
Mereka pun mengikuti kemana perginya orang bertato tersebut. Dia keluar dari toko aksesoris setelah menyerahkan uang dan menaiki mobil hitam yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berada. Nico dan Aizen pun bergerak dengan bermodalkan sepeda motor, mereka membelah jalanan kota yang lumayan macet, terus mengawasi haluan mobil hitam di depan.
Butuh sekitar 20 menit untuk mengikuti mobil tersebut hingga berhenti di sebuah bangunan yang sangat megah bertingkat. Setiap sisi dindingnya dilapisi dengan kaca berbahan tebal. Arsitekturnya dibentuk bulat dengan bagian atas memanjang dan bagian samping yang melengkung. Di halamannya bertebaran patung-patung ikan koi dari yang kecil sampai yang besar. Unik dan modern seperti di film-film.
Orang bertato itu masuk kalau tak salah dia seperti menekan sebuah tombol yang ada ditangannya. Lalu pintu utama terbuka dan dari arah luar kelihatan suatu lorong yang redup. Nico dan Aizen hanya bisa melihat lewat jendela mobil sampai orang bertato itu hilang dari pandangan beserta pintu yang tertutup otomatis.
"Kak, apa kita harus ikut masuk ke sana juga? Sepertinya penjagaannya sangat ketat, CCTV berseliweran dimana-mana itu."
"Kita coba saja dulu."
Mereka pun turun dari mobil. Berusaha mengendap-endap untuk menghindari tertangkapnya kamera CCTV. Aizen sebagai menuntun jalan aman, Nico mengikuti alur kakaknya. Mereka tak berpaku pada pintu masuk utama karena bangunan itu pasti menggunakan sistem kunci atau sandi seperti yang diterapkan oleh orang bertato tadi.
Aizen terus mencari tempat yang bisa mereka masuki, tak masalah itu lubang atau pintu kecil. Nico merasa bersyukur karena tak salah mengajak Aizen untuk menyelidiki kasus ini. Kakaknya itu maniak dalam hal-hal berbau detektif. Jadi, sudah dapat dipastikan bahwa dia sangat teliti dan ahli dalam membaca situasi.
"Nico, itu di sana ada jendela kecil yang agak terbuka. Kita lewat dari sana saja."
Nico mengangguk. Mereka kembali berjalan pelan mengitari bangunan tersebut, letaknya di ujung agak tersembunyi. Mereka harus menggapainya beberapa meter lagi. Tapi, ketika hampir mendekati jendela, terdengar suara derap kaki seseorang yang akan datang. Aizen dan Nico berhenti dan berbalik mundur. Nico tampak panik sementara Aizen tengah menyapu sekitar mencari tempat untuk menutupi diri mereka.
"Kita sembunyi di balik patung ikan koi itu. Ayo cepat!"
Sembari bersembunyi, Nico dan Aizen mengintip sedikit yang kemudian muncul adalah seorang pria dewasa memakai jas hitam. Dia sedang berbicara dengan seseorang di seberang lewat telepon. Mereka langsung memasang telinga baik-baik untuk mencuri pembicaraan pria dengan si penelpon tersebut.
"..."
"Kami masih memantau keberadaannya, bos."
"..."
"Tenang saja, bos. Kami juga sudah merekrut beberapa jasus dan memberikan ultimatum kepada mereka dengan sebuah surat. Jadi, pergerakan mereka dengan mudah terlacak."
"..."
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, bos. Untuk sekarang gadis yang bernama Kyrana itu sudah ada dalam pengawasan kami. Semua pekerjaan yang telah ditetapkan sedang diproses dan bos tinggal menunggu hasil tersebut nanti."
"..."
Telepon ditutup, pembicaraan pun selesai. Dengan gaya melankolisnya, pria tersebut merapikan kerah jasnya dan melangkah pergi entah kemana. Setelah semua kembali aman, Aizen pun mengajak Nico untuk melanjutkan misi mereka lagi tapi, tak ada tanggapan apapun dari Nico. Aizen yang semula masih mengevaluasi keadaan langsung mengubah pandangannya ke arah Nico.
Raut wajah Nico tampak tak seperti biasanya. Entah setan apa yang merasukinya, tiba-tiba, Nico menendang kuat perut Aizen. Lelaki berambut pirang itu mengaduh tipis.
Rasa terkejut langsung membungkus diri Aizen sampai membuatnya tepekur beberapa detik, bahkan tak merasakan sakit akibat pukulan itu.
"Nico, apa yang terjadi padamu?" Alih-alih merasa takut, Aizen lebih mengkhawatirkan sikap Nico yang berubah drastis. Nico maju selangkah, matanya tajam menatap Aizen sepertinya ia siap memberikan pukulan selanjutnya.
Dan benar saja, dengan cepat, Nico melayangkan tinju kepada kakaknya itu tapi Aizen yang sudah tahu gelagat Nico gesit mengelak ke arah berlawanan. Nico terus meluncurkan serangannya dan Aizen pun hanya bisa menangkis. Bukannya sulit bagi Aizen untuk menyerang balik tapi dia tak ingin menyakiti adiknya.
"Nico, sadarlah! Ini aku Aizen!"
Nico akhirnya terduduk di tanah sambil memegang kepalanya. Menatap Aizen dengan ekspresi bingung. "Kakak?"
"Kau sudah sa..."
Beeppp.... beepp..
Astaga! Mereka jadi tertangkap oleh kamera CCTV. Tak lama setelah bunyi tersebut bergema, dua pria berbadan kekar dengan berseragam abu-abu mendadak timbul mengejar mereka berdua, menodongkan pistol. Aizen pun menarik tangan Nico untuk segera pergi dari wilayah tersebut.
"Hey!!! Jangan lari kalian!!"
Aizen dan Nico tiba di tempat dimana mobil mereka terparkir dan langsung membuka pintu mobil. Nggak pake lama, Aizen menekan pedal gas, mobil pun meluncur sebelum sempat kedua pria tersebut menghancurkan kaca mobil dengan senapan pistol, mobil Aizen sudah lebih dulu menerobos keluar.
......***......
Mereka sampai di rumah dengan napas yang masih berantakan. Detak jantung yang belum terkontrol. Aizen mematikan mesin mobilnya setelah memasuki garasi. Dia menengok ke belakang untuk mengecek kondisi Nico yang sepertinya tidak baik-baik saja, tubuhnya gemetar, matanya kosong.
"Nico, kita sudah sampai rumah. Kau tidak perlu merasa takut lagi. Ayo, kita turun sekarang."
Nico hanya diam. Pandangannya menunduk. Aizen pun mencoba memanggil adiknya sekali lagi sekedar membuyarkan keheningan yang terjadi. Hingga tak bisa dipungkiri oleh Aizen tiba-tiba Nico ambruk begitu saja menghantam jok mobil.
"Nico!" Aizen panik setengah mati. Dia pun turun dan membuka pintu tengah mobil, menghampiri Nico. Riasan pucat memenuhi mukanya, Aizen menyentuh dahi Nico seperti dugaannya Nico demam. Dia langsung membopong tubuh Nico masuk ke dalam rumah untuk mendapat pengobatan lebih lanjut.
...***...
Perlahan, Nico membuka matanya, mengerjap ketika segumpal cahaya putih jatuh menimpa pelupuk matanya. Nico terduduk diiringi jeda, berusaha mengumpulkan nyawa lalu penglihatannya diedarkan ke sekeliling. Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah sebuah ruangan putih tanpa noda. Dengan kebingungan yang melanda, Nico bangkit dan mulai melangkah.
"Ini di mana? Kenapa tidak ada siapapun di sini. Kakak? Oka-san?"
Nico terus berjalan dan berjalan. Mencari seseorang yang bisa ia mintai bantuan, mencari jalan keluar atau mungkin mencari kejelasan mengenai dimana ia berada. Tapi, seakan tanpa ujung dari tadi Nico hanya berputar-putar di tempat. Tak ada apapun, sendiri dan sunyi.
"Tolong!! Siapapun keluarkan aku dari sini!!"
Tak lama setelah Nico berteriak, matanya seperti menangkap sosok manusia dari jarak beberapa meter. Nico pun berlari mendekat ke arahnya. Sampai objek tersebut kelihatan sangat jelas dan...tak asing.
"Meisya."
Sosok itu melambaikan tangan dan menyunggingkan senyum manis. Ia semakin yakin bahwa itu memang Meisya. Dengan wajah sumringah Nico pun menambah kecepatan larinya supaya bisa meraih kekasihnya itu dan memeluknya.
Nyaris tinggal empat pijakan lagi untuk bisa menggapai gadis itu, sosok yang lain muncul di depan Meisya, mengacungkan pistol ke arahnya. Sosok yang menyerupai dirinya, bukan, itu memang dirinya. Nico yang memiliki sisi berbeda, yang penuh dendam dan gelap.
"Apa-apaan ini! Hey, kau turunkan pistol mu dari Meisya!" Nico berteriak marah, ia berniat untuk menghentikan aksi sosok Nico tersebut tapi ia tak bisa bergerak, seakan ada besi yang menahan kakinya.
Tangan Nico yang satunya mulai siap menarik pelatuk dan...Duarrr...
"Tidakkkkk!!!"