Different Side

Different Side
BAB 6: Kepingan Masa Lalu Dan Kebencian Yang Timbul



"Dulu, ketika aku berumur 6 tahun. Aku selalu memergoki nenekku duduk di depan kolam yang berisi segerombolan ikan koi. Ia begitu telaten dalam merawat hewan bermotif itu bahkan tak jarang dia mengganti air di kolam ketika sudah mengembang buih-buih kotor.


Suatu hari, aku mencoba menghampiri nenek dan bertanya kenapa nenek begitu menyayangi ikan koi. Nenek menjawab, ikan koi itu sudah seperti anak sendiri baginya. Si perlambang keberuntungan, itulah yang dikatakan nenekku ketika menjelaskan asal-usul ikan ini menurut kepercayaan orang Jepang.


Jadilah seperti ikan koi yang memiliki energi positif yang banyak, beragam kepribadian yang unik dan penebar contoh yang baik bagi semua orang. Salah satu nasihat nenek yang diracik dari filosofi ikan ini lalu ia bagikan kepadaku. Aku tak kan pernah melupakan pesan itu sampai aku bisa menerapkannya."


"Sekarang nenek kau masih ada?" Nico bertanya dengan hati-hati tak ingin membuat hati Meisya terenyuh dengan pertanyaannya itu.


Meisya hanya menggeleng pelan. "Nenek sudah meninggal 3 tahun yang lalu." Mata coklatnya kembali meneteskan air hangat. "Aku sangat merindukannya."


Nico baru menyadari di balik sikap Meisya yang super ceria dan blak-blakan tersimpan serat kesedihan di dalam lubuk dirinya. Gadis yang ada di sampingnya itu terlihat rapuh, ia begitu ahli dalam menutupi segala masalahnya.


Lelaki itu meraih wajah Meisya dan menghapus bendungan air yang mengalir itu. "Nenek mu pasti bangga padamu, Sya. Karena kau sudah mengamalkan apa yang dikatakannya."


"Benarkah begitu?"


Nico mengangguk mantap. Ukiran senyuman kembali muncul di wajah Meisya. Lalu ia kembali memandang rombongan ikan itu.


"Sepertinya ikan-ikan ini lapar, deh Nico. Aku pergi beli makanan untuk mereka sebentar ya, kau tunggu sini."


Tapi lelaki itu malah menarik tangan Meisya. "Biar aku aja Sya yang beli, kau pasti sudah capek. Sekalian aku beli makanan ringan untuk kita juga."


"Tapi, kau kan belum berapa kenal tempat ini. Nanti kalau tersesat bagaimana?"


"Tenang aja, aku sudah sedikit hapal kok kan kita baru saja keliling tempat ini tadi."


Gadis itu hanya bisa pasrah ketika Nico beranjak pergi dan punggungnya hilang di balik papan nama taman. Sembari menunggu lelaki itu kembali, ia pun menjelajahi area taman yang luas itu.


Jam terus berjalan mengitari arenanya, sampai telah melewati dua angka. Sedangkan Nico belum juga menampakkan batang hidungnya sedari tadi padahal letak toko atau gerobak penjualan jajanan tidak terlalu jauh dari taman itu. Kecemasan mengitari diri Meisya. Pikiran-pikiran negatif muncul di benaknya.


Apakah Nico tersesat? atau jangan-jangan dia diculik? Tidak, tidak mungkin aku harus mencarinya.


Gadis itu langsung pergi dari taman dan mulai mengelilingi kawasan Garden world satu persatu.


......***......


"Hey! apa yang kalian lakukan, cepat lepaskan aku!"


"Berisik, bodoh!" kedua lelaki itu menghempaskan tubuh Nico dengan kasar ke tanah. Mereka lalu mengambil tali dan mengikat tangan serta kaki lelaki itu.


Beberapa jam yang lalu...


Dengan langkah semangat, Nico menenteng beberapa makanan serta minuman ringan yang sudah dibelinya di kedai kecil tadi.Tapi, saat melangkahi sebuah toko aksesoris mata Nico tak sengaja melirik sebuah benda unik yang sangat menawan. Tanpa pikir panjang, ia pun masuk ke sana. Setelah transaksi jual beli selesai, ia pun keluar sambil menatap benda tersebut dengan riang.


Tiba-tiba, entah datang dari mana kedua lelaki asing menggarap tangannya dan menutup mulutnya yang sempat berteriak kencang. Hingga lelaki itu dibawa ke tempat seperti gudang penyimpanan barang.


"Chikuso!...apa yang mau kau lakukan, br*ngs*k!"


Salah satu lelaki berambut gondrong tersenyum bengis lalu menarik dagu Nico, mata mereka bertemu.


"Ini lah akibat jika kau bermain-main dengan bos kami, kau sudah terperangkap ke jeratannya. Penuhi permintaan satu darinya maka kami akan melepaskan mu."


......***......


Gadis itu telah lelah berkeliling ke semua ruang lingkup taman hiburan itu bahkan ia sempat menanyakan ke para pengunjung maupun para penjual yang ada di sana tapi hasilnya hanya berita kosong yang didapatkannya. Ia duduk meringkuk di depan toko aksesoris, air matanya meluncur kembali ia tak ingin kehilangan orang yang dicintainya lagi.


Sebuah cahaya menabrak pupil mata Meisya membuat ia menoleh ke sumber silaunya cahaya tersebut. Dilihatnya ada sebuah gelang terjatuh di depan pintu toko. Lantas, ia mengambil benda tersebut dan masuk ke dalam toko aksesoris itu.


"Permisi Pak, ini ada gelang jatuh di depan tadi."


"Oh, itu sudah dibeli Dek, sama remaja laki-laki. Rambutnya seperti mangkok, wajahnya putih, pakai baju kaos warna biru dongker dan celana abu-abu. Laki-laki itu terkesan imut banget."


Meisya tertegun. Itu pasti Nico! "Apa Bapak tahu kemana dia pergi?"


"Bapak tidak tahu lagi keberadaannya setelah keluar dari toko ini."


Bagai petir di siang bolong ia mendengar pernyataan pemilik toko itu. Harapannya benar-benar sia-sia sekarang. Tubuh Meisya lemas ia pun melangkah keluar dari toko dengan lunglai. Ketika ia sudah keluar, gadis itu melihat seorang laki-laki berbaju biru dongker serta celana abu-abu berdiri mematung di samping tiang. Ia pun berlari menghampirinya.


Tanpa pikir panjang lagi, Meisya memeluk lelaki itu yang tampak gemetaran. Air mata keduanya jatuh bebas bersamaan dengan rasa haru bercampur takut yang memenuhi masing-masing benak mereka.


"Kemana saja kau, Nico? Aku mencemaskan mu."


Nico tak menjawab ia malah mengencangkan pelukannya dan membenamkan kepalanya di bahu Meisya.


"Aku takut, Sya." ucapannya terdengar seperti berbisik. Dan itu membuat Meisya meregangkan pelukannya dan memilih menatap Nico.


"Kau baik-baik saja, kan? tidak ada yang terluka kan?"


Lelaki itu langsung merubah perubahan suasananya dengan pura-pura tersenyum dan mengatakan baik-baik saja. Ia langsung mengelap air matanya kemudian merogoh kantong celananya untuk mengambil sesuatu. Lantas, ia terkejut karena kantongnya ternyata kosong.


"Apa kau mencari ini?"


Meisya menampakkan sebuah gelang mewah dengan ribuan pernak-pernik menghiasi badan gelang tersebut terdapat ukiran ikan koi di ujungnya. Mata Nico melotot tanpa bicara saja gadis itu langsung tahu apa maksud ekspresinya itu.


"Aku menemukannya di depan toko aksesoris tadi. Aku pikir ini punya pemilik toko makanya aku mengambilnya. Tapi, pemilik itu bilang benda ini sudah ada yang beli dan itu kau."


"Dan itu sekarang sudah menjadi milikmu."


"Hah?!"


Nico merebut gelang itu di tangannya dan memasangkannya di pergelangan tangan gadis itu. Ukurannya pas dan paduan warnanya cocok dengan kulit putih Meisya.


"Aku yang membelinya untuk mu. Karena tadi kau bilang suka ikan koi. Tepat sekali ada yang menjualnya langsung aku beli, deh."


"Bodoh! kau sampai menghilang gara-gara membeli gelang ini. Jika saja kau hanya membeli makanan kan tidak akan terjadi kejadian seperti ini."


Sekali lagi, Nico mendekap Meisya ke pangkuannya. "Lihat, dengan keberuntungan yang ada di ikan koi ini, aku bisa selamat."


mungkin...



Ini adalah gelang yang diberikan Nico untuk Meisya. Cantik ya!