Dihps

Dihps
Sebuah Pengumuman



Sebuah Pengumuman


Satu hari menjelang pesta ulang tahun sang mama, Axel-sitengah dan Alea-sibungsu datang terlebih dahulu. Seperti yang diucapkan oleh Andrew, Alea gadis kecil yang cukup unik. Pasalnya gadis kecil itu terlihat tomboy, padahal dari segi wajah cantik, perpaduan yang pas dengan mata birunya, tinggi, rambut panjang dan cerdas. Dan Axel yang sebentar lagi tingginya menyamai Andrew lebih cenderung pendiam, fokus pada gadgetnya.


Alea berjalan riang saat baru saja tiba dirumah Andrew. “Wooaaahh... Aku selalu rindu dengan rumah ini.” Matanya tampak berbinar. Sigadis kecil menghempaskan tubuhnya disofa, kakinya dinaikkan diatas meja.


“Le, kakimu gak sopan,” protes Axel melihat tingkah adiknya yang aneh.


“Bang, kalian aja sering kayak gini. Kenapa aku enggak boleh.” Alea tak mau kalah.


Dari kejauhan Nana tersenyum melihat tingkah kedua anak remaja tersebut. Membayangkan dirinya juga akan melakukan hal yang sama jika mempunyai adik secantik Alea atau abang yang selalu mengontrol adiknya seperti Axel.


Andrew baru saja masuk kedalam rumah, karena sebelumnya menerima sebuah panggilan dan bertahan diluar rumah. “Kenapa ribut?” tanyanya pada kedua adiknya yang terdengar gaduh dari luar.


“Bang Axel nyebelin, atur-atur Alea terus.” Alea mendengus kesal. Kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan turut larut dengan benda mungil itu dwngan wajah cemberut.


“Dia tu bang, gak sopan. Masak cewek kakinya dinaikkan keatas meja. Siapa nanti yang mau sama dia.” Axel tak mau kalah.


Andrew menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua adiknya. Tidak pernah akur, selalu saja ribut. Tapi kalau tidak ada mereka atau salah satunya, rumah akan terasa sepi.


Andrew mendekati Nana yang tengah menyiapkan makan malam. Hanya tinggal menyusunnya saja dimeja makan.


“Sudah selesai?” tanya Andrew sembati menghempaskan bokongnya duduk dikursi pantry.


“Sudah, pak. Tinggal menyusun di meja makan saja. Masih ada yang ditunggu?”


“Mama dan papa juga mau bergabung. Tapi masih dirumah om Kala. Mungkin keluarga om juga akan ikut bergabung.” Andrew menjelaskan dengan mulut tak berhenti mengunyah cemilan yang ada dimeja. Matanya sibuk memperhatikan dua adiknya yang sedang saling menatap bak siap berperang.


“Adik-adik bapak lucu ya. Apa seperti itu jika bertemu?”


“Hmmm... Mereka memang seperti itu. Hampir setiap hari. Tapi kalau salah satu tidak ada, rumah akan terasa sepi.”


Andrew mengalihkan pandangannya pada Nana yang tengah asyik mengamati kedua adiknya. “Kamu dirumah sendirian?”


Nana mengangguk. “Dulu saya tinggal bersama paman dan bibi, mereka tinggal di Bogor. Dan setelah saya pindah ke Bandung saya hidup sendiri. Sesekali berkunjung jika jadwal kuliah sedang kosong.”


“Jika kamu mau, kamu bisa tinggal disini selama Alea dan Axel di Bandung. Kebetulan mereka sedang libur semester, jadi akan tinggal lebih lama disini. Kamu bisa menemani mereka pergi keteman-teman yang mereka sukai.”


Nana tersenyum, merasa merasa senang dengan tawaran Andrew. “Akan saya pikir lagi pak, terima kasih sebelumnya.”


Andrew mengangguk, memberi kesempatan pada Nana untuk memikirkan tawarannya.


“Bang, mama sama papa kok lama?” Alea yabg mulai jenuh menghampiri Nana dan Andrew yang sedang mengobrol dipantry.


Andrew melirik jam yang ada dipergelangan tangannya. “ Sekitar setengah jam lagi mungkin sampai. Tadi tempat om Kala dulu. Terus mempir jemput nenek juga. Katanya mau kesini.”


“Lama ya.. aku udah lapar..” ucap gadis kecil itu dengan wajah bersungut.


“Alea sudah lapar? Kakak buatkan sesuatu mau?”


Alea menatap Nana sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya. “Boleh. Alea bantu ya kak.. “ Alea sangat bersemangat kali ini, merasa ada kawan yang mau mengajaknya bermain.


“Sandwich bisa?” tanya Alea.


“Gampang. Yuk, kakak ajarin ya.”


Alea menghampiri Nana dan membantu mengupas mentimun dan mencuci beberapa sayuran yang akan digunakan untuk membuat sandwich...


Sesekali mereka tertawa entah apanyang dibahasnya. Andrew hanya memperhatikan sesekali mengembangkan senyum ketika tak sengaja mendengar obrolar seru antara Nana dan Alea.


“Ah, ternyata mudah sekali ya kak. Nanti aku coba sendiri dirumah, pasti mama bangga padaku karena sudah bisa membuat sandwich.” Alea tertawa lebar sembari memperhatika. Hasil karyanya.


“Tentu saja, mama dan papamu akan bangga karena kamu anak yang hebat. Nah, berikan ini juga untuk Axel. Dia pasti sudah lapar.” Nana memberikan satu piring sandwich hasil karyanya untuk Andrew.


Meski dengan berat hati, Alea menuruti perkataan Nana. Padahal sebelumnya ia akan sangat risih jika seseorang terlalu ikut campur dengan urusan pribadinya. Dan tidak mudah akrab juga dengan orang lain. Namun kali ini Nana berhasil menaklukka nya hanya dalam hitungan menit. Bravo Nana.


Tak lama rombongan yang ditunggu-tunggu datang juga. Alea adalah orang pertama yang menyambut kedatangan mereka.


“Neneeeek...” Alea langsung yang dipanggilnya Nenek. Beliau adalah ibu dari mamanya.


“Cucu nenek sudah besar sekali sekarang. Nenek sudah tidak kuat menggendong lagi seperti dulu.” Canda neneknya.


“Nenek, aku kan sudah besar, masa mau digendong terus. Mau dong...” protes Alea.


Semua yang ada disana tersenyum mendengar ucapan gadis kecil itu.


Nana yang masih berada dibalik pantry tersenyum melihat betapa hangatnya keluarga yang dimiliki Andrew. Kehidupan yang sungguh sempurna dibanding dengan kehidupannya.


Nana menyiapkan minuman hangat untuk keluarga itu dan mengantarkannya ketempat keluarga itu berkumpul.


Nana mengedarkan minumannya dan tersenyum. “Selamat menikmati.” Ucapnya lembut dan tulus. Mendengar suara Nana, Kirana langsung menoleh.


“Nana... Apa kabar sayang?” Kirana berdiri dan memeluk Nana.


“Nana baik bu, Ibu bagaimana?”


“Ibu juga baik.”


Melihat interaksi antara Kirana dan gadis muda yang ada dihadapan anaknya, lantas membuat sang nenek bertanya-tanya siapakah gerangan gadis itu. Karena untuk pertama kalinya ia melihat ada seorang gadis dirumah sang cucu.


“Kirana, siapa ini?” tanya bunda.


“Bunda, kenalkan ini calonnya Andrew.”


Dan ucapan Kirana membuat seisi ruangan itu tercengang, seorang Andrew Cruice yang anti pada wanita dan tidak percaya cinta akhirnya menemukan pelabuhan hatinya.


Tepuk tangan riuh terdengar dirumah itu. Semuanya tepuk tangan, kecuali dua orang yang masih syok mendengar kabar itu. Siapa lagi kalau bukan Nana dan Andrew yang masih berdiri kaku dan sesekali mencuri pandang satu sama lain.


Hari ini sungguh hari yang luar biasa.