Dihps

Dihps
I'm Sorry



I'm Sorry


Nana berhenti sejenak sebelum menuruni tangga. Mengatur ekspresi wajahnya agar orang dibawah sana tidak melihat wajah sedihnya. Ia menghela napas pelan, kemudian menuruni tangga dengan senyuman merekah diwajahnya.


“Cie yang abis anterin makanan bang Andrew,” goda Alea saat melihat Nana mendekatinya.


“Kamu ngomong apa sih dek... Cuma nganter makanan aja kok...” jawab Nana.


“Maunya disuapin sekalian, Na. Biar Andrew semangat makannya,” goda sang nenek yang sejak tadi memperhatikan percakapan Nana dan Alea.


“Bisa makan sendiri kok nek,” Nana melayani setiap ledekan dari keluarga itu dengan jawaban-jawaban yang cukup baik. Belum lagi ia sangat pintar menyembunyikan perasaan hati yang sesungguhnya.


Nana mendekati Kirana yang tengah asyik merapikan piring. Ternyata wanita itu sudah membereskan peralatan kotor setelah keluarga besarnya selesai makan. Dibantu oleh kakak iparnya sekaligus sahabat tercintanya, Diana.


“Ibu, seharusnya tidak perlu ibu yang mencuci piring... Ini sudah tugas Nana.” Nana meraih piring yang ada ditangan Kirana dan meletakannya didalam laci.


“Tidak apa-apa, Nana sayang. Ibu sudah biasa seperti ini. Lagi pula ada tante Diana yang membantu. Oya, kenalkan ini tante Diana. Istri dari Om Kala, kakaknya ibu.” Kirana memperkenalkan Diana pada Nana.


“Nana, tante...” Nana menjabat tangan Diana.


“Tante senang saat tau Andrew akhirnya punya pasangan. Titip Andrew ya sayang. Maaf kalau dia agak galak...” ucap Diana sembari menutup mulutnya.


“Pak Andrew orang yang baik, tante. Ya memang sedikit galak sih, hehe...” Nana menimpali ucapan Diana. Tangannya terus menyusun piring, gelas dan yang lainnya dengan cekatan. Sangat terlihat jika ia adalah orang yang biasa bekerja semacam itu.


“Nah, sudah selesai. Sepertinya cuaca semakin dingin. Kita bikin teh yuk...” ajak Kirana.


Nana mendekati Kirana ragu-ragu. “Ibu, Nana mau pamit pulang dulu ya.”


“Loh, tidak nginap disini. Sudah malam, sayang.” Kirana mencoba mencegah Nana pulang.


“Hmm... Sebenarnya ada tugas kuliah yang mau Nana selesaikan bu, takut tidak selesai.” Nana memberikan penjelasan pada Kirana.


Kirana menghela napas pelan. Ditatapnya wajah Nana lekat. Kemudian memegang bahu Nana. “Hati-hati dijalan ya.. biar ibu panggilkan Andrew dan mengantar kamu pulang.”


Nana menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Bu, tidak perlu. Nana bisa pulang sendiri.”


“Bahaya, sayang. Ini sudah malam. Pokoknya ibu tidak akan mengijinkan kamu pulang kalau pakai taxi. Pilihannya hanya diantar Andrew atau kamu menginap disini!” Kirana berkata dengan sorot mata tajam. Sesungguhnya ia khawatir jika harus melepas Nana pulang sendirian.


“Biar Andrew yang antar Nana, ma.” Sebuah suara muncul dibelakang Nana. Andrew dengan piring dan gelas kosong ditangannya, pria itu sudah menghabiskan makanan yang dibawa Nana tadi. Kemudian meletakkannya diatas pantri.


Nana hanya diam, membuang pandangannya kearah lain agar tidak menatap Andrew. Setidaknya untuk saat ini dirinya ingin menghindar, jika bisa Nana lebih memilih pulang sendiri atau diantar orang lain asalkan tidak bersama Andrew.


“Ide bagus, And. Hati-hati dijalan ya... Oya, besok kamu datang ya, Ibu ngadain syukuran kecil-kecilan dicafe. Ibu mengundangmu secara khusus, jadi tidak boleh tidak datang...”


“Nana usahakan, bu. Nana pamit ya...” Nana memeluk Kirana, kemudian menatap lekat wanita paruh baya yang ada dihadapannya itu.


Kirana mengangguk, dan melepaskan kedua muda-mudi yang sangat diharapkannya bisa bersatu.


***


Sepanjang perjalanan, Andrew dan Nana hanya diam membisu. Tidak ada satupun yang berusaha membuka suara. Larut dalam pikiran masing-masing.


Sesepi keadaan diantara mereka berdua. Hening, yang terdengar hanya lantunan musik yang berputar mengiringi perjalanan mereka.


Andrew masih terus menatap jalan, sesekali melirik kearah gadis yang sedang duduk disebelahnya.


Tak berapa lama mereka tiba didepan rumah Nana. Masih tetap diam tanpa mengubah posisi masing-masing.


Nana menunduk dan menghela napas sejenak, diangkatnya lagi wajahnya dan menatap lurus kedepan. “Terima kasih sudah mau mengantar sampai sejauh ini. Saya permisi. Selamat malam,” ucap Nana tanpa menoleh pada Andrew yang sejak tadi memperhatikannya.


Ketika Nana hendak membuka pintu, Andrew menahan dengan menarik tangan gadis itu. “Tunggu,” ucapnya.


Nana mengurungkan niatnya dan duduk diposisi semula. “Bisa lepaskan tanganmu?” Mata Nana melirik kearah tangan Andrew yang bertengker di lengannya.


Andrew menatap tangannya yang masih memegang lengan Nana, kemudian ditariknya secara spontan. “Maaf...”


“Ada apa?” tanya Nana ketus.


“Maaf atas ucapanku tadi. Aku tidak bermaksud begitu padamu.”


Nana masih diam, bukan tidak ingin menimpali. Namun Nana terlalu malas untuk berdebat dengan pria itu.


“Beberapa waktu lalu mama memintaku untuk mencari calon istri sebagai hadiah dihari ulang tahunnya besok. Dan begitu mama melihatmu, mama suka dengan caramu berinteraksi dengan mereka.”


“Jadi itu yang membuatmu memintaku untuk jadi pacarmu dihari pertama kita bertemu?” Nana masih memasang wajah masamnya.


Andrew mengangguk.


“Tandanya itu bukan dari hatimu kan? Kamu hanya sedang mencari solusi dibalik masalahmu..”


“Lalu, bagaimana denganmu? Kamu juga pernah memintaku menjadi kekasihmu, apa ada tujuan lain yang membuat kamu seperti itu?”


Nana melirik sekilas kearah Andrew. “Tentu saja tidak.”


“Tandanya kamu memang menyimpan perasaan padaku?”


Nana terdiam, haruskah ia jujur? Atau berbohong adalah jalan keluar terbaik untuknya saat ini.


“Kamu tau, seorang gadis tidak semudah itu mengungkapkan perasaannya hanya karena masalah yang sedang menimpanya...”


“Tandanya kamu memang menyukaiku!”


“Aku tidak bilang seperti itu.” Nana menghela napasnya. “Aku rasa pembicaraan kita sudah cukup, aku lelah.” Tanpa menunggu persetujuan Andrew, Nana langsung meninggalkan pria yang masih terus menatap kepergiannya. Ia sudah membulatkan tekad tidak memperpanjang masalah dengan pria beriris biru itu.


Andrew membuka pintu mobil dan berdiri disisi pintu. “Selamat istirahat, Nana. Aku menunggumu besok.”


Mendengar ucapan Andrew, Nana membalikkan tubuhnya. “Seperti yang aku ucapkan tadi, aku tidak akan bekerja denganmu. Jangan menungguku dan jangan mengangguku lagi.” Nana masuk dan menutup pintu. Disandarkan tubuhnya dibalik pintu dan menunduk. Akh, rasanya masih terngiang ditelinganya bagaimana Andrew memperlakukannya tadi. Kata-kata pria itu sungguh tajam, benar-benar melukai hatinya.


... ...