
Nico menatap Meisya intens. Gadis itu mulai gelisah, sepertinya dia akan marah. Meisya harus mencari alasan agar Nico tak salah paham.
"Ini bukan seperti yang kau pikirkan Nico. Tadi Nanda cuman mengantarku pulang, itu aja kok. Dan kami juga membicarakan tentang masa kecil kami nggak ada hal lain, sumpah."
Nico masih bergeming. Tak ada tanggapan apapun. Hati Meisya kalut, seharusnya ia tak mengambil keputusan untuk pulang bersama Nanda. Detik yang mengundang hening berlalu, kaki lelaki itu pun mulai melangkah mendekat. Apapun yang terjadi, Meisya harus menerima dengan lapang dada karena ini memang kesalahannya.
Tidak seperti dugaan Meisya, sebuah tangan malah terulur membungkus tubuhnya.
"Maafkan aku Meisya, maaf karena aku cuekin kau. Pikiran aku kacau sekali akhir-akhir ini. Aku bermimpi buruk semalam. Aku...aku takut jika terjadi sesuatu. Aku tak mau kehilanganmu Meisya."
Meisya mematung. Tentu saja dengan sikap Nico yang tiba-tiba aneh membuatnya kaget. Apalagi lelaki itu sudah menangis di bahunya. Meisya mengelus punggung Nico pelan.
"Kita masuk dulu yuk. Nggak baik di luar magrib-magrib."
Nico melepaskan pelukannya. Melihat air mata lelaki itu mengalir, Meisya merasa terenyuh. Di usapnya kedua mata Nico dengan lengan bajunya. Setelah itu keduanya masuk ke rumah.
"Nih, minum dulu." Meisya menyodorkan segelas teh hangat kepada Nico yang langsung disambut oleh lelaki itu. Rasa manis dan hangat menguar di tenggorokannya membuat keadaan Nico menjadi lebih stabil.
"Jadi, apa yang baru saja terjadi?" Tanya Meisya langsung to the point ketika Nico sudah meletakkan gelas ke atas meja.
Lelaki itu diam sejenak, menarik napas sebelum menjelaskan hal penting kepada Meisya. Kedua matanya sudah membaur ke dalam mata gadis di depannya. "Kau tak akan mengejek ku kan, kalau aku mengatakan hal yang tak masuk akal?"
"Aku tak mungkin melakukan itu." Meisya menjawab serius.
"Jadi, aku bermimpi melihat seorang laki-laki yang dikepung oleh beberapa orang berpakaian hitam. Orang-orang itu bertubuh besar dan memegang senjata semacam klan mafia. Dan ditengah-tengah keadaan itu ada seorang perempuan berambut sebahu yang diikat di batang pohon. Perempuan itu menangis tersedu-sedu sembari memanggil laki-laki tersebut. Laki-laki itu tak menggubrisnya dia malah mendekat dan menodongkan pistol di kepala perempuan itu. Dengan tak ada rasa belas kasihan, laki-laki itu menembak perempuan tersebut. Darah muncrat mengenai wajahnya. Karena penglihatan sedikit samar, aku tak tahu siapa mereka itu. Tapi, ketika aku mendekat pikiranku tak bisa mencerna apakah ini nyata atau tidak. Laki-laki itu adalah aku dan perempuan itu adalah kau Meisya."
"Aku...aku takut itu akan jadi kenyataan, Sya. Itu mungkin hanya mimpi tapi jika mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan bagaimana?! Aku tidak tahu harus melakukan apa! Aku.."
"Cukup, Nico! Sudah tak usah dilanjutkan lagi." Meisya langsung meraih tubuh Nico dan mendekapnya. Membiarkan Nico untuk melanjutkan ceritanya bisa membuatnya tertekan. Lihat, dia ketakutan sampai tubuhnya gemetar. Meisya tahu apa yang dirasakan oleh Lelaki itu. Terkadang kita tak bisa menyepelekan sesuatu walaupun itu hanya sekedar bunga tidur.
Sekitar lima menit, Nico baru melepaskan diri dari Meisya. Ia terduduk lesu sembari menatap nanar ke lantai. "Maaf ya Meisya aku sudah merepotkanmu padahal itu cuman mimpi yang belum tentu akan terjadi tapi aku bertindak kekanak-kanakan begini."
"Itu hal wajar, Nico. Semua orang pasti mengalaminya. Kau tak perlu cemas, aku takkan membiarkan itu terjadi. Ralat, bukan aku tapi kita tak akan membiarkan itu terjadi. Berjanjilah bahwa kau atau aku takkan pernah menyakiti satu sama lain." Meisya menyerahkan jari kelingkingnya ke hadapan Nico.
"Tentu, aku akan berjanji pada diri ku sendiri untuk takkan melakukan itu. Aku juga berjanji akan melindungi mu Meisya apapun yang terjadi."
Jari keduanya saling bertaut, mengikrarkan janji sebagai bukti yang kuat. Senyum Nico mengembang, pertanda bahwa ketakutan dalam diri lelaki itu sudah sirna. Meisya tak perlu khawatir lagi karena masalah sudah terselesaikan. Dan itu juga bikin tenaga terkuras sehingga menimbulkan suara keroncong dalam perutnya. Gadis itu pun bangkit ketika matanya menilik ke arah jam dinding yang sudah berdiri di angka delapan dan mengajak Nico untuk makan malam bersama.
......***......
"Oh, jadi ini yang namanya mas Nico. Pantesan Neng Meisya klepek-klepek rupanya tampan dan menawan begini, toh." ujar Bi asri sembari menyiapkan makan malam yang memang sudah dijadwalkan secara teratur.
"Iya Bi, tapi bukan karena tampan loh, aku suka sama dia." Meisya mengerling jail ke arah Nico. Tak perlu di bahas lagi bagaimana wajah lelaki itu sekarang. Seperti biasa, pemalu akutnya timbul ke permukaan. Rona merah sudah memenuhi pipinya.
"Jadi, karena apa?" Sebenarnya Bi Asri sudah tahu alasan kenapa Meisya menyukai Nico. Meisya banyak bercerita kepadanya mengenai cinta pertamanya itu. Tak heran jika benih-benih rasa penasaran pada Bi Asri muncul karena baru pertama kali putri majikannya itu jatuh cinta. Alih-alih juga ingin tahu apakah benar tabiat Nico seperti itu.
"Karena..." Meisya menggantung ucapannya dan malah beralih menuju ke Nico. Ia mendekatkan wajahnya hingga berjarak 5 cm dari wajah lelaki itu. "Kau imut, Nico-chan."
Nico tak tahan menghadapi tingkah blak-blakan Meisya yang keluar mendadak. Bisa-bisa dia terkena serangan jantung nanti. Lelaki itu memilih memalingkan wajahnya. Kursinya dia mundurkan sedikit. Melihat hal itu, Meisya semakin antusias untuk mengerjainya.
"Jangan mengatakan hal yang memalukan, Meisya."
"Aku kan cuman mau memujimu. Tak boleh ya?"
"Bukan...be..gitu. Aku..malu jadinya." Kalau kalian baca komik pasti tahu kan asap nge-blush yang keluar dari kepala si tokoh ketika dia malu atau telinga dan pipi yang sudah kemerahan seperti tomat. Begitulah gambaran Nico sekarang, benar-benar menggemaskan.
"Hahahaha, baiklah aku tak akan melakukannya lagi. Tapi, aku tak janji ya!"
Mendengar itu, Nico menjadi cemberut. Dia kesal dengan Meisya yang selalu mengerjainya begini. Bahkan tak kenal tempat.
"Bibi, toh lihat reaksi Nico. Gimana, imut kan sekarang bibi percaya kan apa aku bilang." Meisya berbalik menatap Bibi yang sudah takjub dengan tingkah mereka berdua. Tawa ringan keluar dari bibirnya. Majikannya itu pandai sekali menggoda orang. Bibi hanya merespon dengan geleng-geleng kepala.
"Sudah, sudah Neng. Jangan ganggu Nico lagi. Lebih baik segera di makan makanannya sebelum dingin."
Sesi mengerjai Nico pun selesai berganti dengan makan malam yang santai.
......***......
"Kau yakin tak mau menginap di rumah ku? Ini sudah hampir tengah malam, loh. Kau bisa kenapa-napa kalau pulang sendirian."
"Tenang saja, Sya. Aku bisa jaga diri, kau tak perlu khawatir. Kalau aku tak pulang takutnya Oka-san jadi khawatir di rumah, aku juga tak bawa handphone jadi tak bisa mengabarinya."
"Baiklah, kalau begitu. Hati-hati di jalan, Nico."
Nico mengangguk dan pergi dari hadapan Meisya. Gadis itu menunggu sampai Nico benar-benar hilang dari pandangannya. Selang beberapa detik, kompleks sudah sepi. Tak ada lagi derap kaki siapapun. Hanya lampu gantung yang berjejer yang masih menemaninya.
Meisya pun melangkah untuk kembali ke rumah.
Dari kegelapan di sudut jalan. Sinar lampu menyorotkan bayangan seseorang sedang berdiri, menatap gadis itu dari kejauhan. Senyum seringai terlukis di bibirnya.