
"Nico, kau ke sini sebentar." Nico yang sedang menyalin catatan yang masih terekam di papan tulis terpaksa berhenti dan memenuhi panggilan Pak Devan.
Guru itu memberikan sebuah kertas formulir kepada Nico dan menyuruhnya untuk mengisi secepatnya.
"Ini pendaftaran ekstrakurikuler yang baru. Kau bisa memilih di minat mana yang cocok dengan skill yang kau punya. Setelah selesai, nanti kau antar ke ruang guru dan taruh saja di meja saya."
"Baik Pak, terima kasih."
Lelaki itu kembali ke tempat duduknya, matanya masih memperhatikan isi data yang tertera dalam kertas tersebut. Di sisi lain, tampak Meisya dengan rasa penasarannya yang menggebu celingak-celinguk dari lokasi duduknya untuk bisa menengok kertas apa yang di pegang oleh Nico.
Meisya jadi tak fokus dengan penjelasan Pak Devan karena terus melirik ke belakang. Hingga gerak-geriknya terpergok oleh gurunya itu. Pak Devan berdeham keras bermaksud memberi peringatan tapi Meisya tak peka.
"Sya, itu Pak Devan liatin kau, loh." Divya yang sudah panik di samping menyikut lengan sahabatnya itu agar segera menghadap ke depan.
"Hah?" Pandangan Meisya langsung berbalik dan mendapati Pak Devan sudah menatap tajam ke arahnya. Dengan wajah tak berdosa Meisya malah menarik bibirnya membentuk senyuman. Guru itu hanya bisa menghela napas sambil mengelus dada.
"Meisya, kau tadi tidak memperhatikan apa yang saya terangkan di depan, kan? Coba maju ke depan sekarang dan jawab soal nomor tiga. Saya mau tahu seberapa pandai kau dalam menguasai materi gaya gravitasi ini."
Semua langsung bergidik ngeri mendengar ucapan Pak Devan termasuk Meisya. Kalau sudah berurusan dengan mata pelajaran fisika ia sudah angkat bendera putih, kepala Meisya tak sanggup menampung semua rumus yang berbelit-belit itu. Sangat berbeda dengan matematika yang supel dan bisa menciptakan rumus sendiri.
"Euhh, Pak, saya tidak pandai kalau masalah begini. Gimana kalau Bapak kasih soal matematika saja yang banyak juga boleh Pak, saya jamin seratus persen bakal betul semua."
"Meisya, jangan cari masalah, deh! Ini kan pelajaran fisika bukan matematika." Divya mendelik tak habis pikir dengan sikap Meisya, apakah otaknya masih berfungsi bisa-bisa dia tawar menawar begitu.
"Udah, kau diam saja Divya. Aku cuman tidak mau terlihat bodoh di depan Nico karena tak bisa mengerjakan soal itu. Mungkin Pak Devan berbaik hati mau menerima tawaran ku. Aku kan sudah menjadi ketua kelas yang bertanggung jawab dengan sering membantu Pak Devan."
"Terserah kau saja, deh."
"Meisya Kyrana, kerjakan sekarang atau berdiri di luar kelas." Ekspresi Pak Devan sudah mengeras, tampak memendam amarah. Sepertinya Meisya tak bisa menyelamatkan diri kali ini.
"Oke, Pak, oke. Karena saya tidak bisa menjawab jadi saya akan keluar."
Gadis itu pun menyeret langkahnya dan keluar dari kelas. Ia berdiri bersandar di tembok di samping ruang kelasnya. Karena pelajaran Pak Devan jam terakhir maka dari itu Meisya harus menjalani hukuman sampai bel pulang sekolah berdering.
...***...
"Nih, Sya, diminum dulu. Kau pasti haus sudah berdiri selama dua jam." Nico menyodorkan Aqua yang baru saja dibelinya di kantin selepas pelajaran usai.
Setelah semua murid sudah beranjak pulang dari pelataran sekolah dengan begitu hukuman Meisya pun kelar. Gadis itu buru-buru masuk kelas dan duduk untuk mengamankan kakinya yang pegal-pegal. Ditemani Nico, Divya dan Nanda yang masih menetap karena mengkhawatirkan keadaan gadis itu.
"Kau ini, sudah tahu Pak Devan orangnya kejam dan tegas bisa-bisanya kau malah bernegosiasi. Lihat, apa yang kau dapatkan sekarang."
"Jangan memarahinya, Divya. Meisya kan tak sengaja lagi pula itu hanya masalah kecil seharusnya Pak Devan tak menghukumnya seperti itu."
"Terima kasih, Nanda. Tapi ini memang kesalahanku karena tak menyimak penjelasan Pak Devan. Aku terlalu penasaran dengan kertas yang dipegang Nico."
Yang dibicarakan langsung menatap heran ke arah Meisya, begitu pun yang lainnya. Tiba-tiba, suara tawa membeludak dari ketiga orang tersebut. Rupanya gara-gara kepo terlalu tinggi sampai terkena hukuman Benar-benar tak masuk akal.
"Hahaha, Ini kan tak terlalu penting, Sya. Hanya kertas pendaftaran ekskul biasa. Kau tak perlu sampai penasaran begitu." Nico membentangkan kertas formulir itu supaya Meisya bisa melihatnya.
"Aku kan tak tahu, Nico." Meisya memasang wajah cemberut. Teman-temannya tak berhenti menertawakannya. Kan, Meisya jadi malu sendiri.
"Sudahlah, lebih baik kita segera pulang." ucap Meisya sambil menyambar tasnya.
"Oh, tidak apa-apa. Aku tak buru-buru, kok. Aku bisa menemani mu."
"Kalau begitu Meisya, Nico kami duluan ya."
Nanda dan Divya pun pergi meninggalkan kedua pasangan tersebut. Setelah itu, mereka juga menyusul tapi sebelumnya mampir dulu ke ruang guru untuk mengurusi sesuatu.
Pintu ruang guru masih terbuka. Mereka pun masuk tak lupa memberi salam. Tak sulit untuk menemukan guru tersebut karena beliau memang sudah bersemayam di mejanya. Mereka pun menghampirinya.
"Pak, ini kertasnya sudah saya isi semua."
Tanpa bicara, Pak Devan langsung mengambil kertas tersebut dan membacanya. Beliau manggut-manggut.
"Untuk perkenalan awal anggota baru. Kau bisa melihat-lihat dulu ruang ekskulnya. Meisya, tolong antarkan Nico ke ruang seni."
"Huh, tadi Bapak hukum saya sekarang malah nyuruh-nyuruh saya. Padahal kan saya cuman melakukan hal kecil." Asal kalian tahu, kekesalannya Meisya masih membekas di hatinya. Hukuman tadi sempat membuatnya mati rasa.
"Yaudah, kalau begitu jabatan kau sebagai ketua kelas saya cabut dan jangan ikut pelajaran saya lagi." Pak Devan membantah acuh tak acuh
"Jangan, Pak! Aduhh, baiklah saya akan buat apa yang Bapak suruh."
Di sisi lain, Nico hanya bisa tertawa ringan melihat tingkah ugal-ugalan pacarnya itu.
......***......
Mereka sampai di sebuah ruang yang dihiasi dengan beragam lukisan unik dan menakjubkan. Dengan nuansa fantasi yang meluluhkan mata dengan embel-embel tempelan origami bintang yang memenuhi langit-langit ruangan.
Terdapat papan easel yang disusun acak serta pelengkapnya seperti kanvas, cat, dan kuas. Nico sampai menganga lebar tak menyangka akan secantik ini ruangannya.
"Meisya, ini indah sekali!"
"Loh, di sekolah kau dulu tidak ada yang lebih bagus dari ini? Bukannya sekolah Jepang itu berkelas, ya?"
"Ada sih, tapi tidak sekreatif ini." Nico berjalan pelan menyusuri setiap sudut ruangan. Menyentuh lalu mengoceh ria ketika menemukan benda yang baru pertama kali dilihatnya.
"Kenapa kau pilih ekskul melukis? Apa kau pandai melukis? Tapi, aku tak pernah melihatmu membawa atau memegang buku lukis."
"Iya, aku memang suka melukis. Pertama kali aku jatuh cinta pada seni di usia lima tahun ketika melihat lukisan Salvador Dali yang temanya The Persistence of Memory. Kau tahukan? Salah satu lukisan terkenal juga selain Monalisa."
"Oh ya, aku tahu. Lukisan yang sangat unik itu dengan jam waktu yang meleleh sebagai objek utama. Sangat sulit untuk menafsirkan apa arti dibalik lukisan tersebut dengan sekali kedipan mata. Apa kau melihatnya langsung?"
"Tidak, oto-san yang memperlihatkannya kepadaku. Dia pernah pergi ke museum dimana lukisan itu berada di Amerika dan memfotonya."
"Wah, Ayahmu beruntung sekali, Nico."
"Saat melihatnya aku jadi terhipnotis dan mulai belajar seni lukis sedikit demi sedikit. Walaupun bukan cita-cita ku ingin menjadi pelukis tapi aku ingin menuangkan segala rasa gejolak ku dalam sebuah lukisan seperti yang dilakukan oleh seorang pelukis. Menikmati setiap suara halus goresan pensil dan merasakan aneka percikan warna yang menyatu dalam kertas putih."
"Kau pasti bisa, Nico. Kapan-kapan tunjukkan kepadaku hasil gambaran mu aku juga ingin melihatnya."
Nico tersenyum manis. "Tentu saja, Meisya."