Dihps

Dihps
Permintaan Alea



Permintaan Alea


Andrew kembali kerumah dengan wajah masih kusut. Ditatapnya sekeliling ruangan yang terlihat sepi, sepertinya anggota keluarga yang lain sudah masuk kedalam kamar masing-masing.


Andrew menghela napas pelan, ia melangkahkan kakinya kekamar yang biasa ditempati Alea. Biasanya jika sedang ramai seperti ini, Axel akan tidur dikamar adiknya itu. Karena Andrew tidak pernah mengijinkan adik tengahnya itu menginjakkan kaki kedalam kamarnya. Karwna yang ada disana pasti akan dicela oleh Axel.


Benar saja. Dua orang kakak beradik sedang adu punggung diatas tempat tidur. Sepertinya mereka baru saja bertengkar memperebutkan sesuatu.


Andrew tersenyum, kemudian masuk diantara dua punggung yang saling bersebrangan itu.


Merasa tempat tidurnya bergoyang, Axel dan juga Alea membalikkan tubuhnya. Mereka mendapati Andrew yang tengah terpejam ada diantara mereka berdua dengan kaki dinaikkan diatas kaki Axel dan Alea.


“Abang, sempit... Ini lagi kakinya pakai naik segala diatas kakiku.. abang berat tau...” protes Alea sembari menurunkan kaki Andrew dari atas tubuhnya.


“Abang, kan punya kamar sendiri. Gih sana tidur dikamar. Kalau tidak karena nenek dan kakek juga ikut menginap, malas sekali harus berbagi kamar dengan anak cengeng seperti adikmu itu,” dengus Axel kesal.


Andrew masih memejamkan matanya, pura-pura tidur dan tidak menggubris kedua adiknya yang sudah pasti sedang menatapnya tajam.


Tanpa sepengetahuan Andrew, Axel dan Alea sama-sama mengangkat bantal dan bersiap memukul Andrew. Dan mereka mulai menghitung bersama.


Satu...


Dua..


Tiga...


Buuuuk bukk buuuk...


Axel dan Alea kompak menghempaskan bantal pada wajah dan tubuh Andrew. Mereka memukul sang kakak dengan sangat brutal. Andrew yang sengaja menggoda kedua adiknya hanya membalikkan tubuhnya saja sehingga punggungnya lah yang terkena hantaman benda empuk dari kedua adiknya itu.


Merasa lelah, Axel dan Alea kembali membaringkan tubuhnya diatas kasur dengan napas terengah-engah. Kini gantian kaki mereka yang menimpa tubuh Andrew.


“Bang, enggak mati kan?” tanya Axel sarkas saat mendapati abangnya yang tak bergerak dari tadi.


“Bang..” Alea juga ikut memanggil Andrew dan menggoyang kakinya, supaya Andrew meresponnya.


“Le.. kalau bang Andrew mati, hak waris dia kita bagi dua ya.. Lumayan kan...” Axel menendang kaki Alea supaya gadis kecil yang genap berusia delapan tahun itu mau mengikuti kodenya.


“Iya bang, aku juga dengan senang hati menggantikan abang kita yang jelek ini dengan kak Nana yang cantik itu. Pasti bahagia banget punya kakak perempuan yang perhatian padaku selain mama..” ucap Alea menimpali keusilan Axel.


Mendengar ucapan kedua adiknya, Andrew langsung merentangkan tangan dan merangkul Axel dan Alea. Kemudian ditariknya kedua adiknya itu mendekat.


“Tidak perlu menunggu abang mati, sekarangpun jika kalian mau warisan itu abang akan membaginya. Tapi dengan syarat...”


“Apa syaratnya?” Axel dan Alea bertanya serempak.


“Kalian harus menjadi babu abang seumur hidup. Bagaimana?”


“Yaaahh... Syarat macam apa itu... Sama saja abang jadi bosnya...” protes Axel sembari mencoba melepaskan rangkulan Andrew dilehernya.


“Iya... Curang sekali...” timpal Alea.


Andrew membalikkan badannya sehingga mereka bertiga sama-sama menatap langit-langit kamar. “Memangnya yang kalian pikirkan itu apa? Warisan? Jangan mengandalkan itu. Berusahalah semampumu untuk membangun usahamu sendiri. Jika kalian sukses, mama papa pasti akan sangat bangga. Warisan itu bonus.”


Andrew memiringkan tubuhnya, menatap kearah adik tengahnya yang sedang beranjak remaja itu. Disanggahnya kepala dengan menggunakan lengan kirinya. “Aku mendukungmu. Teruslah belajar dan lakukan yang terbaik. Abang bangga punya adik sepertimu.” Andrew menepuk bahu Axel.


Kemudian berbalik kepada Alea. “Le..”


“Hmmm...” sahut Alea.


“Bantu bang Axel nanti diperusahaan ya. Jangan banyak main.”


Alea yang sudah memejamkan matanya kini menatap Andrew. “Aku masih delapan tahun, bang. Aku tidak mau dipusingkan dengan urusan bisnis. Kalian saja yang mengurusnya. Aku masih ingin main,” ucap Alea dengan wajah polosnya.


Tuuukk.


Andrew menjentikkan jarinya didahi Alea sehingga gadis kecil itu mengerang kesakitan. “Aaww.. sakit tau bang...”


“Gadis manja,” Andrew menjawil hidung Alea.


“Bang, Besok sering-sering ke Jakarta bawa kak Nana ya..” pinta Alea sembari memeluk Andrew.


Andrew terdiam mendengar celotehan adiknya. Teringat kembali akan gadis yang sudah mengusik hatinya. Tak sengaja ia torehkan luka dihati Nana, lagi. “Kamu menyukainya?”


Alea mengangguk. “Dia baik dan tidak sombong. Aku sangat menyukainya. Aku harap suatu hari nanti kalian akan menikah dan hidup bahagia seperti mama dan papa.”


“Aku rasa kalian sangat cocok. Dia sedikit lebih bawel darimu. Juga begitu perhatian padamu, bang. Jadi rumah ini tidak akan sunyi lagi meski kami tidak ada.” Axel ikut berbicara.


Andrew menghela napas pelan. Tidak lagi menanggapi ucapan kedua adiknya. Terlalu rumit untuknya jika membahas masalah hati.


Andrew menatapnwajah Alea. Gadis kecil itu sudah memejamkan matanya. Mungkin jika dirinya tidak datang, adik bungsunya itu sudah tidur sejak tadi. Andrew bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar kamar.


“Kemana bang?” tanya Alea saat mendapati sang abang pergi dari sisinya. Sedangkan Axel hanya melirik sembari memainkan gadget yang sedang digenggamnya.


“Mau keluar sebentar. Anak kecil tidur. Udah malam.” Andrew menjawab tanpa menoleh. Ditutupnya pintu kamar Alea pelan.


Andrew melangkahkan kakinya keluar rumah, meraih pintu mobil yang dan masuk kedalam. Andrew kembali berkendara, pergi ketempat biasa ia melepas penatnya.


Berhubung sudah lewat tengah malam, tempat itu sudah sangat ramai. Andrew langsung menghampiri bartender dan memesan satu gelas minuman.


“Baru datang ya.. Aku mencarimu dari tadi..” Vanessa yang melihat kedatangan Andrew langsung menghampirinya.


Andrew hanya tersenyum sekilas kemudian kembali menenggak minumannya.


“Vanessa...” panggil Andrew dengan suara sedikit berteriak.


“Apa sayang...” sahut Vanessa sembari merangkul Andrew dan menggoyangkan tubuhnya, mengikuti irama musik yang sedang berputar. “Besok kita jadi pergi bertemu orang tuamu?”


Andrew menggeleng cepat. “Sepertinya aku tidak bisa menjemputmu. Tapi jika kamu mau, datang saja ke Cafeku jam 7 malam.”


“Benarkah aku boleh datang?” Vanessa bertanya dengan mata berbinar.


Andrew mengangguk. “Kamu temanku, tentu saja boleh.”


“Aku pasti akan datang. Terima kasih sudah mengundangku.” Vanessa semakin mengeratkan pelukannya dan mengecup pipi Andrew singkat. Kemudian menyandarkan dagunya dileher Andrew. Rasanya saat ini perjuangannya untuk mendapatkan hati Andrew selangkah lebih maju, apalagi bisa bertemu dengan keluarga besar pujaan hatinya itu.