Different Side

Different Side
BAB 10: Surat Ancaman



Meisya mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan. Ia baru saja membersihkan selokan sekolah dari padatnya sampah yang menggunung dan baunya yang melebihi telur busuk.


Sabtu dini hari, akademi Aster sedang melaksanakan kerja bakti. Setelah istirahat, pembelajaran ditutup, seluruh penghuni sekolah wajib mengemasi fisik dan tenaga mereka untuk bekerja sepenuhnya membersihkan pekarangan sekolah.


Kegiatan ini bukan hanya sekedar tugas umum biasa justru sebagai persiapan untuk festival sekolah yang akan digelar lima hari lagi, sudah menjadi tradisi akademi Aster setiap tahunnya. Jadi, tak ada keluhan maupun bantahan yang muncrat dari mulut siswa-siswinya karena mereka juga pasti menikmati acara spektakuler tersebut.


Setiap kelas memperoleh bagian tugasnya masing-masing, dioper sesuai dengan pengundian dari staf kebersihan. Kelas Meisya kebagian membersihkan gudang belakang sekolah dan sekitarnya. Sangat tak beruntung, mereka harus benar-benar mengubah keadaan gudang yang tenggelam dari kata elok.


Pertama menginjak kaki ke wilayah tersebut, sampah berserakan dimana-mana, barang-barang di dalam gudang tumpah tak karuan, ditambah bau menyengat yang menusuk hidung semua membaur menjadi satu. Wajar saja, gudang ini memang sudah jarang dipakai palingan untuk menyimpan peralatan bekas sekolah.


"Teman-teman, kalau kalian udah merasa capek istirahat aja dulu. Nggak usah dipaksa!" Meisya sebagai ketua kelas menginterupsi.


"Tak apa Meisya, ini masih banyak kotoran yang harus di bersihkan. Kalau kau mau istirahat, istirahat aja duluan." Nanda dari balik pintu gudang menjawab. Wajahnya penuh dengan coreng hitam.


"Baiklah kalau gitu, aku izin bentar ya. Kalian ada yang mau nitip, nggak?"


"Beliin gorengan sama es teh aja, Sya. Kau bisa pakai uang kas untuk belanja jajanan itu. Teman-teman pada mau kan?!" Usul Erika, sang bendahara kelas.


Semua berteriak riang. Sepertinya mood Erika sedang baik hari ini tak seperti biasanya yang mengeram bagai singa lapar ketika diminta pinjaman uang kas. karena memang masih banyak teman-teman lain yang nunggak bayar uang kas sampai berbulan-bulan.


Meisya mengacungkan jempolnya ke udara. Sebelum melangkah pergi untuk merantau mencari pasokan makanan, ia menghampiri pacarnya terlebih dahulu yang sedang sibuk menyapu hamparan dedaunan kering.


Sebenarnya niat Meisya mendekati Nico karena lelaki itu sejak tadi curi-curi pandang ke arahnya. Insting Meisya terlalu kental untuk menyadari itu. Entah apa maksudnya, yang pasti Meisya harus mencari tahu alasannya.


"Nico!" Gadis itu menepuk pundak Nico, membuatnya tersentak.


"i..ya, ada apa Sya?" Nico memutar kepalanya kaku, efek salah tingkahnya muncul saat Meisya menyemburkan senyum misterius ke arahnya. Tak salah lagi, perangainya telah tertangkap basah.


"Ada apa? Sejak tadi kau memperhatikanku terus. Apa ada sesuatu?"


Sesuai perkiraan, kali ini Nico tak bisa menyembunyikan rasa malunya lagi. Dia jadi gelagapan, tak tahu harus merespon seperti apa. Kalau berbohong pun, Meisya pasti bisa mendeteksinya. Baiklah, katakan saja yang sejujurnya daripada membuat Meisya menunggu.


"Ngg..kau tadi mau pergi beli camilan kan? Aku ikut, boleh?"


Spontan Gadis itu terkekeh geli mendengar kalimat yang keluar dari mulut Nico. "Astaga, kau benar-benar menggemaskan. Kalau kau ingin ikut tak perlu meminta izin segala."


"Aku hanya tak ingin mengecewakanmu dengan meninggalkan pekerjaan yang belum selesai. Kau kan penanggung jawab jadi kalau aku berbuat seenaknya kau bisa dimarahi oleh staf kebersihan nanti. Dan aku juga tak enak dengan teman-teman lain mereka bekerja keras sedangkan aku malah bermain-main."


Tangan Meisya mengusap lembut rambut Nico. "Kau tak perlu cemas. Sifat mereka tak kekanak-kanakan begitu, teman-teman sekelas kita itu orangnya baik dan peduli. Jadi, mereka pasti mengizinkannya. Kalau mereka berani menghadang, mereka juga bakal tahu akan berhadapan dengan siapa."


Nico mengangkat wajahnya yang semula menunduk, tersenyum manis. "Terima kasih, Meisya."


"Yoshh..Ayo, kita pergi memburu camilan!!"


...***...


Seorang perempuan hoodie melangkah masuk ke kelas yang sepi, mengendap-endap kecil menuju ke sebuah bangku yang terselempang tas navy. Kemudian dia membuka resletingnya dan memasukkan kertas yang dibalut amplop ke dalam tas tersebut.


Selesai dengan pekerjaannya, dia balik kanan dan memilih kabur secepatnya sebelum ada orang yang melihat. Tapi, kesialan mendatanginya secara tiba-tiba, sebelum sempat keluar suara tapak kaki terdengar sedang mendekat, seorang laki-laki masuk dengan buru-buru.


Semenit pun berlalu, tapi lelaki itu tak kunjung keluar, terus terjebak dalam situasi seperti ini membuat si perempuan gerah tak menentu.


"Sial! Kenapa lelaki itu nggak keluar-keluar. Kalau terus begini bisa-bisa aku ketahuan nanti."


Tiba-tiba, temannya muncul dari ambang pintu memanggil nama lelaki itu, menyuruhnya untuk segera pergi. Syukurlah datang penyelamat. Lelaki itu pun melangkah keluar dari kelas.


Setelah dirasa sudah cukup aman. Si perempuan keluar dari persembunyiannya. Pandangannya memindai sekitar. Sebelum ada yang masuk lagi, dia harus secepatnya menghilang dari sana.


Entah karena nasib membencinya atau memang hari ini merupakan hari kesialan sedunia, si perempuan tersebut malah jatuh menubruk lantai ketika tak sengaja kakinya menginjak tali sepatu yang tersibak lebar.


Dia mengaduh, mengusap dahinya yang sudah mengalir cairan merah.


"Kau tak apa-apa?"


Suara bariton itu membuat tubuhnya membeku. Tahu-tahu, kaki jenjang seseorang sudah berdiri tegak di hadapannya. Dengan raut yang gelisah perempuan itu mengangkat kepalanya hingga netranya membentur sosok tersebut.


...***...


"Makanan datang! Makanan datang!" Meisya berteriak heboh ketika memasuki kelas, mengangkat dua plastik sedang tinggi-tinggi. Berkat Ibu Bendahara yang telah mengizinkan mendonasi uang kasnya, Meisya dan Nico tak segan-segan memborong semua gorengan dan teh dingin yang ada di kantin. Hari ini, mereka akan berpesta ria.


Mereka langsung berkerubung duduk di lantai, mengatur posisi senyaman mungkin. Lalu, Meisya meletakkan dua kantong plastik tersebut ke tengah-tengah kepungan teman-temannya. Tangan-tangan terulur, berebut-rebutan  mengambil jatah mereka.


Rasanya sangat menggiurkan di mulut apalagi selepas bekerja rodi, bermandikan keringat dan penat seakan memberikan sensasi kenikmatan yang tiada tara.


Setelah menghabiskan sepotong bakwan, Meisya bangkit menuju tempat duduknya berencana mengambil minum putih. Tapi, sebuah jepit rambut kecil menyembul di samping kaki bangku berhasil menarik perhatiannya. Ia meraih benda tersebut diperhatikannya dengan seksama.


Firasatnya tak enak. Meisya bergegas membuka tasnya, mengacak-acak isinya, semuanya masih tersimpan lengkap tak ada yang hilang. Hingga tak sengaja matanya menemukan sebuah amplop putih dengan lambang ikan koi di sudutnya.


Perlahan dibukanya amplop tersebut, tulisan halus kasar tercetak rapi mendominasi kertas dengan warna biru itu.


Untuk penerima surat,


Sebentar lagi kami akan datang menjemputmu. Kau tidak bisa melarikan diri lagi, pantauan kami sangat ketat akan selalu mengiringi dimana pun kau berada. Duniamu akan kami hancurkan berkeping-keping tanpa sisa. Kami tak main-main dalam memberikan ancaman, terserah kau mau peduli atau tidak. Tapi, saksikanlah nanti apa yang akan kami lakukan sampai kau tahu seperti apa kehidupan neraka itu.


"Salam hangat penulis surat."


Tangannya terkepal, membuat kertas yang dipegangnya sedikit lecek. Wajahnya terpeta rasa geram sekaligus sedikit takut. Orang iseng mana yang berani mengerjainya seperti ini.


Bukan Meisya namanya kalau dia tidak mencari tahu, ulah jahilnya sudah melampaui batas. Meisya tak suka jika ada orang yang menyemprotkannya dengan ancaman bodoh begitu.


Nico datang mendekati Meisya. Dia khawatir dari tadi gadisnya itu berdiri terpaku di tempat duduknya sambil memandang ke sebuah kertas, raut wajahnya terlihat serius.


"Ada apa, Meisya?" Nico bertanya dengan hati-hati.


"Ini, Nico, ada surat bodoh yang berani-beraninya mengerjai aku. Aku nggak tahu dari siapa."


Meisya menyerahkan surat itu kepada Nico. Segurat aura aneh menganggu diri Nico, Tubuhnya menjadi gemetar seiring dengan pikirannya bercampur aduk setelah membaca surat tersebut.