia beri plastik pembungkus makanan, kemudian dibukanya kembali dan dihangatkannya kedalam oven.


“bapak belum jawab pertanyaan saya.” nana menyandarkan kakinya pada pantri dekat oven


“yang mana?” tanya Andrew sembari menyerupit kopinya.


“Kenapa bapak marah-marah ke saya kemarin? Sebenarnya saya salah apa?”


Pertanyaan nana berhasil membuat Andrew tersedak. Sebenarnya ia sendiri tidak mengerti kenapa dirinya bisa marah pada Nana.


“Karena kamu meninggalkan rumah tanpa bilang padaku. Aku kan was-was jika rumah kosong,” jawabnya asal.


Dahi Nana berkerut. Merasa aneh dengan jawaban Andrew. “Biasanya juga kosong, pak? Kenapa jadi masalah?”


“pokoknya kamu tidak boleh pulang sebelum saya pulang.”


“lalu bagaimana kalau bapak pulangnya seperti semalam? Saya harus tidur disini gitu?”


“kalau memang mengharuskan seperti itu, maka tidurlah disini. Masih ada satu kamar kosong. Atau kamu bisa menempati kamar Ale dibawah tangga itu.”


“Ale?”


“Iya, dia adik perempuanku. Lumayan sering juga menginap disini. Dan weekand nanti dia akan menginap. Kamu temani dia.”


“kenapa tidak anda saja?”


“aku mau minta tolong lagi padamu..”


“Minta tolong apa?”


“Dia itu gadis yang tomboy. Tolong ajari dia untuk jadi wanita sedikit. Papa dan mama sudah bingung cara mengahadapinya bagaimana!”


“Kenapa dia bisa seperti itu?” tanya Nana penasaran.


“aku yang mengajarinya. Aku ingin dia jadi perempuan yang tangguh. Ternyata malah kebablasan.”


Nana tersenyum mendengar perhatian yang diberikan Andrew pada adiknya. Senang rasanya jika punya saudara yang memperhatikan kehidupan kita seperti Andrew ini. “saya akan bantu. Tapi ada syaratnya.”


“apa syaratnya?”


“bapak harus jadi pacar saya!